The Scary Khilafah

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.

Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah.

Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil. Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah. Ini tahadduts binni’mah, berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan, ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan. Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.

Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk. Sampah-sampah alam menjadi rabuk. Timbunan batu-batu menjadi mutiara. Penjajahan melahirkan kemerdekaan. Kejatuhan menghasilkan kebangkitan. Penderitaan memberi pelajaran tentang kebahagiaan.

 

Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”, “Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.

Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah: “lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.

Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak menakutkan. Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.

Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. Kenduri yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya. Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.

Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya, menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian. Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai seluruh alam semesta dipeluknya — tanpa saya pernah memprogramnya.

Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya. Meskipun dia kasih aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan. Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma numpang enak sebentar.

Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada fatamorgana.

5 Agustus 2017

Sumber: gemarakyat.id

Oleh: Iwan Januar


Baru-baru saja MUI mengeluarkan fatwa adab-adab penggunaan media sosial. Komisi Fatwa MUI menyebutkan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan.

MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan. Haram pula bagi umat Muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup.

Umat Muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan dan-atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

Selain itu, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram.

Kita menyambut gembira fatwa yang sebenarnya berisi penegasan akan haramnya perbuatan tercela tersebut. Mengingat hari ini berbagai aktifitas yang tercela seperti disebutkan di atas seperti sudah menjadi budaya. Ditambah lagi, fatwa yang keluar di bulan mulia ini semoga bisa membuat ibadah shaum kita menjadi sempurna. Bukan lagi sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga lisan dan tulisan dari konten yang mengandung kemaksiatan. Para ulama telah memberikan pesan; salamatul insan fi hifdzil lisan – keselamatan manusia itu ada pada penjagaan lisan.

Adapun mengenai status tulisan adalah sama seperti lisan. Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan bahwa tulisan juga sama halnya seperti lisan: “Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.

Merugi orang yang menahan lapar dan haus, tapi tak menahan lisan dan tulisan dari konten yang dibenci Allah SWT. Benar, secara bahasa makna shaum adalah imsak atau menahan diri. Dalam tinjauan fiqih para ulama umumnya menyepakati makna shaum adalah menahan diri dari makan dan minum dan segala perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan

Namun demikian banyak hadits yang memberikan kita penjelasan bahwa ada perkara yang membatalkan puasa dan ada perkara yang mengugurkan atau dapat merusak pahala puasa. Orang-orang yang berpuasa diminta bukan saja menahan diri dari hal yang dapat membatalkan puasa mereka seperti makan, minum, atau jima, tapi juga mencegah diri dari perkara yang merusak pahala puasa.

Di antara pesan agung dari Nabi SAW. tentang perkara yang merusak pahala puasa adalah sebagai berikut:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-Zur dan mengerjakannya, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain ada tambahan lafadz al-jahlu. Sabda Beliau:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-Zur dan mengerjakannya juga al-jahl, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya (HR. Bukhari).

Shaum itu hakikatnya adalah perisai (junnah) dari siksa neraka karena pelakunya dapat mengekang syahwatnya, sementara neraka itu membutuhkan syahwat. Maka jika seorang yang berpuasa dapat mengendalikan syahwatnya di dunia, maka ia akan terjaga di akhirat dari siksa neraka.

Terhadap hadits-hadits ini para ulama berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa seorang muslim yang tidak mengendalikan syahwatnya dari perbuatan maksiat seperti ghibah maka dianggap telah batal puasanya dan wajib mengqodlonya (Fathul Bariy, Li Ibni Hajar, juz 6 hlm. 129, Maktabah Syamilah). Para ulama ini mendasari pendapat mereka dari  keumuman hadits-hadits di atas. Di antara mereka adalah Imam al-Awza’iy dan Ibnu Hazm. Adapun jumhur ulama meski menyatakan bahwa kemaksiatan dan qaw az-zur adalah haram namun mereka mengkhususkan batalnya puasa adalah karena makan, minum dan jima. Adapun perbuatan maksiat yang dikerjakan seorang muslim yang berpuasa adalah merusak pahala puasa mereka. Wallahualam.

Namun demikian, meski tidak membatalkan puasa, apakah rela seorang muslim berpayah-payah puasa namun kelak akan menerima kenyataan pahit kalau pahala puasa mereka rusak bahkan binasa? Nabi katakan mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga belaka?

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

Berapa banyak orang berpuasa balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga (HR. Ibnu Majah).

