Girlband, Hari Kemerdekaan, dan Penjajahan Baru

gaulislam edisi 512/tahun ke-10 (21 Dzulqa’dah 1438 H/ 14 Agustus 2017)

Assalamualaikum Bro and Sis yang in sya Allah muslim dan muslimah sejati. Tinggal hitung mundur nih, sampai HUT Kemerdekaan RI nanti. Biasanya udah rame dengan berbagai atribut khas, yakni merah putih. Ada juga yang menghias gapura dengan berbagai pernik menarik dan unik. Sepertinya semua masyarakat gembira. Lomba-lomba yang memeriahkan HUT kemerdekaan negeri ini juga sebagian sudah mulai digelar. Ya, walau pun kesannya sekadar merayakan saja, belum sampe ke taraf bersyukur. Kok bisa, sih? Lanjutkan aja bacanya yuuk…

HUT Kemerdekaan RI undang SNSD?

Sobat gaulislam, nggak mau kalah sama warganya yang bersemangat memeriahkan tanggal tujuh belas di Bulan Agustus ini. Pemerintah juga sibuk bikin serangkaian acara buat memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI yang katanya bakal berlangsung selama sebulan penuh! Wew, nggak kebayang betapa rame dan hebohnya.

Ngomong-ngomong soal itu, pasti bro and sis juga udah pernah denger berita yang bikin heboh itu, kan? Yup, yup, katanya di acara HUT ke-72 Kemerdekaan RI nanti bakal ngundang girlband Korea, SNSD! Jelas banget pemberitaan itu nimbulin pro-kontra dari masyarakat Indonesia. Bahkan sampai ada petisi di medsos yang minta supaya membatalkan mengundang SNSD. Petisinya bahkan diisi sama lebih dari tiga belas ribu lima ratus orang, loh! Wih, wih…

Wajar aja sih, kalo ada bro and sis yang nggak setuju sama pernyataan itu. Pasalnya, ini kan acara HUT RI. Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, gitu, loh. Kok bisa-bisanya nyempetin buat ngundang grup luar yang nggak ada sangkut pautnya sama Indonesia buat memeriahkannya. Kayak Indonesia keabisan para bro and sis yang kreatif aja, deh.

Belum lagi yang diundang sangat tidak mencontohkan budaya ketimuran Indonesia yang jauh dari pakaian terbuka apalagi gerakan tarian yang terkesan seksi. Apalagi kan, penduduk Indonesia itu mayoritas muslim. Masa iya, mau ngundang SNSD? Walaupun katanya SNSD udah tiga kali ke Indonesia, tapi bukan berarti bisa langsung diperkenankan gitu aja, dong. Apa kata Allah Ta’ala kalo hamba-Nya malah menghadiri acara dengan tamu undangan yang tidak mencontohkan identitas agamanya? Hadeuuh…

Walaupun gitu, dilansir dari berbagai sumber, nggak lama ini Badan Ekonomi Kreatif yaitu Triawan Munaf yang bilang akan mengundang SNSD ke acara HUT RI, langsung ngebantah. Katanya bukan di perayaan HUT RI, tapi di acara Hitung Mundur Asian Games 2018 yang akan dilaksanain tanggal 18 Agustus 2017 nanti. Yang bener yang mana, sih, jadinya? Padahal sudah jelas-jelas di beberapa pemberitaan media massa maisntream disebutkan akan mengundang.

Tapi kalo emang bener ngundang SNSD itu buat acara Hitung Mundur (Countdown) Asian Games 2018, kenapa malah dijawab sama Ketua Barekraf (Badan Ekonomi Kreatif), yah. Bukannya yang berhak ngejawab itu panitia Asian Games 2018 karena berpendapat kalo SNSD itu diundang untuk tampil di Countdown Asian Games 2018, bukannya HUT RI. Well, itu sedikit aneh, sih menurut aku. Menurut bro and sis sendiri, gimana?

Hiburan dan penjajahan modern

Sobat gaulislam, di medsos, sampai sekarang, masiiih aja rame soal perayaan HUT RI yang katanya bakal dilangsungin sebulan penuh. Belum lagi bakal ada Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, macam-macam pentas seni, festival, karnaval, daaan…banyak lagi.

Pernah nggak sih, bro and sis kepikiran pertanyaan semacam, ‘kenapa pas HUT RI dari dulu sampai sekarang sering banget ditampilin kegiatan-kegiatan yang bertujuan buat ngehibur semata?’

Walaupun ada beberapa kegiatan dengan tema semacam pembinaan ideologi dan zikir bersama, tapi itu keliatannya cuma sebagai selipan aja. Kenapa? Karena cuma ada satu atau dua kegiatan doang yang diagendakan.

Heran deh, cuma ada satu dua aja yang diagendakan. Padahal agenda yang bertema ‘hiburan’ berkali-kali lebih banyak dan ada hampir setiaaap hari di Bulan Agustus ini. Belum lagi sampe ada panggung yang dibuat buat hura-hura dan seneng-seneng doang. Kalo misalnya SNSD jadi hadir buat meriahin juga, makin aneh, deh!

Menurut kamu, pantes apa nggak sih, acara resmi negara mengundang kayak begituan? Menurutku sih lebih pantes kalo HUT Kemerdekaan RI itu disyukuri dengan mengenang dan lebih mendalami perjuangan para pahlawan. Dan…lebih bagus lagi kalo ada kegiatan yang bisa bikin kita semua lebih semangat lagi buat berjuang melawan penjajahan di era modern kayak gini.

Dan, ngomong-ngomong soal pahlawan. Apa kabar yah, pada para veteran, pejuang yang melawan penjajah, yang sampai saat ini, alhamdulillah, bisa memiliki umur yang panjang  (walau pun mungkin sudah jarang ya, sebab setidaknya jika pada saat tahun 1945 ketika berjuang minimal usianya 15 tahun, sekarang usianya udah 87 tahun)? Berkesempatan melihat Indonesia setelah merdeka pasti sangat mereka syukuri. Secara, setelah habis-habisan bertarung, merencanakan strategi, mengumpulkan senjata, sembunyi-sembunyi dari penjajah, bahkan tetap berusaha kuat meski melihat teman seperjuangan tewas dan menguatkan diri meski nyawa menjadi taruhan. Mereka, para pahlawan yang hebat ini, terus berjuang sampai akhirnya meraih kemerdekaan Indonesia.

Walaupun nggak sesohor Ir Soekarno, Moh. Hatta, bahkan Pattimura sekalipun, para veteran yang masih hidup sampai sekarang, jelas, sangat layak diangkat namanya untuk dikenal oleh para pemuda Indonesia.

Artis tidak layak dijadikan idola

Sobat gaulislam, meski sebelumnya sudah pernah dibahas. Tapi aku nggak akan pernah bosen kalo diminta atau malah bisa membahasnya ulang. Tentang idola.

Ramenya pro-kontra tentang rencana kedatangan SNSD ke Indonesia sangat jelas menyatakan kalau, masih banyak di antara kamu yang mengidolakan artis dan sejenisnya. Bahkan ketika SNSD ini dicap sebagai ‘simbol seks dan pelacuran’ yang banyak dikicaukan para pengguna medsos. Eh, banyak tuh remaja yang mengidolakan SNSD langsung unjuk pendapat buat ngebela idolanya ini.

