Sahabat..ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia dibekali akal untuk berpikir. Akal dengan kemampuannya yang luar biasa mampu mengangkat derajat pemiliknya. Akal yang dengannya manusia mampu mengindra kekuasaan Allah lewat ayat-ayat kauniyah dan qauliyah-Nya. Merenungi alam semesta, manusia, dan kehidupan, akan kita dapati kekuasaan Allah yang banyak di dalamnya. Merenungi setiap firman Allah dalam Alquran, menuntun kita untuk senantiasa berserah diri dan merunduk pasrah atas segala titah-Nya.

Agaknya, setiap manusia yang memiliki akal sehat pasti menjalani proses berpikir. Manusia yang awalnya terbelakang, mengukur segala sesuatunya berdasarkan materi, perlahan bangkit. Alam berkembang, oleh karenanya manusia berkembang. Anggapan itu setidaknya perlu direnungi ulang. Sebab, sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita terdahulu mampu memahat bukit cadas dan merombaknya menjadi bangunan megah. Mereka mampu menyusun bebatuan dan menumpuknya menjadi bangunan yang tak goyah walau dimakan zaman. Sedang kita manusia modern, bergantung pada teknologi. Pikir kita, kepandaian kita, menyatu bersama teknologi. Jika hilang teknologi maka hilang pulalah ia. Listrik mati, contohnya.

Dulu, di zaman dimana manusia belum mengenal kompas dan GPS seperti sekarang, mereka melakukan perjalanan atau berlayar menggunakan petunjuk bintang di langit. Gugusan bintang-bintang itu akan membentuk sebuah formasi yang dapat dijadikan sebagai penunjuk arah. Berkat keberadaan rasi bintang tersebut, nelayan yang mencari ikan di laut tidak akan tersesat. Mereka juga terbiasa mengandalkan keberadaan angin muson untuk melayarkan kapalnya di malam hari dan kembali pada siang hari. Kita sekarang, bahkan terlalu sibuk untuk sekadar mengarahkan pandangan, melayari satu demi satu bintang yang menjejak di langit. Jangan tanya saya, sebab kadangkala kita sama.

Ketika kita menengok ke kedalaman laut, ada banyak biota yang hidup di dalamnya. Terumbu karang, serta ikan yang terdiri dari banyak spesies dengan beragam ukuran, bentuk, dan warna. Makanan dan tempat hidup biota itu pun beragam. Ada yang sesekali menyeruak ke permukaan, ada juga yang bersembunyi di palung terdalam. Ada biota yang memangsa tetumbuhan, ikan-ikan kecil, bahkan plankton. Andaikan rizki mereka berada di sumber yang sama, pastilah sumber makanan itu akan cepat habis. Begitu juga seandainya semuanya hidup mengelompok di satu tempat yang sama, pastilah terjadi kompetisi di antara mereka. Tetapi Allah dengan kebesarannya telah mengatur sedemikian rupa.

Ketika waktu SD kita disuguhi pelajaran geografi, kita mengenal istilah-istilah seperti planet, matahari, bintang, galaksi, asteroid, komet, dan sebagainya. Masing-masing beredar pada orbitnya tanpa perlu bertubrukan satu sama lain. Termasuk bumi yang ditempati manusia, beserta bulan yang setia mengiringinya, semua berjalan atas titah Sang Rabbi. Bumi yang kita tempati kini, hanyalah sejumput bahkan setitik debu semesta, tak berarti. Matahari yang senantiasa menerangi, hanyalah satu dari sekian milyar bintang yang bertebaran di galaksi Bima Sakti. Bayangkan ada dua bintang mendekati bumi, maka hancur leburlah ia.

