Adakah Model Baku Negara Khilafah?

Oleh: Hafidz Abdurrahman


Soal:
Apakah Negara Khilafah mempunyai model baku dari Nabi saw.? Atau model Negara Khilafah hanya rekaan para sahabat semata?

Jawab:
Pertama: Khilafah adalah penerus Negara Islam yang didirikan oleh Nabi saw. Ini dijelaskan oleh beliau:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ…

Akan ada era kenabian di tengah-tengah kalian, atas kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian Dia mengakhirinya jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad).

Hadis Nabi saw. ini menjelaskan bahwa Negara Islam yang didirikan Nabi saw. adalah negara nubuwwah, yang eranya berakhir dengan wafatnya Nabi saw. Setelah Nabi saw. wafat, Negara Islam dilanjutkan oleh Khilafah yang mengikuti manhâj  nubuwwah. Nabi saw. sendiri menggunakan istilah Khilâfah ‘ala Minhâj an-Nubuwwah untuk menjelaskan bahwa Khilafah ini adalah negara yang melanjutkan apa yang telah dibangun dan diwariskan oleh Nabi saw., bukan membuat baru sama sekali. Apalagi dituduh bahwa ini adalah negara hasil rekaaan para sahabat.

Penggunaan istilah Khilâfah adalah untuk menjelaskan bahwa negara ini mengganti atau melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh Nabi saw. Istilah ‘ala Minhâj an-Nubuwwah juga digunakan untuk menjelaskan bahwa negara ini benar-benar hanya melanjutkan apa yang diwariskan oleh Nabi saw., bukan membuat yang baru.

Kedua: Ijmak Sahabat tentang kewajiban mengangkat pengganti Nabi saw. (Khalifah) yang mengurus urusan agama dan dunia. Ini sebagaimana yang mereka lakukan di Saqifah Bani Sa’idah sampai akhirnya terpilihlah Abu Bakar. Beliau lalu dibaiat di Masjid Nabawi sebagai khalifah (pengganti Nabi saw.) yang pertama, yang mengurus urusan agama dan dunia.

Karena itu para ulama sepakat mendefisinikan Khilafah dengan istilah:1

الإِمَامَةُ [الخِلاَفَةُ] مَوْضُوْعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِي حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah [Khilafah] diadakan untuk menggantikan kenabian dalam urusan menjaga agama dan mengurus urusan dunia dengan agama.

Dari Hadis Nabi saw., Ijmak Sahabat dan pendapat para ulama ini sebenarnya sudah jelas, bahwa Islam mempunyai model kepemimpinan dan negara yang khas.

Hanya saja, masih ada yang mempertanyakan, jika memang Islam mempunyai model kepemimpinan dan negara yang khas, mengapa para sahabat berselisih saat Nabi saw. wafat? Mengapa mereka tidak sepakat terhadap proses pengangkatan ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali bahkan sampai Muawiyah melakukan perebutan kekuasaan?

Dalam hal ini harus dibedakan antara uslûb dan tharîqah dalam pengangkatan Khalifah. Suksesi kepemimpinan dari Nabi saw. ke Abu Bakar dilakukan dengan musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah adalah uslûb. Begitu juga suksesi kepemimpinan dari Abu Bakar ke ‘Umar. Yang dilakukan Abu Bakar adalah meminta pendapat penduduk Madinah, setelah terkumpul dan diketahui bahwa orang yang mereka inginkan menggantikan Abu Bakar adalah ‘Umar maka sebelum wafat, beliau pun memberikan wasiat kepada Umar. Begitu pun suksesi kepemimpinan dari ‘Umar ke ‘Ustman. Saat itu ada penunjukan lima  orang ditambah ‘Abdullah bin ‘Umar. Kemudian mereka melakukan musyawarah hingga terpilih ‘Utsman. Begitu juga suksesi kepemimpinan dari ‘Utsman ke ‘Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh militer kepada ‘Ali di Masjid Nabawi. Semua ini adalah bagian dari uslûb (perkara teknis), yang memang bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun, meski uslûb-nya berbeda-beda, semuanya berpegang teguh pada satu tharîqah (metode baku), yaitu baiat. Karena itu tidak satu pun khalifah yang terpilih dan diangkat menjadi khalifah kaum Muslim, kecuali pasti dibaiat. Dalam hal ini baiat tersebut ada dua: Pertama, baiat pengangkatan (in’iqâd). Kedua, baiat ketaatan (thâ’ah).

Dengan demikian jelas, Negara Islam atau Negara Khilafah mempunyai bentuk baku, termasuk dalam masalah suksesi kepemimpinan.

Memang dalam praktik pengambilan baiat tersebut ada yang tepat dan ada yang menyalahi aturan. Namun, ini masalah human error dan tidak ada kaitannya dengan sistem Islam atau sistem pemerintahannya itu sendiri karena sistemnya sudah jelas dan baku.

Sebagai contoh, kesalahan Muawiyah saat mengambil baiat dari umat untuk Yazid bin Muawiyah, yang dilakukan dengan menggunakan senjata dan harta. Ini jelas merupakan human error. Begitu seterusnya. Inilah yang terjadi dalam sejarah Khilafah Bani Umayah, ‘Abbasiyah dan ‘Utsmaniyah. Karena itulah Nabi saw. mengisyaratkan dengan istilah, “mulk[an] ‘adhdh[an]” (kekuasaan yang mengigit/zalim).2

Ketiga: Dari aspek bentuk negara, sistem pemerintahan dan struktur, negara yang dibangun oleh Nabi saw. dan diwariskan kepada para sahabat juga jelas. Negara Khilafah adalah negara kesatuan, bukan federasi atau commenwealth. Ketika wilayah Negara Islam yang dipimpin Nabi saw. telah mencapai seluruh Jazirah Arab, hukum yang diterapkan hanya satu untuk seluruh wilayah. Hal yang sama ketika negara ini dipimpin oleh para sahabat dan para khalifah setelah mereka. Ini berbeda dengan sistem federasi, yang masing-masing wilayah mempunyai hukum yang berbeda. Khilafah juga bukan commenwealthkarena berbagai wilayah yang dibebaskan oleh Khilafah bukan berstatus sebagai koloni, atau bekas koloni.