Band asal Korea SNSD (Sonyeo Sideo) merupakan sebuah grup band yang semua membernya perempuan. Kalau searching di Mbah Google, pasti langsung dapet foto-foto mereka yang jelas sangat berlawanan dengan karakter seorang muslimah yang sesungguhnya. Dari segi pakaian, gerakan saat dance yang vulgar, sampai attitudemereka yang jauh dari Islami. Jelaslah, mereka orang kafir.

Pasalnya, tidak hanya SNSD yang bikin kamu mencap diri sebagai fans. Tapi banyak artis yang bisa membuat kamu mencap sebagai fans mereka, baik itu dari Korea, Jepang, Hollywood, India, bahkan Indonesia sendiri. Padahal tidak seharusnya artis-artis atau sejenisnya itu layak kita idolakan. Kenapa?

Oya, seorang muslim haruslah memiliki karakter muslim sejati. Selain dari segi berpakaian, cara berpikir kita juga harus mencontohkan sebagai seorang muslim dan muslimah sejati. Muslim dan muslimah sejati, pastinya tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah Ta’ala.

Ya, Allah Ta’ala jelas memberi perintah agar para muslim dan muslimah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai panutan. Sebagai idola. Islam sudah memiliki idola yang merupaka sebaik-baiknya manusia di bumi. Jadi untuk apalagi kita mengidolakan selain dari itu? Yang tidak hanya jauh dari karakter seorang muslim, tapi juga bisa menjauhkan kita dari Allah Ta’ala.

Penjajah modern

Sobat gaulislam, masa penjajahan yang memperebutkan kemerdekaan udah lewat bertahun-tahun yang lalu. Indonesia sekarang sudah merdeka, dan lepas dari perbudakan-perbudakan. Tapi era modern datang membawa penjajah baru ke Negara Indonesia. Lewat budayanya, era modern masuk ke Indonesia dengan menyembunyikan status mereka sebagai penjajah. Dan malah menyebut diri mereka sendiri sebagai gaya baru di dunia yang baru pula.

Padahal sebenarnya, mereka itulah penjajah sebenarnya yang harus kita harus lawan. Kenapa? Coba kamu perhatiin deh, perkembangan dunia modern saat ini yang baik itu fashion, makanan sampai artis-artis yang dijadikan idola. Banyak banget yang terpengaruh khususnya yang masih remaja. Mereka terpengaruh sama budaya-budaya Korea, Amerika, Jepang, China, Thailand daaan… masih banyak lagi.

Kalo misalnya kamu gampang terpengaruh sama budaya-budaya luar, budaya negeri ini bakalan tergeser dengan sendirinya. Soalnya pemudanya lebih milih budaya luar hanya karena tren, ikut-ikutan, atau alasan nggak masuk akal lainnya. Tapi dengan catatan lho, budaya negeri ini pun wajib yang sesuai dengan Islam. Kalo nggak sesuai dengan Islam, kamu sebagai muslim tetap wajib menolak meski itu budaya lokal negeri ini.

Belum lagi udah beberapa minggu ini lagu despacito yang isinya parah masih aja viral. Padahal udah banyak blog-blog yang memposting arti lirik lagu despacito ini. Baik dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia. Dan itu jelas sekali berlawanan dengan kebudayaan timur (apalagi dengan Islam). Tapi kenapa masiiih aja ada yang menyanyikannya?

Penjajahan gaya baru emang nggak kerasa bikin menderita karena yang diserang bukan fisik, tapi pikiran dan perasaan kita. Bangsa yang kalah dari bangsa lain bukan saja karena tertindas secara fisik, tapi lebih parah ketika digilas pemikiran dan perasaannya. Kita bisa saja masih muslim, tapi pikiran dan perasaan kita jauh dari Islam. Nah, kondisi seperti itu berarti kita udah dijajah oleh pikiran dan perasaan yang nggak islami itu, Bro en Sis.

Selain dijajah secara pikiran, perasaan, budaya, ternyata kita juga secara ekonomi dan hukum dijajah lho. Penjajah sekarang pinter-pinter, selama rakyat negeri ini nggak berontak ketika dijajah secara budaya dan ekonomi serta politik, ya nggak perlu ngelepas tentara mereka untuk berperang. Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan. Kalo menjajah secara ekonomi dan kedaulatan (politik) sih, kasih aja utang, jadi terjerat deh. Buktinya, negeri kita belum merdeka dari cekikan utang luar negeri yang membubung tinggi hingga lebih dari 4 ribu triliun rupiah. Mengerikan!

Udah dulu ya. Salam semangat untuk melawan penjajah era modern.

[Zadia “willyaaziza” Mardha]

Anak dan Kenakalan Orangtua

gaulislam edisi 511/tahun ke-10 (14 Dzulqa’dah 1438 H/ 7 Agustus 2017)

Waduh! Emang ada ortu yang nakal ya? Kalo di cerita Pendekar Pemanah Rajawali sih ada, namanya Ciu Pek Tong (dikenal sebagai Bocah Tua Nakal), salah satu gurunya Kwee Ceng. Jiahaha, itu sih dalam cerita fiksi, dong (lagian kurang nyambung dengan tema ini, hehe..). Kalo dalam kenyataan ada nggak? Banyak! Jujur aja nih, sebenarnya kalo mau fair ngelihat aksi ortu dalam keluarga kita, atau keluarga besar kita rasanya perlu juga kita jembrengin. Ya, siapa tahu para orangtua kita juga akhirnya nyadar supaya jangan selalu menyalahkan seratus persen bahwa kenakalan remaja itu akibat kita nggak taat, kita nggak nurut sama ortu. Sebab, seringkali ortu dalam keluarga dan ikatan keluarga besar justru mengajarkan kenakalan yang akhirnya lambat-laun kita ikuti. Tapi, tentu saja nggak semua ortu nakal, sebagaimana nggak semua remaja tuh nakal. Betul nggak?

Apa sih yang dilakukan ortu kita di rumah dan keluarga besar kita sehingga bisa disebut kenakalan orangtua?

Seputar akhlak

Sobat gaulislam, pertama kita lihat dari sisi akhlak. Kok bisa? Bener lho. Entah apakah karena terlalu sibuk atau nggak ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak or kita-kita akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara kita dengan ortu.

Oya, akhlak ini adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim. Sebab, secara etimologis atau bahasa (lughatan) akhlaaq (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Secara terminoligis (ishtilaahan) ada beberapa definisi. Misalnya menurut Imam al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara menurut Abdul Karim Zaidan, akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.,Kuliah Akhlaq, hlm. 1-2)

Oya, definisi yang agak mudah dipahami dan sesuai fakta adalah yang saya dapetin nih pendapatnya Muhammad Husain Abdullah (Dalam bukunya, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 100), disebutkan bahwa secara bahasa akhlaq berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u). Sedangkan menurut istilah (makna syara’) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas—seperti ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat.

