Abu Dzar Al-Ghifari

Jundub bin Junadah

“Bumi tidak pernah mengandung & langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar.” –Muhammad Rasulullah

Di lembah Waddan yang menyambungkan Makkah dengan dunia luar ada sebuah kabilah yang tinggal di sana bernama Ghifar.

Suku Ghifar ini hidup dari uang setoran yang diberikan oleh para kafilah yang hendak melakukan perdagangan dari Quraisy ke Syam atau sebaliknya.

Terkadang suku ini hidup dengan merampas harta para kafilah yang tidak memberikan uang yang mereka pinta.

Jundub bin Junadah, yang lebih dikenal dengan Abu Dzar, adalah salah seorang dari penduduk kabilah ini. Akan tetapi berbeda dengan lainnya, ia memiliki keberanian hati, otak yang cerdas dan wawasan yang luas. Dan ia merasa tidak suka sekali dengan berhala-berhala yang disembah kaumnya selain Allah SWT. Ia menolak kerusakan agama dan akidah yang terjadi pada kebanyakan bangsa Arab. Ia mencaritahu tentang munculnya seorang Nabi yang baru untuk mengisi akal manusia dan hati mereka serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu Abu Dzar –yang saat itu berada di kampungnya- mendengar kisah tentang seorang Nabi yang baru dan muncul di kota Makkah. Lalu ia berkata kepada saudaranya yang bernama Anis, “Pergilah ke Makkah dan carilah kisah tentang orang yang mengaku Nabi itu dan mengaku menerima wahyu dari langit. Dengarkanlah apa yang ia ucapkan dan sampaikan kepadaku!”

***

Berangkatlah Anis ke Makkah dan ia berjumpa dengan Rasulullah SAW. Ia pun mendengarkan beberapa sabda beliau. Kemudian Anis kembali ke desanya lalu Abu Dzar menghampirinya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menanyakan Anis tentang kisah Nabi yang baru dengan penasaran.

Anis berkata, “Demi Allah, menurutku ia adalah seorang yang mengajak untuk memperbaiki akhlak. Ia mengucapkan beberapa kalimat yang bukan sya’ir.” Abu Dzar bertanya, “Apa pendapat orang tentang dirinya?” Anis menjawab, “Mereka menyebutnya dengan penyihir, dukun dan penyair.” Abu Dzar lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan merasa puas. Maukah kau menjaga keluargaku agar aku berangkat ke sana melihat dia dengan mata kepalaku sendiri?”

Anis menjawab, “Baiklah, akan tetapi waspadalah terhadap penduduk Makkah!”

***

Abu Dzar mempersiapkan bekal untuk berangkat. Ia membawa tempat air kecil bersamanya. Keesokan harinya ia berangkat menuju Makkah untuk bertemu dengan Nabi SAW dan mengetahui kisah kenabian beliau langsung darinya.

***

Abu Dzar tiba di Makkah dengan diam-diam karena khawatir akan kejahatan penduduknya. Ia telah mendengar kemarahan Quraisy dalam membela Tuhan-tuhan mereka dan penyiksaan mereka terhadap orang yang mengaku sebagai pengikut Muhammad.

Oleh karenanya, ia enggan untuk bertanya tentang Muhammad, karena ia sendiri tidak tahu apakah orang yang ia tanyakan nanti termasuk pendukung Muhammad atau musuh Muhammad?

***

Begitu malam tiba, Abu Dzar berbaring di dalam masjid, lalu Ali RA melintasi Abu Dzar dan Ali tahu bahwa Abu Dzar adalah seorang pendatang. Ali langsung berkata kepadanya, “Ikutilah kami, wahai saudara! Abu Dzar pun mengikutinya dan menginap di rumah Ali. Paginya, Abu Dzar membawa tempat air dan makanannya dan kembali datang ke masjid tanpa keduanya saling bertanya tentang sesuatu.

Kemudian Abu Dzar menghabiskan hari yang kedua di masjid dan belum juga mengetahui kabar tentang Nabi SAW. Begitu petang menjelang, ia sudah hendak berbaring dalam masjid. Lalu datanglah Ali RA dan berkata kepadanya, “Apakah orang ini tidak tahu rumahnya?!” Kemudian Abu Dzar pergi ke rumah Ali dan menginap di sana pada malam yang kedua. Dan keduanya tidak saling bertanya tentang apa pun juga.

Pada malam ketiga, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Apakah engkau tidak mau bercerita kepadaku mengapa engkau datang ke Makkah?” Abu Dzar menjawab, “Jika kau berjanji akan menunjukkan apa yang aku cari, maka aku akan mengatakannya.” Maka Ali berjanji untuk melakukannya.

Abu Dzar lalu berkata, “Aku datang ke Makkah dari tempat yang jauh untuk berjumpa dengan seorang Nabi baru dan untuk mendengarkan sesuatu yang ia ucapkan.”

Maka merebaklah kebahagiaan di wajah Ali, lalu ia berkata, “Demi Allah, dialah Rasulullah, dialah…. dialah…. Besok pagi ikutilah aku ke mana aku pergi. Jika aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, aku akan berhenti seolah sedang menuangkan air. Jika aku berjalan lagi, ikutilah aku sehingga kau masuk ke sebuah pintu bersamaku!”

***

Malam itu, Abu Dzar tidak bisa tidur nyenyak karena rindu sekali ingin berjumpa dengan Nabi SAW, dan ingin sekali mendengarkan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Keesokan paginya, Ali berangkat bersama tamunya menuju rumah Rasulullah. Abu Dzar mengikuti jejaknya dan ia tidak menoleh ke arah mana pun hingga keduanya masuk ke rumah Nabi SAW. Lalu Abu Dzar berkata, “Assalamu’alaika, Ya Rasulullah!” Rasul menjawab, “Wa’alaika salaamullah warahmatuhu wa barakatuhu!”

Abu Dzar menjadi orang pertama yang memberikan salam kepada Rasulullah SAW dengan tahiyat Islam. Lalu setelah itu ucapan salam menjadi akrab dipakai orang.

***

Rasulullah mengajak Abu Dzar untuk masuk Islam dan membacakan kepadanya Alquran. Begitu ia mengucapkan kalimatul haq dan masuk ke dalam agama yang baru, maka ia menjadi orang keempat ata kelima yang masuk ke dalam Islam.

Sekarang, mari kita persilakan Abu Dzar untuk menceritakan kisah selanjutnya sendiri:

Setelah itu, aku tinggal bersama Rasulullah SAW di Makkah dan beliau mengajarkan Islam kepadaku. Beliau juga mengajarkan aku beberapa ayat Alquran. Beliau berkata kepadaku, “Jangan kau beritahu siapa pun tentang keislamanmu di Makkah. Aku khawatir mereka akan membunuhmu!” Aku menjawab, “Demi Zat yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya. Aku tidak akan meninggalkan Makkah sehingga aku datang ke masjid dan aku akan meneriakkan dakwah kebenaran di hadapan suku Quraisy!” Rasul pun diam.

