Keluarga Yasir

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir…sebab tempat kalian adalah surga.” -Muhammad Rasulullah

Di suatu pagi yang cerah dan bercuaca segar, tibalah sebuah kafilah dari Yaman di penghujung kota Makkah.

Begitu Yasir bin Amr al-Kina’i melihat Ka’bah yang dimuliakan, ia terpesona dengan keagungannya. Hatinya merasa senang dengan memandangnya. Karena kedua matanya belum pernah sebahagia saat ia melihat bangunan tersebut.

***

Kedatangan Yasir ke Makkah bukanlah untuk berdagang sebagaimana kebiasaan para kafilah. Akan tetapi kedatangan ia dan kedua saudaranya yang bernama Al-Harits dan Malik ke sana adalah untuk mencari saudara mereka yang sudah bertahun-tahun menghilang dan tidak sedikit pun mereka mendapatkan berita tentang keberadaannya.

***

Ketiga pemuda tersebut mencari saudara mereka ke semua tempat. Mereka menanyakan tentang keberadaan saudara mereka kepada semua jamaah. Sehingga meteka merasa putus asa dan berselisih pendapat.

Al-Harits dan Malik kembali ke tempat bermain dan kampung halamannya di Yaman. Sedangkan Yasir malah tertarik untuk menetap di Makkah sebagai tempat tinggal dan tanah air.

***

Yasir bin Amr belum mengetahui saat ia mengambil keputusannya tersebut akan kemuliaan apa yang bakal ia terima. Ia juga tidak pernah tahu bahwa ia akan masuk dalam catatan sejarah. Ia juga tidak tahu bahwa dari tulang sumsumnya akan muncul seorang anak yang akan menghiasi dunia.

Akan tetapi Yasir tidak memiliki keluarga dan kerabat yang dapat melindunginya di sana. Maka orang asing seperti Yasir harus mendapatkan dukungan dari seorang pemuka kaum agar ia dapat menjalani hidup dengan aman dan nyaman di dalam masyarakat yang tidak memberikan ruang bergerak bagi mereka yang lemah.

Tidak ada pilihan lain baginya kecuali mendapatkan dukungan dari Abu Hudzaifah al-Mughirah al-Makhzumi.

***

Abu Hudzaifah melihat adanya sikap luhur pada diri Yasir. Ia juga adalah orang yang berperangai baik yang membuat Abu Hudzaifah pun menikahkan Yasir dengan budak wanita miliknya yang dikenal dengan Sumayyah binti Khubath.

Hasil pertama dari pernikahan ini adalah lahirnya seorang bocah yang memberikan kebahagiaan terbesar bagi kedua orang tuanya. Keduanya memberikan nama kepada bocah yang baru lahir dengan nama Ammar.

Kegembiraan mereka semakin besar saat Abu Hudzaifah membebaskan dan memerdekakan Ammar.

***

Keluarga tersebut tinggal di bawah asuhan Bani Makhzum dan menjalani hidup yang damai dan penuh cinta.

Hari terus berganti dan tahun terus berlalu. Yasir dan Sumayyah pun kini sudah semakin tua. Sedangkan Ammar telah menjadi seorang pemuda dewasa.

***

Lalu teranglah dunia ini dengan datangnya cahaya Tuhab. Muncullah dari negeri Makkah cahaya kebaikan dan kebenaran yang meliputi alam. Cahaya tersebut menutupi dunia dengan keadilan dan kebaikan.

Nabi SAW mulai menyampaikan risalah Tuhannya dengan terang-terangan. Beliau memberikan peringatan dan kabar gembira kepada kaumnya. Beliau mengajak kaumnya pada kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.

***

Ammar bin Yasir mendengar berita tentang dakwah baru ini dari pembicaraan manusia sehingga ia membuka telinga, hati dan akalnya untuk mendengarkan berita tersebut. Akan tetapi Ammar saat mendapati dirinya tidak ada yang mengantarkannya ke sana, ia merasa gundah. Ia berujar dalam dirinya, “Celaka engkau ya Ammar! Apa yang membuatmu merasa haus, padahal sumber air sudah dekat dengan dirimu?!”

Ayo…datangilah pemilik risalah tersebut.

Ayo datangi Muhammad bin Abdullah Sebab ia dan para sahabatnya memiliki berita yang meyakinkan.”

***

Pada saat itu juga, Ammar bin Yasir berangkat menuju Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam. Di tempat itulah ia berjumpa dengan Nabi SAW dan mendengar sabda beliau yang mampu mengguncangkan hatinya.