Intinya nih, akhlak bukan semata sifat moral, tapi emang perintah dari Allah Ta’ala. Itu sebabnya, ada penjelasan bahwa harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai perintah Allah Ta’ala. Dengan kata lain, jika ada orang yang jujur, sopan-santun, bertutur kata yang baik, tapi semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perintah Allah Ta’ala maka nggak diterima amalannya. Contoh mudahnya, apa yang dilakukan oleh orang yang nggak beriman kepada Allah Ta’ala, perbuatan mereka sia-sia dilihat dari segi amalannya.

Nah, para ortu kita di rumah nggak semuanya ngerti soal ini. Bukan kita ngeledekin or ngejelek-jelekin, tapi emang faktanya ada yang begitu. Dalam hubungan dengan tetangga saja, banyak ortu yang malah secara tidak langsung ngajarin anak-anaknya untuk nggak baik dengan tetangga. Misalnya, kelakuan ortu yang doyan berantem ama tetangga atau yang kasuk-kusuk ngomongin tetangga. Eh, tetangga yang digosipin nggak suka, akhirnya nggak jarang terjadilah adu mulut sampe adu otot. Teman saya pernah jadi ketua RT dan ia sering dipusingkan dengan salah seorang warganya dari kalangan emak-emak yang doyan berantem dan nyari musuh dengan tetangga sendiri. Coba, kalo anak-anaknya sampe tahu gimana? Mungkin ada anaknya yang malu. Tapi nggak sedikit juga anak yang kemudian malah terinspirasi dengan kenakalan orangtuanya tersebut. Waktu saya di kampung dulu, ada orangtua yang suka ikut ngomporin anaknya untuk berantem dengan temannya. Kata-kata penyemangat yang sebenarnya lebih terasa hasutan dihembuskan, “Kamu jangan mau kalah sama dia. Lawan!”, misalnya.

Akibatnya, memang anak-anak di satu keluarga itu akhirnya jadi belagu dan sering nyebelin kalo bergaul, juga kerap berbuat onar karena merasa ada legalitas secara tidak tertulis dari ortunya itu. Jadi, merasa pasti ada yang bakal ngebelain mereka, gitu lho.

Duh, kacau banget kan? Model ortu dalam keluarga yang kayak gitu nggak baik buat perkembangan anak-anaknya. Sebab, dalam hal akhlak bertetangga dan bergaul aja malah ngajarin nggak benar. Padahal, kita bertetangga dengan baik tuh bagian dari ajaran Islam. Oya, selain diminta berbuat baik, kita juga dilarang mengganggu tetangga kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim)

Ya, kita yakin ortu yang berbuat begitu memang ada alasannya. Yang paling mungkin adalah karena mereka ingin melindungi anak-anaknya. Cuma, caranya aja yang kurang atau malah nggak tepat. Tapi semoga saja ortu yang begini rupa nggak banyak. Ini sekadar satu contoh lho. Belum lagi soal ucapan, nggak jarang ortu yang ngeluarin kata-kata kasar dan kesannya jorok abis kalo kesel ama anak-anaknya pas marah. Waspadalah para ortu, sebab anak-anak akan meniru apa yang ortunya lakukan.

Ortu yang rada gengsi untuk meminta maaf ketika ia salah juga akan memberikan dampak buruk kepada anak-anaknya. Kesan yang paling mudah ditangkap sama anak adalah bahwa ortu tuh digambarkan susah untuk mengalah dan sekadar meminta maaf meski udah jelas berbuat salah. Misalnya aja kalo diskusi suka pengen menang sendiri. Mungkin awalnya malu kalo sampe kalah sama anaknya. Tapi, itu menjadi blunder karena anak akan menilai bahwa sikap ortu yang kayak gitu tuh nggak benar. Kalo anaknya yang kritis dan berani mungkin akan mengingatkan. Tapi, bagi anak yang nggak bisa komunikasi dengan baik, bukan mustahil kalo akhirnya antipati dan justru melakukan hal yang sama dengan ortunya. Apalagi ia merasa kalo kemudian kelakuannya ditegur sama ortunya, ia akan balik menegur dan menyalahkan ortunya (karena ortunya juga udah melakukan hal yang sama sebelumnya). Waduh, jadi tambah ribet kan?

Mengabaikan pelaksanaan syariat

Sobat gaulislam, kenakalan kedua nih, shalat. Ya, urusan shalat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. Wong, orangtuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?

Padahal, sejak awal tuh sebenarnya bisa dilakukan. Kadang nggak perlu ceramah berbusa-busa dari ortunya untuk mengajak anak-anaknya sholat. Cukup dengan teladan. Misalnya aja, kalo pas azan maghrib, ketika anak nonton televisi langsung diberitahukan singkat bahwa sudah masuk waktu sholat maghrib, tolong di-off-kan dulu tivinya, langsung wudhu dan barengan melaksanakan sholat maghrib. Insya Allah dengan pembiasaan seperti itu akan membekas pada anak.

Jadi, bukan cuma nyuruh-nyuruh doang tapi ia sendiri nggak melakukan dan mencontohkan kepada anak. Padahal, anak butuh teladan dari orangtuanya. Sekaligus tentunya anak akan menilai tentang kesesuaian antara ucapan dan perilaku ortunya. Kalo nggak match alias kagak nyambung, mungkin jangan nyalahin seratus persen kepada anak kalo akhirnya anak jadi ngeledekin ortunya.

Suer nih, bahwa anak-anak adalah cermin bagi orangtua. Bagaimana orangtuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat kita sebagai orang tua menatap mata anak kita, mengamati bentuk hidungnya, cara berjalannya dan gaya bicaranya, kita akan temukan diri kita sebagai ortunya pada anak-anak kita. Maka bila ortu kepengen nggak dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti sebagai ortu pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri. Ini pesan buat kita para orangtua (soalnya saya yang nulis juga punya anak kelas 2 SMA).

Oya, dari sisi kita sebagai anak, mungkin kita bisa mengingatkan kepada para orangtua yang ada saat ini bahwa pelaksanaan syariat yang lemah dalam kehidupan ortu di rumah sebagai keluarga dan keluarga besar juga lambat-laun akan berpengaruh kepada kita-kita sebagai anak-anaknya. Dalam soal berbusana saja, banyak di antara ortu kita (khususnya yang belum ngerti tuntunan syariat) yang mendandani kita dengan pakaian yang nggak benar dan nggak baik. Kita sih dulu nggak berpikir kalo berpakaian itu ada aturannya apa nggak. Pokoknya pake. Atau mungkin adik-adik kita saat ini, mereka nggak mafhum juga kalo berpakaian itu ada batasannya. Kapan boleh harus berpakaian menutup aurat, kapan dan di mana aurat tidak harus ditutupi.

