Posted in Renungan

PELAJARAN TENTANG SYUKUR (2)

APAKAH MANUSIA ATAU JIN YANG LEBIH BERSYUKUR?

Sahabat..dalam Alquran surat Adz-Dzariyat: 56 disebutkan bahwasannya tidaklah Allah SWT menciptakan jin dan manusa, melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Implementasinya, dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Tak cukup dalam hal mengerjakan shalat, puasa, zakat, namun juga menjadikan Islam sebagai tolak ukur kehidupan. Apapun itu, politik, sosial, ekonomi, pendidikan semestinya semua berjalan sesuai aturan Islam.

Allah telah menurunkan perintah-Nya kepada manusia lewat perantara Rasulullah SAW. Beliau membawa Alquran yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Jika bangsa manusia mendengarkan, mengakui keajaiban, dan mengimani petunjuk yang terdapat dalam Alquran, hal yang sama terjadi pula dengan bangsa jin.

Sahabat Jabir bin ‘Abdullah menceritakan bahwa suatu waktu Nabi SAW mendatangi sahabat-sahabatnya. Beliau membacakan surat Ar-Rahman dari awal hingga akhir. Para sahabat yang mendengarkan bacaan beliau hanya diam. Melihat respon para sahabat, Nabi SAW berkata:

“Aku telah membacakannya (surat Ar-Rahman) kepada bangsa jin di malam pertemuanku dengan mereka.”

“Ternyata,” lanjut Nabi, “mereka lebih baik responnya daripada kalian.”

Nabi SAW kemudian melanjutkan, ketika beliau sampai pada ayat ‘fabiayyi ala irabbikuma tukadzziban’ (maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang  kamu dustakan, mereka (bangsa jin) selalu menjawab dengan mengatakan:

‘La bisyai-in min ni’amika rabbana nakdzibu falakal hamdu’ (tidak ada sedikitpun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian).

Maka sekarang kita menelisik di kedalaman hati. Adakah syukur itu telah bersarang pada diri kita. Ataukah kita lebih sering mengkufuri setiap pemberian dan mengeluhkan semua kejadian. Bahwa kita adalah manusia yang paling menderita di seantero bumi.

Maka, sebelum penyakit kufur itu bertambah parah..mari kita ingatkan pada diri..

 “..sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas..”

Posted in Motivasi, Renungan

Berdakwahlah.. Terangi Gulita..

Sahabat..apa kesibukanmu sekarang? Sekolah? Kuliah? Mengurusi anak dan keluarga? Intinya, apapun kesibukan kita sekarang, jangan lupakan dakwah.

Apapun jenis profesi kita, kita bisa tetap melakukan dakwah. Dakwahnya para penulis adalah dengan menulis. Dakwahnya para da’i dengan menyampaikan. Dakwahnya para orator dengan menggugah pemikiran. Dakwahnya para seniman adalah dengan seni. Intinya, semua orang bisa berdakwah, baik dengan lisan, pena, maupun tindakan.

Bahkan seorang buta yang telah menjadikan dakwah sebagai jalan hidup pun, sejatinya sedang berdakwah. Sebab mereka sedang mengajari kita bahwa mata boleh buta, tapi tidak dengan hati. Sebab andai begitu mungkin mereka yang buta itu tak akan tertunjuki dengan kebenaran.

Berdakwahlah..tak peduli sebanyak apa hafalan Alquran kita. Toh dulu setelah masuk Islam, Bilal yang hanya seorang budak masih kita ingat sampai sekarang karena satu ucapannya yang membekas, “ahad..ahad..” Namun, yang satu itu mampu menggugah kita yang mungkin kadung menyerah jika dihadapkan pada rintangan yang sama. Jangankan untuk tegar dalam menanggung siksaan, tegar dalam menghadapi badai rintangan saja kita kadang lemah. Astaghfirullah.

Berdakwahlah..terangi gulita.. Meskipun baru secuil pengetahuan kita tentang dakwah, halal-haram, tentang syari’ah, dan masih banyak lagi. Berdakwahlah.. Meski baru sedikit yang kita korbankan di jalan ini. Semoga dengan yang sedikit itu, dapat melatih kita untuk berkorban lebih dan lebih lagi hingga kita tercatat di barisan para penolong agama-Nya.