Ammar menerima petunjuk Nabi yang mempu menghiasi hatinya dengab hikmah dan cahaya. Lalu Ammar mengulurkan tangannya dan berkata, “Asyhadu allaa ilaaha illallaahu, wa asyhadu annaka abduhu wa Rasuuluhu.

***

Ammar bin Yasir segera pulang untuk menemui ibunya, Sumayyah, dan mengajaknya untuk masuk Islam. Dengan segera Sumayyah menyambut ajakan tersebut seolah sudah dijanjikan. Kemudian Ammar menghadap ayahnya yang bernama Yasir. Ammar mengajak ayahnya sebagaimana ia mengajak ibunya.

Ayahnya tidak kalah dengan ibunya saat menyambut seruan ini. Maka keluarga ini segera bergabung dengan rombongan cahaya Islam dan cahaya mereka masih saja menerangi relung hati setiap mukmin hingga saat ini.

Hal ini akan terus berkelanjutan -dengan izin Allah- sehingga Allah akan mewarisi bumi ini dan orang yang berada di dalamnya.

***

Keislaman ketiga orang ini tersiar di Bani Makhzum, dan mengundang kemarahan serta emosi mereka. Mereka bersumpah bahwa mereka dapat mengeluarkan ketiga orang tersebut dari Islam atau mereka akan mencelakai keluarga tersebut.

Maka mereka menangkap kedua orang tua dan anak mereka ke padang pasir Makkah. Mereka memakaikan baju besi kepada keluarga itu dan memandikan mereka dengan cahaya matahari yang terik. Mereka tidak memberikan air kepada keluarga tersebut, dan tanpa berhenti mereka terus memukul keluarga itu. Sehingga kerongkongan mereka kering. Keringat mereka habis. Kulit menjadi pecah dan darah bertetesan.

Bila itu semua telah terjadi, maka mereka akan membiarkan keluarga tersebut pada hari itu agar mereka dapat melakukan hal tersebut pada keeaokan harinya. Suatu hari Rasulullah SAW pernah lewat saat mereka sedang disiksa.

Rasul SAW menjadi sedih karena dirinya tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menolong mereka. Beliau berdiri di hadapan keluarga tersebut seraya bersabda, “Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sebab tempat kalian adalah surga!”

Jiwa mereka yang sedang disiksa menjadi tenteram dan mata mereka menjadi berbinar. Dan nampaklah senyuman dari wajah mereka pertanda ridha.

***

Penyiksaan tersebut tidak berhenti bagi kedua orang tua Ammar.

Sumayyah saat tengah disiksa didatangi oleh Abu Jahal. Abu Jahal mencaacinya dengan keras, dan memakinya dengan ucapan yang amat pedih. Akan tetapi Sumayyah tidak pernah menyerah.
Lalu Abu Jahal mengangkat tombaknya dan menusukkannya di bagian bawah perut Sumayyah. Ujung tombak bahkan sampai menembus punggungnya. Maka Sumayyah menjadi syahid pertama dalam Islam, dan itu cukup memberikan penghormatan dan kemuliaan bagi dirinya.

Sedangkan Yasir, ia juga wafat saat disiksa. Saat ia wafat, ia tengah bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

***

Penyiksaan terhadap diri Ammar semakin menggila setelah wafatnya kedua orang tuanya. Para algojo yang menganiaya dirinya telah melampaui semua batas dalam penyiksaan.

Pada suatu hari, Ammar mendatangi Rasulullah SAW dengan wajah yang sedih dan murung. Ia telah berusaha untuk memandang Rasulullah dan membuat senang kedua matanya dalam menatap beliau, akan tetapi ia tidak mampu untuk mengangkat pandangannya ke arah beliau.
Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Ammar, “Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Ammar?!”

Ammar menjawab, “Keburukan yang terus terjadi, ya Rasulullah!”

Rasulullah bertanya, “Apa itu?!”

Ammar menjawab, “Aku mendapatkan siksaan yang amat berat sehingga kalau siksaan ini ditimpakan kepada gunung, pasti ia akan runtuh. Lalu para musuh Allah belum merasa puas dengan membakar tubuhku lewat panasnya terik matahari, malah kini mereka membakar tubuhku dengan api.
Kemudian mereka memaksaku untuk menangkapmu, dan memaksaku untuk mengucapkan kebaikan tentang berhala mereka dan aku pun melakukannya.”