Sistem pemerintahan yang dianut oleh Negara Khilafah juga bukan republik, monarki, parlementer, demokrasi, teokrasi maupun autokrasi. Sistem Khilafah dipimpin oleh Khalifah, bukan oleh presiden, sebagaimana sistem republik; tidak dipimpin oleh raja, sebagaimana dalam sistem monarki; juga bukan oleh perdana menteri, sebagaimana dalam sistem parlementer. Kedaulatannya pun di tangan syariah, bukan di tangan manusia, sebagaimana dalam sistem demokrasi. Khalifah juga bukan titisan atau wakil Tuhan, maksum (manusia setengah dewa), sebagaimana dalam sistem teokrasi. Kekuasaan Khalifah juga terbatas, dibatasi oleh syariah, tidak bersifat mutlak sebagaimana dalam sistem autokrasi dan diktator.

Struktur Khilafah pun unik. Masing-masing telah dinyatakan dan dicontohkan dalam Sunnah Nabi saw.3

 1. Khalifah
Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan syariah.4

Dalilnya adalah af’âl (perbuatan) dan aqwâl (sabda) Rasulullah saw. serta Ijmak Sahabat tentang kewajiban mengangkat khalifah pengganti Rasulullah saw. setelah beliau wafat. Bahkan Sahabat lebih mendahulukan pengangkatan khalifah daripada pemakaman Rasulullah saw.5

2. Mu’âwinûn at-Tafwîdh
Mu’âwinûn at-Tafwîdh (Wuzarâ’ at-Tafwîdh) adalah para pembantu Khalifah dalam bidang pemerintahan. Mereka diangkat oleh Khalifah untuk bersama-sama memikul tanggung jawab pemerintahan dan kekuasaan. Mereka mendapat mandat untuk mengatur berbagai urusan serta melaksanakannya menurut pendapat dan ijtihadnya sesuai dengan ketentuan syariah.6

Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw., “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang amir (Imam/Khalifah), Allah menjadikan bagi dirinya seorang pembantu (wazîr) yang jujur dan benar. Jika dia lupa, wazîr itu akan mengingatkan dia. Jika dia ingat, wazîr itu akan membantu dia.”(HR at-Tirmidzi).

3. Wuzarâ’ at-Tanfîdz
Wuzarâ’ at-Tanfîdz adalah para pembantu Khalifah dalam bidang administrasi. Pada masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin mereka disebut al-kâtib (sekretaris). Tugas mereka hanyalah tugas administrasi, bukan tugas pemerintahan, yakni membantu Khalifah dalam urusan implementasi kebijakan, pendampingan, dan penyampaian kebijakan.7

Di antara dalilnya adalah hadis dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw. telah menyuruh dia untuk mempelajari tulisan Yahudi hingga ia bisa menuliskan surat-surat Nabi saw. (untuk kaum Yahudi) dan membacakannya ketika kaum Yahudi mengirim surat kepada beliau (HR al-Bukhari).

4. Wali (Gubernur)
Wali adalah orang yang diangkat oleh Khalifah sebagai penguasa (pejabat pemerintah) untuk suatu wilayah (propinsi). Dengan kata lain, wali adalah penguasa negara di tingkat propinsi (An-Nabhani, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 73).

Dalilnya di antaranya adalah hadis dari Burdah, “Rasulullah saw. mengutus Abu Musa dan Muadz bin Jabal ke Yaman. Masing-masing diutus untuk memimpin sebuah wilayah. Yaman dibagi menjadi dua wilayah.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 5. Amîrul Jihâd
Departemen Peperangan (Dâirah al-Harbiyah) merupakan salah satu instansi negara. Kepalanya disebut Amîr al-Jihâd. Hal itu karena Rasulullah saw. menamakan komandan pasukan sebagai amir (An-Nabhani, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 86).

Di antara dalilnya adalah hadis riwayat Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqât, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi amir pasukan (Perang Mu’tah) adalah Zaid bin Haritsah. Jika ia gugur maka Ja‘far bin Abi Thalib. Jika ia gugur maka Abdullah bin Rawahah. Jika ia gugur maka hendaklah kaum Muslim memilih salah seorang laki-laki di antara mereka lalu mereka jadikan sebagai amir yang memimpin mereka.”

6. Departeman Keamanan Dalam Negeri
Departeman Keamanan Dalam Negeri adalah sebuah departemen yang dipimpin oleh kepala polisi. Tugasnya adalah menjaga keamanan di dalam Negara Islam. Namun, dalam kondisi tertentu, yakni ketika Kepolisian tidak mampu, bisa ditangani oleh militer dengan izin Khalifah (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 116; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 94).

Dalilnya adalah hadis dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Qais bin Saad di sisi Nabi saw. memiliki kedudukan sebagai kepala kepolisian dan ia termasuk di antara para amir.” (HR al-Bukhari).

