“Janganlah kalian tunjuk Al Barra’ menjadi Amir dalam pasukan Muslimin, karena dikhawatirkan ia dapat mencelakakan tentaranya karena ingin terus maju.” –Umar bin Khattab

Rambutnya berantakan. Badannya kurus. Tulangnya kecil. Gesit dan sulit dilihat. Akan tetapi meski demikian, ia berhasil membunuh 100 orang musyrik dalam sekali perang, selain orang-orang yang berhasil dibunuhnya dalam perang-perang yang diikutinya bersama para pejuang.

Ia adalah orang yang gagah berani dan pantang mundur, demikian tulis Umar dalam sebuah surat yang ia tujukan untuk para pembantunya, “Janganlah ia ditunjuk sebagai pimpinan pasukan Muslimin, karena khawatir  mereka semua terbunuh karena maju terus.”

Dialah Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pembantu Rasulullah SAW.

Jika aku paparkan semua kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik, pasti akan membutuhkan banyak ruang dan halaman; karenanya aku hanya akan menceritakan satu kisah saja dari kepahlawanannya yang dapat memberikan gambaran kepadamu tentang kisah kepahlawanannya yang lain.

***

Kisah ini dimulai saat Rasulullah SAW wafat dan kembali ke pangkuan Tuhannya, saat beberapa Kabilah Arab keluar dari agama Allah secara berbondong-bondong, seperti saat mereka masuk ke agama tersebut secara berbondong-bondong. Sehingga yang tersisa hanyalah para penduduk Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kelompok di sana-sini yang Allah tetapkan hatinya untuk terus beriman.

***

Abu Bakar ash-Shiddiq tetap tegar menghadapi fitnah yang merebak ini. Ia tegar bagai gunung kokoh yang tak bergeming. Ia menyiapkan 11 pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau juga menyiapkan 11 panji yang masing-masing dibawa oleh panglima pasukan tadi. Ia mengutus ke sebelas pasukan tadi ke seluruh penjuru Arab untuk mengembalikan mereka yang murtad kepada jalan petunjuk dan kebenaran, dan untuk menggiring orang-orang yang sesat menuju jalan yang lurus lewat sabetan pedang.

Kaum murtad yang paling kuat dan banyak pasukannya adalah Bani Hanifah yang menjadi para pendukung Musailamah al-Kadzdzab. Saat itu Musailamah didukung oleh kaum dan sekutunya yang  berjumlah 40 ribu orang pejuang. Kebanyakan dari mereka mendukungnya karena fanatisme dan bukannya karena beriman kepadanya. Sebagian dari mereka mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Musailamah adalah pembohong dan Muhammad adalah benar. Tetapi pembohong yang berasal dari suku Rabi’ah lebih kami sukai daripada orang yang  benar berasal dari suku Mudhar.”

Musailamah berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan pertama kaum Muslimiin yang dikirimkan kepadanya di bawah komando Ikrimah bin Abi Jahal.

Lalu Abu Bakar mengirimkan pasukan Muslimin kedua kepada Musailamah di bawah komando Khalid bin Walid di mana pasukan tersebut dipenuhi dengan para tokoh Anshar dan Muhajirin. Salah satu dari mereka adalah Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari

***

Kedua pasukan bertemu di daerah Al-Yamamah di Najd. Hanya sebentar saja, pasukan Musailamah dan pendukungnya terlihat unggul. Bumi yang dipijak oleh pasukan Muslimin terasa berguncang saat itu. Kaum muslimin mulai bergerak mundur dan terjepit. Sehingga para pendukung Musailamah dapat menyusup ke tenda induk Khalid bin Walid. Mereka mencabut tali dan tiang tenda tersebut, bahkan mereka hampir saja membunuh istri Khalid kalau saja tidak ada seorang dari pasukan Muslimin yang melindunginya.

Ketika itu kaum Muslimin merasakan bahaya yang begitu besar. Mereka menyadari bahwa bila mereka sampai kalah oleh Musailamah maka Islam tidak akan berdiri tegak lagi dan Allah SWT tidak akan pernah disembah lagi di Jazirah Arab.

Khalid langsung bangkit menuju pasukannya. Ia mulai mengatur kembali pasukannya. Ia mendahulukan kaum Muhajirin di pasukan depan dan Anshar di belakang. Dan ia menempatkan orang-orang Badui di barisan tersebut.

Khalid juga mengumpulkan anak-anak yang berasal dari satu bapak dengan satu panji agar ia dapat mengetahui musibah yang menimpa setiap regu dalam peperangan ini, dan juga agar ia tahu dari sisi mana kaum Muslimin diserang.

Maka terjadilah perang di antara dua kubu yang begitu hebatnya. Kaum Muslimin belum pernah menjalani peperangan yang begitu dahsyat seperti ini sebelumnya. Kaum Musailamah telah berdiri dengan congkaknya di medan perang seolah mereka bagai gunung yang tak bergeming dan mereka seolah tidak peduli akan banyaknya korban yang mereka terima….

Kaum Muslimin saat itu didukung oleh para pahlawan yang bila dikumpulkan dalam tulisan maka akan menjadi sebuah kisah kepahlawanan yang amat menarik.

Terdapat di sana Tsabit bin Qais pembawa panji Al-Anshar yang telah menyiapkan peralatan kematian, kain kafan dan menggali sendiri kuburan untuk dirinya. Ia masuk ke dalam lubang yang digalinya tersebut sehingga mencapai separo dari betisnya. Ia berdiri tegap dalam posisinya itu. Ia berjuang  mempertahankan panji kaumnya sehingga ia binasa dan  menjadi syahid.

Ada lagi kisah Zaid bin Khattab, saudara Umar bin Khattab RA yang menyeru pasukan Muslimin, “Wahai semua manusia, gigitlah kuat-kuat geraham kalian, seranglah musuh kalian dan terus maju pantang mundur….! Wahai semua manusia, Demi Allah, aku tidak akan berkata apa pun lagi setelah ini sehingga Musailamah dapat dikalahkan atau hingga aku berjumpa Allah dan aku akan bersaksi di hadapannya….” kemudian ia mulai menyerang musuh dan terus berperang sehingga mati syahid.

Ada juga Salim budak Abu Hudzaifah yang membawa panji kaum Muhajirin. Kaumnya khawatir akan kelemahan fisik dan rasa takut yang dimilikinya, sehingga kaumnya berkata kepada Salim, “Kami khawatir kita akan diserang dari arahmu.” Salim menjawab, “Jika kalian diserang musuh dari arahku, maka seburuk-buruknya penjaga Alquran adalah aku.” Kemudian Salim menyerang para musuh Allah dengan begitu beraninya, sehingga ia mati syahid.

Akan tetapi smeua pahlawan tadi  masih kalah dibandingkan kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik RA. Hal itu karena saat Khalid melihat perang berkecamuk dengan begitu dahsyatnya, ia menoleh ke arah Al-Barra’ bin Malik sambil berkata, “Seranglah mereka, wahai pemuda Anshar!”

