Oleh: Hamzah Qureshi

‘Tidak apa-apa bagi seorang suami memukul istrinya’ adalah sebuah judul sensasional yang dipilih The Australian ketika melaporkan dua orang wanita muslim yang merupakan anggota Hizbut Tahrir dalam sebuah video yang berisi penyampaian tafsir Alquran. Peristiwa ini mengantarkan banyak media besar menggiring opini untuk mengcover cerita tersebut melalui sudut pandang kekerasan domestik, yang dibumbui dengan komentar dari para politisi. Beberapa dari komunitas muslim mengadukan hal tersebut serta mengkritik pandangan yang diekspresikan dalam video.

Dua hari kemudian Syeikh Shady Alsuleiman (Presiden Australian National Imams Council) menjadi target media berikutnya.

Kedua kasus tersebut tidak menyerang pribadi, tetapi menyerang Islam. Media tidak ambil pusing mengenai interpretasi yang dibentuk soal aturan Islam. Namun masalahnya adalah, fakta bahwasannya Islam jauh berbeda dengan standar Barat yang bercorak sekuler-liberal.

Islam memiliki pandangan tersendiri yang sama sekali tidak cocok dengan perasaan modern tertentu. Atas alasan inilah adanya kontroversi yang melingkupi Islam dan kaum muslimin yang merupakan sesuatu yang lumrah. Kaum muslimin harus menyadari bahwasannya jika kita ingin mempertahankan identitas keislaman kita, kita akan menjadi target media dan pemerintah. Ini adalah sesuatu yang terelakkan.

Kasus di atas menunjukkan pada kita bahwasannya kita tidak akan mendapatkan mengenai Islam/muslim yang benar. Sebab, Barat hanya menginginkan gambaran Islam yang cocok dengan parameter ideologi mereka.

Kesimpulannya, ketika media melontarkan suatu tuduhan terhadap muslim, kita tidak boleh terjebak menjadi umpan. Kita hanya perlu untuk mengecek kebenaran yang sesungguhnya. Jadi ketika muslim dikatakan sebagai teroris, kita hanya perlu melakukan penolakan dengan memperkuat narasi yang akan mendukung penolakan kita terhadap tuduhan tersebut. Hal ini juga dapat diterapkan pada Islam dan kekerasan domestik.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai sebuah komunitas jika kita mengetahui bahwa kita terus-terusan menjadi target media? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah tidak menerima tuduhan tersebut dan tidak membelakangi satu sama lain. Adanya perbedaan pendapat dalam komunitas mulslim harus didiskusikan secara personal – bukan menjadi konsumsi publik yang akan menjadi seperti parasit yang terus diberi makan oleh media.

Menjadi genting apabila kita menunjukkan dukungan dan keberpihakan karena berasal dari media. Sebab, kita adalah muslim. Adanya ikatan persaudaraan harusnya mendorong kita untuk saling membantu dan memberi dukungan satu sama lain, terutama dalam menghadapi musuh yang sama. Kita harusnya bergandengan tangan sementara tangan lainnya berpegang pada Islam.

Penting bagi kita bahwasannya kita tidak membenarkan status quo serangan media yang berkelanjutan tersebut dengan ucapan “beginilah media bekerja”, yang pada gilirannya akan menyalahkan diri kita sebagai korban. Ya, itulah media, dan ini menjadi pokok masalah harus digarisbawahi dan menjadi tantangan bagi kita.

Sebagai sebuah komunitas, marilah kita memahami realita bahwa lebih baik kita mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi media – apakah pemberitaan terfokus pada satu kelompok atau individu di satu sisi, atau pihak lain di sisi lainnya. Jika topik hari ini adalah kekerasan domestik sedangkan kemarin mengenai terorisme, esok bisa jadi bermacam-macam. Namun tetap, targetnya selalu Islam.

Sumber: http://www.hizb-australia.org/2017/04/muslims-and-media-monsters/

Muslim dan Monster Media

Oleh: Yasmin Malik


Classical Conditioning
merupakan istilah yang sering digunakan oleh para psikolog. Sederhananya, Classical Conditioning menggambarkan proses belajar melalui asosiasi. Pengamatan mengenai hal ini telah dilakukan oleh Ivan Pavlov. Ia mempelajari tentang peranan saliva dalam proses pencernaan anjing secara tiba-tiba. Anjing mengeluarkan saliva ketika bertemu dengan makanan, namun seiring waktu Pavlov menemukan bahwa anjing tersebut mulai mengeluarkan saliva bahkan sebelum kontak langsung dengan daging. Anjing akan mengeluarkan kalenjar saliva ketika tuannya datang untuk memberi makan.