 7. Departemen Luar Negeri
Departemen Luar Negeri adalah departemen yang mengurusi seluruh urusan luar negeri terkait hubungan Negara Khilafah dengan negara-negara asing, apapun jenis perkara dan bentuk hubungannya; baik perkara yang berkaitan dengan aspek politik dan turunannya, ataupun perkara yang berkaitan dengan aspek ekonomi maupun ekonomi. Semua perkara tersebut diurusi oleh Departemen Luar Negeri karena semua itu merupakan kepentingan hubungan Negara Khilafah dengan negara-negara lain (An-Nabhani, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 105).

Dalilnya adalah af’âl (perbuatan) Rasulullah saw. Beliau—sebagai kepala negara—melakukan berbagai hubungan luar negeri dengan sejumlah negara dan institusi yang lain. Beliau mengutus Utsman bin Affan untuk berunding dengan kaum Quraisy sebagaimana beliau juga berunding langsung dengan delegasi kaum Quraisy. Beliau pun mengirim sejumlah utusan kepada para raja sebagaimana beliau juga pernah menerima utusan dari para raja dan pemimpin negara. Beliau pernah menjalin berbagai kesepakatan dan perjanjian damai (bersifat sementara). Hal yang sama dilakukan juga oleh para khalifah setelah beliau. Mereka menjalin hubungan politik dengan sejumlah negara dan institusi yang lain. Para Khalifah bisa melakukan sendiri semua aktivitas tersebut atau mengangkat wakil untuk melakukannya. Hal ini menunjukkan perlunya ada satu jabatan yang akan mengurusi semua urusan tersebut (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 116; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 105).

8. Departemen Perindustrian
Departemen Perindustrian adalah departemen yang mengurusi semua perindustrian, baik terkait industri berat maupun industri ringan; baik berupa pabrik-pabrik yang menjadi milik umum maupun pabrik-pabrik yang menjadi milik pribadi, yang memiliki hubungan dengan industri-industri militer (peperangan). Semua industri dengan berbagai jenisnya itu harus dibangun dengan berpijak pada politik perang (Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 106).

Dalilnya adalah: Pertama, al-Quran (QS al-Anfal [8]: 60) yang memerintahkan kaum Muslim untuk menyiapkan kekuatan yang membuat semua musuh merasa ketakutan.

Kedua, as-Sunnah. Rasulullah saw. pernah memerintahkan pendirian industry manjaniq (senjata pelontar) dan dababah (semacam tank dari kayu). Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqât, dari Makhul, berkata, “Sungguh Nabi saw. menggempur penduduk Thaif dengan manjaniq selama empat puluh hari.”

Ketiga, kaidah fikih “Mâ lâ yatimmu al-wâjibu illâ bihi fahuwa wâjib[un](Suatu kewajiban tidak akan terlaksana dengan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka adanya sesuatu itu hukumnya wajib).” Artinya, perintah menyiapkan kekuatan itu akan terlaksana dengan sempurna jika ada industri persenjataan (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 117; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 82).

 9. Peradilan
Peradilan adalah lembaga yang bertugas menyampaikan keputusan hukum yang bersifat mengikat. Lembaga ini bertugas menyelesaikan perselisihan di antara sesama rakyat, mencegah hal-hal yang dapat membahayakan hak-hak jamaah (rakyat), dan mengatasi perselisihan yang terjadi antara rakyat dengan individu di dalam struktur pemerintahan, baik ia seorang penguasa, pegawai maupun pejabat pemerintah di bawah Khilafah (Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 109).

Peradilan ini bisa ditangani sendiri oleh Khalifah atau Khalifah mengangkat orang lain untuk menjalankannya. Kedua hal ini ada dalilnya dalam as-Sunnah (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 117). Bahkan terdapat Ijmak Sahabat tentang ketetapan mengangkat para qâdhi (hakim). Ibnu Qudamah berkata, “Kaum Muslim (para Sahabat) telah berijmak atas pensyariatan mengangkat para qâdhi(hakim).” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 11/373).

10. Kemaslahatan Umum
Kemaslahatan Umum (Struktur Administrasi) adalah struktur pelaksana pemerintahan, yakni badan-badan pelaksana atas perkara-perkara yang wajib dilaksanakan di dalam sebuah pemerintahan guna memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat umum (Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 128).

Dalilnya adalah perbuatan (af’âl) Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin dalam mengatur negara. Saat itu urusan administrasi diurus dengan penuh sistematik. Untuk itu perlu ada struktur guna mempermudah pengaturan dalam melaksanakan seluruh kewajiban negara. Oleh karena itu perlu adanya Departemen Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan, Perhubungan, Pertanian dan sebagainya. Semua ini kembali pada ijtihad dan kebijakan Khalifah mengenai apa dan berapa jumlah Kemaslahatan Umum (Struktur Administrasi) yang dibutuhkan untuk dapat menunaikan segala kewajiban negara dan memenuhi kepentingan (maslahat) masyarakat umum (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 117;Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 128).

11. Baitul Mal (Kas Negara)
Baitul Mal (Kas Negara) merupakan sebuah badan yang bertanggung jawab atas setiap pendapatan dan belanja negara yang menjadi hak kaum Muslim (Zallum, Al-Amwâl fi Dawlah al-Khilâfah, hlm. 15). Baitul Mal berada di bawah pengawalan Khalifah secara langsung atau di bawah kawalan orang yang dilantik untuk mengurusinya. Rasulullah saw. kadang-kadang menyimpan, memungut dan membagikan sendiri harta kaum Muslim; kadang-kadang beliau mengangkat orang lain untuk menanganinya. Khulafaur Rasyidin sesudah beliau juga kadang-kadang mengurusi sendiri urusan Baitul Mal dan kadang-kadang mengangkat orang lain untuk mengurusinya.

Dalil tentang Baitul Mal ini sudah cukup banyak dan masyhur di dalam hadis dan Ijmak Sahabat (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 120; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 135).