Maka Al-Barra’ pun melihat ke arah kaumnya dan berkata, “Wahai kaum Anshar, janganlah salah seorang pun dari kalian berpikir untuk kembali ke Madinah; tidak ada lagi Madinah bagi kalian setelah hari ini…. yang ada hanyalah Allah saja… dan surga…!”

Kemudian Al-Barra’ dan kaumnya membawa panji mereka untuk menyerang kaum Musyrikin. Ia terus menyerang membuka barisan lawan. Ia menebaskan pedangnya di leher para musuh Allah sehingga Musailamah dan pendukungnya terjepit.  Mereka mundur ke sebuah taman yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hadiqatul Maut (Taman Kematian) karena banyaknya korban yang mati di di hari itu.

***

Hadiqatul Maut adalah sebuah bidang yang luas dan memiliki tembok yang tinggi. Musailamah dan ribuan tentaranya menutup gerbang-gerbang taman tersebut. Mereka semua berlindung dengan tembok-tembok tinggi yang ada di dalamnya, dan mereka menembakkan anak panah mereka dari dalam taman tersebut sehingga anak panah tersebut bagaikan hujan yang turun dengan deras bagi kaum Muslimiin.

Saat itu majulah sang pejuang Islam yang gagah berani bernama Al-Barra’ bin Malik sambil berseru, “Wahai kaumkum, taruhlah aku di alat pelempar; dan arahkanlah ke arah para pemanah itu. Lemparkanlah aku ke dalam taman dekat gerbangnya. Karenanya bila aku tidak mati syahid, maka aku akan membukakan gerbang taman untuk kalian.

***

Dalam sekejap, Al-Barra’ bin Malik telah duduk di atas alat pelempar. Ia adalah seorang yang berbadan kurus. Maka para pejuang yang lain mengangkat dan melemparkannya ke dalam Hadiqatul Maut di antara ribuan pasukan Musailamah. Maka turunlah Al-Barra’ di pihak musuh seperti kilat menyambar. Ia terus menyerang mereka di depan gerbang taman dan ia berhasil membunuh 10 orang dari mereka dan berhasil membuka gerbang. Dan ia mengalami lebih dari 80 luka panah dan sabetan pedang karenanya.

Maka kaum Muslimin langsung merangsek ke arah Hadiqatul Maut dari seluruh penjuru pagard dan gerbangnya. Mereka menyabetkan pedang ke arah leher para kelompok murtad, sehingga tidak kurang dari 20 ribu pihak mereka menjadi korban termasuk Musailamah Al-Kadzdzab.

***

Al-Barra’ bin Malik dibawa dengan kendaraannya untuk mendapatkan perawatan. Khalid bin Walid merawatnya selama sebulan penuh untuk menyembuhkan semua luka yang ada pada tubuh Al-Barra’ hingga akhirnya ia pun pulih kembali. Dengan keberanian Al-Barra’, pasukan Muslimin meraih kemenangan telak.

***

Al-Barra’ telah mengobarkan semangatnya untuk mendapatkan kesyahidan dalam peristiwa Hadiqatul Maut. Ia terus mengikuti perang dan perang karena ingin mewujudkan cita-citanya yang tertinggi itu dan karena rindu kepada Nabi SAW, sehingga pada hari penaklukan Kota Tustar di Negeri Persia. Persia saat itu dibentengi dengan salah satu benteng yang terletak di dataran tinggi. Kaum Muslimin telah berhasil mengepung mereka dengan begitu ketatnya. Saat pengepungan tersebut berlangsung cukup lama dan pihak Persia sudah merasa semakin terjepit, maka mereka membuat rantai besi yang mereka ulurkan dari pagar benteng tersebut. Di ujung rantai digantungkan penjepit yang terbuat dari batu yang disulut api sehingga lebih panas dari batu bara. Penjepit itu berputar mengenai tubuh kaum muslimin dan mencomot tubuh mereka. Pasukan Persia mengangkat tubuh kaum Muslimin yang terkena jepitan tadi ke atas, baik dalam keadaan mati ataupun sekarat.

Para pasukan Persia yang bertugas menggunakan alat tersebut mengarahkannya kepada Anas bin Malik –saudara Al-Barra’ bin Malik-. Begitu melihatnya, Al-Barra’ langsung melompat ke arah tembok benteng demi meraih rantai yang telah mengambil tubuh saudaranya. Al-Barra’ berjuang keras untuk menggoncang penjepit tadi untuk mengeluarkan Anas dari dalamnya. Tangan Al-Barra’ jadi terbakar dan melepuh, ia tidak menghentikan usahanya sehingga saudaranya terbebas, dan ia pun jatuh setelah hanya tulang yang tersisa dari tangannya tanpa daging sedikit pun.

Dalam peperangan ini, Al-Barra’ bin Malik al-Anshari berdoa kepada Allah agar ia diberikan mati syahid. Dan Allah mengabulkan permohonannya. Al-Barra’ akhirnya mati sebagai seorang syahid yang amat rindu dengan perjumpaan dengan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menyinari wajah Al-Barra’ bin Malik di surga, dan membuat dirinya tenang dengan hidup bersama Nabi-Nya Muhammad SAW. Semoga Allah meridhainya dan ia ridha kepada Tuhannya.


Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari

“Umair bin Wahab telah menjadi orang yang paling aku kasihi di antara para anakku.” –Umar bin Khattab

Umair bin Wahab al-Jumahi kembali dari perang Badar dalam kondisi selamat, akan tetapi ia pulang tanpa membawa anaknya yang bernama Wahab karena ditawan oleh kaum Muslimin.

Umair amat khawatir bila kaum Muslimin akan menyiksa anaknya karena dosa yang telah dibuat oleh ayahnya. Ia juga amat khawatir bila kaum Muslimin akan menganiaya anaknya dengan bengis sebagai balas dari tindakan ayahnya saat menyakiti Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

***

Di suatu pagi, Umair hendak pergi ke Masjidil Haram untuk berthawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan para berhala yang ada di sana. Ia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di samping Hijir Ismail. Lalu Umair menghampirinya dan berkata, “Selamat pagi, wahai pemuka Bangsa Quraisy!” Shafwan membalas, “Selamat pagi, Abu Wahab. Duduklah agar kita dapat berbicara sejenak! Sebab waktu dapat berhenti karena pembicaraan.”

Umair pun duduk di hadapan Shafwan bin Umayyah. Kedua pria tersebut akhirnya mengingat peristiwa Badar dan kekalahan mereka yang telak. Mereka juga menghitung kaum mereka yang menjadi tawanan di tangan Muhammad dan para sahabatnya. Dan mereka menjadi bergidik saat mengingat para pembesar Quraisy yang mati terbunuh oleh pedang kaum Muslimin, dan mereka terkenang akan Al-Qalib…. Lalu Shafwan langsung berseru, “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih nikmat setelah mereka.” Umair menyahut, “Demi Allah, engkau benar.” Lama berselang Umair berkata lagi, “Demi Tuhan pemilik Ka’bah, kalau aku tidak ingat utangku yang tidak sanggup aku bayar, kalau saja aku tidak khawatir dengan keluarga yang aku khawatirkan kehidupan mereka bila aku tidak ada, pasti aku sudah mendatangi Muhammad dan membunuhnya sehingga aku dapat menyelesaikannya dan menolak segala kejahatannya….” Kemudian ia meneruskan lagi ucapannya dengan suara pelan, “Dan keberadaan anakku yang bernama Wahab yang menjadi tawanan mereka, itu yang membuat kepergian ke Yastrib menjadi hal yang tidak dapat dielakan.”