Pantang bagi kaum muslimin yang mengharapkan balasan besar dari ibadah shaum mereka melakukan qawl az-zur dan al-jahl yang disebutkan Baginda Rasulullah SAW. dalam hadits-hadits tersebut.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan makna qawl az-zur adalah kebohongan. Sedangkan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadziy yang merupakan syarah hadits Imam at-Turmudzi, karya Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Mubarakfuriy,  dicantumkan bahwa makna az-zursebagai kebatilan. Kemudian dalam kitab itu dijelaskan pula yang dianggap mengucapkan dan mengerjakan az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, ghibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat dan lain sebagainya yang merupakan perkara yang wajib dijauhi  dan diharamkan oleh kaum muslimin untuk mengerjakannya. Adapun makna al-jahlyang disebutkan dalam hadits yang lain adalah seluruh kemaksiatan yang telah diharamkan Allah SWT.

az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, ghibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat

Karenanya merugilah seorang muslim yang sudah lelah berpuasa tapi tak kunjung meninggalkan perbuatan dan perkataan batil lagi maksiat. Lidahnya suka menyebar kabar bohong atau hoax, lalu sering menuding saudaranya sebagai penjahat dan musuh masyarakat, merendahkan status mereka, dan malah memuji-muji orang yang memusuhi kaum muslimin dan menistakan agama.

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa. Ironisnya perkataan-perkataan keji itu justru ditujukan pada kaum muslimin dan orang-orang yang tengah giat berdakwah menyelamatkan negeri. Padahal jangankan kepada sesama muslim, mencela nonmuslim yang tidak bersalah diharamkan oleh syariat.

Penguasa tanpa malu membiasakan diri dengan kebohongan. Dulu berjanji tak akan menaikkan tarif listrik dan BBM, berjanji akan menurunkan harga berbagai komoditi, yang ada hari ini, di bulan mulia ini, umat tercekik kehidupannya. Banyak rumah yang berhari-hari listriknya tidak menyala karena tak sanggup membeli token listrik, juga banyak warga kelimpungan mencari gas elpiji karena semakin langka.

Selain itu berkali-kali umat Muslim yang sedang membela kehormatan agama dilabeli berbagai macam perkataan tercela; pemecah belah negeri, radikal, intoleran, dsb. Perkataan itu kerapkali ditopang dengan berlapis-lapis kebohongan dan perkataan kotor lainnya.

Berbagai kasus direkayasa untuk menjatuhkan kehormatan umat Muslim. Misalnya di Solok, kaum muslimin yang dituding melakukan persekusi pada seorang dokter wanita yang mengkritik seorang tokoh muslim nasional. Di depan media massa korban mengaku dicaci maki, dicap pelacur, diintimidasi, keluarganya diancam oleh sejumlah muslim di rumah sakit tempatnya bekerja. Seperti biasa media massa sekuler dengan bersemangat mengangkat berita ini, aparat kepolisian juga langsung bertindak bahkan mendisiplinkan Kapolres Solok karena dianggap lalai mencegah persekusi.

Tapi belakangan tokoh-tokoh muslim yang mendatangi sang dokter, termasuk pihak rumah sakit angkat suara. Mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa sama sekali tak ada persekusi atau ancaman dan intimidasi sedikitpun. Pertemuan kala itu berjalan damai, termasuk pihak RSUD dan kepolisian juga memfasilitasi proses klarifikasi tersebut dengan baik-baik. Lihatlah, bagaimana qawl az-zur, buhtan wa kadz begitu vulgarnya dipertontonkan di bulan yang suci ini.

Lalu dalam kasus tudingan chat mesum yang dilakukan seorang tokoh muslim justru sarat berbagai tudingan ganjil. Alih-alih mengusut tuntas siapa penyebar chat itu, aparat malah lebih gigih menyeret sang tokoh ke meja hijau. Padahal pihak perusahaan penyedia jasa telekomunikasi yang disebut aparat memiliki bukti chat mesum itu, justru membantah pernyataan kepolisian. Bukankah ini sudah kesaksian palsu dan kebohongan? Astaghfirullah.

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa.

Kini umat Muslim juga dihadang dengan tindak pidana persekusi bila membantah, menegur apalagi bila mengancam orang lain meski orang itu menghina agama Islam. Perkataan batil mendapat pembelaan, sedangkan perbuatan mulia dinistakan. Inilah qawl az-zur dan al-jahlyang diingatkan oleh Nabi SAW. bahwa pelakunya bila mereka berpuasa sungguh tak akan dibutuhkan oleh Allah SWT.

Anehnya berbagai persekusi, intimadasi, penghadangan hingga pemukulan dimana umat muslim yang menjadi korban tak pernah mendapat pembelaan. Didiamkan bahkan dibela dengan berbagai qawl az-zur. Publik mungkin tidak lupa bagaimana Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain dihadang gerombolan bersenjata, bahkan beliau hampir kena bacok. Ironinya hal itu terjadi di dalam bandara yang semestinya steril dari pengunjung gelap.

Begitupula ketika syabab Hizbut Tahrir tengah mengusung bendera mulia raya dan liwa, kemudian dihadang oleh gerombolan massa, direbut bendera mereka, bahkan terjadi intimidasi dan pemukulan, sepi dari pemberitaan dan pembelaan. Para pelakunya jangankan diseret ke dalam penjara, diinvestigasi juga tidak. Bandingkan dengan sejumlah pemuda muslim di Jakarta yang membela kemuliaan agama mereka karena hinaan seorang nonmuslim, langsung diborgol, foto mereka ditayangkan di seantero Nusantara, dipermalukan, dan dihinakan. Sementara pelaku penistaan agama itu mendapat pembelaan besar-besaran dari penguasa dan media massa.