Ah..dakwah. Terlalu indah jika kau tak turut ambil bagian di dalamnya. Maka mari kita bersama-sama berusaha menjadi pijar penerang di tengah sistem kapitalis yang sukses membuat manusia lupa akan tujuan hidupnya. Tengoklah sejenak ke dalam rumah-rumah kita, barangkali ia belum tercahayai dengan Islam. Tengoklah ke dalam diri kita. Barangkali pijar itu ada..menunggu sinarnya tuk terangi gulita. Cepat atau lambat insyaallah.

#Dakwah #KebangkitanIslam #IslamRahmatanLilAlamin

 

Posted in Motivasi, Remaja, Renungan

GENERASI PELAWAK DAN PENIKMAT LAWAKAN

Sahabat..pernahkah dulu kalian menyaksikan acara Stand Up Comedy di TV? Yakni semacam pertunjukan dimana seseorang berdiri di atas panggung kemudian bercerita apa saja yang kadang dibumbui candaan dan makian sehingga memancing penonton untuk ikut tertawa. Ironisnya, kita juga ikut tertawa meskipun kita tau bahwa apa yang mereka katakan adalah kebohongan.

Sampai-sampai, diadakanlah semacam perlombaan untuk mencari orang-orang dengan bakat melawak terpendam. Bahkan, perlombaan ini hingga menyasar kampus yang notabene berasal dari lingkungan intelektual yang terdidik ilmu pengetahuan.

Namun sayang, pengetahuan kita akan ilmu akhirat kadang tak sebanding dengan pengetahuan tentang akhirat, tentang halal-haram, tentang syari’at, dan sebagainya. Akibatnya, kita dilibas tren kekinian tanpa peduli pandangan Islam dalam menilai hal tersebut.

Banyak dari kita yang dengan sukarela hadir di acara-acara semacam itu. Padahal, tujuannya jelas satu yakni mendapatkan hiburan atau kesenangan semu. Setelah semua berakhir? Lantas kita kembali dihadapkan pada realitas kehidupan yang ketika menghadapinya ternyata tak sebercanda lawakan di atas panggung.

Terkadang, ringan saja kaki jika diarahkan pada tempat-tempat maksiat. Sementara, sulit bagi kita untuk melangkahkan kaki di majelis-majelis ilmu. Jangankan untuk menghadirkan diri, terbersit saja tidak di benak kita untuk meniatkan diri hadir ke sana.

Sahabat..ayo bersama-sama kita saling bangun-membangunkan. Bahwa kita bukanlah generasi pelawak dan penikmat lawakan. Kita ini adalah generasi khoiru ummah yang dijanjikan. Tentunya hal tersebut akan didapat jika kita menyeru orang lain pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Jika kita berusaha mengikuti jalan orang-orang yang mengabdikan dirinya menjadi pelawak, maka apakah bedanya kita dengan mereka? Mereka menyebarkan cerita kebohongan, sementara kita menjadi penikmatnya. Diantara mereka ada yang menista ulama, sementara kita adalah fans nya. Apakah kita mau menjadi pengikut ulama ataukah mengikuti langkah mereka?

Sahabat..kita bukanlah generasi pelawak dan penikmat lawakan. Jikalah Rasulullah SAW melihat kondisi kita hari ini, mungkin beliau adalah orang pertama yang menangisi keadaan kita. Seperti khawatirnya beliau di akhir hidupnya. Beliau tak mengingat sesiapa melainkan umatnya.

Jadi..marilah kita berusaha untuk menjadi sebaik-baik generasi. Walau kadang pada penerapannya belum sampai pada taraf para sahabat dalam mengamalkan Islam, setidaknya kita telah berusaha untuk mengarah ke sana. Bahwasannya kita ini adalah umat yang dicemburui para sahabat Rasulullah. Tersebab kita mengimani risalah yang beliau bawa tanpa kita pernah melihat tindak-tanduk atau menyaksikan tutur kata beliau secara langsung.

Ingatlah bahwa kita adalah generasi pengishlah (pembawa kebaikan), bukan generasi pembawa kehancuran dengan menyebarkan lawakan. Mari kita tolong menolong dalam hal kebaikan dan takwa, bukan dalam hal-hal yang mendatangkan dosa. Semangaat….

#IndonesiaBerhijrah