Amr bin Al-Ash

“Amr bin Al-Ash masuk Islam setelah ia melakukan perenungan dan pemikiran yang cukup panjang. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang diri Amr, “Para manusia telah masuk Islam, dan Amr bin Al-Ash telah beriman.”

“Ya Allah, Engkau dulu pernah memerintahkan kami, namun kami bermaksiat. Engkau dulu pernah melarang kami, namun kami masih saja tak berhenti melakukannya. Tidak ada daya upaya kami selain berharap ampunan-Mu, wahai Zat Yang Paling Penyayang!”

Dengan doa yang sarat dengan kerendahan hati dan harapan ini. Amr bin Al-Ash menutup usia saat menjelang kematiannya.

***

Kisah hidup Amr bin Al-Ash sarat dengan cerita berharga.

Dalam hidupnya, ia telah berhasil mempersembahkan untuk Islam daerah besar dan makmur, keduanya adalah Palestina dan Mesir. Ia berhasil meninggalkan sebuah riwayat berharga dan senantiada dibaca oleh manusia sepanjang masa.

***

Kisah ini dimulai kira-kira setengah abad sebelum hijrah saat Amr dilahirkan, dan berakhir 43 tahun setelah hijrah saat ia menutup usia.

Ayahnya bernama Al-Ash bin Wa’il yang menjadi salah seorang pemimpin dan tokoh Arab terpandang pada masa Jahiliyah. Ayahnya juga merupakan sosok yang memiliki kedudukan tinggi pada Bangsa Quraisy. Sedangkan ibunya, memiliki nasib yang berbeda. Ibunya adalah seorang budak tawanan saja.

Oleh karenanya orang-orang yang merasa iri terhadap Amr bin Al-Ash selalu mengungkit kisah ibunya saat Amr sudah menjabat posisi tertentu atau saat ia sedang menaiki tangga mimbar untuk memberikab khotbah.

Bahkan ada seseorang yang membujuk orang lain untuk berdiri saat Amr bin Al-Ash hendak naik ke atas mimbar lalu menanyakan Amr tentang kisah ibunya. Orang yang menyuruh tadi menjanjikan sejumlah uang kepada orang yang berani melakukan hal ini.

Orang yang disuruh itu bertanya, “Siapakah ibu dari pemimpin kita ini?” Amr langsung berusaha menekab emosinya dan menggunakan akal sehatnya. Ia menjawab, “Dia adalah Nabighah binti Abdullah. Ia pernah tertawan pada masa Jahiliyah, kemudian ia dijual sebagai budak di pasar Ukaz. Kemudian ia dibeli oleh Abdullah bin Jad’an yang kemudian diberikan kepada Al-Ash bin Wa’il (yaitu ayah Amr) sehingga membawa karunia seorang anak bagi Al-Ash. Jika orang yang hatinya teracuni sifat dengki menjanjikan sejumlah tambahan uang kepadamu, maka ambillah!”

***

Saat kaum Muslimin yang menderita berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan diri dari siksaan Bangsa Quraisy dan tinggal di sana, pada saat itu Bangsa Quraisy bertekad untuk memulangkan mereka ke Makkah lagi, kemudian menyiksa mereka dengan berbagai siksaan.

Bangsa Quraisy menunjuk Amr bin Al-Ash untuk melakukan tugas ini, sebab ia memiliki hubungan lama yang baik dengan An-Najasy.

Bangsa Quraisy juga membekali Amr dengan hadiah yang disenangi oleh An-Najasy dan para pemuka agama di sana.

Begitu Amr bin Al-Ash bertemu dengan An-Najasy, Amr bin Al-Ash memberikan penghormatan kepadanya dan berkata, “Ada sebuah kelompok dari kaum kami yang telah berpaling dari agama orang tua dan kakek moyang kami, mereka kini telah membuat agama baru untuk diri mereka. Bangsa Quraisy mengutusku untuk bertemu denganmu untuk mendapatkan izin darimu agar mereka dapat dikembalikan kepada kaumnya dan kembali kepada agama mereka.”