John B. Watson kemudian melanjutkan studi ini pada manusia, yaitu pada bayi Albert. Pada awal eksperimen, Albert tidak menunjukkan ketakutan pada tikus putih. Tetapi dengan menyertakan pemandangan tikus putih dengan suara yang sangat keras, Albert kemudian menunjukkan ketakutan pada hewan tersebut.

Kaum Muslimin harus hati-hati dengan hal ini, dimana proses pembelajaran ini digunakan untuk mempengaruhi kecendrungan dan perilaku kita. Selain itu, pembelajaran ini disalahgunakan untuk menyimpangkan perilaku manusia, atau sebaliknya menjadi jalan untuk membaikkan perilaku mereka.

Kita melihat bahwasannya Classical Conditioning digunakan sehari-hari di media-media Barat oleh para politisi mereka. Dengan retorika anti-Islam dan taktik framing, mereka telah menjadikan gambaran Muslim terlibat dengan tindakan terorisme dan pembunuhan, serta menanamkan perasaan takut, marah, bahkan jijik terhadap mereka. Sejauh ini, penggambaran negatif tersebut bahkan dilakukan terhadap hampir pada setiap simbol-simbol Islam.

Proses ini dilakukan secara intens sehingga kita melihat bahwasannya hampir setiap simbol sakral dalam Islam dan nilai-nilai Islam dalam beberapa cara dikaitkan dengan hal yang negatif. Sebagai contoh, hijab sering dikaitkan dengan gambaran perempuan yang dilecehkan dan tertindas. Gambaran tersebut secara otomatis menuai perasaan jijik dan memalukan. Ketika hijab terus menerus dikaitkan dengan gambaran ini dan perasaan ini, hijab, secara sendirinya akan menghasilkan gambaran negatif tersebut. Hal ini kemudian ikut mempengaruhi non-muslim.

Hal yang sama kita lihat pada bulan Ramadhan dan puasa. Kegiatan berpuasa ini dibangga-banggakan di Barat, namun tidak didasari pada keimanan, namun dengan diet dan kesehatan. Akan tetapi, ketika kita berbicara tentang berpuasa di bulan Ramadhan, dan menghubungkannya dengan keimanan kepada Allah, maka mulailah diskusi dan seluruh berita negatif dikaitkan dengan kegiatan ini. Sehingga meluas pada istilah yang terdengar menarik bagi non-muslim, seperti berempati pada orang miskin atau memiliki dampak baik bagi tubuh.

Proses Classical Conditioning, juga berpotensi untuk mengarahkan kita pada perilaku yang benar. Misalnya, kita melihat Alquran telah melakukannya dengan berbagai cara untuk mencegah seseorang dari berperilaku membahayakan dan untuk mempengaruhi kecendrungannya seseorang ke arah yang benar. Alquran menjadi contoh yang sangat kuat dalam hal ini, seperti yang tertera dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Pengibaratan memakan bangkai saudara sendiri akan menjadikan seseorang merasa jijik tatkala ingin bergunjing. Hal ini membantu kita agar jauh-jauh dari perilaku ini. Metoda untuk menjadikan diri kita terhindar dari perbuatan menjijikkan ini yaitu dengan membangkitkan perasaan jijik sekuat mungkin dengan perilaku tersebut. Secara praktis hal ini akan mengharuskan kita untuk membaca Alquran sesering mungkin agar perasaan itu makin bertambah dan bertambah sehingga kita terhindar darinya.

Classical Conditioning dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku kita, baik secara positif maupun negatif. Kita sebagai umat yang satu, harus bertekad untuk membantu diri kita, sekaligus para pemuda untuk menajamkan kecendrungan pada simbol dan nilai-nilai Islam. Salah satu caranya adalah dengan membantu mengenalkan simbol hijab. Bahwasannya hijab adalah simbol penghormatan dan kepatuhan pada Allah SWT, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehinaan dan pelecehan. Bahwasannya keterlanjanganlah yang menyebabkan pelecehan dan penindasan.

Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al-Isra: 9)


Sumber: http://www.khilafah.com/how-classical-conditioning-is-used-to-influence/

Bagaimana Penggunaan Classical Conditioning untuk Mempengaruhi

Sekarang ini banyak orang yang menganggap masjid hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah ritual semata seperti shalat. Sehingga tidak ada satupun aktivitas yang diperbolehkan selain shalat. Jika ada seseorang yang membicarakan permasalahan terkini seperti korupsi oleh penguasa muslim, atau isu yang berhubungn dengan sistem ekonomi atau sistem sosial dalam Islam, maka akan diberhentikan. Banyak masjid yang memberlakukan larangan mendiskusikan urusan kaum muslimin, bahkan menyerukan agar urusan kenegara dipisahkan dari masjid. Hal ini terjadi di negara-negara Barat dimana masjid biasanya dijalankan oleh kelompok atau individu.