Lalu aku datang ke masjid, dan suku Quraisy sedang duduk berbincang-bincang di sana. Aku masuk ke tengah-tengah mereka. Aku berteriak dengan sekeras-kerasnya, “Wahai Bangsa Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

Begitu ucapanku hinggap di telinga mereka, maka mereka semua bangun dari tempat duduknya. Mereka berkata, “Tangkaplah orang yang keluar dari agamanya ini!” Mereka pun menangkapku dan memukuliku hingga aku hampir mati. Lalu Abbas bin Abdul Muthalib paman Rasulullah menarikku, ia berusaha melindungiku dari pukulan suku Quraisy. Kemudian ia berkata kepada mereka, “Celakalah kalian! Apakah kalian hendak membunuh seorang yang berasal dari Ghifar tempat berlalunya kafilah kalian?! Biarkan ia bersamaku!”

Begitu aku siuman, aku datang menghadap Rasulullah SAW. Saat beliau melihat apa yang aku alami, beliau berkata, “Bukankah aku telah melarangmu agar tidak mengumumkan keislamanmu?!” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, itu merupakan keinginan hatiku dan aku telah memenuhinya.”

Beliau berkata, “Kembalilah ke kaummu dan beritahukan kepada mereka apa yang telah kau lihat dan kau dengar. Ajaklah mereka kembali kepada Allah. Semoga Allah memberi manfaat untuk mereka lewatmu dan memberimu balasan karena jasa baik yang kau lakukan kepada mereka. Jika kau mendengar bahwa aku sudah berdakwah secara terang-terangan, maka datanglah kepadaku!”

Abu Dzar meneruskan kisahnya:

Aku pun berangkat hingga tiba di perkampungan kaumku. Lalu saudaraku Anis menanyakan, “Apa yang telah engkau lakukan?” Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam, dan aku telah meyakininya.”

Tidak lama berselang, Allah pun melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Ia berujar, “Aku tidak membenci agamamu. Aku kini masuk Islam dan meyakininya juga.”

Lalu kami berdua mendatangi ibu kami. Kami mengajaknya untuk masuk Islam. Ia menjawab, “Aku tidak membenci agama kalian berdua.” Dan ia pun masuk Islam.

Sejak hari itu, keluarga ini telah masuk Islam dan berdakwah di jalan Allah di daerah Ghifar. Mereka tidak pernah merasa bosan dan putus asa. Hingga banyak sekali dari penduduk Ghifar yang masuk Islam dan mendirikan shalat.

Sebagian dari penduduk Ghifar mengatakan, “Kami akan terus menjalankan agama kami hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah maka kami akan masuk Islam.” Begitu Rasul pindah ke Madinah, mereka pun masuk Islam. Rasulullah bersabda, “Ghifar, Allah memberikan maghfirahnya kepada mereka. Ghifar telah masuk Islam dan Allah akan membuatnya senantiasa selamat.”

***

Abu Dzar tinggal di kampungnya sehingga peristiwa Badar, Uhud dan Khandaq terlewatkan olehnya. Kemudian ia datang ke Madinah dan ia mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Rasulullah SAW. Beliau pun mengizinkannya dan ia begitu gembira dapat mendampingi dan melayani Rasulullah SAW.

Rasulullah senantiasa memberikan penghormatan dan memuliakan Abu Dzar. Beliau tidak pernah berjumpa dengannya kecuali beliau menjabat tangannya. Beliau juga senantiasa menampakkan wajah ceria di hadapan Abu Dzar.

***

Saat Rasulullah SAW kembali ke pangkuan Rabb-Nya, Abu Dzar tidak sanggup lagi tinggal di Madinah al-Munawwarah setelah ditinggalkan pemimpinnya dan kehilangan petunjuknya. Ia pernah pergi ke sebuah desa di Syam dan tinggal di sana selama pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq.

***

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Abu Dzar yang tinggal di Damaskus mendapati kaum Muslimin sudah begitu mencintai dunia dan hidup bermewah-mewahan. Hal ini membuat ia keheranan dan menolaknya. Utsman pun memintanya untuk datang ke Madinah dan ia pun datang. Akan tetapi, ia merasa sumpek dengan manusia yang begitu cinta dunia dan manusia pun menjadi benci kepadanya karena ia begitu saklek kepada mereka. Maka Utsman memerintahkannya untuk pindah ke Ar-Rabdzah yaitu sebuah desa kecil yang ada di Madinah. Lalu ia berangkat ke sana dan tinggal di sana di sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia. Ia berzuhud dari hal yang manusia miliki, senantiasa dengan apa yang dijalankan Rasulullah dan kedua sahabatnya yang lebih mendahulukan akhirat daripada dunia.

***

Suatu hari, ada seseorang yang datang ke rumah Abu Dzar dan melihat ke sekeliling rumahnya, akan tetapi ia tidak menemukan barang apa pun.

Orang itu bertanya, “Wahai Abu Dzar, mana perabotanmu?!”

Ia menjawab, “Kami memiliki rumah di sana (maksudnya akhirat). Kami mengirimkan perabotan kami yang baik ke sana.

Orang itu pun mengerti maksud Abu Dzar dan berkata, “Akan tetapi engkau harus memiliki perabotan selagi engkau berada di sini (maksudnya dunia).” Lalu ia menjawab, “Akan tetapi pemilik rumah ini tidak akan membiarkan kami tinggal di sini.”

***

Amir (pemimpin Syam) mengirimkan 300 dinar kepada Abu Dzar dan berkata kepadanya, “Gunakanlah uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu!” Tapi Abu Dzar menolaknya sambil berkata, “Apakah Amir Negeri Syam Abdullah tidak menemukan orang yang lebih miskin dariku?”

***

Pada tahun 32 Hijriah, ajal datang menjemput hamba yang taat beribadah dan hidup zuhud, yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai, “Bumi tidak pernah mengandung dan langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar.”

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Cyberbullying Lebih Berbahaya

gaulislam edisi 510/tahun ke-10 (7 Dzulqa’dah 1438 H/ 31 Juli 2017)


Entah kenapa banyak orang sering banget ngejailin, ngisengin, atau malah mem-bully orang lain (ada yang bernada candaan, nggak sedikit yang berirama kebencian). Di dunia nyata getol, eh di dunia maya juga pol. Bener-bener deh. Apa mereka nggak mikirin dampaknya ya? Eh, jangan-jangan kita juga pernah tuh mem-bully orang lain? Hmm.. silakan diinget-inget lagi, mungkin pernah. Tapi kalo nggak pernah syukurlah.

Sobat gaulislam, istilah cyberbullying ini muncul ketika media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang dalam ngumpul, berkomunikasi, dan bergaul. Sebenarnya medsos bisa tanpa bullying, lho. Tapi anehnya banyak juga yang menggunakannya untuk mem-bully. Ya, ibarat pisau bermata dua, media sosial bisa untuk menebar kebaikan dengan cepat, namun menaburkan konten negatif semisal bullying juga nggak kalah cepat tersebar. Waspadalah!

Nggak sedikit lho yang pernah jadi korban ancaman, pelecehan, penghinaan, dan bahkan dipermalukan ketika menggunakan internet, baik via laptop maupun smartphone. Nah, kalo ada korban, berarti ada pelaku dong ya? Betul! Udah jadi rahasia umum pelakucyberbullying biasa menghina dan mempermalukan orang lain yang nggak disukainya melalui media sosial. Kalo yang sehari-hari di media sosial kayaknya merasakan deh, apalagi jika ada data dan fakta valid hasil survei, bisa bikin ngeri!