Maka An-Najasy segera memanggil beberapa orang dari sahabat Nabi yang berhijrah. An-Najasy bertanya kepada mereka tentang agama yang mereka anut. Tuhan yang mereka imani dan tentang Nabi mereka yang membawa ajaran agama ini.

An-Najasy mendengarkan dari penuturan para sahabat tadi yang membuat hatinya menjadi yakin dan tenang. Akidah mereka telah membuat An-Najasy menjadi suka dengan ajaran agama mereka dan beriman kepadanya. Maka An-Najasy menolak dengan keras permintaan Amr bin Al-Ash. Kemudian An-Najasy mengembalikan semua hadiah yang diberikan oleh Amr bin Al-Ash.

***

Saat Amr bin Al-Ash hendak berangkat menuju Makkah, An-Najasy berkata kepadanya, “Bagaimana bisa engkau menjauh dari urusan Muhammad, ya Amr, padahal aku tahu bahwa engkau adalah orang yang berpikiran cerdas dan berwawasan luas?! Demi Allah dia adalah seorang utusan Allah kepada kalian khususnya dan kepada manusia secara umum.”

Lalu Amr bertanya, “Apakah engkau sungguh mengatakan hal demikian, wahai Paduka Raja?!”

An-Najasy menjawab, “Demi Allah, taatilah titahku, ya Amr, dan berimanlah kepada Muhammad dan kepada kebenaran yang ia bawa untuk kalian!”

***

Amr bin Al-Ash meninggalkan Habasyah. Ia terus melanjutkan perjalanannya namun ia tidak mengerti apa yang ia lakukan. Kalimat yang telah diucapkan An-Najasy meninggalkan bekas mendalam dan berhasil mengguncang hatinya.

Ucapan An-Najasy tentang Muhammad membuat dirinya ingin segera menemui Muhammad, akan tetapi ia tidak memiliki kesempatan hingga pada tahun ke-8 Hijriyah. Pada saat Allah SWT berkenan melapangkan dadanya untuk menerima agama yang baru, maka pada saat itulah Amr berangkat menyusuri jalan yang menuju ke Madinah Munawwarah untuk menemui Rasulullah SAW dan menyatakan keislaman dirinya di hadapan beliau.

Saat di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah. Keduanya pun memiliki tujuan yang sama. Akhirnya ketiga orang itu pun berangkat bersama-sama.

Begitu mereka menjumpai Nabi SAW, Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah segera berbaiat (melakukan sumpah setia) kepada Nabi SAW.

Kemudian Rasulullah SAW membentangkan tangannya kepada Amr, lalu Amr memegang tangan beliau.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Amr, “Apa yang terjadi dengan dirimu, ya Amr?!”

Ia menjawab, “Aku berbaiat kepadamu agar dosaku yang terdahulu diampuni.”

Nabi SAW langsung berujar, “Islam dan hijrah, keduanya menghapuskan dosa yang telah terjadi sebelumnya.” Pada saat itu Amr langsung berbaiat kepada Rasulullah SAW.

Akan tetapi kejadian ini meninggalkan kesan pada diri Amr bin Al-Ash yang sering ia ucapkan, “Demi Allah, mataku tidak pernah memandang Rasulullah SAW dan menatap wajah beliau hingga beliau kembali ke pangkuan Tuhannya.”

***

Dengan cahaya kenabian, Rasulullah SAW melihat diri Amr bin Al-Ash. Beliau mengetahui adanya potensi tertentu dalam dirinya. Maka beliau menunjuk Amr untuk menjadi pemimpin pasukan Muslimin dalam Perang Dzatus Salasil meski dalam pasukan tersebut banyak terdapat para tokoh Muhajirin dan Anshar yang lebih dahulu masuk Islam.

***

Saat Rasulullah SAW sudah wafat, dan kekhalifahan berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Amr bin Al-Ash berjuang keras dalam peperangan melawan gerakan kemurtadan. Amr bin Al-Ash juga memberantas fitnah yang merebak saat itu bersama Abu Bakar ash-Shiddiq RA.