***

Shafwan bin Umayyah memegang ucapan Umair bin Wahab. Sebelum kesempatan berlalu, Shafwan memandang Umair seraya berkata, “Wahai Umair, aku akan menanggung semua utangmu berapa pun jumlahnya…. Sedang keluargamu, aku akan menjadikan mereka seperti keluargaku selagi aku dan mereka masih hidup. Aku memiliki uang yang cukup banyak untuk merawat mereka semua. Lalu Umair menjawab, “Kalau begitu, jagalah pembicaraan ini dan jangan sampai ada seorangpun yang tahu!” Shafwan langsung membalasnya, “Aku jamin.”

***

Umair bangkit dari masjid dan api kedengkian menyala dengan hebat dalam hatinya kepada Muhammad SAW. Lalu ia mempersiapkan bekal untuk mewujudkan tekadnya. Ia tidak khawatir kegelisahan orang lain akan perjalanan yang ia lakukan; hal itu karena para keluarga tawanan Quraisy lainnya ragu untuk pergi ke Yastrib demi mencari keluarganya yang ditawan di sana.

***

Umair meminta keluarganya untuk mengasah pedangnya lalu melumurkannya dengan racun. Ia juga meminta agar kendaraannya dipersiapkan dan dibawa ke hadapannya, lalu ia pun menungganginya. Ia mulai menuju Madinah dengan salendang kebencian dan kejahatan. Akhirnya Umair tiba di Madinah dan ia berjalan menuju Masjid untuk mencari Rasulullah SAW. Saat ia sudah hampir mendekat ke pintu masjid, ia memberhentikan tunggangannya lalu turun.

***

Saat itu Umar bin Khattab RA sedang duduk bersama para sahabat yang lain dekat pintu masjid. Mereka sedang mengenang perang Badar dan tawanan Quraisy serta jumlah yang terbunuh dari pihak mereka. Mereka juga mengingat anugerah kemenangan yang Allah berikan kepada mereka, dan apa yang Allah perlihatkan kepada mereka tentang kekalahan yang diterima oleh musuh.

Saat kepala Umar menoleh, ia melihat Umair bin Wahab yang baru turun dari kendaraannya. Terlihat Umair sedang berjalan ke arah masjid dengan pedang terhunus. Maka Umar langsung bangkit dengan khawatir seraya berkata, “Inilah si anjing musuh Allah, Umair bin Wahab…. Demi Allah, pastilah ia datang hendak membuat keburukan. Dialah yang pernah menghasut kaum musyrikin di Makkah untuk memusuhi kami. Dan dia juga yang selalu menjadi mata-mata sebelum terjadinya perang Badar.”

Lalu Umair berpesan kepada para sahabatnya, “Pergilah kepada Rasulullah dan tetaplah kalian bersamanya! Waspadalah saat setan pembuat makar ini akan berlaku khianat kepada beliau!”

Kemudian Umar datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang dengan membawa pedang terhunus. Aku menduga bahwa ia ingin membuat kerusakan.” Lalu beliau berkata, “Bawalah ia menghadapku!”

Kemudian Umar mendatangi Umair bin Wahab. Lalu Umar mengambil kerah baju Umair dengan keras dan melipat leher Umair sampai mencium tempat pedang yang ada di pinggulnya. Lalu Umar membawanya menghadap Rasulullah SAW.

Saat Rasulullah SAW mendapatinya dalam kondisi demikian, maka beliau berkata kepada Umar, “Lepaskan dia, ya Umar!” Lalu Umar pun melepaskannya dan berkata kepada Umair, “Menjauhlah dari Rasul!”

Umair menjauh dari Rasul. Lalu Rasulullah mendekat ke arah Umair bin Wahab seraya berkata, “Duduklah ya Umair!” Lalu Umair pun duduk dan berkata, “Selamat pagi!” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, Allah telah memuliakan kami dengan ucapan penghormatan yang lebih baik dari yang kau ucapkan, wahai Umair! Allah telah memuliakan kami dengan salam itu dan itu adalah ucapan ahli surga.” Kemudian Umair menjawab, “Demi Allah, apa yang kau ucapkan tidak jauh berbeda dengan ucapan kami. Dan jarakmu dengan kami hanya sedikit saja.” Lalu Rasul SAW bertanya kepadanya, “Apa yang membawamu ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku ke sini untuk memohon kebebasan bagi tawanan yang kalian tawan. Bersikaplah baik kepadaku dalam hal ini.” Rasul SAW bertanya lagi, “Lalu apa maksudnya pedang yang kau bawa di lehermu ini?” Umair menjawab, “Ini adalah pedang yang jelek…. apakah ia bermanfaat buat kami saat terjadinya perang Badar?!” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Berkatalah yang jujur, apa yang kau inginkan hingga datang ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku hanya datang untuk maksud yang telah aku sebutkan.” Rasulullah SAW berkata, “Bukan, namun kau pernah duduk bersama Shafwan bin Umayyah dekat Hijir Ismail, dan kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang terkubur di Al-Qalib lalu kau berkata, ‘Kalau bukan karena utang dan keluargaku, aku akan datang kepada Muhammad lalu membunuhnya…. Lalu Shafwan bin Umayah bersedia untuk membayar utangmu dan menjaga keluargamu agar engkau dapat membunuhku…. dan Allah adalah penghalang dirimu untuk melakukannya.”

Umair merasa terkejut sesaat, lalu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Kemudian ia mengatakan, “Dahulu kami selalu mendustakan apa yang engkau bawa dari berita langit. Dan kami juga mendustakan wahyu yang turun kepadamu. Akan tetapi kisah pembicaraanku dengan Shafwan bin Umayyah tidak ada yang mengetahuinya selain aku dan dia. Demi Allah, kini aku yakin bahwa yang telah memberitahukanmu adalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah  mengantarkan aku ke sini untuk menunjukkan aku kepada Islam.”

Kemudian ia bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Ajarkan kepadanya Alquran dan bebaskan tawanannya!”

***

Kaum muslimin amat bergembira dengan keislaman Umair bin Wahab; bahkan Umar bin Khattab RA sempat berkata, “Tidak ada babi yang lebih aku cintai selain Umair bin Wahab. Mulai hari ini ia adalah orang yang paling aku cintai daripda anakku sendiri.

