Posted in Opini, Uncategorized

ULAMA DAN UMAT TERUSLAH BEKERJA DAN BERGERAK

Oleh: Ainun Dawaun Nufus

Kaum imperialis terus menerus mengontrol kita, setelah meghancur-leburkan negeri-negeri muslim, sekarang Amerika bersiap untuk menghancur-leburkan politik dan ekonomi Indonesia.

 

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya mereka yang telah menganiaya orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab jahannam, dan bagi mereka pula azab (neraka) yang membakar.(QS: Al-Buruj [85] : 10)

Situasi yang dirasakan para ulama dan umat adalah bahwa pemerintah tidak mentolerir keberanian dan aktivitas ulama dan umat yang terus-menerus membongkar konspirasi dan kezaliman. Sementara penguasa tidak memiliki keputusan dan kebijakan apapun untuk melemahkan ulama yang takut hanya kepada Allah. Sehingga kewaspadaan dan kesiagaan pemerintah itu tidak lain, adalah bukti tentang besarnya pengaruh kebangkitan taraf berpikir dan meningkatnya kekuatan politik umat Islam, dan kuatnya dampak yang ditimbulkan dari setiap aktivitasnya.

Pak Presiden, Dengarkanlah Kata Ulama!

Yang tampak kini, para ulama, para aktivis terus bergerak dalam berdakwah, tidak terganggu dengan siapa saja yang menentangnya. Kami berserah diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa diliputi perasaan bergembira karena kemenangan dari Allah Subhanhu wata’ala sangat dekat. Berulang-ulang para aktivis muslim menegaskan dan menyatakan bahwa tindakan represif tidak akan bisa membungkam ulama dan umat Islam dari menmbongkar kedok kejahatan-kejahatan penguasa.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.“(QS: Fushshilat [41]: 30)

Indonesia telah menjadi korban politik dan ekonomi kapitalistik yang tidak kompeten yang diadopsi pemerintah sekarang. Para imperialis berupaya dengan segala kekuatan yang dimiliki untuk menjajah Indonesia, yang memposisikan Islam sebagai musuh. Slogan perubahan yang diusung oleh para antek penjajah hanyalah kebohongan.

Mereka sejak dahulu hingga sekarang telah dan terus berkeras menyenangkan tuan-tuannya para rezim Barat dan Timur, hingga meski harga untuk itu adalah kaum muslim dipinggirkan, disekulerkan dan dibuat menderita dengan berbagai kebijakan!

Sudah Waktunya Ulama Turun untuk Inkaru Munkar

Rezim kapitalis konsisten dan disiplin melaksanakan rencana-rencana imperialis melawan negeri ini.

Pada saat yang sama, loyalis Barat bersungguh-sungguh dalam upaya membungkam gerakan-gerakan Islam yang kritis dikarenakan sikap berani mereka yang membela Islam dan kaum Muslim dengan jalan menguliti rencana-rencana imperialis Amerika, China terhadap Indonesia.

Akan tetapi upaya-upaya represif yang dilakukan oleh para agen itu tidak akan bisa memaksa kaum mukmin pengemban dakwah untuk berlepas diri dari masyarakat atau dari dakwah Islam.

Kami (umat Islam) akan kuat karena keimanan kami kepada Allah yang menjadikannya keluar menentang musuh-musuh Islam. Islam dan kaum Muslim pada akhirnya merupakan pihak yang menjadi penolong. Tidak ada yang didapatkan oleh pemerintah khianat kecuali kehinaan di dunia dan azab yang sangat pedih pada Hari Kiamat kelak.

“Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya dan tidak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya dari pada amir (pemimpin) masyarakat.” (HR. Muslim)

Kita harus paham bahwa Amerika dan China serta kebijakan politiknya adalah musuh. Keduanya sepanjang waktu berupaya merusak kepentingan-kepentingan umat Islam. Kaum imperialis terus menerus mengontrol kita, setelah meghancur-leburkan negeri-negeri muslim, sekarang Amerika bersiap untuk menghancur-leburkan politik dan ekonomi Indonesia.

Walhasil, kita wajib membebaskan umat Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh penjuru dunia. Ketahuilah bahwa kita memiliki kewajiban yang telah difardhu-kah oleh Allah. Karenanya mari kita penuhi seruan Allah dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Janganlah Anda takut kepada para pendengki. Ketahuilah Allah adalah zat yang maha menjaga.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS: an-Nur [24]: 55).*

Penulis peminat masalah  sosial dan politik

Sumber:https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/01/27/110523/ulama-dan-umat-teruslah-bekerja-dan-bergerak.html

Posted in Opini, Remaja

TINGGALKAN PERAYAAN VALENTINE DAY!

