Thalhah bin Ubaidilah at-Taimi

“Siapa yang ingin melihat orang yang berjalan di muka bumi dan telah meninggal dunia, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidilah.” –Muhammad Rasulullah

Thalhah bin Ubaidilah berangkat bersama sebuah rombongan Bangsa Quraisy dalam sebuah ekspedisi perdagangan ke Syam. Sesampainya kafilah tersebut di kota Bushra, beberapa orang pemuka dari pedagang Quraisy tadi langsung menuju pasar yang ramai di sana untuk melakukan transaksi jual beli.

Meski Thalhah masih berusia muda dan belum memiliki pengalaman dagang seperti yang mereka miliki, akan tetapi ia memiliki kecerdikan dan insting bisnis yang dapat membuat dirinya mengalahkan mereka semua, khususnya dalam mendapatkan transaksi perdagangan yang paling besar.

Saat Thalhah sedang hilir mudik di pasar yang sesak oleh orang-orang yang berdatangan dari segala penjuru, tiba-tiba ia mengalami sebuah peristiwa yang tidak hanya merubah jalan hidupnya saja, akan tetapi merupakan sebuah berita gembira yang telah merubah catatan sejarah seluruhnya.

Kita akan mempersilakan Thalhah bin Ubaidilah untuk menceritakan kepada kita kisahnya yang berkesan ini.

***

Thalhah bercerita:

Saat kami sedang berada di pasar Bushra, tiba-tiba ada seorang Rahib berteriak menyeru manusia, “Wahai semua pedagang! Tanyakanlah kepada orang yang datang pada musim dagang ini, adakah di antara mereka salah seorang penduduk Tanah Haram (Makkah)?”

Saat itu aku berada di dekatnya. Maka aku segera menanggapi dan aku berkata, “Benar, aku berasal dari penduduk Tanah Haram.”

Ia bertanya, “Apakah telah muncul di negeri kalian seorang yang bernama Ahmad?” Aku bertanya, “Siapakah Ahmad itu?!” Ia menjawab, “Putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Inilah bulan di mana ia akan muncul dan ia adalah Nabi terakhir. Ia akan muncul di negeri kalian yaitu Haram, kemudian ia akan berhijrah ke sebuah negeri yang memiliki bebatuan berwarna hitam, banyak kurma, garam dan air yang berlimpah. Janganlah sampai engkau kedahuluan, wahai Pemuda!”

Thalhah berkata:

Ucapannya begitu berkesan di hatiku. Aku segera menghampiri untaku, dan aku letakkan semua perlengkapannya. Aku segera meninggalkan kafilah yang bersamaku, dan aku segera berangkat menuju Makkah.

Begitu aku tiba di Makkah, aku bertanya kepada keluargaku, “Apakah ada suatu kejadian setelah kepergian kami di Makkah ini?”

Mereka menjawab, “Benar, Muhammad bin Abdullah mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi! Ibnu Abi Quhafah (maksudnya adalah Abu Bakar) telah menjadi pengikutnya.”

Thalhah berkata:

Aku mengenal Abu Bakar sebagai orang yang pemurah, penyayang, sopan terhadap orang lain dari kaumnya…

Ia juga seorang pedagang yang berbudi dan istiqamah. Kami menyukainya dan senang bergaul dengannya, karena ia memiliki banyak informasi tentang Bangsa Quraisy dan ia hafal benar tentang urusan nasab Quraisy. Aku pun berangkat menemuinya dan bertanya kepadanya, “Apakah benar apa yang dikatakan orang bahwa Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Nabi, dan engkau menjadi pengikutnya?” Ia menjawab, “Benar.” Kemudian ia mengisahkan kepadaku ceritanya dan ia mengajakku untuk masuk Islam bersamanya. Aku juga memberitahukan kepadanya tentang cerita rahib, lalu ia terkejut dan berkata, “Marilah ikut denganku untuk menemui Muhammad agar engkau dapat menceritakan hal ini kepadanya, dan juga agar engkau dapat mendengarkan langsung apa yang ia sabdakan. Dan semoga engkau akan masuk ke dalam agama Allah.”

Thalhah berkata:

Aku pun berangkat bersama Abu Bakar untuk menemui Muhammad dan beliau menawarkan agar aku masuk Islam. Ia juga membacakan kepadaku beberapa ayat Alquran. Beliau memberikan kabar kepadaku akan kebaikan dunia dan akhirat.

Rupanya Allah SWT berkenan melapangkan dadaku untuk menerima Islam. Aku pun menceritakan kepadanya kisah Rahib Bushra. Maka terlihatlah rona keceriaan di wajah beliau.