Sesungguhnya, di alam semesta sana mengambang milyaran galaksi. Alam makrokosmos yang dipercaya oleh para ilmuwan terus mengembang dan mengembang. Bahkan, waktu tempuh antara satu galaksi ke galaksi lainnya tak dapat dihitung jika dan hanya jika mengandalkan pesawat tercanggih buatan manusia, meskipun mereka mencoba membuatnya dengan mendekati kecepatan cahaya. Einstein, sang penemu teori relativitas pernah mengemukakan teorinya, bahwa segala sesuatu yang berjalan secepat cahaya, ia akan menjadi cahaya. Seandainya manusia mampu merakit kendaraan yang mampu mengalahkan kecepatan cahaya, maka waktu akan berjalan mundur dan manusia akan mampu melihat secara jelas peristiwa masa lampau. Maka sangat rasional jika Rasulullah dapat menembus batas-batas langit dan melakukan perjalanan dari Misra dalam waktu satu malam.

Jauh-jauh hari sebelum Einstein mengemukakan teorinya tentang relativitas, Alquran lebih dulu mengungkapkannya. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al-Hajj: 47). Adapun bulan dengan kecepatannya memerlukan waktu seribu tahun untuk dapat sekali mengelilingi matahari, sedang kecepatan cahaya hanya menempuhnya dalam waktu satu hari. Maka rasional kiranya jika sehari di akhirat adalah seperti seribu tahun di dunia.

Ketika kita melihat tanam-tanaman, ada banyak jenisnya yang mengagumkan akal. Mereka berbunga, berbuah, berkelana membelah lautan lalu menepi dan menjadi pohon. Tanaman, saat tiba masanya, mereka yang berasal dari satu jenis akan sama-sama berbuah. Rambutan si Fulan yang ditanam di bulan A, dan rambutan Fulanah yang ditanam di bulan B dan C. Mereka akan sama-sama berbuah di bulan D. Siapakah yang memerintahkan mereka kompak untuk berbuah? Atau pernahkah sesekali tanaman-tanaman itu malas berbuah lantaran manusia yang kurang syukur? Astaghfirullah.

Pernahkah kita melihat semut? Kita yang lebih kuat atau mereka? Semut-semut itu, mereka bisa mengangkat beban yang beratnya berkali-kali lipat berat tubuh mereka. Semut yang setiap bertemu saling bersapaan. Mereka hafal sesiapa yang berasal dari koloninya dan sesiapa yang tidak. Semut yang bermacam pula jenis dan kastanya. Ada semut pekerja, semut tentara dan semut ratu. Semut yang bekerja mencari makan, menjaga telur, dan tugas lainnya yang dikerjakan sukarela. Ah, kadangkala aku malu pada semut merah..

Nyamuk, ya nyamuk betina yang tak putus asa mencari makan. Nyamuk yang tingkat kebisingannya mengalahkan akal sehat sehingga kita tak kuasa melainkan tega membunuhnya. Nyamuk yang dengan tubuhnya yang kecil dan sayapnya yang rapuh mampu membuat manusia kalut. Lagi-lagi, ada spesies nyamuk yang gigitannya tak hanya mengundang gatal, tapi juga penyakit. Nyamuk yang dalam pandangan kita hina, namanya termaktub dalam perumpamaan dari Allah, bahwa dunia ini tak lebih hina dari seekor sayap nyamuk.

Semesta bertasbih, barangkali sering kita dengar. Ya, malaikat, ikan di lautan, bahkan segenap penghuni bumi bertasbih memuji penciptanya. Tetumbuhan, hewan, semua bertasbih mengagungkan Dzat yang menciptakan mereka, meskipun kita tidak paham tasbih mereka. Gunung-gunung yang berdiri kokoh menapak perut bumi pun takut kepada Dzat yang Maha Agung. Kita yang telah dianugerahi akal, namun tak berarti menyudahi dari belajar kepada mereka. Penghuni bumi yang tak berakal, tetapi meremehkannya berarti kesudahan. Karena sekali-kali manusia tak akan pernah mampu menyaingi gunung dalam tingginya serta merobek bumi hingga tersisa beberapa bagian.