Yang terjadi akibatnya di berbagai akun media sosial bermunculan status yang menistakan agama Islam yang minim penindakan dari penguasa. Bahkan bila ada muslim yang berusaha membela kehormatan agamanya bisa dipidanakan dengan tudingan melakukan persekusi.

Sungguh keimanan dan keistiqomahan orang-orang beriman tengah diuji. Mereka harus tetap menghadapi berbagai macam fitnah, kebohongan dan kepalsuan dengan kesabaran, dan puasa adalah bagian dari kesabaran.

Ini adalah dekade penuh kebohongan sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah SAW. akan datang menimpa umat. Pendusta dibenarkan, sedangkan pejuang kebenaran di dustakan.

Nabi SAW. telah mengingatkan bahwa kelak di Hari Akhir para pendusta akan mendapatkan cap “kadzib” pada jidat mereka. Seantera Padang Mahsyar akan tahu bahwa mereka di dunia adalah orang-orang yang terbiasa melakukan perbuatan bohong, fitnah dan merekayasa kisah untuk menghancurkan umat Muslim.

Adapun para penguasa yang gemar melakukan kebohongan, memperdaya rakyatnya, nasibnya akan lebih buruk lagi. Nabi SAW. bersabda:

مَا مِنْ رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ، إِلا وَهُوَ فِي النَّارِ

Tidaklah seorang pemimpin menipu rakyat, melainkan ia berada di neraka (HR. Thabraniy).

Sungguh mengerikan.

Shaum Ramadhan Di Tengah Badai Qawl az-Zur

Oleh : Nopriadi Hermani, P.hd

Tadi sore saya mengajarkan Teorema Green pada mahasiswa di kelas Kalkulus Vektor. Setelah menjelaskan tentang integral medan vektor pada lintasan tertutup, saya mengajak mahasiswa berbincang tentang kehidupan. Dialog seperti ini sering saya lakukan karena bagi saya mereka adalah aset berharga peradaban masa depan, bukan skrup industri.

“Kalian saat ini tidak harus tahu aplikasi Teorema Green. Kadang saat belajar matematika kita tidak tahu dimana mengaplikasikannya. Matematika itu adalah ilmu alat. Alat kita berinteraksi dengan alam semesta ini. Bahasa yang digunakan para saintis saat mendalami “keinginan” alam. Tidak hanya membantu memahami perilaku benda mati tapi juga makhluk hidup dan manusia. Bahkan, matematika telah digunakan untuk memahami fenomena psikologi, ekonomi, politik sampai masalah peradaban.”

Saya ceritakan ke anak-anak saya ini bagaimana seorang matematikawan, berkolaborasi dengan ahli politik dan ahli lingkungan, telah membuat model matematik tentang runtuhnya sebuah peradaban. Penguasaan bidang matematika, ditambah ilmu sejarah, peradaban, politik, ekonomi, lingkungan, membuat dia mampu mensimulasikan skenario jatuhnya peradaban, termasuk Peradaban Modern sekarang ini.

Kemudian saya bertanya pada mahasiswa tentang isu apa yang lagi hangat di Indonesia. Sebagian menjawab, “Pembubaran Ormas Hizbut Tahrir”. Sepertinya juga terdengar sayup-sayup ada yang mengatakan, “Pemenjaraan Ahok”. Sambil tersenyum saya sampaikan ke mahasiswa,

“Yah, begitulah kita yang ada di Indonesia ini. Kita jadi sangat sibuk dengan urusan domestik seperti ini. Kita tidak terlibat dalam pembicaraan tentang muramnya peradaban dunia. Jangkauan kepedulian kita, termasuk elit dan intelektual di Indonesia, hanya sebatas permasalahan seperti ini. Indonesia adalah mata rantai dari Peradaban Kapitalis di dunia ini. Bila tiba-tiba Peradaban Barat kolaps, maka kita hanya bisa terkaget-kaget dan terkejut karena ikut terjun bebas ke dasar reruntuhan sejarah.”

Demikian sepenggal cerita tadi sore di kelas Kalkulus Vektor. Beberapa saya ubah redaksinya agar lebih mudah dipahami.