Menurut catatan di Kompas.com,  Instagram menjadi media sosial yang paling umum digunakan untuk melakukan perisakan/perundungan di internet, alias cyberbullying. Setidaknya begitu menurut hasil survei dari lembaga donasi anti-bullying, Ditch The Label.

Cyberbullying yang dimaksud dalam hal ini mencakup komentar negatif pada postingan tertentu, pesan personal tak bersahabat, serta menyebarkan postingan atau profil akun media sosial tertentu dengan mengolok-olok.

Tak kurang dari 10.000 remaja berusia 12 hingga 20 tahun yang berdomisili di Inggris dijadikan sebagai sumber survei. Hasil survei menunjukkan, lebih dari 42 persen korbancyberbullying mengaku mendapatkannya di Instagram, sebagaimana dilaporkan Mashable dan dihimpun KompasTekno, Jumat (21/7/2017).

Sementara itu, 37 persen korban cyberbullying mengaku mengalami perisakan/perundungan via Facebook, dan 31 persen di Snapchat. Survey ini menunjukkan pergeseran platform untuk melakukan perundungan.

Data ini untuk kasus di Inggris, lho. Nggak menutup kemungkinan di negeri kita juga nggak jauh beda kasusnya. Berdasarkan pantauan saya sih, walau bukan niatnya survei, hanya sekadar melihat selintas akun-akun facebook, instagram, dan twitter ada banyak juga yang melakukan cyberbullying. Dalam survei yang dilakukan Ditch The Label menarik juga mengapa Instagram jadi pilihan untuk lakukan aksi bullying. Why?

Mengapa Instagram?

Ini pertanyaan menarik bagi saya. Walau saya nggak banyak update foto dan caption di Instagram, tapi pernah lihat sih kasusnya, selain juga mendapat info dari orang-orang tertentu terkait informasi ancaman, pelecehan dan penghinaan yang dilakukan remaja di media sosial bernama Instagram.

Berdasarkan berita di Kompas.com, Instagram sejatinya merupakan platform untuk berbagi konten visual, bukan teks. Meski demikian, komentar-komentar yang merespons konten visual pengguna agaknya banyak yang tergolong sebagai cyberbullying.

“Saya menyetel akun Instagram dalam mode privasi. Seseorang yang tak saya kenal tiba-tiba memiliki foto saya entah dari mana. Ia mengatakan bakal menaruh (atau mengedit) wajah saya pada foto telanjang jika saya tak angkat teleponnya,” kata seorang remaja 13 tahun ketika diwawancara untuk kebutuhan survei Ditch The Label. (Kompas.com, 21 Juli 2017).

Nah, sebenarnya komentar-komentar negatif yang merespon gambar atau foto nggak hanya di Instagram, lho. Di media sosial lain juga bertebaran. Bahkan tahun 2013, sekira 87 persen remaja mengaku dibully di Facebook. Cuma sekarang sudah bergeser ke Instagram. Hehe.. padahal Instagram juga dibeli sama Facebook. Jangan-jangan para pembully sebenarnya di lingkaran media sosial yang sama, hanya beda platform. Hadeuuh!

Bullying itu nggak beradab

Sobat gaulislam, kamu pastinya nggak percaya kalo ada santri yang melakukancyberbullying. Awalnya saya juga nggak percaya, cuma setelah melihat faktanya jadi percaya, apalagi yang menyampaikan juga guru di pesantren tersebut. Aduuuh.. bikin malu aja! Santri gitu lho. Padahal kan mereka belajar al-Quran, menghafal al-Quran, belajar akidah, belajar adab, dan tsaqafah Islam lainnya. Kok bisa sih, di medsos menulis komentar kasar berupa pelecehan, penghinaan, dan bahkan mempermalukan. Lebih parah lagi bila yang jadi sasasaran bully bukan hanya sesama santri, tetapi juga menghina gurunya. Waduh!

Sebenarnya kasus bully di media sosial bukan hanya marak sekarang atau setahun dua tahun kemarin. Ini sejatinya sudah lama, lho. Sejak saya mulai mengenal internet pada tahun 1996 dan aktif menggunakannya sejak 1998 sampai sekarang, konten bullying itu sudah ada walau nggak separah sekarang. Puncaknya memang ketika mulai bertebaran situs jejaring sosial. Maka, pada tahun 2007 saya sudah menulis buku dan diterbitkan dengan judul “Gaul Tekno Tanpa Error”. Itu untuk merespon cara bergaul remaja di internet dan juga pengguna ponsel. Dilanjut tahun 2015 saya menulis buku dengan judul “SOSMED Addict” juga untuk menanggapi maraknya dampak negatif (termasuk ada juga yang positif) bermunculannya platform media sosial. Silakan baca aja kedua buku tersebut ya (saya juga jualan kok bukunya, eh, malah iklan!)

Ya, emang nggak beradab tuh orang yang menghina dan melecehkan orang lain, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, baik secara konten gambar/foto maupun komentar (teks). Sama saja nggak beradabnya. Malah jauh sebelum itu, di film-film Warkop DKI di masa lalu komentar negatif juga dihamburkan begitu saja. Waktu SD sih saat nonton film itu di tahun 80-an, saya merasa lucu, tapi mulai SMA (awal 90-an) saya nggak menyukainya. Gimana nggak, meski maksudnya bercanda, tapi ya menghina dan melecehkan. Misalnya nih, jangan dijadikan contoh ya. Ini kata-kata Om Kasino di film “Gengsi Dong” (1980) ketika bertemu Dono, “Muke apa bemo, Mas?”. Atau di film “Pintar-Pintar Bodoh” (1980), Om Kasino juga ngomentarin Dono, “Bego dipiara. Kambing dipiara bisa gemuk!” Begitu juga di film “Dongkrak Antik” (1982), “Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik…!” Hadeuuh kalo sekarang tayang di tipi bisa kena sensor karena masuk kategori bullying dengan kata-kata pelecehan, tuh. Tapi nggak tahu juga sih, kali aja tetep lolos sensor karena mungkin sudah menjadi prilaku masyarakat sejak dulu sampai sekarang. Tapi perilaku masyarakat yang nggak beradab. Nggak banget, deh!

So, kalo zaman sekarang masih ada perilaku model gitu, berarti masyarakat kita secara umum belum beradab. Padahal, banyak di antara mereka mengaku muslim. Duh, jadi malu dan perlu segera dilakukan perubahan. Beneran!

Belajar dari Islam

Berbicara sesuai tuntunan Rasulullah dapat menyelamatkan kita dari siksa neraka dan memasukkan kita ke dalam surga. Dari Sahl bin Saad radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada di antara dua jenggotnya (yaitu lisannya) dan yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluannya), maka Aku memberikan jaminan surga kepadanya.” (Muttafaqun alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bukan seorang mukmin apabila ia suka menghujat, suka melaknat, berkata keji dan buruk.” (HR Tirmidzi)

Tuh, dari dua hadits ini aja seharusnya kita lebih hati-hati ya, Bro en Sis. Hati-hati menjaga lisan dan tulisan. Jangan sampai deh kita terjerumus dalam dosa tersebab bicara dan berkomentar melalui tulisan di media sosial dengan konten yang buruk dan keji. Waspadalah!