Tatkala penggunaan akal dilencengkan, maka bersiaplah sesat selama-lamanya. Jika ia sudah sesat, ditambah lagi bebal, maka hanya Allah yang punya kuasa untuk menyiramkan hidayah. Sedang manusia hanya bisa mengingatkan. dan Maka, manfaatkanlah akalmu wahai manusia untuk mencari kebenaran dan merenungi kuasa Tuhan. Manfaatkanlah akalmu untuk kemenangan Islam. Jangan mengikuti jalan-jalan orang yang disesatkan dan sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk. Yaa muqallibal quluub, tsabbit qolby ‘alaa diinika..TT

SEMESTA BERTASBIH

Oleh: Iwan Januar


Baru-baru saja MUI mengeluarkan fatwa adab-adab penggunaan media sosial. Komisi Fatwa MUI menyebutkan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan.

MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan. Haram pula bagi umat Muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup.

Umat Muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan dan-atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

Selain itu, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram.

Kita menyambut gembira fatwa yang sebenarnya berisi penegasan akan haramnya perbuatan tercela tersebut. Mengingat hari ini berbagai aktifitas yang tercela seperti disebutkan di atas seperti sudah menjadi budaya. Ditambah lagi, fatwa yang keluar di bulan mulia ini semoga bisa membuat ibadah shaum kita menjadi sempurna. Bukan lagi sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga lisan dan tulisan dari konten yang mengandung kemaksiatan. Para ulama telah memberikan pesan; salamatul insan fi hifdzil lisan – keselamatan manusia itu ada pada penjagaan lisan.

Adapun mengenai status tulisan adalah sama seperti lisan. Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan bahwa tulisan juga sama halnya seperti lisan: “Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.

Merugi orang yang menahan lapar dan haus, tapi tak menahan lisan dan tulisan dari konten yang dibenci Allah SWT. Benar, secara bahasa makna shaum adalah imsak atau menahan diri. Dalam tinjauan fiqih para ulama umumnya menyepakati makna shaum adalah menahan diri dari makan dan minum dan segala perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan

Namun demikian banyak hadits yang memberikan kita penjelasan bahwa ada perkara yang membatalkan puasa dan ada perkara yang mengugurkan atau dapat merusak pahala puasa. Orang-orang yang berpuasa diminta bukan saja menahan diri dari hal yang dapat membatalkan puasa mereka seperti makan, minum, atau jima, tapi juga mencegah diri dari perkara yang merusak pahala puasa.

Di antara pesan agung dari Nabi SAW. tentang perkara yang merusak pahala puasa adalah sebagai berikut:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-Zur dan mengerjakannya, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain ada tambahan lafadz al-jahlu. Sabda Beliau:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-Zur dan mengerjakannya juga al-jahl, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya (HR. Bukhari).

Shaum itu hakikatnya adalah perisai (junnah) dari siksa neraka karena pelakunya dapat mengekang syahwatnya, sementara neraka itu membutuhkan syahwat. Maka jika seorang yang berpuasa dapat mengendalikan syahwatnya di dunia, maka ia akan terjaga di akhirat dari siksa neraka.

Terhadap hadits-hadits ini para ulama berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa seorang muslim yang tidak mengendalikan syahwatnya dari perbuatan maksiat seperti ghibah maka dianggap telah batal puasanya dan wajib mengqodlonya (Fathul Bariy, Li Ibni Hajar, juz 6 hlm. 129, Maktabah Syamilah). Para ulama ini mendasari pendapat mereka dari  keumuman hadits-hadits di atas. Di antara mereka adalah Imam al-Awza’iy dan Ibnu Hazm. Adapun jumhur ulama meski menyatakan bahwa kemaksiatan dan qaw az-zur adalah haram namun mereka mengkhususkan batalnya puasa adalah karena makan, minum dan jima. Adapun perbuatan maksiat yang dikerjakan seorang muslim yang berpuasa adalah merusak pahala puasa mereka. Wallahualam.

Namun demikian, meski tidak membatalkan puasa, apakah rela seorang muslim berpayah-payah puasa namun kelak akan menerima kenyataan pahit kalau pahala puasa mereka rusak bahkan binasa? Nabi katakan mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga belaka?