Pertengahan Februari adalah waktu yang dinanti-nantikan oleh sebagian pasangan muda-mudi. Tanggal 14 Februari dikenal banyak orang dengan perayaan Valentine Day. Perayaan itu ternyata tak hanya dilakukan oleh non muslim, tapi juga oleh kaum muslimin sendiri. Pada hari itu, mereka saling mengungkapkan perasaan cinta dengan berbagai cara. Ada yang mengungkapkan lewat surat cinta, bingkisan coklat, karangan bunga, boneka, bahkan ada yang melampiaskannya lewat hubungan di luar nikah. Tak ketinggalan para pebisnis mengeluarkan produk-produk untuk menyemarakkan Valentine Day semacam kartu ucapan, parcel, pernak-pernik, dan sebagainya. Tentu saja, tak ada keseriusan negara dalam menangani hal semacam ini.

Sekilas mengenai Valentine Day

Ada banyak versi yang berkenaan dengan asal-usul Valentine Day. Namun, salah satu versi yang terkenal adalah perayaan Lupercalia yang dilakukan oleh bangsa Romawi setiap tanggal 15 Februari. Perayaan tersebut merupakan upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, yaitu tanggal 13 dan 14 Februari dipersembahkan untuk dewi cinta, Juno Februata. Ia merupakan ratu dari segala dewa dan dewi kepercayaan bangsa Roma. Di hari itu, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak kemudian mengambilnya secara acak. Gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta bantuan dewa Lupercalia agar dilindungi dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang. Tak hanya itu, kaum wanita berebut untuk dilecut karena menganggap lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (remajaislam.com).

Jangan mengikuti millah Yahudi dan Nasrani

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwasannya perayaan Valentine Day bukanlah berasal dari Islam, melainkan dari bangsa Romawi. Padahal, umat muslim memiliki identitas sendiri. Mereka juga memiliki hari-hari besar tersendiri yang sepatutnya dirayakan.

Perbuatan meniru ritual agama lain merupakan bentuk tasyabbuh. Tasyabbuh dilarang dalam perkara aqidah, ibadah, budaya, maupun tingkah laku. Apalagi, masalah ini berkaitan dengan aqidah, tentu lebih dilarang lagi. Sebab, perkara aqidah termasuk bagian dari keimanan kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam Alquran: ”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS An-Nisaa: 115)

Mengikuti perayaan mereka sama artinya dengan membiarkan diri terjerumus ke dalam dosa. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqaroh: 120)

Mereka tentu bereuforia melihat umat muslim kian terpuruk perlahan. Sebab, mereka tidak perlu susah-susah untuk mengerahkan kekuatan militer atau langsung terjun ke negeri kaum muslimin untuk menghancurkan generasi muda. Mereka mencekcoki pemikiran kaum muslimin sehingga kita menganggap bahwasannya sah-sah saja merayakan Valentine Day, toh hanya bertukar coklat atau bunga.

Bagi kaum muslimin, tidak ada hari khusus untuk menyatakan cinta atau kasih sayang. Sebab, sudah kewajiban seorang muslim untuk menebarkan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya pada waktu tertentu, tapi setiap waktu. Juga, bukan hanya kepada lawan jenis yang notabene tak ada ikatan halal diantara keduanya.

Akibat lemahnya iman

Banyaknya kaum muslimin yang terpengaruh dan ikut terjerumus dalam perayaan Valentine Day dikarenakan banyak sebab. Selain lemahnya aqidah Islam yang menjadi faktor utama, faktor lingkungan juga ikut mendukung. Seseorang yang telah tertancap kuat aqidah Islam dalam dirinya, tidak akan mau ikut serta bahkan terlibat dalam perayaan semacam itu. Sebab, ia mengetahui bahwasannya perayaan Valentine Day sama sekali bukan berasal dari Islam. Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak pernah dicontohkan dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak.

Lingkungan juga berpengaruh terhadap merebaknya budaya merayakan Valentine Day. Orang yang terbiasa bergaul bebas dengan teman-temannya, akan mudah juga terpengaruh jika diajak melakukan maksiat. Sebagaimana perumpamaan seseorang yang berkawan dengan penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi paling tidak mendapatkan aroma wangi, sedangkan berkawan dengan seorang pandai besi akan setidaknya mewarisi panas.

Pola orang tua dalam mendidik anak juga berpengaruh besar. Orangtua hari ini lebih rela membiarkan anaknya bepergian bersama lawan jenis. Sementara untuk ikut terlibat dalam kajian-kajian keislaman, orangtua dengan tegas melarang.