Amr bin Al-Ash pernah singgah di Bani Amr dan bertemu dengan pemimpin mereka yang bernama Qurrata bin Hubairaj yang berniat untuk murtad. Qurrata berkata kepada Amr, “Wahai Amr, Bangsa Arab tidak menyukai kewajiban pembayaran yang kalian tetapkan kepada semua orang (maksudnya adalah zakat). Jika kalian menghilangkan zakat tersebut, maka Bangsa Arab akan patuh dan taat kepada kalian. Jika kalian menolak untuk menghapuskannya, maka mereka tidak akan bersatu lagi dengan kalian setelah hari ini.

Maka Amr pun langsung berseru kepada Bani Amr, “Celaka kamu! Apakah engkau sudah menjadi kafir wahai Qurrata?! Apakah engkau mau menakutiku dengan murtadnya Bangsa Arab?! Demi Allah, demi Allah aku akan menjejakkan kaki kuda di kemah ibumu!”

***

Saat Abu Bakar ash-Shiddiq kembali ke pangkuan Tuhannya, dan amanah kekuasaan diserahkan kepada Umar al-Faruq. Umar al-Faruq memanfaatkan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh Amr bin Al-Ash. Umar menempatkan Amr untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslimin.

Maka melalui Amr bin Al-Ash Allah SWT berkenan menaklukkan satu negeri demi negeri lainnya yang berada di tepi pantai Palestina. Pasukan Romawi satu demi satu menemukan kekalahan mereka. Kemudian Amr bin Al-Ash bersama pasukannya berniat untuk memblokade Baitul Maqdis.

Amr bin Al-Ash semakin memperketat blokade di sekeliling wilayah Baitul Maqdis sehingga Arthabun panglima pasukan Romawi merasa putus asa. Blokade tersebut menyebabkan Arthabun melepaskan kota suci tersebut dan lebih memilih untuk melarikan diri. Maka Yerusalem pun kembali ke pangkuan kaum Muslimin.

Pada saat itu, seorang pemuka agama Nasrani di sana berharap penyerahan kota suci ini dapat dihadiri oleh Khalifah sendiri. Maka Amr bin Al-Ash segera menuliskan sebuah surat kepada Umar al-Faruq yang mengundang Khalifah untuk menerima secara langsung penyerahan Baitul maqdis. Khalifah Umar pun hadir dalam penyerahan Baitul Maqdis. Khalifah Umar pun hadir dalam penyerahan tersebut dan ia menandatangani penyerahan kota Yerusalem.

Yerusalem diserahkan kepada kaum Muslimin pada tahun 15 Hijriyah berkat usaha Amr bin Al-Ash RA.

Umar al-Faruq jika diingatkan tentang peristiwa blokade Baitul Maqdis, ia teringat akan kehebatan Amr bin Al-Ash, ia akan berkata, “Kita telah berhasil mengusir Arthabun Romawi dengan Arthabun Arab.

Amr bin Al-Ash masih meneruskan kemenangan besarnya dengan menaklukkan Mesir. Akhirnya negeri yang subur ini menjadi bagian dari wilayah Islam. Di samping itu, Amr bin Al-Ash juga berhasil menaklukkan pintu-pintu Benua Afrika, Negri Maroko dan Spanyol.

Semua ini dilakukan oleh Amr bin Al-Ash untuk kaum Muslimin hanya dalam setengah abad saja.

***

Kelebihan Amr bin Al-Ash bukan hanya dalam bidang ini saja. Ia juga salah seorang ahli makar dan tipu daya Bangsa Arab. Ia juga termsuk salah seorang yang paling jenus di antara mereka

Barangkali salah satu kisah kecerdikannya adalah saat ia menaklukkan Mesir. Amr bin Al-Ash terus membujuk Umar al-Faruq agar diperbolehkan untuk menaklukkan Mesir, sehingga Umar pun mengirimkannya. Utsman memberikan dukungan kepada Amr bin Al-Ash dengan 4000 prajurit muslimin.