Kemudian aku menyatakan keislamanku di hadapan beliau bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Mulai saat itu aku menjadi orang keempat yang masuk Islam karena ajakan Abu Bakar.

***

Berita keislaman pemuda ini bagaikan petir menyambar yang memekakkan telinga keluarga dan kerabatnya.

Salah seorang keluarga yang merasa paling sedih akan keislamannya adalah ibunya. Ibunya berharap kepada kaumnya agar dapat memalingkan Thalhah dari budi pekerti baik yang diajarkan Islam.

***

Kaumnya segera menemui Thalhah agar ia mau kembali kepada agamanya. Namun kaumnya mendapati diri Thalhah yang tegar dan tidak pernah berubah.

Begitu mereka merasa lelah untuk membujuknya, mereka melakukan penyiksaan kepada dirinya.

Mas’ud bin Kharasy bercerita:

Saat aku sedang melakukan sa’i antara Safa dan Marwa, aku melihat ada sekelompok orang yang sedang menggiring seorang pemuda di mana kedua tangannya diikatkan ke leher. Mereka semua berlari-lari kecil di belakang pemuda tadi. Mereka mendorong punggungnya, dan memukuli kepalanya. Di belakang pemuda tadi terdapat seorang wanita tua yang terus menerus mencaci dan berteriak kepadanya.

Aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi atas pemuda itu?”

Mereka menjawab, “Dia adalah Thalhah bin Ubaidilah. Dia telah keluar dari agamanya dan menjadi pengikut seorang keturunan Bani Hasyim!”

Aku bertanya lagi, “Lalu siapa wanita tua yang berada di belakangnya?” Mereka menjawab, “Dia adalah Sa’bah binti al-Hadhrami, ibu pemuda tersebut.”

Kemudian Naufal bin Khuwailid yang dikenal dengan Asad Quraisy (Singa Quraisy) menghampiri Thalhah bin Ubaidilah lalu ia mengikat Thalhah dengan seutas tambang. Naufal juga mengikat tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Keduanya dibawa oleh Naufal untuk digiring dan diserahkan kepada para orang-orang jahil Makkah agar supaya keduanya disiksa seberat-beratnya. Karena itulah Thalhah bin Ubaidilah dan Abu Bakar ash-Shiddiq dipanggil sebagai Al-Qarinain (Dua orang yang digiring).

***

Hari terus berganti, banyak kejadian yang telah berlalu. Sementara Thalhah bin Ubaidilah semakin dewasa hari demi hari. Perjuangannya di jalan Allah dan Rasul-Nya semakin besar dan agung. Baktinya kepada Islam dan kaum Muslimin semakin berkembang. Sehingga kaum Muslimin memanggilnya dengan panggilan Asy-Syahid al Hayy (seorang syahid yang hidup). Rasulullah SAW sendiri memanggil dirinya dengan sebutan Thalhah al-Khair (Thalhah yang baik), Thalhah al-Juud (Thalhah yang penderma), dan Thalhah al-Fayyadh (Thalhah yang pemurah). Masing-masing dari panggilan ini memiliki kisahnya sendiri yang tidak kalah menarik.

***

Kisah namanya yang disebut sebagai Asy-Syahid al Hayy (seorang syahid yang hidup) bermula pada Perang Uhud saat kaum Muslimin berpencar dari barisan dan meninggalkan Rasulullah SAW. Tidak ada orang yang melindungi beliau selain 11 orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidilah dari kaum Muhajirin.

Saat itu Nabi SAW sedang menaiki sebuah gunung bersama beberapa sahabatnya, lalu beberapa orang dari kaum musyrikin menyusul beliau dan berniat membunuhnya. Rasulullah bertanya, “Siapa yang mampu memukul mundur mereka semua, maka ia akan menjadi temanku di surga?” Thalhah berkata, “Aku mampu, ya Rasulullah!”

Rasulullah berkata, “Tetaplah di tempatmu!” Kemudian seorang pria dari Anshar berkata, “Aku mampu, ya Rasulullah!” Lalu Rasul menjawab, “Baik. Engkau saja yang melakukannya!”

Orang Anshar itu pun melawan para musyrikin sehingga ia mati syahid. Kemudian Rasulullah masih terus menaiki gunung tersebut bersama beberapa sahabatnya, dan kaum musyrikin pun terus mengejar beliau.

Rasulullah bertanya lagi, “Adakah seorang pria yang mampu menghadapi mereka?”

Thalhah menjawab, “Aku mampu, ya Rasulullah!” Lalu Rasulullah berkata, “Tidak, tetaplah di tempatmu!”