Beginikah generasi Khoiru Ummah?

Andai saja Rasulullah SAW masih hidup, tentu beliau akan menangis melihat kondisi kaum muslimin hari ini. Hadist yang dikabarkan Rasulullah SAW mengenai kondisi umat Islam yang seperti buih makin nampak hari-hari ini. Mereka menjadi sasaran empuk dan rebutan negara kafir Barat. Sementara, di sisi lain, kaum muslimin berbondong-bondong meninggalkan syariat Islam dan beralih mengamalkan syariat kaum kafir.

Generasi khoiru ummah yang dikabarkan Allah dalam Alquran seakan terlihat masih jauh dari harapan. Sebab, para pemuda mereka memilih gaya hidup hedonis dan liberal, tanpa mau diatur dengan syariat Islam. Mereka mengesampingkan halal-haram demi memuaskan syahwat yang sifatnya sementara. Mereka tidak lagi menempatkan fitrah mencintai lawan jenis (gharizah nau’) dalam koridor syara’.

Di sisi lain, pemuda yang merupakan bibit potensial untuk kebangkitan Islam melupakan perannya dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tetapi enggan mempelajari syariat-Nya. Akibatnya, mereka awam dalam perkara agama. Sesuatu yang sebenarnya haram untuk dilakukan malah dianggap mubah karena ketidaktahuan.

Khatimah

Atas penjelasan di atas, maka penting bagi kita untuk menengok kembali realitas perayaan Valentine Day. Bahwa perayaan tersebut bukan berasal dari Islam sehingga haram bagi kaum muslimin merayakannya, meskipun dengan hanya mengucapkan selamat. Sulitnya menemukan individu yang bertaqwa ditambah lemahnya kontrol masyarakat dan tak adanya peran negara kian menandakan bahwa kita benar-benar membutuhkan suatu institusi yang dapat menjadi benteng pertama aqidah kaum muslimin. Hal itu hanya mungkin diterapkan dalam sistem Islam, yaitu institusi Khilafah yang berdasarkan manhaj kenabian. Tegaknya khilafah adalah suatu keniscayaan yang baru dapat terealisasi jika kaum muslimin turut berperan dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, termasuk dalam menyikapi euforia perayaan Valentine Day yang notabene bukan berasal dari Islam.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://remajaislam.com/401-sejarah-kelam-hari-valentine.html

Posted in Opini

SISI GELAP PEREMPUAN DI ERA KAPITALIS

Orang tua memegang peranan penting terhadap pegasuhan dan pendidikan anak, terutama ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibulah yang seharusnya menanamkan nilai-nilai awal berupa aqidah serta nilai keislaman lainnya. Di era kapitalisme seperti sekarang ini, dimana tuntutan bekerja untuk memenuhi nafkah semakin besar seiring dengan meningkatnya biaya hidup membuat para wanita, terutama kaum ibu terpaksa terjun ke dunia kerja demi mendapatkan kebutuhan pokok yang layak. Mereka turut bekerja sebagaimana kaum adam bekerja. Akibatnya hak anak atas penanaman aqidah dan nilai keislaman dan nilai moral tak terpenuhi. Ujung-ujungnya hal ini tentu dapat membuat anak merasa jenuh sehingga berusaha melampiaskan dengan mencari teman yang dapat membantunya untuk sekedar bercerita dan mencurahkan perasaannya. Lebih jauh lagi, hal ini akan semakin parah manakala sang anak justru dekat dengan lawan jenis ketimbang orang tuanya. Sehingga lama kelamaan hal ini dapat menjurus pada pergaulan bebas. Apalagi jika sebelumnya anak tak dididik dengan pemahaman Islam yang mendasar sehingga mudah goyah bila dihadapkan pada ujian syahwat (nafsu). Jangankan berusaha untuk menepis godaan tersebut, mereka malah menganggapnya sebagai sesuatu hal yang lumrah, yaitu perasaan mencintai lawan jenis meskipun secara sadar atau tidak, perbuatan mereka telah melabrak dan menodai syaria’t Islam yang agung.

Pengaruh media

Gencarnya arus liberalisasi dalam sistem kapitalisme sekarang tak hanya berefek pada kehidupan nyata. Para kapitalis juga turut menyumbangkan pengaruh terbesarnya pada media baik media cetak (koran, surat kabar, majalah) maupun elektronik (TV, radio, internet, dll). Berbagai berita yang disuguhkan tak lain demi mengejar rating agar untuk meraup keuntungan yang banyak. Media sekarang sangat berpotensi merusak serta meracuni akal dan moral para generasi muda. Berbagai subliminal message mengenai sex disisipkan pada film-film sehingga para remaja yang menontonnya menjadi terbius dan menuruti keinginan si pembuat fim. Selain itu, hal yang tak kalah berbahaya adalah konten-konten porno yang tersebar secara bebas di internet. Siapapun dapat dengan mudah mengakses situs tersebut, tak terkecuali anak kecil dan remaja yang memiliki sifat ingin tau yang besar. Konten-konten tersebut merusak cara berpikir generasi muda dan mendorong mereka menyalurkan gharizah nau’nya pada sesuatu yang diharamkan Allah SWT.