Pengetahuan dalam hal pelaksanaan syariat untuk individu saja, khususnya berpakaian, seringkali terabaikan oleh para orangtua. Kenakalan ortu yang (mungkin saja) tidak disengaja ini bisa membentuk karakter kita dan sudut pandang kita dalam melihat berbagai masalah. Wajar dong kalo kemudian banyak di antara temen cewek kita yang sulit dikasih tahu tentang wajibnya berjilbab kalo keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang berkunjung ke rumahnya. Karena merasa berkerudung dan berjilbab tuh kalo mo ke tempat pengajian aja. Duh, menyedihkan banget deh. Dan, itu sebagian dari kita pernah merasakannya. Itu sebabnya, kita memohon kepada orangtua untuk membina kita sebagai anak-anaknya dengan pembinaan yang benar dan baik sesuai tuntunan syariat Islam.

Ini baru soal sholat dan berbusana lho (dan kebetulan memang ini yang lebih menonjol masalahnya). Kayaknya masih banyak deh pelaksanaan syariat Islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga oleh para orangtua. Misalnya tentang kewajiban menuntut ilmu agama. Itu kan bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan juga. Seringkali kita dapati orangtua justru menggeber anak-anaknya untuk belajar ilmu-ilmu umum seperti matematika, kimia, fisika, bahasa Inggris dan sejenisnya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bukan nggak boleh belajar ilmu umum, lho. Silakan saja jika mampu. Tapi seharusnya ortu juga mendorong anak-anaknya untuk belajar Islam secara maksimal. Dalam hal ini seringkali abai, gitu lho. Bahkan kebanyakan dari orangtua lebih ngerasa bangga kalo anaknya tuh pinter matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris. Bangga dalam hal itu boleh aja, tapi jangan sampe kemudian melupakan kebanggaan yang lebih baik yakni kalo anaknya bisa ngaji, bisa baca al-Quran, dan rajin dakwahnya. Tapi sekarang lebih menyedihkan lagi ketika banyak orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya pinter nyanyi dan juara kontes di ajang unjuk bakat dan ajang sejenisnya. Bahkan ada orangtua yang gigih mengarahkan dan memfasilitasi anak-anaknya untuk bisa ikutan di ajang begituan. Duh, bentuk kenakalan orangtua yang seperti ini bisa mengantarkan anak-anaknya untuk permisif dan hedonis. Oya, nggak semua orangtua begini, tapi itu umumnya memang demikian. Nelangsa banget deh kita-kita sebagai anak. Tapi bagi kita yang ortunya udah ngarahin kita ke jalan kebenaran Islam, bersyukurlah.

Yuk, kita sadar diri, bentengi diri dengan ajaran Islam, sambil mencoba mengajak ortu kita agar juga taat agama. Supaya masuk surga sekeluarga. Bukan sebaliknya. Stop kenakalan ortu, agar kenakalan anak tak begitu saja terjadi.

[O. Solihin | Twitter @osolihin]

Cyberbullying Lebih Berbahaya

gaulislam edisi 510/tahun ke-10 (7 Dzulqa’dah 1438 H/ 31 Juli 2017)


Entah kenapa banyak orang sering banget ngejailin, ngisengin, atau malah mem-bully orang lain (ada yang bernada candaan, nggak sedikit yang berirama kebencian). Di dunia nyata getol, eh di dunia maya juga pol. Bener-bener deh. Apa mereka nggak mikirin dampaknya ya? Eh, jangan-jangan kita juga pernah tuh mem-bully orang lain? Hmm.. silakan diinget-inget lagi, mungkin pernah. Tapi kalo nggak pernah syukurlah.

Sobat gaulislam, istilah cyberbullying ini muncul ketika media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang dalam ngumpul, berkomunikasi, dan bergaul. Sebenarnya medsos bisa tanpa bullying, lho. Tapi anehnya banyak juga yang menggunakannya untuk mem-bully. Ya, ibarat pisau bermata dua, media sosial bisa untuk menebar kebaikan dengan cepat, namun menaburkan konten negatif semisal bullying juga nggak kalah cepat tersebar. Waspadalah!

Nggak sedikit lho yang pernah jadi korban ancaman, pelecehan, penghinaan, dan bahkan dipermalukan ketika menggunakan internet, baik via laptop maupun smartphone. Nah, kalo ada korban, berarti ada pelaku dong ya? Betul! Udah jadi rahasia umum pelakucyberbullying biasa menghina dan mempermalukan orang lain yang nggak disukainya melalui media sosial. Kalo yang sehari-hari di media sosial kayaknya merasakan deh, apalagi jika ada data dan fakta valid hasil survei, bisa bikin ngeri!

Menurut catatan di Kompas.com,  Instagram menjadi media sosial yang paling umum digunakan untuk melakukan perisakan/perundungan di internet, alias cyberbullying. Setidaknya begitu menurut hasil survei dari lembaga donasi anti-bullying, Ditch The Label.

Cyberbullying yang dimaksud dalam hal ini mencakup komentar negatif pada postingan tertentu, pesan personal tak bersahabat, serta menyebarkan postingan atau profil akun media sosial tertentu dengan mengolok-olok.

Tak kurang dari 10.000 remaja berusia 12 hingga 20 tahun yang berdomisili di Inggris dijadikan sebagai sumber survei. Hasil survei menunjukkan, lebih dari 42 persen korbancyberbullying mengaku mendapatkannya di Instagram, sebagaimana dilaporkan Mashable dan dihimpun KompasTekno, Jumat (21/7/2017).

Sementara itu, 37 persen korban cyberbullying mengaku mengalami perisakan/perundungan via Facebook, dan 31 persen di Snapchat. Survey ini menunjukkan pergeseran platform untuk melakukan perundungan.

Data ini untuk kasus di Inggris, lho. Nggak menutup kemungkinan di negeri kita juga nggak jauh beda kasusnya. Berdasarkan pantauan saya sih, walau bukan niatnya survei, hanya sekadar melihat selintas akun-akun facebook, instagram, dan twitter ada banyak juga yang melakukan cyberbullying. Dalam survei yang dilakukan Ditch The Label menarik juga mengapa Instagram jadi pilihan untuk lakukan aksi bullying. Why?

Mengapa Instagram?

Ini pertanyaan menarik bagi saya. Walau saya nggak banyak update foto dan caption di Instagram, tapi pernah lihat sih kasusnya, selain juga mendapat info dari orang-orang tertentu terkait informasi ancaman, pelecehan dan penghinaan yang dilakukan remaja di media sosial bernama Instagram.

Berdasarkan berita di Kompas.com, Instagram sejatinya merupakan platform untuk berbagi konten visual, bukan teks. Meski demikian, komentar-komentar yang merespons konten visual pengguna agaknya banyak yang tergolong sebagai cyberbullying.

“Saya menyetel akun Instagram dalam mode privasi. Seseorang yang tak saya kenal tiba-tiba memiliki foto saya entah dari mana. Ia mengatakan bakal menaruh (atau mengedit) wajah saya pada foto telanjang jika saya tak angkat teleponnya,” kata seorang remaja 13 tahun ketika diwawancara untuk kebutuhan survei Ditch The Label. (Kompas.com, 21 Juli 2017).