Kemudian seorang pria lain dari Anshar berkata, “Aku mampu melakukannya, ya Rasulullah!” Namun Rasulullah selalu mencegahnya dan beliau mengizinkan orang Anshar untuk menghadapi mereka, sehingga mereka semua mati sebagai syahid.

Tidak ada yang tersisa menemani Rasulullah saat itu selain Thalhah, sedangkan kaum musyrikin terus mengejar. Maka pada saat itulah Rasulullah berkata kepadanya, “Baiklah, saat ini engkau boleh menghadang mereka!”

Pada saat itu gigi geraham Rasulullah SAW telah tanggal. Dahi serta bibir beliau terluka. Darah mengalir dari wajahnya dan beliau sudah merasa lelah. Thalhah langsung menyerang kaum musyrikin yang mengejar Rasulullah sehingga ia mampu menghadang mereka. Kemudian ia kembali lagi menemui Rasulullah sehingga ia dan beliau naik sedikit ke arah puncak gunung, lalu menempatkan beliau di tanah. Thalhah kembali lagi menghadang kaum musyrikin. Ia terus saja melakukan hal itu sehingga dapat mencegah kaum musyrikin agar tidak mengejar Rasulullah SAW.

Abu Bakar berkata:

Pada saat itu aku dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berada jauh dari Rasulullah SAW. Begitu kami berjumpa dan hendak mengobati beliau, beliau berkata, “Tinggalkan aku dan bantulah sahabat kalian (maksudnya adalah Thalhah)!”

Ternyata kami menemui Thalhah sudah bersimbah darah. Di tubuhnya tidak kurang dari 70 luka pedang, tusukan tombak dan anak panah. Ia sudah kehilangan telapak tangannya dan telah terjatuh pada sebuah lubang yang tertutup.

Setelah itu Rasulullah SAW berkata, “Siapa yang ingin melihat seorang manusia yang berjalan di muka bumi dan ia telah meninggal, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidilah!”

Abu Bakar ash-Shiddiq RA jika teringat peristiwa Uhud, maka ia akan mengatakan, “Hari itu semuanya adalah milik Thalhah.”

***

Demikian kisahnya mengapa Thalhah dipanggil dengan Asy-Syahid al-Hayy, sedangkan mengapa ia dipanggil dengan Thalhah al-Khair dan Thalhah al-Juud, maka ada 101 kisah yang dapat menceritakannya.

Salah satunya adalah bahwa Thalhah adalah seorang pedagang yang memiliki perdagangan yang besar dan melimpah. Suatu saat ia berhasil membawa harta dari Hadramaut yang mencapai 700 ribu dirham. Pada malam harinya ia merasa takut dan khawatir.

Istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq mendatanginya dan bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Abu Muhammad (Nama panggilan Thalhah)?! Adakah di antara kami yang telah berbuat kesalahan terhadapmu?!”

Ia menjawab, “Tidak, istri seorang suami Muslim terbaik adalah engkau! Akan tetapi sejak semalam aku berpikir dan bertanya, “Apakah sangkaan Muslim kepada Tuhannya jika ia tertidur dengan harta sejumlah ini berada di rumahnya?!”

Istrinya bertanya, “Apa yang membuatmu gundah akan harta tersebut?! Di mana dirimu saat banyak orang yang membutuhkan di kalangan kaum dari kerabatmu?! Esok pagi, bagikanlah harta tersebut kepada mereka!”

Thalhah berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Engkau adalah seorang wanita yang diberi petunjuk, putri dari orang yang telah diberi petunjuk (Abu Bakar ash-Shiddiq).”

Keesokan harinya, ia menempatkan harta tersebut di kantung-kantung dan piring besar. Ia membagikan harta tersebut kepada para fakir dari kaum Muhajirin dan Anshar.

***

Diriwayatkan juga bahwa ada seorang pria yang datang kepada Thalhah bin Ubaidilah yang meminta pertolongannya, kemudian pria tadi menyebutkan bahwa mereka berdua masih ada hubungan kerabat. Maka Thalhah langsung berkata, “Rupanya orang ini adalah familiku, dan tidak ada seorang pun yang memberitahukan kepadaku sebelumnya. Dan aku memiliki sepetak tanah yang akan dibayar oleh Utsman bin Affan seharga 300 ribu, dan aku akan memberikan uangnya kepadamu.

Pria tersebut berkata, “Aku lebih memilih uangnya saja.”

Thalhah pun memberikan uang tersebut kepadanya!

***

Selamat kepada Thalhah al-Khair dan Thalhah al-Juud dengan julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Semoga Allah SWT meridhainya dan menerangi kuburnya.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s