Sekarang saya ingin berbincang tentang rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia dikaitkan dengan keruntuhan Peradaban Barat yang diprediksi dapat terjadi oleh beberapa pakar. Saya telah menelusuri berita, video dan jurnal ilmiah terkait keruntuhan peradaban. Saya menemukan, misalnya, tulisan Safa Motesharrei dari University of Maryland dan Andrew Targowski dari Western Michigan University yang sangat menarik tentang peradaban. Tulisan mereka membuka mata saya (lagi) tentang Peradaban Barat hari ini. Memberi saya persfektif baru tentang cacat Peradaban Barat yang mereduksi peran Sang Pencipta. Bila ditambah dengan konsep Peradaban Islam yang saya pelajari selama ini, maka semua ini semakin menyadarkan saya tentang kita. Kita semua, terutama muslim, dapat mengambil peran dalam menyelamatkan peradaban dunia yang menuju ambang kebangkrutan.

Hmmm… Sudilah kiranya Anda berselancar menelusuri situs-situs Hizbut Tahrir yang tersedia dan dikelola dari berbagai negara di seluruh dunia. Bukalah halaman demi halaman untuk memahami wacana apa saja yang didakwahkan gerakan internasional ini. Dari sana Anda akan paham bagaimana Hizbut Tahrir mengambil bagian dalam perubahan di level dunia. Lebih jauh, mungkin Anda juga menemukan rona ketulusan dari perjuangan mereka.

Saya menceritakan tentang Hizbut Tahrir ini tidak bermaksud _ta’ashub_ pada harokah yang begitu penting dalam sejarah hidup saya. Bukan fanatik buta pada organsisi yang membukakan mata saya tentang hakikat hidup di dunia. Bukan _ashobiyah_ pada gerakan yang membangun cakrawala berpikir saya tentang peradaban manusia. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang mungkin tidak diketahui oleh banyak kalangan. Tentang kepedulian Hizbut Tahrir pada problem peradaban manusia. Kepedulian para anggotanya pada penderitaan hidup umat manusia di muka bumi ini yang telah dipecundangi oleh para kapitalis serakah dan kroninya.

Jadi, framing jahat yang disebar secara massif sebagai ormas yang bermusuhan dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebhinekaan, menurut saya, mereduksi apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir selama ini. Hizbut Tahrir justru berkepentingan kuatnya negeri-negeri Islam. Mereka adalah penopang Peradaban Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah di masa depan. Yang jelas, Hizbut Tahrir tidak digerakkan oleh nafsu untuk berkuasa di negeri ini atau di negeri manapun di dunia. Apalagi nafsu untuk membunuh manusia Indonesia yang berbeda agama. Tidak sama sekali.

Anggota Hizbut Tahrir yang bergerak tanpa lelah, dipenuhi oleh peluh dan kadang caci maki didasarkan pada iman yang menghujam di sanubari mereka. Anggota organisasi ini rela berkorban harta, waktu, tenaga bahkan kehidupan pribadi dan nyawa mereka karena ingin meraih ridha Allah swt semata dan demi kebaikan umat manusia. Apa yang diperjuangkan Hizbut Tahrir adalah membebaskan umat manusia dari jerat peradaban rakus yang dibangun dari Ideologi Kapitalis Sekuler. Menjebak manusia pada penderitaan di dunia dan siksa di akhirat.

Saya kira kita semua sudah paham bahwa Ideologi Kapitalis Sekuler telah memberi jalan tol pada para saudagar dalam menguasai kekayaan alam negeri-negeri ringkih, termasuk Indonesia. Kita semua juga paham bagaimana kerusakan yang dibuat oleh Ideologi Kapitalis Sekuler ini. Izinkan saya menyegarkan kembali beberapa fakta kerusakan akibat penerapan ideologi ini.

Ideologi Kapitalis Sekuler berhasil menciptakan strata ekonomi dengan kesenjangan yang sangat tajam. Di dunia ini 62 orang memiliki kekayaan yang setara dengan kekayaan setengah dari penghuni planet yang berjumlah 3,6 miliar orang. Di Indonesia 1% orang terkaya menguasai setengah aset kekayaan negeri ini. Kesenjangan ini melahirkan banyak jerit penderitaan di seluruh dunia. Masih ingat bagaimana rakyat Amerika, dalam gerakan Occupy Wall Street, menuntut keadilan? Mereka turun ke jalan dengan meneriakkan “Kami 99% dan mereka (para kapitalis) 1%”.

Ideologi Kapitalis Sekuler juga telah mencetak varian manusia yang hidup dengan kemiskinan spiritualitas, kehampaan makna dan terjebak pada perburuan harta yang tak pernah mengenal puas. Ideologi ini membuat manusia menjadi hamba materi dan durhaka terhadap Penciptanya. Mudah-mudahan Anda sempat menengok tulisan Danah Zohar dalam bukunya _Spiritual Capital: Wealth We Can Live by_. Dia menggambarkan keserakahan Kapitalis dengan sosok Erisychthon dalam dongeng Ovid mitologi Yunani kuno.