Sobat gaulislam, nih ada tambahan hadits lainnya. Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak, maka diamlah.” (Muttafaqalaih: al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Adakalanya diam itu lebih baik daripada berbicara, sehingga ada perkataan bahwa diam itu emas. Luqman berkata pada anaknya, “Jika berkata dalam kebaikan adalah perak, maka diam dari berkata yang mengandung dosa adalah emas.”

Ok deh, mulai sekarang: stop bullying di medsos (dan juga di dunia nyata, dong ya). Itu nggak baik. Apalagi dilakukan sesama muslim. Waduh, bikin malu aja deh.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari, no. 10)

Yuk ah, benahi akun medsos kita (instagram, facebook, twitter dan lainnya) agar isinya bermanfaat. Nggak ada kata-kata atau komentar atau gambar/foto yang isinya melecehkan, menghina, mengancam, mengolok-olok dan mempermalukan orang lain. Bullying di medsos lebih berbahaya lho ketimbang di dunia nyata. Sebab, di medsos bisa jadi semua teman dalam lingkaran pergaulan kita banyak yang tahu karena foto dan komentar kita bisa dibaca follower atau teman kita (apalagi jika di-share lagi, bisa viral tuh!). Ngeri banget kalo itu keburukan jadi nyebar cepet. So, jaga lisan dan tangan kita dari berbuat dosa, semisal bullying ini. Bisa ya. Harus!

[O. Solihin | IG: @osolihin]

Islam Kaffah

Buletin Kaffah No. 001, 11 Agustus 2017/18 Dzulqa’dah 1438 H


Islam adalah agama yang syâmil (meliputi segala sesuatu) dan kâmil (sempurna). Sebagai agama yang syâmil, Islam menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara: akidah, ibadah, akhlak, makanan, pakaian, mumamalah, ‘uqûbât (sanksi hukum), dll. Tak ada satu perkara pun yang luput dari pengaturan Islam. Hal ini Allah SWT tegaskan di dalam al-Quran:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ 

Kami telah menurunkan kepada kamu al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu (TQS an-Nahl [16]: 89).

Islam sekaligus merupakan agama yang kâmil (sempurna), yang tidak sedikit pun memiliki kekurangan. Hal ini Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya: 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian (Islam), telah melengkapi atas kalian nikmat-Ku dan telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Karena itu tentu sebuah kelancangan jika kita menganggap ada hal-hal yang tidak diatur oleh Islam. Misal, ada yang berpendapat bahwa Islam tidak mengatur urusan negara, apalagi menentukan sistem dan bentuk negara bagi kaum Muslim. Alasannya, karena tidak ada perintahnya secara tekstual di dalam al-Quran. 

Pendapat demikian tentu berasal dari cara berpikir yang dangkal. Sebabnya, jika alasannya semata-mata tekstualitas nash, betapa banyak ajaran dan hukum Islam yang tidak secara tekstual dinyatakan oleh nash al-Quran, tetapi dijelaskan oleh as-Sunnah, Ijmak Sahabat atau Qiyas Syar’i.

Contoh: Al-Quran secara tekstual hanya memerintahkan shalat, tetapi tidak menjelaskan syarat dan rukunnya, termasuk waktu-waktunya. Ketentuan rinci tentang shalat dijelaskan oleh as-Sunnah.

Contoh lain: Al-Quran secara tekstual menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, tetapi tidak menjelaskan syarat-syarat dan rukun jual-beli, macam-macam akad ribawi serta ketentuan rinci lainnya. Ketentuan rinci tentang jual-beli dan riba dijelaskan oleh as-Sunnah atau Ijma’ Sahabat. 

Demikian pula terkait pengurusan negara. Al-Quran memang tidak secara tegas (tekstual) menentukan sistem dan bentuk negara. Namun, ketentuan tentang sistem dan bentuk negara dijelaskan oleh banyak nash as-Sunnah atau ditegaskan oleh Ijmak Sahabat.

Hal demikian amat mudah dipahami oleh mereka yang memahami ijtihad dan tentu akan gagal dipahami oleh mereka yang tidak mengerti ijtihad. 

/Keharusan Mengamalkan Islam Secara Kâffah/

Totalitas dan kesempurnaan Islam tentu tidak akan tampak kecuali jika kaum Muslim mengamalkan Islam secara kâffah (total) dalam seluruh segi kehidupan. Inilah yang Allah SWT perintahkan secara tegas dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Sabab an-nuzûl ayat ini menurut Imam al-Baghawi berkaitan dengan masuk Islamnya seorang Ahlul Kitab Yahudi Bani Nadhir bernama Abdulah bin Salam dan teman-temannya. Namun, setelah memeluk Islam ia tetap menganggap mulia hari Sabtu dan tidak mau memakan daging unta. Mereka pun menyatakan, “Wahai Rasulullah, bukankah Taurat itu adalah Kitabullah? Karena itu izinkanlah kami tetap membaca Taurat itu dalam shalat-shalat malam kami.” Lalu turunlah turunlah ayat ini sebagai jawaban (Tafsir al-Baghawi, I/240). 

Terkait kata kâffah dalam ayat di atas ada dua pendapat. Pertama: menurut Imam an-Nasafi, kata kâffah adalah hâl (penjelasan keadaan) dari dhamir (kata ganti) pada frasa udkhulû (masuklah kalian) yang bermakna jamî’an (menyeluruh/semua kaum Mukmin). Artinya, ayat ini ditujukan untuk semua kaum Mukmin (Lihat: An-Nasafi, Madârik at-Tanzîl, I/112). 

Kedua: Menurut Imam Qurthubi, kata kâffah berfungsi sebagai hâl (penjelasan keadaan) dari kata al-silmi (Islam) (Tafsir al-Qurthubi, III/18). Artinya, melalui ayat ini Allah SWT menuntut orang-orang yang masuk Islam untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (total). Mereka tidak boleh memilih-milih maupun memilah-milah sebagian hukum Islam untuk tidak diamalkan.

Pemahaman ini diperkuat dengan sabâb an-nuzûl ayat ini—sebagaimana diterangkan di atas—yang menolak dispensasi beberapa orang Yahudi ketika hendak masuk Islam untuk mengamalkan sebagian isi Taurat. 

Menurut Imam ath-Thabari, dalam ayat ini kaum Mukmin diseru untuk menolak semua hal yang bukan dari hukum Islam; melaksanakan seluruh syariah Islam; dan menjauhkan diri dari upaya-upaya untuk melenyapkan sesuatu yang merupakan bagian dari hukum-hukum Islam (Tafsîr ath-Thabari, II/337).

Saat menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan, “Allah SWT menyeru para hamba-Nya yang mengimani-Nya serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah Islam; melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan kemampuan mereka.” (Ibn Katsir, 1/335).