12. Penerangan
Penerangan merupakan perkara penting bagi dakwah dan negara. Lembaga Penerangan tidak termasuk badan yang melayan kepentingan masyarakat umum, tetapi kedudukannya berhubungan langsung dengan Khalifah sebagai instansi yang mandiri. Dalil dalam hal ini adalah al-Quran (QS an-Nisa’ [4]: 83) dan as-Sunnah, di antaranya hadis penuturan Ibn Abbas mengenai pembebasan Makkah, “Sungguh, tidak ada kabar sama sekali bagi kaum Quraiys. Karena itu, tidak ada kabar kepada mereka tentang Rasulullah saw., dan mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh beliau.” (HR Hakim dalam Al-Mustadrak).

Ini menunjukkan bahwa Lembaga Penerangan yang terkait dengan kemanan negara berhubung langsung dengan Khalifah atau struktur yang didirikan untuk tujuan itu (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 121; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 143).

 13. Majelis Umat
Majelis Umat (Majelis Syura) adalah majelis yang terdiri dari para individu yang mewakili kaum Muslim dalam memberikan pendapat sebagai tempat merujuk bagi Khalifah dengan meminta masukan mereka dalam berbagai urusan. Majelis ini juga mewakili umat dalam melakukan muhâsabah (koreksi) terhadap Khalifah dan semua pegawai negara.

Keberadaan Majelis Umat ini diambil dari aktivitas Rasulullah saw. yang sering meminta pendapat sejumlah orang di antara kaum Muhajirin dan Anshar yang mewakili kaum masing-masing; diambil dari perbuatan (af’âl) khusus Rasulullah saw. terhadap beberapa orang tertentu di kalangan Sahabat untuk meminta pendapatnya; serta diambil dari perbuatan para Khulafaur Rasyidin yang sering meminta pendapat para ulama dan ahli fatwa di kalangan mereka (An-Nabhani, Muqaddi-mah ad-Dustûr, hlm. 121; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 147).

Khatimah

Dengan demikian Negara Khilafah adalah negara yang sangat jelas bentuk, sistem pemerintahan dan strukturnya. Karena itu hanya orang yang buta saja yang tidak bisa melihatnya, atau dibutakan mata hatinya oleh Allah SWT, sehingga tidak mau tahu ajaran agamanya. WalLâhu a’lam

 

Catatan kaki:

  1. Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Mesir, al-Wathan, 1298 H, hal. 3; ar-Ramli, Niyahatu al-Muhtaj, Syarah al-Minhaj, VII/389; al-Baidhawi,Mathali’ al-Andhar ‘ala Thawali’ al-Anwar, 228.
  2. Ahmad dari Nu’man bin Basyir.
  3. Struktur Negara Khilafah, bahwa Negara Khilafah dalam bidang pemerintahan dan administrasi memiliki 13 struktur, bisa dilihat dalam kitab: An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 113; Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 96; Hizb at-Tahrîr, hlm. 82; dan Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 18.
  4. Lihat, al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, hlm. 47; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 20.
  5. Lihat, al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, hlm. 114.
  6. Lihat, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 55.
  7. An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 115; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 64.

[Naskah Khutbah Idul Fitri 1438 H] Bela Islam: Tegakkan Syariah Kaffah, Rekatkan Ukhuwah Islamiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم

BELA ISLAM:

TEGAKKAN SYARIAH KAFFAH, REKATKAN UKHUWAH ISLAMIYYAH

 

اَللهُ أَكْبَرُ 3 x اَللهُ أَكْبَرُ 3 x اَللهُ أَكْبَرُ 3 x.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَيَّدَ الْإِسْلَامَ فِيِ كُلِّ عَصْرٍ بِاْلإمَامِ اْلأَعْظَمِ، وَ أَقَامَهُ خَلِيْفَةً لِرَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ، فِي حِفْظِ شَرْعِهِ وَ نُصْرَةِ دِيْنِهِ وَ إِمْضَاءِ حُكْمِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. وَ صَلَوَاتُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَ عَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِيْهِمْ، وَ مَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

أُوْصِيْنِي وَ إِيَّاكُمْ بِتَقْوَااللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Alhamdulillah, sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Saat ini kita telah berhasil melewati hari-hari Ramadhan hingga ke bagian akhir bulan yang penuh berkah ini. Kini kita merayakan satu hari yang indah, Idul Fitri. Inilah hari saat kita kembali berbuka setelah selama sebulan penuh berpuasa. Pada hari ini kita pantas berbahagia karena Rasulullah saw. pun telah bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.

Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan yaitu: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya (di surga) (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Namun demikian, kita pun selayaknya khawatir jika sampai ibadah shaum kita tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa. Padahal bukankah takwa adalah hikmah puasa yang harus kita raih sebagaimana yang Allah SWT kehendaki dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian, sebagaimana puasa itu telah Allah wajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Karena itu di tengah kegembiraan kita berhari raya Idul Fitri, kita pun pantas bertanya: Sudahkah takwa benar-benar mewujud dalam diri kita? Sudahkah rasa takut kepada Allah SWT terpatri kuat dalam jiwa kita? Sudahkah semua perintah Allah SWT kita laksanakan dan semua larangan-Nya kita tinggalkan? Sudahkah syariah-Nya kita terapkan secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan kita? Jika belum, kita seharusnya merasa khawatir dengan apa yang diisyaratkan Baginda Rasulullah saw.:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan (pahala) puasanya, kecuali rasa lapar saja (HR Ahmad).