Ideologi Kapitalis Sekuler menyadarkan kita bagaimana manusia mampu “membunuh” planet bumi dengan sangat sadis. Ketidakamanan dan hasrat menghegomoni dunia telah melahirkan perlombaan negara-negara besar dalam membuat senjata yang mematikan. Bila diledakkan semua hulu ledak nuklir yang ada di dunia ini, kabarnya berjumlah sekitar 15.000 lebih, maka ini cukup untuk membunuh 50 milyar manusia dan melelehkan biosfer planet bumi.

Ideologi Kapitalis Sekuler ini pula yang menunjukkan pada kita bagaimana keserakahan manusia mampu memberi tekanan yang demikian dahsyat pada ekosistem bumi. Industrialisasi berbasis keserakahan ekonomi liberal telah menghasilkan berton-ton limbah, termasuk gas rumah kaca di atmosfer kita. Ini mengakibatkan fenomena Global Warming yang menurut prediksi akan menenggelamkan kota-kota di dunia, diantaranya Shanghai (Cina), Venesia (Italia), Bangkok (Thailand), Ho Chi Minh City (Vietnam) dan Jakarta (Indonesia).

Peradaban dunia hari ini adalah hasil eksperimen pemikiran para filsuf abad pencerahan. Dalam sejarahnya mereka anti terhadap peran gereja dalam wilayah publik di Eropa. Mereka pada dasarnya anti agama, namun tokoh-tokohnya seperti John Locke, Montesquieu, Rousseau, Voltaire dinobatkan sebagai nabi-nabi sosial. Sang Pencipta oleh mereka tidak diberi ruang untuk mengatur wilayah publik manusia. Agama, termasuk Islam, hanya layak menjadi urusan pribadi dan dibatasi dengan sangat ketat untuk masuk ke wilayah publik. Pemikiran mereka menjelma menjadi sebuah negara sekuler pertama di dunia melalui revolusi berdarah di Perancis pada tahun 1789 – 1799. Negara republik sekuler ini menjadi role model yang menginspirasi dan ‘memaksa’ negara-negara di dunia untuk mengikutinya, termasuk Indonesia.

Sekarang saya ingin kembali ke isu pembubaran Hizbut Tahrir. Terus terang hati kecil saya kadang merintih menyaksikan adanya usaha menghalangi gerakan ini berkontribusi menyelematakan peradaban.

Bagaimana mungkin ada usaha dari saudara muslim yang ingin melumat Hizbut tahrir? Bagaimana mungkin mereka begitu bernafsu membekukan pergerakan para anggota, binaan dan simpatisan dalam proyek dakwah ini? Bagaimana mungkin mereka ingin memadamkan usaha Hizbut Tahrir dalam memahamkan umat manusia tentang peradaban Islam yang dinanti? Bagaimana mungkin ada framing jahat yang terus diumbar agar memusuhi orang-orang yang bekerja ikhlas membangun peradaban? Bagaimana mungkin ada muslim yang berusaha mengunci kaki, tangan dan mulut para pejuang yang bermaksud datang dan menyeru manusia pada kebaikan Islam?

Saya bisa memahami bila kekuatan itu berasal dari mereka yang menjadi penjaga dan penikmat keberhasilan Kapitalisme. Saya bisa memaklumi bila kekuatan yang berusaha menghancurkan ini adalah segelintir manusia serakah yang nyaman dengan kerusakan peradaban. Saya tidak merasakan sakit bila semua penghalang itu dilakukan oleh para kapitalis jahat dengan kroni-kroninya. Namun hati ini terasa perih bila ada saudara muslim dengan penuh kebencian menghalangi usaha berat ini.

Yah, saya menyadari mungkin karena ketidakpahaman mereka akan perjuangan Hizbut Tahrir di dunia. Tidak paham dengan visi besar organisasi ini dalam memuliakan Islam dan umat Islam serta menyelamatkan peradaban manusia. Juga tidak begitu paham dengan gambar besar (big picture) dan konsep detil kami tentang Peradaban Islam yang dimaksud.

Saya ingin memberi tahu mereka yang memusuhi pergerakan dakwah ini. Yang mungkin membuat Anda sedikit kaget.
Begini. Sebenarnya Hizbut Tahrir tidak akan pernah mampu mendirikan Khilafah dimanapun. Hizbut Tahrir tidak akan pernah mampu menyelamatkan peradaban. Hizbut Tahrir tidak akan pernah mampu menghadirkan Peradaban Islam. Hizbut Tahrir hanyalah sebuah organisasi yang menggerakkan anggotanya dengan kekuatan iman. Bergerak menyadarkan umat Islam tentang sejarah besar mereka. Menyadarkan mereka tentang kemuliaan ajaran Islam. Menyadarkan mereka bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dipersembahkan untuk semua manusia karena membawa Islam. Islam yang sempurna dan lengkap itu adalah rahmat bagi seluruh alam. Umat Islam adalah umat yang dinanti-nati kiprahnya dalam perubahan peradaban. Jadi, sekali lagi, Hizbut Tahrir tidak akan pernah mampu melakukan hal yang besar ini.