Maka berangkatlah Amr bin Al-Ash dengan pasukannya dengan begitu gagah dan tanpa beban. Akan tetapi yang turut serta dalam rombongannya hanya sedikit prajurit saja, sehingga Utsman bin Affan pun menemui Umar dan berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, Amr bin Al-Ash adalah orang yang gagah berani. Dalam dirinya terdapat kecintaan pada jabatan. Aku khawatir ia pergi ke Mesir tanpa jumlah pasukan yang cukup dan logistik yang memadai, dan hal itu dapat membawa petaka bagi pasukan Muslimin.”

Umar langsung menyesal telah memberikan izin kepada Amr bin Al-Ash untuk menaklukkan Mesir. Maka ia langsung mengirimkan seorang utusan yang membawa surat dari Khalifah untuk Amr tentang masalah ini.

***

Utusan yang dikirim Umar tadi menjumpai pasukan Muslimin di daerah Rafah di bagian Negeri Palestina. Ketika Amr bin Al-Ash mengetahui kedatangan seorang utusan Umar al-Faruq yang membawa sebuah surat yang ditujukan kepadanya dari Khalifah, Amr langsung merasa khawatir akan isi surat tersebut.

Amr terus berpura-pura sibuk dan meneruskan perjalannya sehingga ia masuk ke sebuah perkampungan Mesir.

Pada saat itu, Amr baru menemui utusan Khalifah. Ia langsung mengambil surat tersebut dan membukanya. Di dalamnya tertulis:

“Jika engkau menerima suratku ini sebelum memasuki daerah Mesir maka kembalilah ke tempat asalmu! Jika engkau telah menginjak tanah Mesir, maka teruskanlah perjalananmu!”

Lalu Amr bin Al-Ash menyeru kepada semua prajurit Muslimin dan membacakan surat dari Umar al-Faruq. Kemudian Amr bertanya, “Apakah kalian sudah tahu bahwa kita sekarang sudah berada di tanah Mesir?”

Mereka menjawab, “Ya, kami tahu.”

Amr berujar, “Jika demikian marilah kita meneruskan perjalanan ini di bawah keberkahan dan taufik Allah SWT!”

Allah SWT pun berkenan menaklukkan Mesir melalui perjuangan Amr bin Al-Ash.

***

Salah satu bukti kecerdasan Amr bin Al-Ash adalah saat ia sedang mengepung salah satu benteng Negeri Mesir yang kuat. Tokoh agama Romawi meminta panglima pasukan Muslimin untuk mengirimkan seorang negosiator dan juru runding. Beberapa orang dari pasukan kaum Muslimin rela untuk melakukan tugas ini. Akan tetapi Amr bin Al-Ash berkata, “Aku akan menjadi utusan kaumku untuk menemuinya.”

Lalu Amr bin Al-Ash menemui tokoh agama tadi, kemudian ia berhasil memasuki benteng itu dengan berpura-pura bahwa dirinya adalah utusan panglima pasukan Muslimin.

***

Tokoh agama itu bertemu dengan Amr dan tokoh agama tersebut tidak mengenalinya.

Maka terjadilah perundingan di antara mereka berdua dan Amr bin Al-Ash berhasil memperlihatkan kecerdasan dan pengalamannya.

Tokoh agama Romawi ini berniat untuk mengkhianati Amr. Tokoh agama tersebut memberikan hadiah yang besar kepada Amr dan menyuruh para penjaga benteng untuk membunuh Amr sebelum ia melewati parit.

Akan tetapi Amr mengetahui niat jahat dari pancaran mata para penjaga tersebut. Lalu Amr kembali lagi menemui tokoh agama tadi dan berkata, “Wahai Tuan, pemberian yang engkau berikan kepadaku tidak bakal cukup untuk dibagi kepada seluruh sepupuku. Maukah engkau mengizinkan aku untuk mengajak sepuluh orang dari mereka untuk mendapatkan hadiah yang sama darimu?”