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Sebagaimana kita ketahui dan kita rasakan, Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini masih diliputi dengan sejumlah persoalan yang membelit Islam dan umatnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Kondisi ini tak pernah beranjak dari tahun-tahun sebelumnya. Di dalam negeri, pada Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini setidaknya ada empat hal yang menonjol yang menyelubungi Islam dan umatnya. Pertama: Kasus penistaan al-Quran oleh Ahok. Kasus ini diikuti oleh sejumlah kasus penghinaan terhadap Islam dan Rasulullah saw. dengan beragam bentuknya, khususnya lewat media sosial, yang tidak benar-benar diusut oleh aparat. Kedua: Belum reda kasus penistaan agama, muncul kriminalisasi terhadap ulama yang kebetulan menjadi penggerak dari rangkaian Aksi Bela Islam (ABI) yang dipicu oleh penistaan al-Quran oleh Ahok. Ketiga: Rencana Pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas Islam, khususnya HTI, yang dituding secara sepihak sebagai anti Pancasila dan anti kebhinekaan hanya karena HTI gencar mendakwahkan keharaman pemimpin kafir atas umat Islam. HTI pun dituding mengancam NKRI hanya karena gencar menyerukan pentingnya penguasa dan umat ini menerapkan syariah Islam secara kâffahdalam institusi Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Keempat: Sebagai dampak dari pro-kontra kasus Ahok, muncullah dua kubu yang saling berseberangan: pro dan anti Ahok, yang seolah-olah dianggap perseteruan kelompok moderat dan radikal. Mereka saling mencela, saling melecehkan, bahkan saling menghujat, khususnya di media sosial, apalagi menjelang dan pasca Pilkada DKI Jakarta. Kondisi ini jelas telah mengarah pada perpecahan. Padahal mayoritas dari dua kubu tersebut adalah umat Islam yang seharusnya merekatkan tali persaudaraan Islam atau ukhuwwah islamiyyah. Sayangnya, kondisi semacam ini masih terasa hingga saat ini, justru di tengah bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri yang sakral.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Di luar negeri persoalan umat tak kalah memilukan. Di Suriah, misalnya, umat Muslim harus terus menghadapi kekejaman rezim Bashar Assad yang berkonspirasi dengan Iran, Rusia dan Cina. Sejak Arab Spring terjadi 2011, di Suriah sudah lebih dari 500.000 orang terbunuh dan jutaan lainnya mengungsi. Tragedi di Suriah ini jelas bukan tragedi pertama yang menimpa umat Islam.

Di Palestina, kaum Muslim yang hampir 14 abad menjadi penduduknya, selama puluhan tahun harus tinggal di wilayah sempit Jalur Gaza dan Tepi Barat. Mereka hidup di bawah bayang-bayang kekejaman militer Israel yang tidak sungkan menembak mati anak kecil dan perempuan.

Di Xinjiang, Tiongkok, kaum Muslim pun mengalami penderitaan. Dalam kerusuhan tahun 2014 lalu diperkirakan sekitar 1000 Muslim tewas di tangan militer Tiongkok. Mereka juga tidak bebas menjalankan ibadah, bahkan sudah beberapa tahun dilarang keras mengerjakan puasa Ramadhan, termasuk pada Ramadhan tahun ini.

Kondisi memilukan juga dialami umat Muslim Rohingya. Sebagian terusir, sebagian lagi dibunuh dengan cara keji seperti dibakar hidup-hidup. Kaum Muslimahnya diperkosa oleh pasukan militer dan para biksu Budha di Myanmar.

Nasib Muslim di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat pun makin terancam. Gelombang opini anti-Islam semakin meningkat. Survei yang dilakukan oleh perusahan riset asal Amerika Serikat, Pew Research, yang dirilis 11 Juli 2016 lalu, menunjukkan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim di beberapa negara Eropa telah melonjak pada tahun 2016. Kebencian ini melahirkan gelombang kekerasan kepada umat Muslim. Sejumlah Muslimah diserang di sejumlah negara. Sejumlah masjid dibakar seperti di Inggris, Jerman, Bulgaria juga di Texas, AS. Beberapa negara seperti Prancis melarang pemakaian burqa di jalan-jalan oleh para Muslimah.

Dengan seabreg penderitaan umat di berbagai belahan dunia itu, kita patut bertanya: siapa yang membela? Tidak ada. Apakah PBB? Tidak. Apakah para penguasa Arab dan Muslim? Juga tidak, kecuali sekadar pencitraan seperti menggalang bantuan kemanusiaan atau menampung para pengungsi. Lebih dari itu tidak dilakukan, seperti mengerahkan pasukan militer untuk menghentikan serangan brutal Rusia dan rezim Bassar Assad, sang penjagal Muslim Suriah.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Semua bencana yang menimpa umat Islam di atas seolah membenarkan pernyataan Rasulullah saw. lebih dari 14 abad lalu:

« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا »

Nyaris berbagai umat menyerang kalian seperti makanan yang disantap dari tempat sajiannya (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Apa yang diperingatkan oleh Baginda Rasulullah saw. menjadi kenyataan pada hari ini. Umat Muslim seolah ‘disantap’ oleh para penjajah, baik dari Barat maupun Timur. Kekayaan alam umat dikuras. Perjuangan politik mereka dibelenggu. Darah mereka ditumpahkan. Tanah air mereka dirampas. Mereka sendiri terusir dari negeri mereka. Inilah realita memilukan umat Muslim.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Semua ini tentu ironis. Ironis, terutama di tengah suasana kita merayakan Hari Raya Idul Fitri, yang sering diidentikkan dengan Hari Kemenangan. Ironis, karena semua kondisi di atas justru menunjukkan kekalahan umat Islam. Padahal umat Islam adalah umat terbaik (khayru ummah) (QS Ali Imran [3]: 110).