Yang mampu mendirikan Khilafah, membangun Peradaban Islam dan menyelamatkan peradaban manusia adalah umat Islam itu sendiri dengan pertolongan Allah swt. Hizbut Tahrir hanya menyeru dengan dakwah dan meyakinkan umat melalui program-program dakwahnya bahwa mereka mampu mengambil peran sentral dalam percaturan peradaban dunia. Kelak bila Khilafah berdiri maka Hizbut Tahrir tidak akan menjadi partai yang berkuasa. Khilafah yang diinginkan adalah Khilafah kita semua. Hizbut Tahrir tetap mengambil peran yang selama ini dia mainkan. Dakwah politis agar Khilafah menerapkan Islam dengan sempurna dan pemimpin mampu menunaikan tanggungjawabnya terhadap warga negara berdasarkan sistem Islam.

Saat ini gairah negeri ini sedang menyala untuk membicarakan dan ingin mengetahui apa itu Hizbut Tahrir, apa yang dibawa dan apa saja agenda-agendanya. Pernah saya melihat ada kalangan terdidik mencomot bagian-bagian Syariah Islam yang ditawarkan Hizbut Tahrir. Tujuannya bukan untuk memahaminya secara utuh, tapi disaring dengan belief systems pribadi untuk menguatkan persepsinya bahwa Hizbut Tahrir itu berbahaya. Bagaimana mungkin orang, bahkan seorang muslim sekalipun, mengapresiasi syariah Islam bila yang dilihat hanya rajam, potong tangan, qishas, syarat pemimpin pemerintahan dari muslim dengan sudut pandang sekuleristik?

Artikel yang tertulis di dalam situs Hizbut Tahrir adalah kumpulan mozaik Syariah Islam. Membaca sekilas, apalagi dengan motivasi mencari kekurangannya, hanya melahirkan persepsi negatif. Mencukupkan diri dengan kepingan _puzzle_ ide Syariah dapat menghantarkan pada kesalahpahaman. Kecurigaan terhadap organisasi ini, yang oleh MUI tidak terkategori sesat, akan menghalangi kesempatan menemukan keindahan Islam. Kecurigaan ini pula yang dulu pernah saya rasakan.

Sekarang tengoklah kitab-kitab Hizbut Tahrir yang tidak pernah disembunyikan itu. Lihat dan pelajarilah isinya dengan seksama. Nilai kualitasnya dari kekuatan dalil dah hujjah yang ditawarkan. Lebih jauh, ini memerlukan pengetahuan ekstra, rekonstruksilah Peradaban Baru dari setiap paragraf yang ada di dalam kitab-kitab yang dikaji oleh anggota Hizbut Tahrir. Bila Anda mau bersabar sedikit dan mau merendah, maka Insya Allah Anda akan melihat keindahan ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah saw. Nabi kita. Lebih jauh Anda akan meyakini apa yang kami yakini bahwa Umat Islam adalah Umat yang dinanti manusia kiprahnya dalam membangun peradaban baru yang penuh berkah.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(TQS. Ali Imran: 110)

Yogyakarta, 10 Mei 2017 (pukul 10.45 WIB).

Matematika, Runtuhnya Peradaban dan Hizbut Tahrir

ULAMA DAN UMAT TERUSLAH BEKERJA DAN BERGERAK

Oleh: Ainun Dawaun Nufus

Kaum imperialis terus menerus mengontrol kita, setelah meghancur-leburkan negeri-negeri muslim, sekarang Amerika bersiap untuk menghancur-leburkan politik dan ekonomi Indonesia.

 

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya mereka yang telah menganiaya orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab jahannam, dan bagi mereka pula azab (neraka) yang membakar.(QS: Al-Buruj [85] : 10)

Situasi yang dirasakan para ulama dan umat adalah bahwa pemerintah tidak mentolerir keberanian dan aktivitas ulama dan umat yang terus-menerus membongkar konspirasi dan kezaliman. Sementara penguasa tidak memiliki keputusan dan kebijakan apapun untuk melemahkan ulama yang takut hanya kepada Allah. Sehingga kewaspadaan dan kesiagaan pemerintah itu tidak lain, adalah bukti tentang besarnya pengaruh kebangkitan taraf berpikir dan meningkatnya kekuatan politik umat Islam, dan kuatnya dampak yang ditimbulkan dari setiap aktivitasnya.

Pak Presiden, Dengarkanlah Kata Ulama!

Yang tampak kini, para ulama, para aktivis terus bergerak dalam berdakwah, tidak terganggu dengan siapa saja yang menentangnya. Kami berserah diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa diliputi perasaan bergembira karena kemenangan dari Allah Subhanhu wata’ala sangat dekat. Berulang-ulang para aktivis muslim menegaskan dan menyatakan bahwa tindakan represif tidak akan bisa membungkam ulama dan umat Islam dari menmbongkar kedok kejahatan-kejahatan penguasa.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.“(QS: Fushshilat [41]: 30)

Indonesia telah menjadi korban politik dan ekonomi kapitalistik yang tidak kompeten yang diadopsi pemerintah sekarang. Para imperialis berupaya dengan segala kekuatan yang dimiliki untuk menjajah Indonesia, yang memposisikan Islam sebagai musuh. Slogan perubahan yang diusung oleh para antek penjajah hanyalah kebohongan.