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

Berapa banyak orang berpuasa balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga (HR. Ibnu Majah).

Pantang bagi kaum muslimin yang mengharapkan balasan besar dari ibadah shaum mereka melakukan qawl az-zur dan al-jahl yang disebutkan Baginda Rasulullah SAW. dalam hadits-hadits tersebut.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan makna qawl az-zur adalah kebohongan. Sedangkan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadziy yang merupakan syarah hadits Imam at-Turmudzi, karya Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Mubarakfuriy,  dicantumkan bahwa makna az-zursebagai kebatilan. Kemudian dalam kitab itu dijelaskan pula yang dianggap mengucapkan dan mengerjakan az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, ghibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat dan lain sebagainya yang merupakan perkara yang wajib dijauhi  dan diharamkan oleh kaum muslimin untuk mengerjakannya. Adapun makna al-jahlyang disebutkan dalam hadits yang lain adalah seluruh kemaksiatan yang telah diharamkan Allah SWT.

az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, ghibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat

Karenanya merugilah seorang muslim yang sudah lelah berpuasa tapi tak kunjung meninggalkan perbuatan dan perkataan batil lagi maksiat. Lidahnya suka menyebar kabar bohong atau hoax, lalu sering menuding saudaranya sebagai penjahat dan musuh masyarakat, merendahkan status mereka, dan malah memuji-muji orang yang memusuhi kaum muslimin dan menistakan agama.

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa. Ironisnya perkataan-perkataan keji itu justru ditujukan pada kaum muslimin dan orang-orang yang tengah giat berdakwah menyelamatkan negeri. Padahal jangankan kepada sesama muslim, mencela nonmuslim yang tidak bersalah diharamkan oleh syariat.

Penguasa tanpa malu membiasakan diri dengan kebohongan. Dulu berjanji tak akan menaikkan tarif listrik dan BBM, berjanji akan menurunkan harga berbagai komoditi, yang ada hari ini, di bulan mulia ini, umat tercekik kehidupannya. Banyak rumah yang berhari-hari listriknya tidak menyala karena tak sanggup membeli token listrik, juga banyak warga kelimpungan mencari gas elpiji karena semakin langka.

Selain itu berkali-kali umat Muslim yang sedang membela kehormatan agama dilabeli berbagai macam perkataan tercela; pemecah belah negeri, radikal, intoleran, dsb. Perkataan itu kerapkali ditopang dengan berlapis-lapis kebohongan dan perkataan kotor lainnya.

Berbagai kasus direkayasa untuk menjatuhkan kehormatan umat Muslim. Misalnya di Solok, kaum muslimin yang dituding melakukan persekusi pada seorang dokter wanita yang mengkritik seorang tokoh muslim nasional. Di depan media massa korban mengaku dicaci maki, dicap pelacur, diintimidasi, keluarganya diancam oleh sejumlah muslim di rumah sakit tempatnya bekerja. Seperti biasa media massa sekuler dengan bersemangat mengangkat berita ini, aparat kepolisian juga langsung bertindak bahkan mendisiplinkan Kapolres Solok karena dianggap lalai mencegah persekusi.

Tapi belakangan tokoh-tokoh muslim yang mendatangi sang dokter, termasuk pihak rumah sakit angkat suara. Mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa sama sekali tak ada persekusi atau ancaman dan intimidasi sedikitpun. Pertemuan kala itu berjalan damai, termasuk pihak RSUD dan kepolisian juga memfasilitasi proses klarifikasi tersebut dengan baik-baik. Lihatlah, bagaimana qawl az-zur, buhtan wa kadz begitu vulgarnya dipertontonkan di bulan yang suci ini.

Lalu dalam kasus tudingan chat mesum yang dilakukan seorang tokoh muslim justru sarat berbagai tudingan ganjil. Alih-alih mengusut tuntas siapa penyebar chat itu, aparat malah lebih gigih menyeret sang tokoh ke meja hijau. Padahal pihak perusahaan penyedia jasa telekomunikasi yang disebut aparat memiliki bukti chat mesum itu, justru membantah pernyataan kepolisian. Bukankah ini sudah kesaksian palsu dan kebohongan? Astaghfirullah.