Karena itulah, menurut Syaikh Mahmud Syaltut, Islam menuntut menyatunya syariah dengan akidah; masing-masing tidak bisa dipisahkan. Akidah adalah dasar yang memancarkan syariah, sementara syariah merupakan wujud nyata yang lahir dari akidah.

Dengan kata lain akidah adalah fondasi, sedangkan syariah adalah bangunan yang berdiri di atasnya. Karena itu akidah tanpa syariah bagaikan fondasi tanpa wujud bangunan sehingga abstrak dan sulit diukur.

Sebaliknya, bangunan tanpa fondasi juga tidak mungkin karena ia akan runtuh. Karena itu pula para ulama menyatakan, bahwa keimanan adalah aspek batiniah, sedangkan syariah adalah aspek lahiriah (Al-Kirmani, Jawâhir al-Bukhâri, hlm. 39).

Dengan demikian Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna, yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan yang tidak dipecahkan oleh Islam sehingga masih kabur atau tidak jelas status hukumnya. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

Aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang terang-benderang, malamnya bagaikan siang harinya. Setelahku tidak akan ada yang tersesat kecuali orang yang celaka (HR Ahmad).

Oleh karena itu kaum Muslim diperintahkan untuk hanya melaksanakan seluruh syariah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tak sepatutnya kaum Muslim mempraktikkan aturan-aturan lain yang bersumber dari Barat yang diajarkan oleh Motesquie, Thomas Hobbes, John Locke, dll yang melahirkan sistem politik demokrasi; atau yang diajarkan John Maynard Keynes, David Ricardo, dll yang melahirkan sistem ekonomi kapitalisme.

Dengan demikian haram bagi kaum Muslim untuk mengingkari atau mencampakkan sebagian syariah Islam dari realitas kehidupan dengan mengikuti prinsip sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) sebagaimana yang dipraktikkan oleh negara saat ini. Allah SWT dengan tegas mengecam sikap semacam ini:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab serta mengingkari sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dilemparkan ke dalam siksa yang amat keras. Allah tidaklah lalai atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Baqarah [2]: 85).

/Tak Boleh Berdiam Diri/

Sayang, apa yang dikecam oleh Allah SWT dalam ayat di atas justru dipraktikkan dengan sempurna oleh kaum Muslim hari ini, khususnya oleh negara (penguasa). Bukan hanya sebagian, bahkan sebagian besar hukum Islam dicampakkan.

Sebaliknya, yang diterapkan pada sebagian besar aspek kehidupan kita adalah aturan-aturan sekuler yang bersumber dari Barat, baik sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapitalisme, sistem hukum/peradilan warisan penjajah Belanda, dll.

Jelas, ini adalah kemungkaran yang amat besar. Siapapun yang mengaku Mukmin tak layak berdiam diri menyaksikan kemungkaran ini. Sebabnya, Rasulullah saw. tegas bersabda: 

مَن رَأى مِنكُمْ مُنكَرًا فَليُغَيِّرْهُ بِيَدِه فَاِن لَم يَسْتطِعْ فَبِلِسانِه فَانْ لَمْ يَسْتطِعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الايْمَانِ 

Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya ia mengubah kemungkaran itu dengan tangan (kekuasaan)-nya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya dan yang demikian adalah selemah-lemahnya iman (HR al-Bukhari).

Pertanyaannya: Apakah kita cukup puas dengan hanya memiliki selemah-lemah iman karena kita hanya sanggup mengubah kemungkaran dengan hati atau berdiam diri saja?! []

**

Hikmah:

«إِنَّ شَرَّ الوُلاَةِ الحُطَمَةُ»

Sungguh seburuk-buruknya para penguasa adalah para diktator (HR al-Bazzar).

يَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ وَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Akan ada sepeninggal aku nanti para pemimpin. Siapa saja yang menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka, dan membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka dia bukan bagian dariku; aku pun bukan bagian dari diri dia; dan dia tidak akan berjumpa denganku di telaga surga (HR at-Tirmidzi).

Adi Bin Hatim Ath-Tha’i

“Engkau akan aman bila mereka kafir. Engkau akan paham jika mereka ingkar. Engkau akan memenuhi janji jika mereka berkhianat. Engkau akan datang jika mereka lari.” –Umar bin Khattab

Pada tahun ke-9 H, seorang raja dari Bangsa Arab masuk Islam setelah menolaknya sekian lama. Setelah sekian lama berpaling dan menghalangi orang lain, akhirnya ia beriman. Ia menjadi taat dan patuh kepada Rasulullah SAW setelah sebelumnya begitu membangkang.

Dialah Adi Bin Hatim Ath-Tha’i yang dijadikan perumpamaan sebagai kedermawanan ayahnya.

***

Adi mewarisi kerajaan Tha’i dari ayahnya. Ia mewajibkan seperempat ghanimah yang didapat kaumnya untuk disetor kepadanya. Ia memegang kekuasaan tertinggi atas kaumnya.

Begitu Rasulullah melakukan dakwahnya secara terang-terangan, dan banyak Bangsa Arab yang mau menerima daerah demi daerah, Adi melihat bahwa dalam dakwah Rasulullah ada kepemimpinan yang dapat mengambil alih kepemimpinannya. Ia pun lalu menentang Rasulullah SAW dengan keras –padahal ia sendiri belum mengenalnya- dan membenci beliau sebelum melihatnya secara langsung.

Permusuhannya dengan Islam berlangsung hampir selama 20 tahun sehingga Allah SWT melapangkan dadanya untuk menerima dakwah kebenaran dan petunjuk.

***

Proses masuknya Adi Bin Hatim ke dalam Islam memiliki cerita tersendiri…. Kami akan membiarkan ia menceritakan hal ini sendiri, sebab dialah yang sepantasnya bercerita tentang hal ini.

Adi bercerita:

Tidak ada seorangpun dari Bangsa Arab yang melebihiku dalam membenci Rasulullah SAW saat aku mendengar namanya. Aku tadinya adalah seorang yang terpandang dan beragama Nasrani. Aku menetapkan kepada kaumku bahwa aku mendapatkan seperempat harta ghanimah sehingga aku pun mengambil seperempat harta tersebut sebagaimana yang sering dilakukan oleh para Raja Arab. Begitu aku mendengar Rasulullah, aku amat membencinya.

Begitu dakwahnya semakin mantap, kekuatan pasukannya semakin bertambah, dan tentaranya sudah mampu menaklukkan Timur dan Barat Arab, aku katakan kepada seorang budak yang bertugas menggembala untaku, “Siapkanlah untukku seekor unta yang gemuk dan mudah dikendarai. Ikatkanlah ia di dekatku. Jika kau mendengar bahwa tentara atau pasukan Muhammad sudah masuk ke dalam negeri ini, beritahukanlah aku!”

Pada suatu pagi, budakku datang menghadap sambil berkata, “Tuanku, jika kau berniat untuk berangkat jika kuda pasukan Muhammad telah memasuki wilayahmu, maka lakukanlah sekarang!”

Aku bertanya, “Memangnya kenapa?!”  Ia berkata, “Aku telah melihat panji-panji di seluruh penjuru negeri. Aku bertanya apa maksudnya ini. Ada orang yang berkata kepadaku bahwa ini adalah pasukan Muhammad!” Langsung aku katakan kepadanya, “Siapkanlah unta yang pernah aku bilang dan bawalah kepadaku!”