Mereka sejak dahulu hingga sekarang telah dan terus berkeras menyenangkan tuan-tuannya para rezim Barat dan Timur, hingga meski harga untuk itu adalah kaum muslim dipinggirkan, disekulerkan dan dibuat menderita dengan berbagai kebijakan!

Sudah Waktunya Ulama Turun untuk Inkaru Munkar

Rezim kapitalis konsisten dan disiplin melaksanakan rencana-rencana imperialis melawan negeri ini.

Pada saat yang sama, loyalis Barat bersungguh-sungguh dalam upaya membungkam gerakan-gerakan Islam yang kritis dikarenakan sikap berani mereka yang membela Islam dan kaum Muslim dengan jalan menguliti rencana-rencana imperialis Amerika, China terhadap Indonesia.

Akan tetapi upaya-upaya represif yang dilakukan oleh para agen itu tidak akan bisa memaksa kaum mukmin pengemban dakwah untuk berlepas diri dari masyarakat atau dari dakwah Islam.

Kami (umat Islam) akan kuat karena keimanan kami kepada Allah yang menjadikannya keluar menentang musuh-musuh Islam. Islam dan kaum Muslim pada akhirnya merupakan pihak yang menjadi penolong. Tidak ada yang didapatkan oleh pemerintah khianat kecuali kehinaan di dunia dan azab yang sangat pedih pada Hari Kiamat kelak.

“Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya dan tidak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya dari pada amir (pemimpin) masyarakat.” (HR. Muslim)

Kita harus paham bahwa Amerika dan China serta kebijakan politiknya adalah musuh. Keduanya sepanjang waktu berupaya merusak kepentingan-kepentingan umat Islam. Kaum imperialis terus menerus mengontrol kita, setelah meghancur-leburkan negeri-negeri muslim, sekarang Amerika bersiap untuk menghancur-leburkan politik dan ekonomi Indonesia.

Walhasil, kita wajib membebaskan umat Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh penjuru dunia. Ketahuilah bahwa kita memiliki kewajiban yang telah difardhu-kah oleh Allah. Karenanya mari kita penuhi seruan Allah dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Janganlah Anda takut kepada para pendengki. Ketahuilah Allah adalah zat yang maha menjaga.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS: an-Nur [24]: 55).*

Penulis peminat masalah  sosial dan politik

Sumber:https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/01/27/110523/ulama-dan-umat-teruslah-bekerja-dan-bergerak.html

TINGGALKAN PERAYAAN VALENTINE DAY!

Pertengahan Februari adalah waktu yang dinanti-nantikan oleh sebagian pasangan muda-mudi. Tanggal 14 Februari dikenal banyak orang dengan perayaan Valentine Day. Perayaan itu ternyata tak hanya dilakukan oleh non muslim, tapi juga oleh kaum muslimin sendiri. Pada hari itu, mereka saling mengungkapkan perasaan cinta dengan berbagai cara. Ada yang mengungkapkan lewat surat cinta, bingkisan coklat, karangan bunga, boneka, bahkan ada yang melampiaskannya lewat hubungan di luar nikah. Tak ketinggalan para pebisnis mengeluarkan produk-produk untuk menyemarakkan Valentine Day semacam kartu ucapan, parcel, pernak-pernik, dan sebagainya. Tentu saja, tak ada keseriusan negara dalam menangani hal semacam ini.

Sekilas mengenai Valentine Day

Ada banyak versi yang berkenaan dengan asal-usul Valentine Day. Namun, salah satu versi yang terkenal adalah perayaan Lupercalia yang dilakukan oleh bangsa Romawi setiap tanggal 15 Februari. Perayaan tersebut merupakan upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, yaitu tanggal 13 dan 14 Februari dipersembahkan untuk dewi cinta, Juno Februata. Ia merupakan ratu dari segala dewa dan dewi kepercayaan bangsa Roma. Di hari itu, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak kemudian mengambilnya secara acak. Gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta bantuan dewa Lupercalia agar dilindungi dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang. Tak hanya itu, kaum wanita berebut untuk dilecut karena menganggap lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (remajaislam.com).

Jangan mengikuti millah Yahudi dan Nasrani

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwasannya perayaan Valentine Day bukanlah berasal dari Islam, melainkan dari bangsa Romawi. Padahal, umat muslim memiliki identitas sendiri. Mereka juga memiliki hari-hari besar tersendiri yang sepatutnya dirayakan.