Semua itu dilarang dalam Islam. Alamiahnya, masjid adalah pusat kegiatan umat Islam. Dalam pandangan syari’at, masjid memainkan peran penting di kalangan kaum muslimin. Adapun kedudukan masjid dalam buku-buku fiqih menurut ulama klasik yaitu sebagai sentral atau pusat, yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Masjid adalah markas pemimpin tertinggi negara Islam
Masjid juga merupakan pusat dimana kegiatan kenegaraan dijalankan. Nabi SAW menemui utusan, menandatangani perjanjian, memutuskan perkara pihak-pihak yang bersengketa, dan lain-lain. Khalifah sebagai kepala negara akan menguraikan garis besar kebijakan yang diambil beserta metode, berbicara dan berdebat dengan lawannya tanpa diselimuti rasa takut di dalamnya. Pidato Khalifah Abu Bakar juga terlaksana di dalam masjid Nabi SAW, ketika beliau di bay’at. Pidato Abu Bakar tersebut dikenal sebagai pidato tersingkat yang pernah disampaikan oleh seorang kepala negara yang isinya sebagai berikut:
“Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua”.

2. Masjid adalah bagian dari Departemen Informasi dan Kebudayaan
Masjid merupakan pusat informasi Islam yang penting. Semua informasi yang berhubungan dengan isu strategis diumumkan di masjid. Di sana juga dapat dipastikan keberhasilan dakwah dan informasi dengan adanya kontak langsung antara penyampai dan penerima pesan. Adzan merupakan informasi mengenai waktu shalat dan dalam waktu bersamaan berarti mengampanyekan Islam dan menyebarkannya. Pembelajaran Alquran dalam bentuk melingkar, fiqih, dan konferensi juga merupakan metode untuk memperoleh informasi tentang Islam.

Nabi SAW menggunakan masjid sebagai tempat ibadah, sebagai pusat informasi, titik pertemuan bagi kaum muslimin dimana mereka melakukan shalat, belajar, konsultasi, dan untuk melatih para mujahidin. Persiapan perlengkapan dan perencanaan untuk jihad, serta strategi penyebarluasan dakwah Islam juga dilakukan di sana.

3. Masjid sebagai mahkamah pengadilan
Masjid digunakan sebagai tempat pemutusan perkara serta tempat mendengarkan aspirasi dari rakyat. Ada banyak bukti yang mendukung hal ini, serta tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai hal ini.

4. Masjid sebagai tempat pembelajaran dan pengajaran
Masjid mengajarkan perkara pokok seperti aqidah, tatacara ibadah serta hukum-hukum syara’ yang mengatur segala hal yakni politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain. Kebijakan yang diterapkan berdasarkan Alquran dan As Sunnah dengan tujuan membangun kepribadian Islam. Caranya, dengan membentuk kelompok-kelompok halqah, debat, dan konferensi. Pertemuan-pertemuan itu dilandasi dengan niat mendapatkan ridha Allah SWT. Malaikat-malaikat senantiasa menaungi mereka ketika menuntut ilmu. Kegiatan di masjid dilaksanakan setiap waktu, tanpa membutuhkan lembar pendaftaran atau surat izin khusus, serta menerima kalangan manapun baik tua maupun muda, perempuan atau laki-laki, muslim atau nonmuslim, manusia berkulit putih atau hitam, serta menerima orang Arab maupun di luar Arab.

Peran manajemen masjid akan diambil oleh Kepala Departemen Informasi dan Kebudayaan, yang ditunjuk langsung oleh Khalifah, yang sekarang lebih dikenal sebagai ‘Kementrian Informasi dan Seni’ yang kini telah lenyap di negeri muslim akibat pandangan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Bahkan, Kepala Departemen Informasi dan Kebudayaan akan menunjuk orang yang bertanggungjawab menyediakan fasilitas umum di masjid, perguruan tinggi, dan pasar.

[bersambung]

PERAN DAN KEDUDUKAN MASJID (BAG. 1)

MAKANAN HALAL DAN POLITIK HARAM

Muslim memimpin dunia selama lebih dari seribu tahun ketika Islam diterapkan sebagai ideologi mereka, sebagai pandangan hidup, bukan hanya untuk individu tapi juga sebagai sistem bagi masyarakat. Namun keadaanya berubah saat mereka berupaya mencontoh Barat sekuler dan perlahan mengerucutkan Islam hingga sebatas persoalan spiritual, moral, dan permasalahan yang berhubungan dengan individu lainnya.

Hari ini sekulerisme telah melingkupi benak kaum muslim dan membuat mereka melupakan prioritasnya. Persoalan yang remeh-temeh dibuat rumit sementara persoalan vital dilupakan dan tergantikan dengan ide-ide batil dan korup.

Sejauh mana sesuatu berubah menjadi buruk?