Nah, sebenarnya komentar-komentar negatif yang merespon gambar atau foto nggak hanya di Instagram, lho. Di media sosial lain juga bertebaran. Bahkan tahun 2013, sekira 87 persen remaja mengaku dibully di Facebook. Cuma sekarang sudah bergeser ke Instagram. Hehe.. padahal Instagram juga dibeli sama Facebook. Jangan-jangan para pembully sebenarnya di lingkaran media sosial yang sama, hanya beda platform. Hadeuuh!

Bullying itu nggak beradab

Sobat gaulislam, kamu pastinya nggak percaya kalo ada santri yang melakukancyberbullying. Awalnya saya juga nggak percaya, cuma setelah melihat faktanya jadi percaya, apalagi yang menyampaikan juga guru di pesantren tersebut. Aduuuh.. bikin malu aja! Santri gitu lho. Padahal kan mereka belajar al-Quran, menghafal al-Quran, belajar akidah, belajar adab, dan tsaqafah Islam lainnya. Kok bisa sih, di medsos menulis komentar kasar berupa pelecehan, penghinaan, dan bahkan mempermalukan. Lebih parah lagi bila yang jadi sasasaran bully bukan hanya sesama santri, tetapi juga menghina gurunya. Waduh!

Sebenarnya kasus bully di media sosial bukan hanya marak sekarang atau setahun dua tahun kemarin. Ini sejatinya sudah lama, lho. Sejak saya mulai mengenal internet pada tahun 1996 dan aktif menggunakannya sejak 1998 sampai sekarang, konten bullying itu sudah ada walau nggak separah sekarang. Puncaknya memang ketika mulai bertebaran situs jejaring sosial. Maka, pada tahun 2007 saya sudah menulis buku dan diterbitkan dengan judul “Gaul Tekno Tanpa Error”. Itu untuk merespon cara bergaul remaja di internet dan juga pengguna ponsel. Dilanjut tahun 2015 saya menulis buku dengan judul “SOSMED Addict” juga untuk menanggapi maraknya dampak negatif (termasuk ada juga yang positif) bermunculannya platform media sosial. Silakan baca aja kedua buku tersebut ya (saya juga jualan kok bukunya, eh, malah iklan!)

Ya, emang nggak beradab tuh orang yang menghina dan melecehkan orang lain, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, baik secara konten gambar/foto maupun komentar (teks). Sama saja nggak beradabnya. Malah jauh sebelum itu, di film-film Warkop DKI di masa lalu komentar negatif juga dihamburkan begitu saja. Waktu SD sih saat nonton film itu di tahun 80-an, saya merasa lucu, tapi mulai SMA (awal 90-an) saya nggak menyukainya. Gimana nggak, meski maksudnya bercanda, tapi ya menghina dan melecehkan. Misalnya nih, jangan dijadikan contoh ya. Ini kata-kata Om Kasino di film “Gengsi Dong” (1980) ketika bertemu Dono, “Muke apa bemo, Mas?”. Atau di film “Pintar-Pintar Bodoh” (1980), Om Kasino juga ngomentarin Dono, “Bego dipiara. Kambing dipiara bisa gemuk!” Begitu juga di film “Dongkrak Antik” (1982), “Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik…!” Hadeuuh kalo sekarang tayang di tipi bisa kena sensor karena masuk kategori bullying dengan kata-kata pelecehan, tuh. Tapi nggak tahu juga sih, kali aja tetep lolos sensor karena mungkin sudah menjadi prilaku masyarakat sejak dulu sampai sekarang. Tapi perilaku masyarakat yang nggak beradab. Nggak banget, deh!

So, kalo zaman sekarang masih ada perilaku model gitu, berarti masyarakat kita secara umum belum beradab. Padahal, banyak di antara mereka mengaku muslim. Duh, jadi malu dan perlu segera dilakukan perubahan. Beneran!

Belajar dari Islam

Berbicara sesuai tuntunan Rasulullah dapat menyelamatkan kita dari siksa neraka dan memasukkan kita ke dalam surga. Dari Sahl bin Saad radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada di antara dua jenggotnya (yaitu lisannya) dan yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluannya), maka Aku memberikan jaminan surga kepadanya.” (Muttafaqun alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bukan seorang mukmin apabila ia suka menghujat, suka melaknat, berkata keji dan buruk.” (HR Tirmidzi)

Tuh, dari dua hadits ini aja seharusnya kita lebih hati-hati ya, Bro en Sis. Hati-hati menjaga lisan dan tulisan. Jangan sampai deh kita terjerumus dalam dosa tersebab bicara dan berkomentar melalui tulisan di media sosial dengan konten yang buruk dan keji. Waspadalah!

Sobat gaulislam, nih ada tambahan hadits lainnya. Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak, maka diamlah.” (Muttafaqalaih: al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Adakalanya diam itu lebih baik daripada berbicara, sehingga ada perkataan bahwa diam itu emas. Luqman berkata pada anaknya, “Jika berkata dalam kebaikan adalah perak, maka diam dari berkata yang mengandung dosa adalah emas.”

Ok deh, mulai sekarang: stop bullying di medsos (dan juga di dunia nyata, dong ya). Itu nggak baik. Apalagi dilakukan sesama muslim. Waduh, bikin malu aja deh.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari, no. 10)

Yuk ah, benahi akun medsos kita (instagram, facebook, twitter dan lainnya) agar isinya bermanfaat. Nggak ada kata-kata atau komentar atau gambar/foto yang isinya melecehkan, menghina, mengancam, mengolok-olok dan mempermalukan orang lain. Bullying di medsos lebih berbahaya lho ketimbang di dunia nyata. Sebab, di medsos bisa jadi semua teman dalam lingkaran pergaulan kita banyak yang tahu karena foto dan komentar kita bisa dibaca follower atau teman kita (apalagi jika di-share lagi, bisa viral tuh!). Ngeri banget kalo itu keburukan jadi nyebar cepet. So, jaga lisan dan tangan kita dari berbuat dosa, semisal bullying ini. Bisa ya. Harus!

[O. Solihin | IG: @osolihin]

Keyakinan Bukan Warisan

gaulislam edisi 509/tahun ke-10 (30 Syawwal 1438 H/ 24 Juli 2017)

Sobat gaulislam, masih ingat sama Afi Nihaya, kan? Ini bukan maksud nginget-nginget lagi. Tetapi ini sekadar mencoba ikutan bahas walau udah lama telatnya. Hehehe… (eh, bukan soal basi atau nggak lho, tapi ini sekadar menambah perbendaharaan wawasan aja biar makin banyak yang mengingatkan dan ngasih ilmu).

Afi pernah menulis sebuah tema berjudul Warisan yang menjadi viral di dunia maya beberapa minggu lalu. Gara-gara tulisannya yang kontroversial itu, malah dirinya diundang ke universitas-universitas tertentu untuk menjadi pembicara dan bahkan bertemu dengan bupati dan presiden. Wah, hebat, ya. Hebat? Nggak juga sih!

Tapi ternyata, ada kisah suram di dalam kelanjutan cerita Afi ini. Kalau saya sih sebagai sesama remaja (sekadar tahu aja ya, saya masih kelas 3 SMA—eh, siapa yang nanya?), membaca tulisannya yang berjudul Warisan itu, ternyata isinya bertentangan dengan akidah Islam. Lho kok bisa? Karena isi tulisannya mengandung paham toleransi beragama. Toleransi beragama yang kayak gimana sih? Ini lho yang dimaksud dalam tulisan Warisan itu:

“Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan..”