Kemudian aku bangkit, lalu aku mengajak istri dan anak-anakku untuk pergi ke suatu tempat yang aku senangi. Lalu aku berangkat segera menuju Negeri Syam untuk bergabung dengan penganut agama Nasrani dan tinggal bersama mereka di sana.

Karena tergesa-gesa, aku tidak memperhatikan semua keluargaku. Begitu aku melewati tempat yang berbahaya, aku memeriksa keluargaku, ternyata tiga saudariku yang tertinggal di Najd bersama beberapa orang yang lain di Tha’i. Aku tidak sempat lagi kembali menjemput mereka.

Lalu aku pun meneruskan perjalanan bersama orang-orang yang menemaniku hingga tiba di Syam. Aku tinggal di sana bersama pengikut agama Nasrani yang lain. Sedangkan saudariku barangkali telah terkena sesuatu yang aku khawatirkan dan aku takutkan.

***

Ketika di Syam, aku mendengar bahwa tentara Muhammad telah menyerang negeri kami dan telah menawan saudariku bersama tawanan yang lain, dan kini ia telah digiring ke Yastrib.

Di sana ia terikat bersama tawanan yang lain di sebuah pekarangan depan pintu masjid. Lalu Rasulullah SAW melintas di hadapannya dan ia pun berdiri dan berkata kepada Rasul, “Ya Rasulullah, ayahku telah mati dan penggantinya menghilang. Kasihilah kami dan Allah akan memngasihimu!” Rasulullah SAW bertanya, “Siapa pengganti ayahmu?” Ia menjawab, “Adi bin Hatim.”

Rasul bertanya dengan nada keheranan, “Orang yang lari dari Allah dan Rasul-Nya?!”

Lalu Rasulullah pergi dan meninggalkannya.

Keesokan harinya, Rasulullah melintas lagi di hadapan saudariku dan saudariku berkata kepadanya seperti apa yang ia ucapkan sebelumnya. Dan Rasul pun menjawabnya dengan ucapan seperti sebelumnya. Esok lusanya, Rasulullah melintas lagi di hadapannya, dan saudariku sudah putus asa dan tidak berkata apa pun kali ini. Lalu ada seorang pria dari belakang Rasul yang memberi isyarat kepada saudariku untuk berdiri dan berbicara kepada Rasulullah. Saudariku pun berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, ayahku telah mati dan penggantinya menghilang. Kasihilah kami dan Allah akan mengasihimu!” Rasulullah langsung menjawab, “Aku telah melakukannya.” Ia berkata lagi, “Aku ingin menyusul keluargaku di Syam.” Lalu Rasulullah berkata, “Tidak usah terburu-buru pergi hingga engkau mendapati orang yang kau percaya untuk membawamu ke Syam. Jika kau telah menemukan orang yang tepat, beritahukan aku!”

Begitu Rasulullah berlalu, saudariku menanyakan tentang pria yang telah memberi isyarat kepadanya untuk berbicara kepada Rasul. Lalu ada yang mengatakan kepadanya bahwa pria tadi adalah Ali bin Abi Thalib RA.

Saudariku tinggal di sana hingga datang sebuah rombongan di mana salah seorang anggotanya dapat dipercaya oleh saudariku. Maka saudariku datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, ada rombongan kaumku yang baru datang. Ada orang yang aku percaya di antara mereka dan mampu mengantarkan aku.” Maka Rasulullah memberikan kepadanya pakaian dan unta yang dapat ditungganginya. Dan beliau juga memberikan bebrapa uang secukupnya. Dan akhirnya saudariku pergi bersama rombongan tadi.

Adi meneruskan ceritanya:

Setelah itu, kami selalu mencari informasi tentang saudariku. Kami menunggu kedatangannya. Dan kami hampir saja tidak mempercayai kisah dirinya dengan Muhammad yang begitu baik memperlakukan saudariku tanpa pernah memandang sikapku kepadanya. Demi Allah, saat itu aku sedang duduk bersama keluarga ketika aku melihat ada seorang perempuan yang berada di sekudupnya sedang menuju ke arah kami.

Aku langsung berseru, “Putri Hatim. Itu dia! Itu dia!”

Begitu ia sampai, ia langsung berkata, “Dasar pemutus hubungan keluarga! Dasar zalim! Engkau bisa membawa anak dan istrimu dan engkau meninggalkan orang tua dan saudara-saudaramu!”

Aku pun berkata, “Saudariku, janganlah berkata apa pun kecuali yang baik-baik saja!” Aku membujuknya terus hingga ia pun luluh. Ia pernah bercerita tentang kisahnya. Dan rupanya persis seperti yang pernah aku dengar. Aku bertanya kepadanya –dia adalah seorang wanita yang cerdas-, “Apa pendapatmu tentang pria itu (maksudnya Muhammad)?” Ia menjawab, “Demi Allah, pendapatku lebih baik engkau bergabung dengannya segera. Jika ia adalah seorang Nabi, maka orang yang lebih cepat mengikutinya akan mendapatkan kemuliaan. Jika ia adalah seorang Raja, maka engkau tidak akan menjadi hina bersamanya. Engkau akan tetap menjadi engkau!”

***

Adi melanjutkan ceritanya:

Aku pun mempersiapkan bekalku kemudian berangkat hingga aku menghadap Rasulullah SAW di Madinah tanpa membawa pengamanan dan tanpa surat apa pun. Aku pernah mendengar bahwa ia berkata, “Aku berharap Allah menjadikan tangan Adi bersama tanganku.” Maka aku menghadapnya –saat itu beliau sedang di masjid- dan aku mengucapkan salam kepadanya.

Beliau bertanya, “Siapakah orang ini?” Aku menjawab: “Aku adalah Adi bin Hatim.” Beliau lalu menghampiriku dan menarik tanganku dan membawaku menuju rumahnya.

Demi Allah, saat itu beliau sedang menuju rumahnya saat ada seorang perempuan lemah tua bersama seorang anaknya yang masih kecil dan membuat Rasul berhenti sejenak. Perempuan tadi mengadukan hajatnya kepada beliau. Rasulullah menanggapi wanita dan anaknya tadi sehingga beliau memberikan segala kebutuhannya dan aku berdiri menyaksikan hal itu.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, dia bukanlah seorang raja.”

Lalu ia menggandeng tanganku lagi dan membawaku ke rumahnya. Ia mengambil bantal dari kulit yang diisi dengan sabut. Beliau memberikannya kepadaku dan berkata, “Duduklah di atasnya!” Aku menjadi malu dan aku berkata, “Engkau saja yang duduk di atasnya!” Rasul berkata lagi, “Engkau saja!” Aku pun menuruti dan duduk di atasnya. Dan Nabi SAW duduk di atas tanah karena tidak ada alas lain di rumah beliau.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini bukanlah kebiasaan seorang raja.”

Kemudian ia melihat ke arahku sambil bertanya, “Ada apa wahai Adi bin Hatim. Bukankah engkau sudah memeluk sebuah agama antara Nasrani dan Shabi’ah?” Aku menjawab, “Ya!”