***

Umair yang sedang mensucikan dirinya dengan ajaran Islam, mengisi hatinya dengan cahaya Alquran, serta mengisi hari-hari terindah dalam sisa umurnya, membuat ia terlupa akan Makkah dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pada saat yang sama, Shafwan bin Umayyah sedang berangan-angan, dan ia melewati perkumpulan orang-orang Quraisy sambil berkata, “Bergembiralah dengan berita besar yang akan kalian dengar sebentar lagi. Sebuah berita yang akan membuat kalian meluapakan peristiwa Badar!”

Setelah penantian cukup lama yang dijalani Shafwan bin Umayyah, maka sedikit demi sedikit ia merasa kekhawatiran merasuki dirinya sehingga hatinya menjadi lebih panas ketimbang batu bara. Ia mulai kasak-kusuk bertanya kepada para pengelana tentang kabar Umair bin Wahab, namun tidak satu pun jawaban mereka yang dapat memuaskannya. Kemudian datang seorang pengelana yang mengatakan bahwa Umair telah masuk Islam. Begitu mendengar berita itu, Shafwan seperti tersambar petir dibuatnya…. karena ia menduga bahwa Umair bin Wahab tidak akan masuk Islam meski semua manusia di bumi ini masuk Islam.

***

Sedang Umair bin Wahab sendiri hampir saja menguasai agama yang baru dianutnya dan menghafal beberapa ayat Alquran yang mudah baginya sehingga ia datang menghadap Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku adalah seorang yang selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah. Dahulunya aku adalah orang yang selalu menyiksa para pemeluk Islam. Aku berharap engkau mengizinkan aku untuk datang ke Makkah untuk berdakwah kepada kaum Quraisy agar kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka menerima dakwahku, itu amat baik buat mereka. Jika mereka menolak dan berpaling dariku, aku akan menyiksa mereka sebagaimana aku dulunya menyiksa para sahabat Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW memberinya izin dan ia pun berangkat ke Makkah. Sesampainya di sana, ia datang ke rumah Shafwan bin Umayyah sambil berkata, “Wahai Shafwan, engkau adalah salah seorang pemuka kota Makkah, seorang intelektual dari suku Quraisy. Apakah menurutmu apa yang kalian lakukan dengan beribadah kepada batu dan melakukan penyembelihan untuknya dapat diterima oleh akal untuk dijadikan agama?!

“Sedangkan aku kini telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

***

Kemudian Umair mulai berdakwah di Makkah sehingga banyak orang yang masuk Islam karena dakwahnya. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala Umair bin Wahab dan memberikan cahaya pada kuburnya.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Umair bin Wahab

gaulislam edisi 507/tahun ke-10 (16 Syawwal 1438 H/ 10 Juli 2017)

Widih! Bro en Sis, judul gaulislam kali ini kok serem banget, ya? Berbohong membunuhmu! Kalau penulis, sih, seketika langsung teringat tentang kata-kata yang ada di bawah bungkus rokok itu, loh. Eh, tapi apakah berbohong itu memang bisa membunuh seseorang? Ataukah itu hanya sekadar kiasan saja? Wah, jadi penasaran.

Semua orang pasti tahu dong, apa itu kebohongan. Berbohong adalah sebuah kebiasaan yang sangat tidak baik. Kebanyakan anak-anak sampai remaja, biasanya pernah berbohong. Kadang-kadang, orang dewasa juga bisa berbohong. Tetapi sekali lagi, berbohong itu bukanlah sesuatu yang dibenarkan. Baik dalam Islam, maupun dalam hukum tata krama di dunia.

Buktinya, saat Afi Nihaya Faradisa melakukan plagiasi terhadap sebuah karya, bahkan baru-baru ini bikin video yang isinya juga diduga kuat plagiasi, banyak netizen muak bin sebel. Tuh, mengakui sebuah karya orang lain sebagai karya sendiri bisa terkategori bohong. Waspadalah!

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila ia berucap ia berdusta, jika ia membuat janji ia mengingkarinya, dan jika ia diberi kepercayaan ia mengkhianatinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tuh, kan! Sikap dusta atau bohong itu termasuk ke dalam ciri-ciri orang munafik. Sedangkan orang munafik itu tempatnya adalah di dasar neraka. Naudzubillah.

Selain karena berbohong itu dilarang dalam Islam, kebohongan juga seringkali bahkan selalu meberikan dampak yang buruk bagi diri sendiri, dan juga orang-orang di sekitar. Why? Sebab, sekali seseorang melakukan kebohongan, maka akan ada kebohongan lain yang akan menutupi kebohongan yang pertama. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi, apabila kebohongan itu mulai mengarah kepada yang namanya fitnah. Dan fitnah itu adalah perbuatan yang keji. Wah, kebohongan itu mengerikan, bukan?

Kenapa remaja berbohong?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kondisi seperti apa ya yang membuat remaja itu kadang lebih suka memilih untuk berbohong? Tergantung alasannya, sih. Bisa jadi karena ia takut dihukum kalau mengatakan yang sebenarnya. Banyak sekali remaja yang berbohong dengan alasan ini. Misalnya, ketika seseorang terlambat bangun pagi, dan akhirnya terlambat datang ke sekolah. Kemudian agar tidak dihukum, ia mengatakan bahwa alasan ia terlambat adalah karena alasan yang lain. Mungkin karena jalan yang macet atau alasan yang lain. Ia berbohong mengenai alasan keterlambatannya agar tidak dihukum.

Atau mungkin karena ia menginginkan sesuatu sehingga membuat beberapa kebohongan untuk itu. Mungkin ia ingin melakukan sesuatu yang baru menurutnya, namun ia tidak berani untuk meminta masukan dari orangtua atau gurunya. Kok bisa ya? Ya, bisa jadi karena ia ingin melindungi teman atau saudaranya. Masih banyak alasan lainnya yang membuat ia merasa harus mengatakan kebohongan. Tapi, apa pun alasannya, berbohong tetaplah tidak diperbolehkan. i, yang namanya perbuatan bohong tetaplah perbuatan dosa. Meskipun nantinya, ada beberapa sebab yang membuat berbohong itu diperbolehkan.

Ada juga loh, remaja yang berbohong sebagai bahan bercandaan atau sekadar main-main saja. Tapi seperti yang sudah disampaikan, tetap saja, hal itu tidak diperbolehkan. Bercanda itu boleh, tapi sama sekali nggak boleh berbohong ketika bercanda.

Nah, ada yang berbahaya nih. Apa tuh? Ya, kalau kebohongan dilakukan sekali dan berkali-kali kemudian, maka akan menjadi kebiasaan. Awalnya mungkin ia akan merasa khawatir karena sudah berbohong. Tapi sekali ia merasa kebohongannya itu berhasil, maka ia tidak akan takut lagi. Maka ketika ia sudah nyaman dengan kebohongan, di situlah sisi bahayanya. Ketika kebohongan sudah menjadi kebiasaan, maka akan sulit untuk dihilangkan. Itu artinya, sifat yang buruk sudah masuk ke dalam diri kita.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (permbohong).” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Katakanlah yang benar!