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa.

Kini umat Muslim juga dihadang dengan tindak pidana persekusi bila membantah, menegur apalagi bila mengancam orang lain meski orang itu menghina agama Islam. Perkataan batil mendapat pembelaan, sedangkan perbuatan mulia dinistakan. Inilah qawl az-zur dan al-jahlyang diingatkan oleh Nabi SAW. bahwa pelakunya bila mereka berpuasa sungguh tak akan dibutuhkan oleh Allah SWT.

Anehnya berbagai persekusi, intimadasi, penghadangan hingga pemukulan dimana umat muslim yang menjadi korban tak pernah mendapat pembelaan. Didiamkan bahkan dibela dengan berbagai qawl az-zur. Publik mungkin tidak lupa bagaimana Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain dihadang gerombolan bersenjata, bahkan beliau hampir kena bacok. Ironinya hal itu terjadi di dalam bandara yang semestinya steril dari pengunjung gelap.

Begitupula ketika syabab Hizbut Tahrir tengah mengusung bendera mulia raya dan liwa, kemudian dihadang oleh gerombolan massa, direbut bendera mereka, bahkan terjadi intimidasi dan pemukulan, sepi dari pemberitaan dan pembelaan. Para pelakunya jangankan diseret ke dalam penjara, diinvestigasi juga tidak. Bandingkan dengan sejumlah pemuda muslim di Jakarta yang membela kemuliaan agama mereka karena hinaan seorang nonmuslim, langsung diborgol, foto mereka ditayangkan di seantero Nusantara, dipermalukan, dan dihinakan. Sementara pelaku penistaan agama itu mendapat pembelaan besar-besaran dari penguasa dan media massa.

Yang terjadi akibatnya di berbagai akun media sosial bermunculan status yang menistakan agama Islam yang minim penindakan dari penguasa. Bahkan bila ada muslim yang berusaha membela kehormatan agamanya bisa dipidanakan dengan tudingan melakukan persekusi.

Sungguh keimanan dan keistiqomahan orang-orang beriman tengah diuji. Mereka harus tetap menghadapi berbagai macam fitnah, kebohongan dan kepalsuan dengan kesabaran, dan puasa adalah bagian dari kesabaran.

Ini adalah dekade penuh kebohongan sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah SAW. akan datang menimpa umat. Pendusta dibenarkan, sedangkan pejuang kebenaran di dustakan.

Nabi SAW. telah mengingatkan bahwa kelak di Hari Akhir para pendusta akan mendapatkan cap “kadzib” pada jidat mereka. Seantera Padang Mahsyar akan tahu bahwa mereka di dunia adalah orang-orang yang terbiasa melakukan perbuatan bohong, fitnah dan merekayasa kisah untuk menghancurkan umat Muslim.

Adapun para penguasa yang gemar melakukan kebohongan, memperdaya rakyatnya, nasibnya akan lebih buruk lagi. Nabi SAW. bersabda:

مَا مِنْ رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ، إِلا وَهُوَ فِي النَّارِ

Tidaklah seorang pemimpin menipu rakyat, melainkan ia berada di neraka (HR. Thabraniy).

Sungguh mengerikan.

Shaum Ramadhan Di Tengah Badai Qawl az-Zur

Berikut ini wasiat Baginda Rasulullah saw. pada malam terakhir bulan Sya’ban, dalam khutbah Beliau saat menyambut datangnya bulan Ramadhan:

Wahai manusia!

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfirah; bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya paling utama. Malam-malamnya paling utama. Jam demi jamnya paling utama. Inilah bulan ketika kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya.