“Bukankah engkau mewajibkan seperempat harta ghanimah bagi dirimu kepada kaummu padahal itu tidak dibolehkan oleh agamamu?!” Aku menjawab, “Benar….” Aku mengerti bahwa dia adalah seorang Nabi yang diutus. Ia mengetahui apa yang tidak diketahui.

Kemudian beliau berkata kepadaku, “Mungkin wahai Adi, hal yang membuat engkau terhalang masuk ke dalam agama ini adalah hal yang engkau lihat dari kebutuhan dan kefakiran kaum muslimin. Demi Allah, sebentar lagi harta berlimpah-ruah untuk mereka sehingga tidak ada lagi orang yang akan membutuhkannya.

Barangkali wahai Adi, hal yang membuatmu terhalang masuk ke dalam agama ini adalah karena engkau melihat jumlah kaum Muslimin yang sedikit dan musuh mereka yang banyak. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar seorang perempuan yang pergi dari Al-Qadisiyah dengan mengendarai unta untuk berkunjung ke rumah ini, ia tidak takut kepada siapa pun selain Allah.

Barangkali hal yang menghalangimu masuk ke dalam agama ini adalah karena engkau melihat bahwa kaum Muslimin tidak akan mendapatkan kekuasaan. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar bahwa istana di Negeri Babilonia akan mereka taklukkan dan harta simpanan Kisra bin Hurmuz akan menjadi milik mereka.”

Aku bertanya lagi, “Harta Kisra bin Hurmuz?!” Beliau menjawab, “Benar, harta Kisra bin Hurmuz!”

Mulai saat itu aku mengucapkan syahadat dan aku pun masuk Islam.

***

Adi bin Hatim dianugerahi usia yang panjang. Ia berkata, “Aku telah membuktikan 2 janji Rasul dan hanya 1 yang belum terwujud. Demi Allah, pasti janji yang ketiga juga akan terwujud.

Aku telah melihat seorang wanita yang pergi dari Al-Qadisiyah dengan mengendarai unta dan ia tidak takut kepada siapa pun hingga sampai di rumah ini. Aku juga berada pada barisan berkuda pertama yang menyerang harta milik Kisra dan kami merebutnya. Aku bersumpah demi Allah, pasti akan terbukti janji yang ketiga.”

***

Kehendak Allah berlaku untuk membuktikan sabda Rasul-Nya. Maka janji yang ke tiga pun terbukti pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, di mana harta begitu melimpah yang merupakan harta kaum Muslimin sehingga ada orang yang berseru siapa yang mau mengambil harta zakat kaum Muslimin, namun tidak ada seorang pun yang mengambilnya.

Benar sekali sabda Rasulullah SAW dan Adi bin Hatim menyaksikan kebenaran sumpah beliau.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Keyakinan Bukan Warisan

gaulislam edisi 509/tahun ke-10 (30 Syawwal 1438 H/ 24 Juli 2017)

Sobat gaulislam, masih ingat sama Afi Nihaya, kan? Ini bukan maksud nginget-nginget lagi. Tetapi ini sekadar mencoba ikutan bahas walau udah lama telatnya. Hehehe… (eh, bukan soal basi atau nggak lho, tapi ini sekadar menambah perbendaharaan wawasan aja biar makin banyak yang mengingatkan dan ngasih ilmu).

Afi pernah menulis sebuah tema berjudul Warisan yang menjadi viral di dunia maya beberapa minggu lalu. Gara-gara tulisannya yang kontroversial itu, malah dirinya diundang ke universitas-universitas tertentu untuk menjadi pembicara dan bahkan bertemu dengan bupati dan presiden. Wah, hebat, ya. Hebat? Nggak juga sih!

Tapi ternyata, ada kisah suram di dalam kelanjutan cerita Afi ini. Kalau saya sih sebagai sesama remaja (sekadar tahu aja ya, saya masih kelas 3 SMA—eh, siapa yang nanya?), membaca tulisannya yang berjudul Warisan itu, ternyata isinya bertentangan dengan akidah Islam. Lho kok bisa? Karena isi tulisannya mengandung paham toleransi beragama. Toleransi beragama yang kayak gimana sih? Ini lho yang dimaksud dalam tulisan Warisan itu:

“Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan..”

Lebih lengkap tulisan Afi tersebut, silakan sobat gaulislam bisa mencari dan membacanya sendiri di internet. Intinya, tulisan berjudul warisan ini menjelaskan bahwa agama Islam dan agama-agama lainnya itu hanyalah warisan, dan bahwa kedudukan semua agama itu sama. Di dalam tulisan itu, dijelaskan bahwa agama Islam itu benar. Tetapi agama lainnya juga benar. Jika semua agama dibenarkan, lalu siapa yang benar? Berarti nggak ada yang salah? Nah, kan bingung!

Tulisan yang penuh ketidakpastian itu, karena benar dan salahnya yang nggak jelas, seperti biasa menuai banyak tanggapan. Mulai dari yang setuju, bingung, dan yang jelas-jelas menolak.

Dari plagiat sampe kepuasan

Nah, Bro en Sis, kemudian tulisannya ini (termasuk tulisan lainnya) banyak dibagikan di berbagai media sosial sehingga menjadi viral. Lalu yang semakin menghebohkan adalah, ternyata ada pembaca yang menemukan bahwa beberapa tulisan Afi ini adalah tulisan orang lain. Artinya, tulisannya itu terkategori plagiat dari tulisan orang lain. Biasalah, yang namanya kebohongan malah bikin penasaran. Jadi beberapa orang mencoba menelusuri lebih dalam, seperti apa sih tulisan-tulisan yang lain. Beberapa  postingan Afi yang lain, ditemukan netizen bahwa bukanlah asli karya Afi.

Hasilnya? Karuan aja Afi dibully habis-habisan di dunia maya. Walau kalau yang saya baca sih, sebenarnya banyak banget tulisan yang mengkritik dalam rangka memperbaiki dan menasehati Afi. Secara bahasa, bukanlah bahasa yang menyakiti, tuh. But, kenapa ya, kok Afi merasa bahwa ia sedang di-bully? Baper deh kayaknya!

Oke Bro en Sis, yuk kita coba berempati dengan sosok remaja kayak Afi. Kenapa sih kok dia senang dengan tulisan yang malah membingungkan seperti itu? Emang sih bahasanya terkesan intelektual. Mungkin biar kayak kakak-kakak mahasiswa yang coba-coba adu argumentasi di dunia akademik. Keren gitu, kan? Semakin mumet semakin keren, katanya. Semakin kontroversi, semakin terkenal di jagad maya. Eksis lah ya.

Sebenarnya, apa sih yang dicari oleh Afi ketika menyebarkan tulisan-tulisan itu? Mungkin kita bisa mencoba memikirkan tujuan awalnya. Apakah untuk mencari sensasi saja? Atau untuk mendapatkan popularitas? Bisa jadi alasan awalnya adalah untuk mencari kepuasan akal. Ataukah ada hal lain yang dicari?