Salah satu paradigma yang terlihat dapat menjadi pembanding mengenai bagaimana cerdasnya kita saat memilih makanan. Kita membaca tulisan yang tertera pada kemasan produk dan meneliti komposisinya sebelum memutuskan untuk memakannya. Disisi lain, sangat memalukan bahwasannya kita bereaksi dangkal berkaitan dengan pandangan dan aktivitas politik.

Pernahkah kita berhenti sejenak dan menoleh, komposisi apakah yang terdapat pada pilihan politik yang ditawarkan? Apakah ia terbuat dari bahan yang benar seperti al ahkam-syar’i atau berakar pada keharaman? Apakah kita pernah keluar untuk mencari pilihan halal alternatif jika menemukan  sesuatu yang kotor, atau apakah kita menyerah pada pilihan kotor apapun yang tersedia dihadapan? Itulah kesan yang akan ditemukan saat memilih salah satu dari dua sistem politik yang jahat.

Kita akan bergidik ngeri manakala memutuskan untuk memilih diantara babi dan bangkai. Tak pernahkah kita berusaha pergi jauh untuk mencari restoran halal atau makanan kemasan lainnya? Kita bahkan menyiapkan upaya ekstra agar makanan yang kita makan benar-benar terisolasi dari bahan-bahan yang haram, seperti menginginkan pizza tanpa cemaran daging babi, atau meminta agar pembuat sandwich memakai sarung tangan saat membuat sandwich.

Jadi, mengapa kita mau saja mengkonsumsi apa saja yang disediakan dalam piring politik? Apakah kita pernah mengkonfirmasi komposisi ideologi pada list bahan telah bersertifikat halal? Apakah kita pernah peduli jika bahan yang ada berasal dari sumber terpercaya? Apakah kita pernah menghadiri seminar atau melakukan penelitian untuk mengetahui komponen proses politik yang berada dalam tuntunan islami?

Mari meninjau keuntungan berpartisipasi pada sistem politik kufur, apakah mereka memakan babi untuk kemaslahatan? Apakah kita tidak berusaha menyaring keinginan, keuntungan, dan kesenangan ketika kita memberi pertanyaan mengenai makanan haram untuk sebuah alternatif halal? Bagaimana bisa kita dapat dengan mudah digoyangkan dengan keuntungan dan kesenangan semu ketika pilihan itu datang pada pilihan politik?

Lainnya mengambil kemiripan yang paling sedikit dengan sistem kufur dan memolesnya dengan rasa Islami ketika memutuskan sebuah pilihan. Apakah mereka memakan daging anjing yang disembelih dengan nama Allah SWT? Telah cukup bagi kita jika bagian kecil sistem ini bersih dan sehat, tanpa melihat keseluruhannya?

Bahkan jika kita memakan binatang yang halal, maka pastikan ia disembelih dengan nama Allah SWT. Kita menolak binatang yang disembelih dengan nama nenek moyang atau idola yang lain. Alquran telah menerangkan “Kekuasaan hanyalah milik Allah” (QS 12: 40). Ketika kita mengambil bagian dalam sistem politik yang telah menafikkan legislasi Allah SWT dan menempatkan manusia, nenek moyang yang telah mati, dan bahkan idola sebagai legislator.

Persoalan mengonsumsi makanan haram adalah perkara penting, melakukannya adalah dosa; dosanya terbatas pada perbuatan dan bukan pada personal. Adapun berpartisipasi pada politik sekuler kufur adalah tindakan mengabaikan Allah SWT yang termasuk dosa besar, yaitu syirik, sebab manusia ditempatkan sebagai Tuhan, disamping Allah SWT.

Yahudi dan Nasrani telah menjadikan Rabbi-rabbi dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah SWT, dan mengambil Isa AS, anak Maryam sebagai Tuhan mereka.

Ini bukanlah tindakan tunggal individu, namun telah merebak menjadi dosa investasi yang terus berulang ketika para politisi akan diberi mandat kekuasaan. Tak peduli apakah pernikahan sesama jenis, atau melindungi para penghina nabi Muhammad SAW, mereka melakukannya berulang-ulang setiap hari. Bahkan, dosanya akan bertambah seiring pengulangan kesekian kali akibat pelegislasian yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menilai apa yang dibolehkan dan dilarang Allah SWT.

Meskipun kita tinggal di negara mayoritas muslim dimana penguasanya adalah boneka bagi tuan Baratnya, atau kita telah terusir karena penindasan, untuk mencari sebongkah kehidupan di negri lain dimana muslim sebagai minoritas, kita tetap bertahan mencari makanan halal tanpa menghiraukan tanah tempat kita berpijak. Namun kenapa kemudian kita menyerah terlalu cepat dalam mencari kehalalan dan kewajiban dalam berpolitik untuk menjadikan Allah SWT sebagai pengatur atas kehidupan kita?

Sumber: https://hizb-america.org/halal-food-haram-politics/