Pada bulan ini nafas-nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal-amal kalian diterima dan doa-doa kalian diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Tuhan kalian, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Dia membimbing kalian untuk melakukan shaum dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah pada bulan agung ini…

Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah orang tua. Sayangilah yang muda. Sambungkanlah tali persaudaraan. Jagalah lidah. Tahanlah pandangan dari apa yang tidak halal kalian pandang. Peliharalah pendengaran dari apa yang tidak halal kalian dengar…

Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa. Angkatlah tangan-tangan kalian untuk berdoa pada waktu shalat. Itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah ‘Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia!

Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Karena itu, bebaskanlah dengan istigfar. Punggung-punggung kalian berat karena beban (dosa). Karena itu, ringankanlah dengan memperpanjang sujud.

Ketahuilah! Allah Swt. bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan-Nya.

Wahai manusia!

Siapa saja di antara kalian memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa pada bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu…

Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia!

Siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, ia akan berhasil melewati sirâth al-mustaqîm pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang menyambungkan tali silaturahmi pada bulan ini, Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Siapa saja yang melakukan shalat sunnah pada bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Siapa saja yang melakukan shalat fardhu, baginya pahala seperti melakukan 70 shalat fardhu pada bulan lain. Siapa saja yang memperbanyak shalawat kepadaku padai bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Siapa saja pada bulan ini membaca satu ayat al-Quran, pahalanya sama seperti mengkhatamkan al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia!

Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagi kalian. Karena itu, mintalah kepada Tuhan kalian agar tidak pernah menutupkannya bagi kalian. Sesungguhnya pintu-pintu neraka tertutup. Karena itu, mohonlah kepada Tuhan kalian untuk tidak akan pernah membukakannya bagi kalian. Sesungguhnya setan-setan terbelenggu. Karena itu, mintalah agar mereka tak lagi pernah menguasai kalian…

Wahai manusia!

Sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyâm pada malam harinya suatu tathawwu’.

Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu amal kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.

Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada Mukmin di dalamnya.

Siapa saja yang memberikan makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang…

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari budak sahaya, niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.

Karena itu, perbanyaklah empat perkara pada bulan Ramadhan: dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhan kalian; dua perkara lagi yang sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampunan kepada-Nya. Dua perkara yang sangat kalian butuhkan ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.

Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Nya, dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga. [HR Ibnu Khuzaimah]

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/21/menyambut-ramadhan/

Khutbah Rosulullah SAW Menyambut Ramadhan

Oleh: Ainun Dawaun Nufus (pengamat sosial politik)