Perbuatan meniru ritual agama lain merupakan bentuk tasyabbuh. Tasyabbuh dilarang dalam perkara aqidah, ibadah, budaya, maupun tingkah laku. Apalagi, masalah ini berkaitan dengan aqidah, tentu lebih dilarang lagi. Sebab, perkara aqidah termasuk bagian dari keimanan kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam Alquran: ”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS An-Nisaa: 115)

Mengikuti perayaan mereka sama artinya dengan membiarkan diri terjerumus ke dalam dosa. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqaroh: 120)

Mereka tentu bereuforia melihat umat muslim kian terpuruk perlahan. Sebab, mereka tidak perlu susah-susah untuk mengerahkan kekuatan militer atau langsung terjun ke negeri kaum muslimin untuk menghancurkan generasi muda. Mereka mencekcoki pemikiran kaum muslimin sehingga kita menganggap bahwasannya sah-sah saja merayakan Valentine Day, toh hanya bertukar coklat atau bunga.

Bagi kaum muslimin, tidak ada hari khusus untuk menyatakan cinta atau kasih sayang. Sebab, sudah kewajiban seorang muslim untuk menebarkan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya pada waktu tertentu, tapi setiap waktu. Juga, bukan hanya kepada lawan jenis yang notabene tak ada ikatan halal diantara keduanya.

Akibat lemahnya iman

Banyaknya kaum muslimin yang terpengaruh dan ikut terjerumus dalam perayaan Valentine Day dikarenakan banyak sebab. Selain lemahnya aqidah Islam yang menjadi faktor utama, faktor lingkungan juga ikut mendukung. Seseorang yang telah tertancap kuat aqidah Islam dalam dirinya, tidak akan mau ikut serta bahkan terlibat dalam perayaan semacam itu. Sebab, ia mengetahui bahwasannya perayaan Valentine Day sama sekali bukan berasal dari Islam. Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak pernah dicontohkan dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak.

Lingkungan juga berpengaruh terhadap merebaknya budaya merayakan Valentine Day. Orang yang terbiasa bergaul bebas dengan teman-temannya, akan mudah juga terpengaruh jika diajak melakukan maksiat. Sebagaimana perumpamaan seseorang yang berkawan dengan penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi paling tidak mendapatkan aroma wangi, sedangkan berkawan dengan seorang pandai besi akan setidaknya mewarisi panas.

Pola orang tua dalam mendidik anak juga berpengaruh besar. Orangtua hari ini lebih rela membiarkan anaknya bepergian bersama lawan jenis. Sementara untuk ikut terlibat dalam kajian-kajian keislaman, orangtua dengan tegas melarang.

Beginikah generasi Khoiru Ummah?

Andai saja Rasulullah SAW masih hidup, tentu beliau akan menangis melihat kondisi kaum muslimin hari ini. Hadist yang dikabarkan Rasulullah SAW mengenai kondisi umat Islam yang seperti buih makin nampak hari-hari ini. Mereka menjadi sasaran empuk dan rebutan negara kafir Barat. Sementara, di sisi lain, kaum muslimin berbondong-bondong meninggalkan syariat Islam dan beralih mengamalkan syariat kaum kafir.

Generasi khoiru ummah yang dikabarkan Allah dalam Alquran seakan terlihat masih jauh dari harapan. Sebab, para pemuda mereka memilih gaya hidup hedonis dan liberal, tanpa mau diatur dengan syariat Islam. Mereka mengesampingkan halal-haram demi memuaskan syahwat yang sifatnya sementara. Mereka tidak lagi menempatkan fitrah mencintai lawan jenis (gharizah nau’) dalam koridor syara’.

Di sisi lain, pemuda yang merupakan bibit potensial untuk kebangkitan Islam melupakan perannya dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tetapi enggan mempelajari syariat-Nya. Akibatnya, mereka awam dalam perkara agama. Sesuatu yang sebenarnya haram untuk dilakukan malah dianggap mubah karena ketidaktahuan.

Khatimah

Atas penjelasan di atas, maka penting bagi kita untuk menengok kembali realitas perayaan Valentine Day. Bahwa perayaan tersebut bukan berasal dari Islam sehingga haram bagi kaum muslimin merayakannya, meskipun dengan hanya mengucapkan selamat. Sulitnya menemukan individu yang bertaqwa ditambah lemahnya kontrol masyarakat dan tak adanya peran negara kian menandakan bahwa kita benar-benar membutuhkan suatu institusi yang dapat menjadi benteng pertama aqidah kaum muslimin. Hal itu hanya mungkin diterapkan dalam sistem Islam, yaitu institusi Khilafah yang berdasarkan manhaj kenabian. Tegaknya khilafah adalah suatu keniscayaan yang baru dapat terealisasi jika kaum muslimin turut berperan dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, termasuk dalam menyikapi euforia perayaan Valentine Day yang notabene bukan berasal dari Islam.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://remajaislam.com/401-sejarah-kelam-hari-valentine.html