Perempuan: komoditas dalam sistem kapitalis

Sistem kapitalis saat ini benar-benar telah menguasai segala sektor kehidupan. Mereka menancapkan pengaruhnya di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, militer, hingga sosial. Penderitaan yang dirasakan akibat ulah kaum kapitalis ini dirasakan oleh berbagai kalangan, termasuk perempuan. Mereka dijadikan alat untuk diperas otak dan tenaganya demi menguntungkan sebagian kalangan. Dibidang akademik misalnya, mereka rela berpeluh keringat demi melahirkan sebuah proposal agar didanai asing. Bahkan banyak dari mereka yang mendapatkan pekerjaan yang tak layak seperti tukang sapu jalanan, pemulung, kuli becak, dan sebagainya. Tak sedikit juga dari mereka yang direnggut kesuciannya dengan cara yang sadis. Para kafir Barat dan antek-anteknya telah menodai kehormatan jutaan muslimah di dunia secara paksa. Mereka juga tanpa rasa malu dan bersalah menganiaya para wanita dan anak-anak kecil. Peristiwa yang terjadi di Gaza menunjukkan betapa sesungguhnya teroris Amerika dan anteknya hanya berani membusungkan dada pada kaum yang lemah dan tertindas, namun terkencing-kencing ketika berhadapan dengan anak-anak.

Mengentas kapitalisme: Islam satu-satunya solusi

Berbagai ketidakadilan yang dirasakan para wanita saat ini adalah salah satu dari sekian banyak dampak yang ditimbulkan akibat penerapan kapitalisme. Namun parahnya, negara tidak mampu menghilangkan krisis tersebut. Tak ada tanda-tanda wanita dan anak-anak hidup sejahtera dibawah sistem kapitalis. Selama ideologi ini diterapkan, berbagai penderitaan dan kemelaratan akan senantiasa mengungkung para wanita. Oleh sebab itu ummat sangat merindukan kehadiran Mu’thasim-mu’thasim baru yang akan berupaya mengerahkan pasukannya saat seorang wanita dilecehkan. Ummat menanti kehadiran khilafah dengan pemimpinnya yang mampu mengayomi rakyat. Ummat merindukan sosok seperti Umar ibn Khaththab yang bahkan sangat takut ditanyai Allah SWT manakala ada jalan yang berlubang yang akan membuat seeokor keledai jatuh terperosok kedalamnya. Ummat saat ini benar-benar membutuhkan sebuah sistem yang melindungi perempuan. Satu-satunya sistem yang telah teruji yang bahkan bertahan selama lebih dari 13 abad yaitu sistem khilafah yang berlandaskan ideologi Islam.

Agar tak jadi buih

Semoga bisyarah Rasulullah SAW tentang tegaknya khilafah segera terwujud. Oleh sebab itu ummat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, semuanya berkewajiban untuk menyampaikan Islam yang haq. Sebab Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menyampaikan Islam, meskipun hanya satu ayat, meskipun belum menghafal sekian juz Al-Quran dan Hadist. Sebab, jika ummat Islam hanya diam terhadap kedzaliman, maka Allah akan menimpakan bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim, serta tidak dikabulkannya do’a orang-orang yang beriman. Tidak benar anggapan bahwasannya seorang perempuan mutlak berada dirumah dan hanya mengurusi rumah tangga. Sebab wanita juga diwajibkan keluar untuk menuntut Ilmu, juga berdakwah kepada sesama wanita muslimah lainnya. Akhir kata, marilah kita bersama-sama memperjuangkan kembalinya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Marilah kita bersatu dibawah panji Islam dalam rangka membangun peradaban Islam yang agung, agar kita tak termasuk ummat yang banyak jumlahnya namun serupa buih di lautan dan menjadi rebutan Kafir Barat dan antek-anteknya.