Tokoh agama tadi menjadi bahagia, dan ia berharap dapat membunuh sepuluh orang dari pihak Muslim daripada hanya membunuh satu orang saja.

Kemudian tokoh agama tadi memberi isyarat kepada para penjaga benteng untuk membiarkan Amr bin Al-Ash pergi.

Maka selamatlah Amr bin Al-Ash dari ancaman pembunuhan.

Ketika Mesir berhasil ditaklukkan dan diserahkan kepada pihak Muslimin, tokoh agama tadi berjumpa dengan nada keheranan, “Apakah ini adalah kamu sebenarnya?” Amr menjawab, “Ya, seperti saat hendak kau khianati dulu.”

***

Amr bin Al-Ash adalah manusia yang amat pandai berbicara dan berdialog. Sehingga Umar al-Faruq menganggap bahwa kepandaian Amr bin Al-Ash dalam berbicara merupakan tanda kekuasaan Allah SWT.

Maka setiap kali Umar melihat ada orang yang gagap dalam berbicara, Umair akan berkata, “Sang Pencipta orang ini dan sang Pencipta Amr bin Al-Ash adalah tinggi.

Salah satu ucapan Amr bin Al-Ash yang sarat dengan makna adalah:

Manusia itu terbagi menjadi tiga manusia yang sempurna, separuh manusia dan manusia yang tak bermakna.

Manusia yang sempurna adalah manusia yang lengkap agama dan akalnya. Jika ia hendak memutuskan sebuah perkara, ia akan menunda, ia akan meminta pendapat orang-orang cerdas sehingga ia akan terus mendapatkan petunjuk.

Sedangkan separuh manusia adalah orang yang disempurnakan agama dan akalnya oleh Allah. Jika ia hendak memutuskan sebuah perkara, ia tidak meminta pendapat orang lain, dan ia akan berkata, “Manusia seperti apa yang mesti aku ikuti pendapatnya kemudian aku akan meninggalkan pendapatku dan mengikuti pendapatnya?” Maka terkadang ia benar terkadang ia salah.

Adapun orang yang tak bermakna adalah orang yang tidak beragama dan tidak berakal. Maka ia akan selalu keliru dan terbelakang.

Demi Allah, aku senantiasa meminta pendapat orang lain, bahkan kepada pembantuku.

***

Saat Amr bin Al-Ash jatuh sakit dan merasakan ajalnya telah tiba, ia meneteskan air mata dan berkata kepada anaknya, “Aku pernah menjadi orang kafir, kalau saja saat itu aku mati, maka aku pasti akan masuk ke dalam neraka. Saat aku berbaiat kepada Rasulullah SAW, aku menjadi manusia yang amat malu terhadap beliau, sehingga kedua mataku tak berani menatap beliau. Kalau saja aku mati pada saat itu, pasti banyak orang yang mengatakan, “Selamat bagi Amr yang telah masuk Islam secara baik dan mati secara baik.”

Kemudian aku mengalami banyak kejadian setelah itu, dan aku tidak tahu bahwa semua itu akan memberi kebaikan kepadaku ataukah keburukan?”

Lalu Amr bin Al-Ash menghadapkan wajahnya ke arah dinding dan berkata, “Ya Allah, Engkau dulu pernah memerintahkan kami, namun kami bermaksiat. Engkau dulu pernah melarang kami, namun kami masih saja tak berhenti melakukannya. Tidak ada daya upaya kami selain berharap ampunan-Mu, wahai Zat yang Paling Penyayang!”

Amr bin Al-Ash meletakkan tangannya di bawah lehernya dan ia mengangkat pandangannya ke arah langit dan berdoa, “Ya Allah, tidak ada kekuatan yang aku miliki, maka menangkanlah aku! Tidak ada yang tidak memiliki kesalahan, maka maafkanlah! Aku bukanlah orang yang sombong, akan tetapi orang yang memohon ampunan. Maka ampunilah aku, wahai Zat yang Maha Pengampun!”

Ia terus mengulangi doa tersebut hingga ruhnya berpisah dari badan.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah SAW – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s