Sobat gaulislam, kalau memang alasan awalnya hanya untuk mencari sensasi, popularitas, atau yang lainnya itu, sebenarnya itu alasan yang semu. Kalau kita mencari popularitas, kita pasti akan kecewa kalau ternyata bukan popularitas yang didapat. Nggak ada orang yang melirik sedikit pun. Kalau yang kita cari adalah sensasi, maka tidak akan pernah terpuaskan. Karena yang namanya kepuasan itu tidak ada habisnya.

Sebab, kalau sudah puas, pastinya jadi nggak terasa puas. Atau bisa juga, kalau sudah nggak puas, jadi pengen kepuasan-kepuasan yang lain. Nggak akan pernah ada habisnya. Tetapi jika kita memiliki alasan yang tepat dan baik, maka kebaikanlah yang akan kita dapat. Apalagi kalau niat kita semata-mata untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala. Yakinlah bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik.

Mencari alasan

Alasan itu penting sebelum kita melakukan sesuatu. Dipikirkan juga dampaknya, apakah ada manfaat atau malah mudharat. Harus tepat tuh alasannya. Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan alasan yang tepat? Begini, ketika kita membagikan sesuatu di media sosial, tujuannya untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Tentu saja semuanya harus sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala tuntunkan melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Nggak boleh sama sekali menyimpang darinya. Karena Allah Ta’ala nggak akan meridhoi, tuh!

Selain itu, kita juga harus bersikap jujur ketika membagikan sesuatu. Jika itu memang karya kita, maka tidak apa-apa untuk mencantumkan nama kita. Tetapi jika itu adalah karya orang lain, maka jangan diakui sebagai karya kita.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kita juga harus selalu ingat satu hal. Bahwa semua yang kita peroleh harus disikapi dengan positif. Jangan sampai kita langsung merasa down ketika dikritik oleh orang lain. Kita bisa menjadikan kritikan itu sebagai bahan renungan dan pelajaran di kemudian hari. Semuanya kan untuk memperbaiki diri kita juga.

Kita juga jangan silau dengan pujian dan penghargaan. Mengapa? Karena hal itu bisa membutakan kita dan membuat kita sombong. Kalau sudah sombong, maka bahayanya akan membakar kerendahan hati kita. Catet, itu! (ciee… gayanya!).

Islam sebagai ideologi

Oya, tulisan Warisan-nya Afi nih, akhirnya saya nggak tahan juga untuk ikutan mengomentari. Benar bahwa kita seharusnya membanggakan agama kita, Islam. Bukan hanya sebagai agama, kepercayaan, apalagi hanya sebagai warisan, lho. Lalu sebagai apa? Lebih dari itu, yakni sebagai ideologi kita. Sebab, tidak semua agama itu adalah ideologi. Namun Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita secara sempurna.

Ketika kita memilih sebuah jalan hidup, maka kita harus meyakini bahwa itulah jalan hidup yang benar. Kalau kita menganggap jalan hidup yang lain juga benar, maka kita akan ragu dengan jalan hidup kita sendiri. Kalau kita tidak boleh menganggap jalan hidup kita itu yang benar, dan orang lain itu salah, maka bagaimana sebuah kebenaran itu bisa ditemukan dan diyakini sebagai sebuah jalan hidup? Contoh pembahasan dalam tulisan Afi itu adalah pembahasan orang-orang yang ragu dan tidak pernah yakin dengan kebenaran. Nah, cara berfikir yang ragu-ragu dan tidak pernah menemukan keyakinan pada kebenaran hanya mungkin disusupkan oleh setan. Hati-hati, loh. Beneran!

Allah Ta’ala berfirman, “..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 168-169)

Saya tidak menuduh seorang muslim sebagai setan, hanya langkah-langkah seperti itu adalah cara setan membuat keimanan kita menjadi ragu. Kita jadi ragu terhadap kebenaran agama Islam dan kita juga jadi ragu terhadap kesalahan agama atau keyakinan selain Islam. Bahaya banget, kan? Pasti bingung sendiri, tuh!

Bro en Sis sekalian yang Insya Allah selalu dalam kebaikan, kita harus bangga kepada Islam sebagai jalan hidup kita. Bukan malah sebaliknya, merasa nggak enak terhadap orang kafir kalau kita berbangga hati terhadap Islam. Bukankah Islam itu adalah yang tertinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam? Al Islamu Ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi.

Sobat gaulislam, mungkin Afi juga masih belum sepenuhnya yakin dan bangga dengan Islam pada dirinya. Seperti yang ia tuliskan di tulisannya itu,

“..Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.

Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri..”

Memang benar kita tidak bisa memilih di mana kita akan dilahirkan dan dari ayah dan ibu yang mana. Karena itu adalah salah satu hal ghoib yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Tetapi kita harus bersyukur saat kita mendapatkan keislaman ini. Perlu dicatat lho, bahwa Islam nggak bisa diimani hanya dengan menerimanya saja. Perlu proses berfikir dan perenungan di dalam penerimaannya. Islam itu sesuai dengan fitrah manusia. Islam pun menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Bener lho. Kamu perlu merenungkannya pada diri masing-masing.

Sebenarnya setiap manusia itu punya pertanyaan-pertanyaan besar yang jawabannya pada diri masing-masing akan berpengaruh pada jalan hidup yang akan dipilihnya. Pertanyaan apa tuh? Pertanyaan tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan akan kemana ia setelah mati. Jawaban ini akan menunjukkan kualitas keimanan seseorang. Ada yang keimanannya setengah-setengah, ada yang keimanannya mendekati sempurna, dan bahkan ada yang tidak beriman.

Nah, bagi orang yang beragama Islam, ada yang jawabannya mendekati kesempurnaan, setengah sempurna, seperempat sempurna, seperseribu, atau bahkan sedikit sekali kualitasnya. Itulah yang menyebabkan ada orang yang yakin dengan kebenaran agama Islam secara sempurna, ada yang setengah yakin, ada yang kurang yakin, ada juga yang ragu-ragu. Bagi yang ragu-ragu, ia masih juga mengakui agama yang lain. Bahwa agama lain punya peluang benar. Jadi, Bro en Sis, sekarang kita mau jadi yang mana?

Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia. Allah mengutus nabi dan rasul untuk memberitahu kepada umat manusia tentang kebenaran agama-Nya. Nah, harus diketahui, nih, Bro en Sis, bahwa nabi dan rasul itu keyakinan terhadap risalah yang dibawanya pastilah 100%. Akal, hati, dan jiwa mereka bersinar cemerlang. Itu sebabnya, mereka terpilih menjadi nabi dan rasul. Kita ini adalah pengikut risalah nabi dan rasul. Untuk itu, kita harus yakin terhadap kebenaran agama kita sendiri. Islam, adalah agama penutup risalah seluruh nabi dan rasul. Karenanya, kita harus meyakininya secara sempurna. Hanya Islam-lah kebenaran yang harus kita yakini dan genggam serta jalankan sampai mati. Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.”(QS Ali Imran [3]: 19)

Baik warisan atau bukan warisan, manusia memerlukan perenungan untuk sampai kepada kebenaran yang hakiki. Apalagi soal keyakinan memang bukan warisan. So, apa yang perlu diragukan lagi, kawan?

[Fathimah NJL | Twitter @FathimahNJL]