Wallahu a’lam

Posted in Opini

ISLAM MEMANDANG LIBERALISASI PENDIDIKAN

Pengantar

Islam tidak mengenal bentuk pemerintahan monarchi, kekaisaran, federasi, dan republik seperti yang dianut Indonesia saat ini. Begitu juga dengan sistem pemerintahan lainnya yang berlaku di kebanyakan negara di dunia. Dalam Islam, bentuk pemerintahan yang sah adalah satu kepemimpinan tunggal atas seluruh ummat muslim diseluruh dunia. Kepemimpinan umum tersebut adalah khilafah. Dalam negara khilafah, tatanan kenegaraannya terdiri atas 2 aspek yaitu sistem pemerintahan dan struktur administratif (kemaslahatan umum) yang didalamnya terdiri dari kewarganegaraan, transportasi, pencetakan mata uang, pendidikan, kesehatan, pertanian, ketenagakerjaan, jalan, dan sebagainya.

 Pendidikan dalam Islam

Sebagaimana disebutkan diatas bahwasannya pendidikan termasuk kedalam aspek kemaslahatan umum (mashlahiyyah). Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah menanamkan aqidah islam yang kokoh serta berupaya membina dan mendidik individu sehingga memiliki syakhshiyyah islamiyyah yang khas. Islam tidak hanya mengajarkan pendidikan dalam bentuk transfer ilmu seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sekarang, namun Islam berupaya mewujudkan dan menyelaraskan antara aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) individu. Islam juga mengajarkan bahwasannya tujuan ilmu adalah untuk diterapkan secara praktis dalam kehidupan, tidak hanya sebagai pemuas akal semata.

Kemunduran intelektual dan paradigma berpikir bebas

Sebagaimana banyak kita lihat, bahwasannya pendidikan sekarang tidak lagi menjadikan akidah Islam sebagai pegangan. Para intelektual dan akademisi justru lebih menyukai mempelajari tsaqafah-tsaqafah Barat seperti filsafat, teologi, dan lainnya. Mereka dengan bangga sambil membusungkan dada bilamana mereka mampu melawan wahyu dengan akal. Mereka terdidik berpikir liberal dan cendrung menggunakan logika (manthiq) tanpa mempedulikan wahyu berupa Al-Quran dan As-Sunnah. Betapa banyak para pemikir dan cendekiawan di negri muslim saat ini namun keberadaannya justru tidak membawa ummat Islam menjadi kearah yang lebih baik dan menjadi contoh bagi ummat lainnya. Malah kondisi mereka makin terpuruk disebabkan para intelektualnya yang malah sibuk memperkaya diri. Mereka disibukkan dengan penelitian-penelitian dan proyek yang didanai asing, yang disadari atau tidak justru menguntungkan asing dan membuka celah lebar-lebar bagi mereka untuk menguasai Indonesia. Mereka seakan lupa bahwasannya bekerjasama dengan asing sama saja dengan bunuh diri politik.

Pendidikan yang berorientasi materi

Adapun tujuan pendidikan dalam sistem saat ini terutama perguruan tinggi yang awalnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah berubah menjadi berorientasi materi. Sehingga para intelektual berlomba-lomba membuat proposal-proposal demi mendapatkan curahan dana dari asing. Dalam sistem demokrasi saat ini, wajar apabila semua aspek yang berkaitan dengan struktur administratif (kemaslahatan umum) menjadi komoditi, termasuk aspek pendidikan. 

Pendidikan yang berorientasi materi akan menghasilkan SDM yang kualitasnya bergantung pada permintaan pasar, yaitu kualitas pekerja bukan pemimpin. Untuk merombaknya maka diperlukan kurikulum pendidikan yang tepat sasaran yaitu kurikulum Islam yang tidak berorientasi pasar.  Kurikulum pendidikan Islam ini akan mampu mencetak SDM yang kelak mampu memimpin bangsanya menjadi bangsa yang besar, kuat dan terdepan serta melahirkan generasi berkepribadian Islam, berpola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam yang bersumber dari Sang Pencipta, Allah SWT.*

 Solusi praktis mengakhiri liberalisasi pendidikan

Oleh sebab itu, agar pendidikan tidak dijadikan sebagai alat komoditas pasar, kita berkewajiban untuk mewujudkan sistem Islam. Sistem yang mampu menanamkan nilai-nilai aqidah Islam yang jauh dari aspek materi. Sistem yang mampu melindungi para intelektual agar tidak menjadi sapi perah asing. Juga sistem  yang mampu melenyapkan hegemoni kafir Barat atas kaum muslimin diseluruh dunia dengan menjauhkan tangan-tangan mereka darinya. Khalifah sebagai pemimpin tertinggi (amir) akan berusaha menjadi junnah (perisai) dimana rakyat akan berperang dibelakangnya. Satu-satunya sistem yang mampu mewujudkan itu semua adalah sistem Islam dibawah naungan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Wallahu a’lam