Sobat gaulislam, dari Abu Dzaar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR Ahmad 5/159)

Memang benar, ada kalanya ketika kebenaran itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan akan terasa pahit untuk mengatakannya. Tetapi Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita sebagai seorang muslim untuk selalu bersikap jujur dan menjauhi perbuatan dusta. Dan kita harus selalu melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Karena Allah lebih tahu apa yang terbaik baik kita.

Oya, sifat jujur itu juga memiliki keutamaan. Dari referensi internet yang penulis baca, nih, keutamaan sifat jujur itu setidaknya ada tiga poin penting. Apa saja itu? Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Silakan cek lagi hadits yang udah ditulis di atas ya.

Kedua, jujur akan melahirkan ketenangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “… maka sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah keraguan …” (HR Tirmidzi)

Bagaimana kejujuran bisa melahirkan ketenangan? Coba saja kamu bayangkan, ketika kamu melakukan kebohongan, pasti akan ada perasaan khawatir. Khawatir tentang hal-hal apa saja. Misalnya khawatir kebohongan kamu itu akan terbongkar atau kekhawatiran lain yang membuat hidup nggak tenang. Sedangkan orang yang selalu jujur, maka hidupnya akan tenang. Karena tidak ada yang ia sembunyikan dan itu membuatnya merasa tenang. Bener, nggak? Sangat betul!

Ketiga, keutamaan sifat jujur adalah, jujur itu disukai semua manusia. Sekali lagi coba kita lihat di kehidupan sehari-hari. Menurut kamu ada nggak sih orang yang nyaman dengan orang yang sering bohong? Tentu saja semua orang pasti lebih suka kepada orang yang memiliki sifat jujur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga adalah orang yang jujur. Bahkan sebelum Islam datang, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sudah digelari oleh kaum Quraisy sebagai Al-Amin. Yaitu orang yang terpercaya.

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan dari sifat jujur. Tentunya kita harus lebih memilih untuk menjadi orang yang selalu jujur, ya. Pastinya dong!

Menghindari kebiasaan bohong

Sobat gaulislam, dari Abu Sufyan bin Shakr bin Harb radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata, “Apa saja yang diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Abu Sufyan berkata, “Aku lalu menjawab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sembahlah Allah semata dan jangan berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah perkara jahiliyah yang dikatakan nenek moyang kalian.” Beliau juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, benar-benar menjaga kesucian diri (dari zina) dan menjalin hubungan silaturahim (menjaga hubungan dengan kerabat.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no. 7 dan Muslim)

Bagaimana, ya, menghindari kebiasaan bohong? Oke, deh. Pertama-tama tentunya harus ada niat yang kuat. Tetapi, niat itu tidak ada artinya tanpa perbuatan. Selain itu, amalan juga akan kurang tanpa adanya niat.Itu sebabnya, semuanya tidak boleh ada yang ditinggalkan. Nggak bingung, kan? Hehe…

Nah, lalu bagaimana cara menghindari kebiasaan berbohong? Sebenarnya jawabannya sederhana saja, sih, yaitu jangan berbohong! Sekali saja kita mulai berbohong, maka akan ada kebohongan-kebohongan lainnya. Ketika kebohongan itu sudah menumpuk, maka masalah yang besar akan datang. Di saat itulah bisa disebut berbohong membunuhmu. Tuh, kan!

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di atas, kesimpulannya adalah lebih baik diam daripada berkata yang tidak baik, berbohong misalnya. Ancamannya adalah, kita bukanlah orang yang beriman kepada Allah jika memilih untuk berkata yang tidak baik. Jangan sampai, deh.

Menjadi pribadi yang jujur, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, memiliki keutamaan-keutamaan. Nah, keutamaan-keutamaan itu bisa kita jadikan sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang jujur. Kalau perlu, kita harus menanamkan kepada diri sendiri tentang ancaman-ancaman terhadap orang yang berdusta. Seperti karena berdusta itu termasuk ciri-ciri orang munafik. Wah, mungkin itu bisa jadi motivasi yang bagus.

Oya, bagaimana jika kita terlanjur berbohong? Langkah pertama adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala. Bertaubat artinya kembali kepada Allah Ta’ala. Caranya adalah beristighfar dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Cukup begitu? Belum. Selanjutnya adalah mengembalikan kesalahan itu. Bagaimana caranya? Caranya dengan mengakui kebohongan itu dan mengatakan yang sejujurnya. Tentu saja kita juga harus meminta maaf. Mungkin akan terasa menyakitkan. Tapi memang itu cara mengembalikkannya.

Setelah bertaubat, kita harus selalu menjaga diri untuk selalu bersikap jujur. Satu-satunya cara adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kita harus selalu menjaga diri agar tidak kembali kepada sifat bohong itu. Kita juga jangan berteman dengan orang-orang yang suka berbohong. Karena kebiasaan itu bisa tertular lagi kepada kita. Untuk menjaga diri supaya tetap menjadi baik, kita harus berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat yang baik juga. Bisa dengan cara bergabung dengan komunitas yang baik, misalnya ikut pengajian.

Terakhir nih, Bro en Sis. Jangan sampai deh kebohongan menjadi sesuatu yang ada di dalam diri kita, berurat-berakar dan mendarah-daging. Mungkin orang lain tidak ada yang tahu. Tapi kita harus selalu ingat bahwa Allah Maha Mengetahui. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari-Nya. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Karena itu, kita harus selalu kembali kepada Allah Ta’ala dan memperbarui keimanan kita. Setuju, ya? Harus!

[Fathimah NJL | Twitter @FathimahNJL]

Berbohong Membunuhmu!

“Menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mencium kepala Hudzafah, saya yang akan memulainya terlebih dahulu.” –Umar bin Khattab

Tokoh kisah ini adalah seorang pria dari kalangan sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Sejarah dapat saja berlalu atas tokoh kita ini sebagaimana sejarah terus berlalu terhadap jutaan Bangsa Arab sebelum Abdullah tanpa memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Akan tetapi lisan yang agung memberikan kesempatan kepada Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi untuk bertemu dengan pemimpin dunia saat itu; yaitu Kisra Raja Persia dan Kaisar yang agung Raja Romawi…. Bersama dua pemimpin besar ini, Abdullah mencatat kisah yang senantiasa diingat orang dan terus dikisahkan oleh lisan sejarah sepanjang masa.

***

Adapun kisah Abdullah dengan Kisra Raja Persia itu terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah saat Rasulullah SAW berniat untuk mengirimkan beberapa rombongan sahabatnya dengan membawa surat kepada para raja berkebangsaan non-Arab untuk mengajak mereka masuk ke dalam Islam.