Lalu ia menangis dengan tersedu-sedu yang membuat hati menjadi pilu.

Kemudian Nabi SAW bertanya kepadanya, “Bagaimana kau dapati hatimu, ya Ammar?”
Ia menjawab, “Hatiku terasa nyaman, ya Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Kamu tidak akan mendapatkan dosa jika mereka melakukan penyiksaan terhadap dirimu lagi dan engkau boleh mengatakan apa yang pernah engkau ucapkan!”

Kemudian Allah SWT memuliakan Ammar dan menurunkan tentang dirinya sebuah ayat yang berbunyi,

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS. An-Nahl: 106)

Saat Rasulullah SAW mengizinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, Ammar termasuk orang yang berhijrah ke sana demi menyelamatkan agamanya.

Begitu ia tiba di Quba di mana para kaum Muhajirin berhijrah, Ammar langsung mengajak mereka untuk mendirikan sebuah masjid agar mereka dapat melaksanakan shalat. Kaum muhajirin pun menyambut ajakan Ammar.

Maka masjid yang yang dibangun oleh Ammar bin Yasir menjadi masjid yang pertama dibangun pada masa Islam. Dan ini cukup menjadi kemuliaan dan kelebihan diri Ammar.

***

Begitu Nabi SAW berhijrah ke Madinah, maka menjadi senanglah hati Ammar. Ia begitu bergembira, bak seorang kekasih yang menunggu kedatangan kekasihnya. Ia senantiasa mendampingi Rasulullah hingga seolah ia tidak pernah berpisah dengan beliau baik pada siang maupun malam.
Rasulullah pun membalas kecintaan Ammar kepada dirinya. Jika Ammar datang menghampiri Rasulullah, maka beliau akan berkata, “Telah datang orang baik yang dianggap baik!”

***

Saat Rasulullah SAW telah kembali ke pangkuan Tuhannya dan banyak bangsa Arab yang kembali murtad dan keluar dari Islam, pada saat ity Ammar dalam Perang Yamamah memiliki sebuah kisah yang amat mahsyur.

Hal itu terjadi saat para sahabat Rasulullah sedang berjuang sungguh-sungguh dalam perang. Kemudian telah merenggut banyak dari para huffazh (penghafal Alquran) dan pasukan Muslimin sudah mulai terdesak.
Pada saat itulah Ammar bin Yasir berdiri di atas sebuah batu yang tinggi. Ketika itu sebuah daun telinganya hampir terputus, dan masih tergantung di kepalanya. Ia berseru,

“Wahai kaum muslimin, apakah kalian hendak berlari meninggalkan surga? Mati ikuti aku, ikuti aku… wahai kaum

Muslimin!”
Kemudian Ammar berlari ke hadapan barisan kaum Muslimin padahal telinganya masih bergelantungan di pipinya.
Maka bergeraklah pasukan Muslimin dengan semangat yang diberikan Ammar sehingga Musailamah al-Kadzdzab dapat dibunuh. Maka banyak manusia yang kembali ke agama Allah secara berbondong-bondong setelah mereka meninggalkan Islam secara berbondong-bondong pula.

***

Saat Umar al-Faruq menjadi Khalifah, ia mengangkat Ammar untuk menjadi Wali di Kufah, dan ia ditemani oleh Abdullah bin Mas’ud. Umar menuliskan sebuah surat kepada para penduduk Kufah yang berbunyi:

“Amma ba’du…. Aku mengirimkan kepada kalian Ammar sebagai pemimpin kalian dan Abdullah bin Mas’ud sebagai pengajar dan mentrinya. Keduanya adalah sebagian sahabat dekat Nabi kalian yang bernama Muhammad. Taatilah keduanya dan berikan kepatuhan kalian kepada mereka berdua.”

Kemudian Umar menceritakan kepada Ammar maksudnya tadi, namun Ammar menolak jabatan itu. Bagitu Umar berjumpa dengan Ammar maka Umar berkata, “Apakah tindakan yang aku lakukan telah melukaimu, ya Ammar?” Ammar menjawab, “Demi Allah, jabatan lebih melukaiku daripada aku terisolir darinya.”

***

Semoga Allah meridhai Ammar bin Yasir. Keimanan telah memenuhi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Semoga Allah juga meridhai ayahnya yang bernama Yasir dan ibunya yang bernama Sumayyah. Rumah mereka sungguh adalah rumah yang penuh dan sarat akan keimanan.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah SAW – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s