Ironis, karena kondisi ketepurukan dan kekalahan umat Islam ini bertolak belakang dengan kondisi kaum Muslim generasi awal yang sama-sama melaksanakan shaum Ramadhan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Faktanya, shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama bulan Ramadhan, tetapi juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam. Mereka dan generasi gemilang sesudahnya, misalnya, justru sering mencatat prestasi yang gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fathu Makkah, atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.

Kemenangan Perang Badar telah memperkuat posisi kaum Muslim di dunia internasional saat itu, terutama di Jazirah Arab, bahwa negara baru yang dibangun kaum Muslim, Daulah Islam, adalah negara kuat yang tidak bisa disepelekan. Kondisi ini tentu memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara Daulah Islam. Perang Badar juga secara internal telah membuat pihak-pihak di dalam negeri Daulah Islam—orang-orang Yahudi, musyrik dan munafik—takut untuk berbuat macam-macam terhadap Daulah Islam.

Futûhât oleh Daulah Islam juga telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Lewatfutûhât ini dakwah Islam diterima dengan mudah oleh manusia. Futûhât ini pun telah menjadi jalan bagi penerapan syariah Islam di seluruh kawasan dunia. Lewat penerapan syariah Islam inilah seluruh warga negera Daulah Islam baik Muslim maupun non-Muslim mendapat kebahagian, kesejahteraan dan keamanan.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Dengan menyaksikan dan merasakan kondisi yang ironis di atas, sepantasnya segenap komponen umat Islam bangkit membela Islam dan umatnya. Karena itulah kita tentu sangat mengapresiasi serangkaian Aksi Bela Islam (ABI) oleh segenap komponen umat Islam yang terus berlangsung hingga saat ini. Aksi bela Islam ini tentu harus kita lanjutkan sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Allah SWT.

Pembelaan terhadap Islam secara tegas diperintahkan oleh Allah SWT dalam al-Quran. Allah SWT, misalnya, berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela Dia. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (QS al-Hajj [22]: 40).

Allah SWT pun berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

Imam ar-Razi menjelaskan, makna, “In tanshuru-Llah (jika kalian menolong Allah).” adalah menolong agama-Nya, memperjuangkan syariah-Nya serta membantu para pejuang yang memperjuangkan agama dan syariah-Nya.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Untuk membela Islam dan kaum Muslim, tentu dibutuhkan persatuan dan kerjasama seluruh komponen umat ini. Di sinilah pentingnya kita merekatkan kembali ukhuwah (persaudaraan) kita karena semua kaum Mukmin adalah bersaudara. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ»

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara saudara-saudara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Sebaliknya, kaum Mukmin haram berpecah-belah, sebagaimana firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan jangan berpecah-belah (QS Ali Imran [3]: 103).

Persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyyah)—yang diikat dengan akidah yang sama, yakni akidah Islam—tentu bersifat global, tidak lokal; dalam arti lintas daerah, negara bahkan benua. Persaudaraan Islam juga bercorak universal yakni lintas etnik, suku/bangsa, bahasa, dll.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Sebagai wujud pembelaan kita kepada mereka sebagai saudara, tentu tak cukup kita sebatas mendoakan mereka karena faktanya mereka telah menderita cukup lama di bawah tekanan para rejim yang amat kejam. Kepedulian kita kepada mereka harus juga diwujudkan dengan upaya keras kita mewujudkan institusi Khilafah. Mengapa Khilafah? Pertama: Karena Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bersifat global, yang akan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan negara-bangsa yang selama ini menjadi faktor penghalang untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki, yang juga bersifat global. Kedua: karena Khilafahlah pengayom dan pelindung umat yang hakiki, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ»

Imam (Khalifah) adalah perisai; umat berperang di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Ahmad).

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas dibuktikan dalam sejarah antara lain oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah (sekarang Angkara, Turki), kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel. Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’âtsir al-Inâfah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga ia berteriak dan menjerit meminta pertolongan. Menurut Ibn Khalikan dalam Wafyah al-A’yan, juga Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fî at-Târikh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!” Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah. Terjadilah peperangan sengit. Pada akhirnya Kota Amuriyah berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Sang Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Ia lalu berkata di hadapan wanita itu, “Jadilah engkau saksi untukku di depan kakekmu (Nabi Muhammad saw.), bahwa aku telah datang untuk membebaskan kamu.”

Alhasil, dengan Khilafahlah kita bisa menunjukkan aksi bela Islam dan umatnya secara lebih nyata. Tak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, di manapun ada kaum Muslim. Karena itu umat ini harus segera berjuang sekuat tenaga mewujudkan Khilafah.

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Selain sebagai pengayom dan pelindung kaum Muslim di seluruh dunia, Khilafah adalah satu-satunya institusi pelaksana syariah Islam secara kâffah. Penerapan syariah Islam secara kâffah tentu telah diwajibkan oleh Allah SWT atas seluruh kaum Muslim sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total (QS al-Baqarah [2]: 208).

Di dalam tasfirnya, Aysar at-Tafâsîr, Imam al-Jazairi menyatakan bahwa kata kaffat[an] dalam ayat di atas bermakna jâmi’[‘an]. Karena itu, kata Imam al-Jazairi, tidak boleh sedikit pun kaum Muslim meninggalkan syariah dan hukum-hukum Islam.