Rasulullah SAW sudah memprediksikan bahaya dari tugas ini…. Para utusan Rasul tadi akan berangkat menuju negeri-negeri yang jauh yang belum pernah melakukan kerjasama dan kesepakatan dengan Islam sebelumnya. Para utusan tadi tidak mengerti bahasa-bahasa negeri yang akan didatanginya, dan mereka juga tidak sedikitpun mengerti watak para raja tadi. Para utusan tadi juga akan mengajak para raja untuk meninggalkan agama mereka, melepaskan kekuasaan dan kebesaran serta masuk ke dalam sebuah agama suatu kaum. Ini merupakan sebuah ekspedisi berbahaya. Sebab yang berangkat ke sana dapat menghilang sedang yang kembali dari ekspedisi ini hanya tinggal anaknya saja. Oleh karenanya Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabatnya. Beliau berdiri di hadapan mereka dalam sebuah khotbah; setelah memuji Allah, mengucapkan syahadat, beliau berkata, “Amma ba’du. Aku ingin mengutus beberapa orang dari kalian untuk datang kepada beberapa orang raja non-Arab. Janganlah kalian membantah aku sebagaimana bani Israil membantah Isa putra Maryam.”

Para sahabat Rasulullah SAW menyambut dengan berseru, “Ya Rasulullah, kami akan mendukung apapun yang kau inginkan. Kirimlah kami ke mana saja engkau inginkan.”

***

Rasulullah SAW mengutus 6 orang sahabatnya untuk membawa surat dari beliau kepada beberapa orang raja Arab dan non-Arab. Salah seorang dari keenam utusan tadi adalah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi, yang diutus untuk membawa surat Nabi SAW kepada Kisra Raja Persia.

***

Abdullah serta merta mempersiapkan bekalnya. Ia mengucapkan kata perpisahan kepada istri dan anaknya. Lalu ia berangkat menuju tempat tujuannya yang melalui berbagai lereng dan bukit dataran tinggi maupun rendah. Ia lakukan perjalanan tersebut sendirian tanpa ada teman yang mengiringi selain Allah SWT. Saat ia sampai di perkampungan wilayah Persia, ia memohon izin untuk dapat masuk kepada Rajanya. Dan para pembantu raja memperingatkan bahaya dari surat yang dibawa oleh Abdullah kepada raja.

Mendengar itu Kisra memerintahkan para pembantunya untuk menghias istana, lalu ia mengundang para pembesar Quraisy untuk dapat hadir dalam kesempatan ini. Kemudian Kisra mengizinkan Abdullah bin Hudzafah untuk datang.

Datanglah Abdullah bin Hudzafah menghadap pemimpin Persia dengan menggunakan selendang tipis yang menutupi tubuhnya, ia juga mengenakan baju panjang berbahan kasar yang ditutupi dengan salendang khusus bangsa Arab. Akan tetapi ia memiliki leher yang tegak. Postur tubuh yang tegap. Dari tulang rusuknya terlihat keagungan Islam. Dalam hatinya menyala kebesaran iman.

Begitu Kisra melihat Abdullah datang menghadap, ia langsung memberikan isyarat kepada salah seorang pembantunya untuk mengambil surat dari tangan Abdullah, maka Abdullah langsung berkata, “Jangan, Rasulullah SAW menyuruhku untuk menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu, dan aku tidak ingin melanggar perintah Rasulullah.”

Kisra pun langsung memerintahkan kepada semua pembantunya, “Biarkan ia mendekat kepadaku.”

Maka Abdullah langsung mendekat ke arah Kisra sehingga ia dapat langsung menyerahkan surat tersebut ke tangan Kisra. Lalu Kisra memanggil seorang juru tulis berkebangsaan Arab dari Negeri Al-Hirah dan ia memerintahkan untuk membuka surat tersebut di hadapannya. Kemudian Kisra meminta juru tulis tadi untuk membacakannya:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra yang agung Raja Persia. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk….”

Begitu Kisra mendengar isi surat sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya, maka tersulutlah api amarah dalam dadanya. Wajahnya menjadi merah. Keringatnya mengucur deras dari leher karena dalam surat tersebut Rasulullah SAW memulai dengan menyebut dirinya sendiri…. Lalu ia langsung menyambar surat tersebut dan merobeknya tanpa ia tahu apa yang ada dalam isi surat itu. Ia pun langsung berseru, “Apakah ia berani menuliskan hal ini kepadaku, padahal dia adalah budakku?!” Lalu ia memerintahkan para pengawalnya untuk mengeluarkan Abdullah bin Hudzafah dari hadapannya. Dan akhirnya Abdullah dibawa keluar.

***

Abdullah bin Hudzafah keluar meninggalkan ruang sidang Kisra. Ia sendiri tidak tahu ketentuan Allah yang bagaimana yang akan terjadi pada dirinya…. apakah ia akan dibunuh atau dibiarkan hidup dengan bebas?

Akan tetapi ia masih sempat berujar, “Demi Allah, aku tidak peduli akan nasibku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah SAW. Ia pun langsung menaiki kendaraannya dan akhirnya berangkat. Begitu amarah Kisra mereda, ia memerintahkan untuk membawa masuk kembali Abdullah; namun ia tidak ditemukan…. para pembantu raja lalu mencarinya, namun sayang Abdullah telah pergi tanpa jejak.

Mereka pun terus mengejar sepanjang jalan hingga ke Jazirah Arab, dan mereka menyadari bahwa Abdullah telah pergi jauh. Begitu Abdullah datang menghadap Nabi SAW, ia menceritakan apa yang terjadi dengan Kisra dan surat Nabi SAW yang dirobeknya. Rasulullah SAW tidak menanggapi dengan ucapan apa-apa selain, “Allah akan merobek-robek kerajaanya….”

***

Lalu Kisra mengirim surat kepada Badzan wakilnya yang berada di Yaman. Dalam suratnya Kisra berpesan, “Kirimlah kepada orang yang ada di Hijaz ini (Muhammad) dua orang kuat yang kau miliki. Dan suruhlah mereka berdua membawanya menghadapku….”

Maka Badzan mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah SAW, dan lewat kedua orang tadi Badzan menitipkan surat kepada Rasul yang di dalamnya terdapat perintah kepada Rasul untuk berangkat bersama kedua orang utusannya untuk menghadap Kisra sesegera mungkin…. Badzan juga meminta kedua utusannya untuk mencari informasi tentang diri dan kisah Rasulullah, dan meminta keduanya melaporkan setiap informasi tentang diri beliau.

***

Kedua orang tadi berangkat dengan kecepatan tinggi sehingga keduanya tiba di daerah Thaif. Mereka berdua bertemu dengan para pedagang dari suku Quraisy. Begitu melihat mereka, keduanya langsung menanyakan tentang diri Muhammad SAW. Para pedagang Quraisy menjawab, “Mereka kini ada di Yastrib.” Kemudian para pedagang tadi melanjutka perjalanan ke Makkah dengan gembira, dan mereka membawa kabar gembira kepada suku Quraisy sambil berkata, “Bergembiralah! Kisra akan menghantam Muhammad dan kalian tidak usah lagi khawatir akan kejahatannya.”