Jangan lemah, jangan ‘saling menunggu’. Kita tidak boleh menunggu kemenangan tegak sementara kita berpangku tangan. Kita tidak boleh diam menunggu Khilafah tegak, karena menegakkan Khilafah itu adalah kewajiban kita bersama sebagai kaum Muslimin.Bersabarlah, agresor barat dan antek-anteknya memang hipokrit. Hanya karena satu orang dari mereka mati, mereka berteriak-teriak di media seluruh dunia. Di Amerika, hanya karena sedikit yang mati, mereka dengan egoisnya meluluhlantakkan Afghanistan. Oleh karena itulah umat Islam di seluruh dunia bisa seperti mereka. Umat Islam juga tidak akan boleh berhenti untuk memperjuangkan nasib saudara-saudaranya yang gugur di medan jihad.Saudara-saudara kita yang ada di negeri-negeri tertindas, berjuang seadanya. Tidak punya tempat tinggal, makanan, senjata apalagi teknologi modern. Tapi meski dengan kondisi seperti itu, tidak akan pernah menggentarkan, juga tidak bisa menghentikan jalan kemerdekaan, meski propaganda-propaganda negatif dan intelijen-intelijen juga dikirimkan kepada mereka.Hari ini Anda menyaksikan, dimana-mana masyarakat bangkit hendak melakukan revolusi itu bukan sekadar ingin menggulingkan rezim, tetapi sekaligus untuk mengusir penjajahan Barat dan antek-antek penjaganya. Semua solusi yang ditawarkan Amerika pada hakikatnya adalah sekadar menggantikan rezim lama dengan rezim baru yang akan menjadi antek Amerika.Marilah Kita beraktivitas  untuk menyatukan pendapat kaum Muslim seputar Khilafah. insya Allah, sesuai dengan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw., mereka semua akan menyatu dalam naungan Khilafah. Oleh karena itu, partai politik Islam seperti Hizbut Tahrir berdakwah siang dan malam ke berbagai daerah untuk memberikan penyadaran kepada kaum Muslim akan hal itu.dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah, kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Para ulama dan aktivis dakwah seluruhnya perlu menyadari, mereka tengah melaksanakan tugas para rasul dan para nabi terdahulu yang dilingkupi rahmat oleh Allah. Jika kita bertindak seperti tindakan kaum Muslim yang jujur, mukhlis dan mengimani Allah maka kekuatan yang ada di dunia—betapapun kuat, represif dan berat—tidak akan bisa memalingkan para pengemban dakwah dari misi mereka. Para pengemban dakwah mendapat beban dakwah dari Allah SWT sehingga tidak mungkin untuk mundur ke belakang. Sebaliknya, negara-negara antek Amerika dan Barat akan terjungkal dari pengkhianatannya kepada umat. Jelas, Allah SWT jauh lebih kuat daripada segala kekuatan di muka bumi.Allah SWT akan menolong Anda jika Anda bersabar di atas fitrah yang menjadi dasar penciptaan manusia. Khilafah tidak akan tegak dengan sendirinya, namun dengan perjuangan orang-orang beriman yang benar dengan keimanannya. Insya Allah kita meminta tolong pada Allah sambil bersungguh-sungguh berjuang. Dan amatlah mudah bagi Allah SWT untuk mewujudkan semua itu.[]

Jika Menyerah… Kalah. Bangunlah!

PELAJARAN TENTANG SYUKUR (2)

APAKAH MANUSIA ATAU JIN YANG LEBIH BERSYUKUR?

Sahabat..dalam Alquran surat Adz-Dzariyat: 56 disebutkan bahwasannya tidaklah Allah SWT menciptakan jin dan manusa, melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Implementasinya, dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Tak cukup dalam hal mengerjakan shalat, puasa, zakat, namun juga menjadikan Islam sebagai tolak ukur kehidupan. Apapun itu, politik, sosial, ekonomi, pendidikan semestinya semua berjalan sesuai aturan Islam.

Allah telah menurunkan perintah-Nya kepada manusia lewat perantara Rasulullah SAW. Beliau membawa Alquran yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Jika bangsa manusia mendengarkan, mengakui keajaiban, dan mengimani petunjuk yang terdapat dalam Alquran, hal yang sama terjadi pula dengan bangsa jin.

Sahabat Jabir bin ‘Abdullah menceritakan bahwa suatu waktu Nabi SAW mendatangi sahabat-sahabatnya. Beliau membacakan surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir. Para sahabat yang mendengarkan bacaan beliau hanya diam. Melihat respon para sahabat, Nabi SAW berkata:

“Aku telah membacakannya (surat Ar-Rahman) kepada bangsa jin di malam pertemuanku dengan mereka.”

“Ternyata,” lanjut Nabi, “mereka lebih baik responnya daripada kalian.”

Nabi SAW kemudian melanjutkan, ketika beliau sampai pada ayat ‘fabiayyi ala irabbikuma tukadzziban’ (maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang  kamu dustakan, mereka (bangsa jin) selalu menjawab dengan mengatakan:

‘La bisyai-in min ni’amika rabbana nakdzibu falakal hamdu’ (tidak ada sedikitpun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian).

Maka sekarang kita menelisik di kedalaman hati. Adakah syukur itu telah bersarang pada diri kita. Ataukah kita lebih sering mengkufuri setiap pemberian dan mengeluhkan semua kejadian. Bahwa kita adalah manusia yang paling menderita di seantero bumi.

Maka, sebelum penyakit kufur itu bertambah parah..mari kita ingatkan pada diri..

 “..sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas..”