Lebih lengkap tulisan Afi tersebut, silakan sobat gaulislam bisa mencari dan membacanya sendiri di internet. Intinya, tulisan berjudul warisan ini menjelaskan bahwa agama Islam dan agama-agama lainnya itu hanyalah warisan, dan bahwa kedudukan semua agama itu sama. Di dalam tulisan itu, dijelaskan bahwa agama Islam itu benar. Tetapi agama lainnya juga benar. Jika semua agama dibenarkan, lalu siapa yang benar? Berarti nggak ada yang salah? Nah, kan bingung!

Tulisan yang penuh ketidakpastian itu, karena benar dan salahnya yang nggak jelas, seperti biasa menuai banyak tanggapan. Mulai dari yang setuju, bingung, dan yang jelas-jelas menolak.

Dari plagiat sampe kepuasan

Nah, Bro en Sis, kemudian tulisannya ini (termasuk tulisan lainnya) banyak dibagikan di berbagai media sosial sehingga menjadi viral. Lalu yang semakin menghebohkan adalah, ternyata ada pembaca yang menemukan bahwa beberapa tulisan Afi ini adalah tulisan orang lain. Artinya, tulisannya itu terkategori plagiat dari tulisan orang lain. Biasalah, yang namanya kebohongan malah bikin penasaran. Jadi beberapa orang mencoba menelusuri lebih dalam, seperti apa sih tulisan-tulisan yang lain. Beberapa  postingan Afi yang lain, ditemukan netizen bahwa bukanlah asli karya Afi.

Hasilnya? Karuan aja Afi dibully habis-habisan di dunia maya. Walau kalau yang saya baca sih, sebenarnya banyak banget tulisan yang mengkritik dalam rangka memperbaiki dan menasehati Afi. Secara bahasa, bukanlah bahasa yang menyakiti, tuh. But, kenapa ya, kok Afi merasa bahwa ia sedang di-bully? Baper deh kayaknya!

Oke Bro en Sis, yuk kita coba berempati dengan sosok remaja kayak Afi. Kenapa sih kok dia senang dengan tulisan yang malah membingungkan seperti itu? Emang sih bahasanya terkesan intelektual. Mungkin biar kayak kakak-kakak mahasiswa yang coba-coba adu argumentasi di dunia akademik. Keren gitu, kan? Semakin mumet semakin keren, katanya. Semakin kontroversi, semakin terkenal di jagad maya. Eksis lah ya.

Sebenarnya, apa sih yang dicari oleh Afi ketika menyebarkan tulisan-tulisan itu? Mungkin kita bisa mencoba memikirkan tujuan awalnya. Apakah untuk mencari sensasi saja? Atau untuk mendapatkan popularitas? Bisa jadi alasan awalnya adalah untuk mencari kepuasan akal. Ataukah ada hal lain yang dicari?

Sobat gaulislam, kalau memang alasan awalnya hanya untuk mencari sensasi, popularitas, atau yang lainnya itu, sebenarnya itu alasan yang semu. Kalau kita mencari popularitas, kita pasti akan kecewa kalau ternyata bukan popularitas yang didapat. Nggak ada orang yang melirik sedikit pun. Kalau yang kita cari adalah sensasi, maka tidak akan pernah terpuaskan. Karena yang namanya kepuasan itu tidak ada habisnya.

Sebab, kalau sudah puas, pastinya jadi nggak terasa puas. Atau bisa juga, kalau sudah nggak puas, jadi pengen kepuasan-kepuasan yang lain. Nggak akan pernah ada habisnya. Tetapi jika kita memiliki alasan yang tepat dan baik, maka kebaikanlah yang akan kita dapat. Apalagi kalau niat kita semata-mata untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala. Yakinlah bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik.

Mencari alasan

Alasan itu penting sebelum kita melakukan sesuatu. Dipikirkan juga dampaknya, apakah ada manfaat atau malah mudharat. Harus tepat tuh alasannya. Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan alasan yang tepat? Begini, ketika kita membagikan sesuatu di media sosial, tujuannya untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Tentu saja semuanya harus sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala tuntunkan melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Nggak boleh sama sekali menyimpang darinya. Karena Allah Ta’ala nggak akan meridhoi, tuh!

Selain itu, kita juga harus bersikap jujur ketika membagikan sesuatu. Jika itu memang karya kita, maka tidak apa-apa untuk mencantumkan nama kita. Tetapi jika itu adalah karya orang lain, maka jangan diakui sebagai karya kita.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kita juga harus selalu ingat satu hal. Bahwa semua yang kita peroleh harus disikapi dengan positif. Jangan sampai kita langsung merasa down ketika dikritik oleh orang lain. Kita bisa menjadikan kritikan itu sebagai bahan renungan dan pelajaran di kemudian hari. Semuanya kan untuk memperbaiki diri kita juga.

Kita juga jangan silau dengan pujian dan penghargaan. Mengapa? Karena hal itu bisa membutakan kita dan membuat kita sombong. Kalau sudah sombong, maka bahayanya akan membakar kerendahan hati kita. Catet, itu! (ciee… gayanya!).

Islam sebagai ideologi

Oya, tulisan Warisan-nya Afi nih, akhirnya saya nggak tahan juga untuk ikutan mengomentari. Benar bahwa kita seharusnya membanggakan agama kita, Islam. Bukan hanya sebagai agama, kepercayaan, apalagi hanya sebagai warisan, lho. Lalu sebagai apa? Lebih dari itu, yakni sebagai ideologi kita. Sebab, tidak semua agama itu adalah ideologi. Namun Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita secara sempurna.

Ketika kita memilih sebuah jalan hidup, maka kita harus meyakini bahwa itulah jalan hidup yang benar. Kalau kita menganggap jalan hidup yang lain juga benar, maka kita akan ragu dengan jalan hidup kita sendiri. Kalau kita tidak boleh menganggap jalan hidup kita itu yang benar, dan orang lain itu salah, maka bagaimana sebuah kebenaran itu bisa ditemukan dan diyakini sebagai sebuah jalan hidup? Contoh pembahasan dalam tulisan Afi itu adalah pembahasan orang-orang yang ragu dan tidak pernah yakin dengan kebenaran. Nah, cara berfikir yang ragu-ragu dan tidak pernah menemukan keyakinan pada kebenaran hanya mungkin disusupkan oleh setan. Hati-hati, loh. Beneran!

Allah Ta’ala berfirman, “..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 168-169)

Saya tidak menuduh seorang muslim sebagai setan, hanya langkah-langkah seperti itu adalah cara setan membuat keimanan kita menjadi ragu. Kita jadi ragu terhadap kebenaran agama Islam dan kita juga jadi ragu terhadap kesalahan agama atau keyakinan selain Islam. Bahaya banget, kan? Pasti bingung sendiri, tuh!