Dalam al-Quran, Allah SWT pun tidak hanya mewajibkan shaum Ramadhan; kutiba ‘alaykum ash-shiyâm(QS al-Baqarah [2]: 183), tetapi juga mewajibkan hukum qishâsh dalam perkara pembunuhan; kutiba ‘alaykum al-qishâsh (QS al-Baqarah [2]: 78). Menurut para mufassir, semua frasa kutiba ‘alaykum dalam ayat-ayat tersebut memberikan makna furidha ‘alaykum. Al-Quran tak hanya membahas shalat, aqim ash-shalah (QS al-Baqarah [2]: 43), tetapi juga bicara ekonomi saat menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba (QS al-Baqarah [2]: 275], juga saat mewajibkan pendistribusian harta secara adil di tengah masyarakat (QS al-Hasyr [59]: 7).

Seluruh ketentuan syariah Islam ini hanya akan tegak di dalam institusi Khilafah. Karena itu saatnya umat bersatu dan bahu-membahu untuk menegakkan kembali Khilafah. Dengan tegaknya syariah Islam dalam institusi Khilafah Islam ‘ala minhâj an-Nubuwwah, umat Islam pasti akan meraih kemuliaannya kembali.

Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

ثُمّ سَتَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad).

AlLâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyiral-Muslimîn RahimakumulLâh:

Karena itu pada Hari Kemenangan ini sudah sepatutnya kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah agar syariah Islam secara kâffah bisa diterapkan.

Marilah kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan kegembiraan yang hakiki karena meraih kemenangan yang juga hakiki, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).

قال الله تعالى في القرآن العظيم، أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَماَ صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah dosa-dosa kami, karena dalam shalat-shalat kami, termasuk pada Hari Raya Idul Fitri ini, Engkau kami besarkan dan kami agungkan. Namun di luar itu, Engkau acapkali kami kecilkan dan kami kerdilkan.

Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kesalahan-kesalahan kami, karena selama Ramadhan kami berusaha merendahkan dan menghinakan diri di hadapan-Mu; tunduk, patuh dan taat kepada-Mu. Namun di luar itu, kami acapkali menyombongkan diri di hadapan-Mu; kami sering ingkar dan membantah perintah-Mu.

Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kami. Setiap saat Engkau kami sucikan dan kami istimewakan dalam ritual ibadah-ibadah kami, termasuk selama Ramadhan dan Idul Fitri ini. Namun, di luar itu acapkali Engkau kami kotori dan kami cemari dengan dosa-dosa kami di dalam banyak aspek kehidupan kami.

Ya Allah, ya Tuhan kami, maafkanlah kami. Syariah-Mu telah lama kami tanggalkan; perintah-larangan-Mu sudah lama kami tinggalkan; Kitab Suci-Mu telah lama kami campakkan; sunnah-sunnah Nabi-Mu pun telah lama kami lemparkan.

Karena itu ya Allah, ya Tuhan kami, maafkan kami atas kebodohan, keangkuhan dan segala kemunafikan kami yang sesungguhnya tak terperi. Namun, hanya karena satu keyakinan, maaf-Mu tak terperikan, ampunan-Mu tak tergambarkan dan kasih-sayang-Mu tak terukurkan; kami bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu dan bersujud di haribaan ketinggian-Mu; kami berharap gugurnya dosa-dosa kami dan hapusnya kesalahan-kesalahan kami.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ. إِنّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَ اصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَ اصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا، وَ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ. اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَ رُوْسِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا دِيْنَكَ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ. و الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

—o0o—

5 Fakta tentang ‪Muslim‬ di ‪‎Kamboja‬ | ‪Ramadhan Inilah Umatku, Dimana Daulahku?

1. Saat ini diperkirakan tidak kurang dari setengah juta penduduk Kamboja yang memeluk agama Islam.

2. Kamboja termasuk salah satu negara yang paling homogen di dunia, yang hampir seluruhnya terdiri dari etnis Khmer saja, ternyata di dalamnya terdapat etnis Champa yang oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan Khmer Islam. Nenek moyang Kaum Muslim Kamboja merupakan penduduk kerajaan Campa di Vietnam yang menguasai semenanjung Indochina.

3. Selain etnis Champa, Islam juga dianut oleh sejumlah keturunan Melayu yang menjadi penduduk di Kamboja dan juga para pendatang dari negara-negara yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim.

4. Saat ini Umat Islam di Kamboja sudah bisa hidup tenang, karena dahulu Muslim Kamboja berada dalam ketakutan ketika pasukan ultrakomunis Khmer menguasai Kamboja pada 1975. Mereka mencabut perlindungan hukum yang diberikan kepada komunitas agama dan berusaha memangkas populasi Islam di wilayah tersebut.

5. Pada 1979, ketika kekuasaan Khmer jatuh, sekitar 500 ribu Muslim atau sekitar 70 persen dari populasi Muslim di Kamboja dibunuh. Pemerintah Khmer Merah juga menghancurkan masjid, madrasah, mushaf serta melarang kegiatan-kegaiatan keagamaan. Termasuk pelarangan menggunakan bahasa Campa, bahasa kaum muslimin di Kamboja

Diolah dari berbagai sumber termasuk dari harian Republika


Iringi geliat kebangkitan umat dengan Menyebarkan Opini ini
Dari Redaksi #FareasternMuslimah
Menggiatkan opini #MuslimahTimurJauhuntuk Kebangkitan Islam dari Timur
Facebook: https://m.facebook.com/Far.Eastern.Women.4.Khilafah
Twitter #MuslimahTimurJauh@fika_komara
Instagram @muslimah_timur_jauh

5 Fakta tentang ‪Muslim‬ di ‪‎Kamboja

Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. Jika ada orang Papua yang punya keistimewaan, mereka kerap dijuluki sebagai mutiara hitam. Dan salah satu yang layak memperoleh ‘gelar’ itu adalah Muhammad Zaaf Fadhlan Rabbani Al-Garamatan. Pria yang sejak tahun 1985, ia memulai dakwahnya di bumi Papua. Fadhlan, lebih senang menyebut Papua dengan Nuu Waar. “Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujar Ustaz Fadhlan kepada Republika.