Kedua utusan tadi langsung menuju Madinah. Tatkala sampai di sana mereka berdua bertemu dengan Rasulullah. Lalu mereka menyerahkan surat Badzan kepada beliau sambil berkata, “Raja diraja Kisra menuliskan surat kepada raja kami, Badzan, untuk mengumpulkan seseorang yang dapat membawamu menghadapnya…. kami kini sudah datang untuk menjemputmu. Jika kau ingin, kami dapat berbicara kepada Kisra sehingga ia tidak mencelakakanmu dan membiarkanmu selamat. Jika kau menolak, kau sudah megerti kekuatan, kebengisan, dan kemampuannya untuk membunuhmu dan semua kaummu.”

Kemudian Rasulullah SAW tersenyum sambil berkata kepada mereka berdua, “Kembalilah lagi ke tunggangan kalian hari ini, dan datanglah esok!”

Begitu mereka berdua datang menghadap lagi kepada Rasul di hari esoknya, mereka berdua berkata, “Apakah kau sudah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama kami menghadapi Kisra?”

Rasulullah menjawab mereka dengan berkata, “Kalian tidak akan bertemu dengan Kisra lagi setelah ini…. Allah telah membunuhnya, dengan mengangkat putrinya yang bernama Syirawaih di malam ini…. Dan bulan ini….”

Lalu mereka berdua menatap tajam wajah Nabi SAW, dan nampak keterkejutan di wajah mereka berdua. Keduanya bertanya, “Apakah engkau mengerti apa yang engkau katakan? Apakah kami perlu menulis surat tentang hal ini kepada Badzan?”

Rasulullah menjawa, “Silahkan dan katakan kepadanya bahwa agamaku akan dapat menguasai apa yang telah dikuasai oleh Kisra dan jika ia mau masuk ke dalam Islam, aku akan membiarkan apa yang telah ia miliki dan menjadikannya sebagai raja bagi kaumnya.”

***

Akhirnya kedua utusan tadi pergi meninggalkan Rasulullah SAW dan mereka pun pergi menghadap Badzan, keduanya menceritakan kisahnya. Lalu Badzan berkata, “Jika apa yang dikatakan Muhammad adalah benar, maka ia adalah seorang Nabi, namun jika tidak, maka kami akan mengambil keputusan atasnya….”

Tidak lama berselang, tibalah kepada Badzan surat dari Syirawaih yang di dalamnya tertulis:

“Amma ba’du…. Aku telah membunuh Kisra. Aku membunuhnya karena ingin membalas dendam bangsaku. Karena ia telah memerintahkan untuk membunuh para pembesar bangsa, menjadikan wanita-wanitanya sebagai budak dan merampas harta rakyat. Jika surat ini telah sampai di tanganmu, maka engkau dan seluruh pengikutmu harus tunduk dan taat kepadaku.”

Begitu Badzan membaca surat dari Syirawaih, ia langsung membuang surat tersebut dan ia mengumumkan bahwa ia masuk Islam. Karenanya, maka seluruh bangsa Persia yang berada di Yaman masuk Islam bersamanya.

***

Demikianlah kisah perjumpaan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra Raja Persia. Lalu bagaimanakah kisah perjumpaannya dengan Kaisar yang agung Raja Romawi?

Perjumpaan Abdullah dengan Kaisar terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Umar pun punya kisah tersendiri dengan Abdullah yang termasuk kisah paling menakjubkan.

Pada tahun 19 Hijriyah, Umar mengirimkan pasukan untuk berperang dengan romawi yang di dalamnya terdapat Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi…. Kaisar Romawi sudah mendengar tentang kisah pasukan kaum Muslimin dan sifat mereka yang memiliki iman yang kuat, akidah yang kokoh dan rela mengorbankan jiwa di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Kaisar memerintahkan kepada pasukannya –jika mereka dapat menangkap seorang tawanan dari pasukan kaum Muslimin- hendaknya tidak diapa-apakan akan tetapi dibawa menghadapnya hidup-hidup. Kehendak Allah menetapkan bahwa Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi menjadi tawanan Bangsa Romawi. Maka para pasukan Romawi membawa Abdullah menghadap Kaisar. Para pasukan tadi berkata kepadanya, “Ini adalah seorang sahabat Muhammad yang masuk Islam lebih dahulu, dan ia berhasil kami tangkap; dan kini kami membawanya menghadapmu.”

***

Raja Romawi memandang ke arah Abdullah bin Hudzafah dengan seksama, kemudian ia berkata kepadanya, “Aku akan mewariskan sesuatu kepadamu.” Abdullah bertanya, “Apa itu?” Kaisar menjawab, “Aku menawarkan kepadamu untuk masuk ke dalam agama Nasrani. Jika kau mau, aku akan membiarkanmu hidup dan membuatmu hidup mulia.” Maka Abdullah menjawab dengan sengit dan tegas, “Tidak akan bagiku. Kematian 1000 kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu!”

Lalu Kaisar berkata, “Menurutku engkau adalah seorang yang mulia. Jika kau mau menerima tawaranku, maka aku akan menjadikanmu sebagai pembantuku dan aku akan berbagi kekuasaan denganmu.”

Abdullah yang berada dalam kondisi terikat itu tersenyum seraya berkata, “Demi Allah, andai saja engkau beri aku seluruh apa yang kau miliki dan semua yang dimiliki Bangsa Arab agar aku keluar dari agama Muhammad sekejap saja, maka aku tidak akan pernah melakukannya.”

Kaisar berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Abdullah menjawab, “Lakukan saja apa yang kau inginkan.”

Kemudian Kaisar memerintahkan agar Abdullah disalib. Kemudian ia memerintahkan para juru tombaknya untuk melontarkan tombak ke arah tangan Abdullah, karena ia berani untuk menolak masuk ke dalam agama Nasrani. Kaisar pun memerintahkan kepada juru tombaknya untuk melemparkan tombak ke arah kaki Abdullah karena ia berani menolak untuk meninggalkan agamanya.

Setelah itu, Kaisar meminta para juru tombaknya berhenti dan menyuruh mereka untuk menurunkan Abdullah dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah tungku besar yang berisikan minyak. Lalu ia menyalakan api sehingga mendidih. Ia memanggil pembantunya untuk membawa dua orang tawanan dari kaum Muslimin lainnya. Kemudian Kaisar memerintahkan agar salah seorang dari tawanan tadi dimasukkan ke dalam tungku tadi. Maka serta merta dagingnya langsung terburai dan tulangnya menjadi kelihatan.

Lalu Kaisar menoleh ke arah Abdullah bin Hufadzah dan mengajaknya lagi untuk masuk ke dalam agama Nasrani. Namun Abdullah menolaknya dengan lebih keras lagi.

Tatkala kesabaran Kaisar sudah habis, ia menyuruh pembantunya untuk memasukkan Abdullah ke dalam tungku bersama kedua sahabatnya tadi. Tatkala para pengawal membawa Abdullah, maka kedua matanya mengeluarkan air mata. Maka para pengawal tadi memberitahukan Kaisar bahwa Abdullah telah menangis….

Kaisar menduga bahwa Abdullah sudah merasa takut dan ia berkata, “Bawalah ia kembali menghadapku!”