Bro en Sis sekalian yang Insya Allah selalu dalam kebaikan, kita harus bangga kepada Islam sebagai jalan hidup kita. Bukan malah sebaliknya, merasa nggak enak terhadap orang kafir kalau kita berbangga hati terhadap Islam. Bukankah Islam itu adalah yang tertinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam? Al Islamu Ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi.

Sobat gaulislam, mungkin Afi juga masih belum sepenuhnya yakin dan bangga dengan Islam pada dirinya. Seperti yang ia tuliskan di tulisannya itu,

“..Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.

Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri..”

Memang benar kita tidak bisa memilih di mana kita akan dilahirkan dan dari ayah dan ibu yang mana. Karena itu adalah salah satu hal ghoib yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Tetapi kita harus bersyukur saat kita mendapatkan keislaman ini. Perlu dicatat lho, bahwa Islam nggak bisa diimani hanya dengan menerimanya saja. Perlu proses berfikir dan perenungan di dalam penerimaannya. Islam itu sesuai dengan fitrah manusia. Islam pun menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Bener lho. Kamu perlu merenungkannya pada diri masing-masing.

Sebenarnya setiap manusia itu punya pertanyaan-pertanyaan besar yang jawabannya pada diri masing-masing akan berpengaruh pada jalan hidup yang akan dipilihnya. Pertanyaan apa tuh? Pertanyaan tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan akan kemana ia setelah mati. Jawaban ini akan menunjukkan kualitas keimanan seseorang. Ada yang keimanannya setengah-setengah, ada yang keimanannya mendekati sempurna, dan bahkan ada yang tidak beriman.

Nah, bagi orang yang beragama Islam, ada yang jawabannya mendekati kesempurnaan, setengah sempurna, seperempat sempurna, seperseribu, atau bahkan sedikit sekali kualitasnya. Itulah yang menyebabkan ada orang yang yakin dengan kebenaran agama Islam secara sempurna, ada yang setengah yakin, ada yang kurang yakin, ada juga yang ragu-ragu. Bagi yang ragu-ragu, ia masih juga mengakui agama yang lain. Bahwa agama lain punya peluang benar. Jadi, Bro en Sis, sekarang kita mau jadi yang mana?

Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia. Allah mengutus nabi dan rasul untuk memberitahu kepada umat manusia tentang kebenaran agama-Nya. Nah, harus diketahui, nih, Bro en Sis, bahwa nabi dan rasul itu keyakinan terhadap risalah yang dibawanya pastilah 100%. Akal, hati, dan jiwa mereka bersinar cemerlang. Itu sebabnya, mereka terpilih menjadi nabi dan rasul. Kita ini adalah pengikut risalah nabi dan rasul. Untuk itu, kita harus yakin terhadap kebenaran agama kita sendiri. Islam, adalah agama penutup risalah seluruh nabi dan rasul. Karenanya, kita harus meyakininya secara sempurna. Hanya Islam-lah kebenaran yang harus kita yakini dan genggam serta jalankan sampai mati. Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.”(QS Ali Imran [3]: 19)

Baik warisan atau bukan warisan, manusia memerlukan perenungan untuk sampai kepada kebenaran yang hakiki. Apalagi soal keyakinan memang bukan warisan. So, apa yang perlu diragukan lagi, kawan?

[Fathimah NJL | Twitter @FathimahNJL]

Jadilah Remaja Berdaya!

gaulislam edisi 508/tahun ke-10 (23 Syawwal 1438 H/ 17 Juli 2017)


Sobat muda pembaca gaulislam, kalo kamu cermati, menurut kamu, berapa banyak sih kira-kira remaja yang ngerokok?

Kalo menurut pengamatan saya, jawabannya adalah nggak sedikit. Nggak hanya remaja cowok, bahkan remaja cewek pun ada. Parahnya, nggak cuma remaja, bahkan anak SD ada pula yang ikutan ngerokok.

Pertanyaannya adalah, duit yang dipake untuk ngerokok itu dari mana? Bisa dipastikan, bahwa duitnya adalah hasil dari minta-minta ke orangtua mereka. Minta-minta, yang ujungnya bukan dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, namun malah disia-siakan untuk hal-hal yang tiada guna.

Tidak hanya terkait rokok, remaja labil biasanya juga menghamburkan uang orangtua untuk main game online di warnet, modal buat pacaran, hingga hal-hal yang jelas menuai dosa, semisal untuk membeli narkoba, miras, dan berjudi. Naudzubillah.

Padahal kawan, bermain game online sungguh berpotensi besar ngerebut waktu-waktu potensial masa mudamu, yang harusnya digunakan untuk belajar dengan baik. Jika kamu sudah kecanduan sama game online (juga game offline), maka kamu tidak akan sempat lagi belajar, mengulang pelajaran yang telah dipelajari di sekolah. Akibatnya, kamu bisa saja tertinggal dengan teman-teman yang lain. Nilai kamu di rapor bisa saja pada merah-merah, hingga membuat ortumu marah-marah.

Pacaran, nah ini juga penyakit anak muda zaman sekarang. Jangan dikata pacaran itu nggak perlu modal, lho. Dua-duanya, baik itu si cewek maupun si cowok, juga butuh modal tuh. Bagi si cewek, setidaknya dia akan membeli barang-barang yang membuatnya bisa tampil lebih cantik di depan si cowok. Bagi si cowok, biasanya adalah pihak yang paling banyak ngeluarin duit, terutama, biasanya pas tiap malam Minggu saat wakuncar alias waktu kunjung pacar. Duitnya dari mana? Dari mana lagi kalo nggak merengek, minta-minta sama ortu. Jadinya, anaknya yang bergaya, orangtuanya yang susah. Memalukan!

Padahal, hukum pacaran itu sendiri di dalam Islam nggak boleh, lho. Kenapa nggak boleh? Ya gimana, lha wong pacaran itu semua aktivitasnya adalah aktivitas suami-istri, seperti rayu-rayuan, pegang-pegangan, cumbu-cumbuan, dan seterusnya. Padahal, si cowok dan si cewek bukan suami istri. Ingat, berdosa! Jika kamu nggak cepetan bertobat, bisa-bisa kamu berpeluang besar masuk neraka. Ngeri, kan?

Apalagi jika kamu sampai menggunakan duit hasil minta-minta ke ortu untuk membeli narkoba, miras, atau untuk main judi. Sungguh, itu adalah sebuah pengkhianatan besar yang kamu lakukan terhadap ortumu. Allah Ta’ala nggak akan tinggal diam melihat pengkhianatan ini. Semuanya akan dibalas dengan setimpal, cepat atau lambat.

Remaja smart finansial

Sungguh, saya sangat terkesan sekali dengan para remaja jenis ini, yakni mereka yang berdiri dengan penuh kehormatan. Mereka yang malu meminta-minta meskipun kepada ortu sendiri. Dikasih, alhamdulillah, mereka nggak menolak karena itu pemberian. Nggak dikasih, juga tak mengapa, karena tanpa dikasih sama ortu pun, mereka masih bisa berdiri dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Dengan segenap semangat untuk membentengi uang yang mereka punya agar nggak keluar untuk sesuatu yang percuma bahkan menuai dosa. Lebih-lebih lagi, berusaha memutar uang yang dimiliki di sektor halal sehingga berkembang.