Alhamdulillah, Ustadz Fadzlan telah mengislamkan 221 suku. Jika dikalkulasi, mungkin sekitar 220 ribu orang Papua pedalaman yang telah memeluk Islam. Kesabarannya berbuah hasil. Ustadz Fadzlan telah mengembalikan kejayaan Islam di bumi Nuuwar yang selama ini dikenal sebagai sarang misionaris (Kristen). Di pulau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Irian ini ternyata memiliki sejarah perkembangan Islam sejak abad ke-12. Nama Nu Waar diberikan oleh pedagang muslim yang datang saat itu. Islam masuk pada 17 Juli 1214, sedangkan agama lainnya (selain animisme dan dinamisme) baru masuk sekitar abad XVIII. Nama Nu Waar sendiri berarti cahaya. Pedagang muslim dari Gujarat, yang membawa agama Islam tersebut, ingin pulau ini menjadi cahaya bagi Asia. Namun nama tersebut sama sekali tidak popular, bahkan di kalangan umat Islam Indonesia. Parahnya lagi, informasi yang kurang hingga saat ini menambah kesalahpahaman kita terhadap pulau paling timur ini.


Iringi geliat kebangkitan umat dengan Menyebarkan Opini ini
Dari Redaksi #FareasternMuslimah
Menggiatkan opini #MuslimahTimurJauhuntuk Kebangkitan Islam dari Timur
Facebook: https://m.facebook.com/Far.Eastern.Women.4.Khilafah
Twitter #MuslimahTimurJauh@fika_komara
Instagram @muslimah_timur_jauh

Semarak Dakwah Islam di Papua – Bumi Nuu Waar

Selama belasan tahun belakangan, isu Islamofobia kian merebak di tengah-tengah masyarakat global, khususnya dunia Barat. Beragam bentuk aksi kebencian yang menyudutkan kaum Muslimin pun mulai dilakukan secara terang-terangan oleh kelompok anti-Islam di berbagai belahan bumi.

Secara bahasa, Islamofobia berasal dari dua kata, yaitu Islam dan fobia (ketakutan yang berlebihan). Jika ditarik maknanya, istilah tersebut didefinisikan sebagai prasangka atau ketakutan yang tidak wajar terhadap Islam dan kaum Muslimin. “Dalam arti yang lebih luas, Islamofobia juga menjadi sinonim dari ‘anti-Islam’, yakni segala sikap atau tindakan yang menunjukkan ketidaksukaan terhadap agama Islam,” ungkap peneliti dari Universitas Hamburg, Jerman, Miriam Urbrock dan Marco Claas, dalam karya tulis “Islamophobia: Conceptual Historical Analysis.” Islamofobia sering berhubungan dengan ketakutan yang tidak wajar akan simbol-simbol agama, seperti kerudung (hijab) yang kerap diartikan sebagai antifeministik dan antiliberal. Begitu pula halnya dengan kesalahan persepsi sebagian masyarakat mengenai pria yang memelihara janggut yang sering dikait-kaitkan dengan teroris.

Jika ditelusuri akar sejarahnya, beragam bentuk Islamofobia sebenarnya sudah ada sejak dimulainya dakwah Islam oleh Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah pada abad ketujuh silam. Pada masa itu, permusuhan terhadap Islam justru muncul di tengah-tengah masyarakat Arab yang notabene adalah saudara sebangsa Rasulullah sendiri. Selama periode Makkah (610-622 Masehi), Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin menghadapi ujian yang hebat dari kelompok kafir Makkah.

Masyarakat Arab jahiliyah ketika itu melakukan perlawanan habis-habisan terhadap dakwah risalah yang dibawakan Rasulullah SAW. Sejumlah tokoh Quraisy, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab gencar memprovokasi orang-orang Makkah untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Sejumlah sahabat pun menjadi korban kekejaman musuh-musuh Islam. Sebut saja Ammar ibn Yasir, Khabbab ibn al-Arat, dan Bilal ibn Rabah yang disiksa dengan cara yang amat sadis oleh kaum kafir Makkah, hanya lantaran mereka teguh mempertahankan imannya.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW sendiri bahkan juga tak luput menjadi sasaran aksi kebencian orang-orang kafir Quraisy pada waktu itu. Dalam beberapa riwayat disebutkan, Nabi SAW pernah dihina, diludahi, bahkan disakiti oleh orang-orang yang memusuhi Beliau. Namun, selama berada di Makkah, semua perlakuan itu dihadapi Rasulullah dengan penuh kesabaran.

Setelah Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah, kaum kafir Makkah masih saja menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam. Situasi semacam itu terus berlangsung selama beberapa tahun. Hingga akhirnya terjadi peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah oleh kaum Muslimin) pada 8 Hijriyah/630 Masehi, barulah Islam mulai diterima secara luas oleh masyarakat Arab.

Sepeninggalnya Rasulullah SAW, pengaruh Islam semakin berkembang hingga ke luar Jazirah Arab. Beberapa penaklukan yang berlangsung selama pemerintahan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Ottoman memberi kontribusi besar dalam membentuk peradaban Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa.


Iringi geliat kebangkitan umat dengan Menyebarkan Opini ini
Dari Redaksi #FareasternMuslimah
Menggiatkan opini #MuslimahTimurJauhuntuk Kebangkitan Islam dari Timur
Facebook: https://m.facebook.com/Far.Eastern.Women.4.Khilafah
Twitter #MuslimahTimurJauh@fika_komara
Instagram @muslimah_timur_jauh

Menelusuri Jejak Islamofobia