Tatkala Abdullah sudah berada di hadapan Kaisar, Kaisar menawarkan agama Nasrani kembali kepadanya dan ia pun masih menolak.

Maka Kaisar menjadi berang karenanya seraya berkata, “Celakalah kamu! Lalu apa yang membuatmu menangis tadi? Abdullah menjawab, “Yang membuat aku menangis adalah saat aku berkata dalam diri sendiri, ‘Sebentar lagi engkau akan dimasukkan ke dalam tungku dan ruhmu akan pergi. Dan aku berharap aku memiliki ruh yang banyak sejumlah rambut yang berada di badanku, sehingga semuanya dimasukkan ke dalam tungku dan mati di jalan Allah.”

Maka Kaisar yang lalim bertanya, “Maukah kau mencium kepalaku sehingga aku akan membebaskanmu?” Abdullah balik bertanya, “Apakah engkau juga akan membebaskan semua tawanan kaum Muslimin?” Kaisar menjawab, “Semuanya akan aku bebaskan.” Lalu Abdullah berkata dalam dirinya, “Dia adalah salah satu musuh Allah. Aku harus mencium kepalanya sehingga ia akan membebaskanku dan semua tawanan Muslimin.  Menurutku ini bukanlah hal yang dapat membawa pada kemudharatan.”

Kemudian Abdullah mendekat ke arah Kaisar dan ia pun mencium kepala Kaisar. Lalu Kaisar memerintahkan untuk membawa semua tawanan Muslimin menghadapnya dan kemudian mereka semua dibebaskan.

***

Abdullah bin Hudzafah datang menghadap Umar bin Khattab RA. Ia mengisahkan ceritanya; Umar langsung gembira dibuatnya. Tatkala Umar melihat semua tawanan yang bersamanya, ia berujar, “Menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah…. dan aku sendiri yang akan memulainya.” Lalu Umar berdiri dan mencium kepala Abdullah.


Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi

Assalamu’alaykum sahabat.. Sudah baca kan tulisan sebelumnya? Kalau sudah, mari kita bahas tentang beberapa keutamaan dan besarnya pahala bagi orang yang saling mencintai dan membenci karena Allah..

Pertama, mereka akan mendapatkan naungan dari Allah. Kedudukan mereka setara dengan pemimpin yang adil, pemuda yang semasa hidupnya senantiasa beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid, seorang yang menolak jika diajak berzina oleh orang yang berkedudukan lagi cantik, orang yang menginfakkan hartanya secara diam-diam, dan orang yang meneteskan air matanya karena mengingat kepada Allah. Kesemua yang disebutkan di atas kelak akan mendapatkan naungan dari Allah ketika tidak ada naungan selain-Nya. Jika di dunia kita merasa aman karena mendapatkan perlindungan dari orang yang kuat dan terpandang, tentu lebih membahagiakan bila yang kita dapatkan adalah naungan langsung dari Allah.

Kedua, kepada mereka diserahi mimbar-mimbar dari cahaya yang bahkan para sahabat pun mencemburui kedudukan mereka. Dalam hadist diriwayatkan bahwa ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai ciri-ciri mereka, Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan  nasab dan tidak memiliki harta yang dikelola bersama. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih.” Kemudian setelah itu Rasulullah SAW membacakan Surat Yunus ayat 62.

Ketiga, mereka akan membersamai orang-orang yang dicintainya, meskipun ia belum mampu beramal seperti amalan mereka. Dalam beberapa hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” Bahkan, beberapa sahabat merasa termotivasi setelah mendengar pernyataan beliau. Rasulullah dalam salah satu hadistnya juga mengatakan bahwa loyalitas kepada Allah, dengan mencintai dan membenci sesuatu karena Allah, merupakan tali keimanan yang paling kuat.

Orang-orang yang memberikan loyalitasnya kepada Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya. Mereka-mereka ini adalah orang yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, dan menikah karena Allah. Mereka yang saling mencintai karena Allah, keduanya akan dimasukkan ke dalam surga. Barangsiapa yang cintanya lebih besar, derajatnya ditinggikan dan ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah. Mereka juga disunnahkan untuk saling mengabarkan kecintaan tersebut dan saling mendoakan satu sama lain. Sebab, malaikat turut mengaminkan doa seseorang pada saudaranya dan ia juga akan mendapatkan kebaikan serupa.

Keempat, mereka akan mendapatkan kecintaan Allah. Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain, kemudian malaikat datang kepadanya dan menanyakan perihal kepergiannya. Ketika orang tersebut menjawab bahwa ia tidaklah mengunjungi rumah saudaranya melainkan atas dasar kecintaan kepada Allah, maka malaikat itu menyampaikan sesuatu kepada orang tersebut. Malaikat berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.”

Kelima, kepada mereka diberikan pahala yang sangat besar sesuai dengan kadar kemampuannya mencintai saudaranya. Diantara bentuk perbuatannya adalah bersikap baik kepada saudara, berusaha membantu kebutuhan mereka, dan berupaya menghilangkan kesusahannya. Dengan membantu menghilangkan kesusahan mereka, menjadi sebab dihilangkannya salah satu kesusahan kita di hari kiamat. Barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan ganjaran berupa pemenuhan kebutuhannya tiada henti. Bahkan, apabila kita menampakkan kepada mereka hal-hal yang disukainya, itu menjadi sebab didatangkannya kebahagiaan kepada kita oleh Allah di hari kiamat.

Selain itu, kita juga disunnahkan untuk saling memberi hadiah kepada orang yang dicintai. Jika kita diberi hadiah, maka kita disunnahkan untuk membalasnya. Namun apabila kita tidak mendapati sesuatu untuk diberikan, minimal kita mengucapkan jazaakallah khayran (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) kepada mereka. Meskipun hanya sebuah ungkapan, tetapi itu termasuk balasan yang setimpal dan pujian yang sangat baik.

Kita juga dianjurkan membela saudara kita dan melindungi kehormatannya saat ia tidak ada. Sebab, barangsiapa yang melakukan demikian, maka Allah akan melindungi wajahnya dari api neraka di  hari kiamat kelak. Selain itu, seorang muslim diwajibkan oleh Allah untuk  menerima permintaan maaf saudaranya, menjaga rahasianya, serta menasehatinya. Adapun perkara nasehat, ini merupakan salah satu hak seorang muslim di samping ucapan salam ketika bertemu, memenuhi undangan, menjawabnya ketika bersin, menjenguknya ketika sakit, dan mengantarkannya sampai ke liang lahat.

Tulisan ini semoga menjadi cambuk bagi penulis pribadi, dan mengingatkan di kala lupa, bahwasannya penulis pernah menorehkan hal ini. Semuanya agar penulis tidak diumpakan sebagai keledai yang membawa barang berat tetapi menyusahkan, atau seperti kayu yang tersandar. Oya, jika sahabat bertanya kenapa bisa penulis menyusun tulisan ini, jangan heran sebab ana menuliskannya sambil baca kitab..hehe

Wallahu waliyyut taufiq was sadad

NGAJI BERSERI #13 CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH (3)