Apakah remaja jenis ini ada? Jelas ada. Di antaranya saya seringkali melihat mereka berjibaku di bawah terik matahari, di persimpangan-persimpangan jalan, juga di terminal-terminal. Mereka ngasong, menjual barang-barang yang nampaknya remeh temeh; tisu, air mineral, permen, dan lain sebagainya. Namun percayalah, pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan remeh temeh. Boleh jadi, hasil mereka ngasong nggak hanya dipakai untuk kepentingan diri pribadi, melainkan juga untuk meringankan beban ekonomi keluarga.

Ada juga kasus saya temui, seorang remaja menunda untuk kuliah karena tidak mau menyusahkan ortunya. Dia memilih bekerja, guna melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri. Kuliah pun dilakukannya sambil bekerja, sambil mencoba peruntungan lain dengan menggagas beberapa usaha kecil.

Fakta mengagumkan lain ada pada seseorang bernama Sebastian Martinez. Betapa ia sudah menjadi pengusaha bahkan sejak usia 7 tahun. Bisnis kaos kaki, yang mana dia sendiri yang mendesainnya, telah menorehkan nominal pendapatan mencapai USS 15.000 atau setara dengan Rp. 207.000.000,-

Martinez juga menyisihkan pendapatannya yang besar itu untuk berbagi, menebar manfaat buat sesama. Ia bekerjasama dengan beberapa lembaga untuk membantu anak-anak penderita kanker. Ia bahkan menyumbangkan 25 persen dari pendapatannya untuk membantu anak-anak lain yang berjuang menghadapi penyakit-penyakit serius.

Sobat gaulislam, penting untuk disadari bahwa tidak semua dari orangtua kita mudah di dalam mencari uang. Kondisi Indonesia, di mana penduduknya lebih banyak berada di bawah garis kemiskinan, tak pelak, membuat perjuangan guna mendapatkan uang, menjelma menjadi sebuah aktivitas yang melelahkan fisik dan mental. Pergi pagi, pulang sore, yang didapat pun kadang tak seberapa. Lalu, dengan seenaknya kita menghamburkan begitu saja uang yang telah diperoleh dengan susah payah itu untuk hal-hal yang bisa menyakiti hati mereka para orangtua kita.

Maka janganlah seolah kita tersenyum, atau menari di atas penderitaan orangtua kita. Alangkah eloknya, meskipun kita misalnya belum mampu untuk cari uang sendiri, uang pemberian orangtua dihemat, atau kalo ada lebihnya, ditabung untuk kebutuhan-kebutuhan yang akan datang di masa depan.

Saya yakin sekali, bagi remaja yang belum pernah mengalami, atau merenungkan betapa susahnya mencari uang, mereka nggak akan pernah banyak pertimbangan untuk menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tiada guna.

Maka penting sekali, meskipun seandainya kamu berasal dari keluarga berkecukupan, untuk sesekali merenung, atau bahkan kalo perlu mengunjungi dan memahami sisi kehidupan mereka yang untuk mendapatkan beberapa lembar uang saja memerlukan perjuangan yang bisa dikatakan sampai memeras semua keringat, membanting segenap tulang.

Jika kalian melihat semua itu, dalam artian nggak hanya melihat dengan mata tapi juga dengan hati, maka insya Allah kamu akan memahami, bahwa berhemat, apalagi menghemat uang yang telah diberikan orangtua, itu penting sekali. Akan ada berlapis-lapis pertanyaan yang muncul sebelum kamu benar-benar yakin untuk mengeluarkan sejumlah uang atau nggak.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa berhemat? Padahal kebiasaan boros sudah sejak lama mengakar dan mendarah daging. Penjelasannya sebenarnya simpel. Sesimpel pertanyaan, bagaimana bisa kebiasaan boros bisa mengakar dan mendarah daging di dalam diri. Jika kebiasaan boros bisa mengakar, berarti kebiasaan berhemat juga bisa mengakar dong.

Kebiasaan berhemat, sebagaimana kebiasaan boros, bisa kamu miliki, asalkan kamu mau. Ya, asalkan kamu mau, itulah kuncinya. Jika kamu nggak mau, seluruh manusia di bumi ini dikumpulkan pun akan percuma jika kamu nggak punya kemauan. Jika kamu sudah mau, maka semuanya akan berjalan lebih mudah. Semudah dulu ketika kebiasaan boros mulai terbentuk. Mestinya kamu inget juga dengan pepatah yang mengatakan, bahwa ‘di mana ada kemauan, di situ ada jalan.’

Sobat gaulislam, jika kamu saat ini sudah punya bisnis sendiri, maka saya ucapkan selamat. Saya acungi jempol, dengan syarat, bisnis yang kamu tekuni saat ini adalah bisnis yang halal. Jangan sampai, kamu punya bisnis, tapi bisnis sabung ayam, di mana kamu juga merangkap sebagai bandar taruhan. Atau bisnismu berjalan pesat luar biasa, tapi ketika ditanya bisnis apa, ternyata bisnis narkoba. Naudzubillah.

Sedapat mungkin, bangunlah sebuah bisnis yang membanggakan. Bangga karena bermanfaat, yang manfaat itu nggak hanya bisa dirasakan di dunia, melainkan dirasakan keberkahannya juga di akhirat. Istilahnya, berbisnis sekalian ibadah. Bisnis apa saja itu? Banyak sekali pilihannya. Misalnya, bisnis pakaian muslimah yang syar’i. Selain untuk mendapatkan keuntungan berupa uang, bisnis semacam ini membuat kita bisa berkontribusi meramaikan dunia fashion dengan deretan baju-baju syar’i, sehingga pembeli nggak hanya sekadar memakai baju, tapi juga baju yang insya Allah diridhoi oleh Allah Ta’ala.

Intinya adalah, janganlah berbisnis sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala semisal bisnis babi, anjing, miras, narkoba, dan lain sebagainya. Mungkin, dengan berbisnis narkoba, bisa jadi kamu akan kaya mendadak. Tapi ingatlah, kekayaan itu nggak akan membuatmu bahagia, karena cepat atau lambat, azab Allah Ta’ala akan datang menghampiri. Ngeri!

Belum lagi terkait dampak yang ditimbulkan dari bisnis narkoba itu sendiri. Bayangkanlah, setiap jiwa yang kamu hancurkan masa depannya karena bisnis ini, maka kamu juga akan mendapatkan dosanya. Semakin banyak orang memakai narkoba yang kau jual, maka sebanyak itu pula dosa yang akan kamu dapatkan.

Terakhir, bagi kamu yang masih malas-malasan, ayo bangkit kawan. Ayam jantan sudah berkokok. Maka lihatlah para remaja yang sudah berlari dengan kerajaan bisnis, entah besar atau kecil, yang telah mereka bangun. Janganlah terpana pada mereka yang hanya meringkuk di bawah selimut kemalasan mereka, sambil menadahkan tangannya, meminta-minta pada orangtua.

[Farid Ab | Twitter @badiraf]