Di peraduan, matahari membenamkan bayang
Ditingkahi sorot lampu gedung ibukota
yang menyeringai paksa di tengah kepiluan

Seorang lakon bersandar di kursi stasiun
dengan wajah lelah menengadah ke langit-langit sunyi
Tangannya memegang secarik kertas hitam dan putih
dengan tatapan asa membuncah penuh harap

Waktu semakin larut sementara kereta tak jua datang
“Kereta terakhir sejam yang lalu!”
Sahut masinis kereta yang seperti orang lain
Memori masa silam sejenak bergelut di kepala
Menyumpahi setiap detik yang terlewat

Di ujung stasiun
Sang lakon menendang kaleng bekas minuman
Sambil menyandang bergumpal-gumpal sesal
Kertas hitam putih yang perlahan luntur dibelai gerimis
Menyisakan tulisan kalimat tauhid

Di ujung stasiun
Sang lakon masih dengan rasa sesal menggumpal
Menancapkan hitam putih miliknya di tonggak lampu jalanan
Sayang, kereta terakhir telah lama pergi
Sementara lakon itu masih diselimuti rasa sesal menggumpal

 

*Kereta terakhir dengan rute khilafah. Mari bergegas memasukinya sebelum pintu kereta ditutup. Kereta terakhir yang mengantar pada harapan atau berakhir penyesalan.

KERETA TERAKHIR