Fairuz ad-Dailami

“Fairuz adalah seorang yang diberkahi dari keluarga yang diberkahi.” –Muhammad Rasulullah

Begitu Rasulullah SAW mengeluhkan sakitnya setelah ia menunaikan Haji Wada dan berita tentang sakit yang beliau derita telah menyebar ke seantero Jazirah Arab, maka Al-Aswad al-Ansi yang berada di Yaman mulai keluar dari Islam. Langkahnya juga diikuti oleh Musailamah al-Kadzdzab yang ada di Yamamah dan Thulaihah al-Asadi yang berada di Negeri Asad. Ketiga orang tadi mengaku bahwa mereka adalah para Nabi yang diutus masing-masing kepada kaumnya, sebagaimana Muhammad bin Abdullah diutus kepada kaum Quraisy.

***

Al-Aswad al-Ansi adalah seorang dukun yang selalu mengenakan sarung tangan, berkulit hitam, senantiasa berbuat jahat, memiliki tenaga yang kuat dan badan yang besar. Lebih dari itu, ia adalah orang yang amat pandai bersilat lidah. Seorang yang cerdas serta mampu membingungkan akal manusia dengan kebohongannya. Ia juga mampu memperdaya kalangan tertentu dengan harta, kedudukan dan jabatan.

Ia tidak pernah berjumpa langsung dengan manusia kecuali dengan menggunakan topeng demi menjaga penyamaran diri dan kewibawaannya.

***

Akan tetapi pada saat itu keturunan Al-Abna memiliki pengaruh di Yaman. Yang menjadi pemuka keturunan Al-Abna tadi adalah Fairuz ad-Dailami, salah seorang sahabat Rasulullah SAW.

Al-Abna adalah sebuah nama yang mereka sematkan kepada sebuah kelompok manusia di mana para ayah mereka adalah orang Persia yang mengungsikan diri ke Yaman, dan ibu mereka berasal dari Bangsa Arab.

Pemimpin mereka bernama Badzan yang pada saat Islam muncul, ia adalah seorang Raja Yaman dari pihak Kisra, pemimpin Persia. Begitu ia mengetahui kebenaran dan keagungan dakwah Rasulullah SAW, maka Badzan meninggalkan ketaatannya kepada Kisra dan masuk ke dalam agama Allah bersama seluruh kaumnya. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya untuk meneruskan kegiatannya sebagai Raja Yaman. Ia terus menetap di Yaman sehingga ia wafat sesaat sebelum munculnya Al-Aswad al-Ansi.

***

Yang pertama menjadi pengikut Al-Aswad al-Ansi adalah kaumnya sendiri, yaitu Bani Madzhij. Maka Aswad berangkat bersama kaumnya ke San’a lalu membunuh Gubernur San’a yang bernama Syahra bin Badzan. Ia pun menikahi istri Syahra yang bernama Adzad.

Kemudian ia terus berangkat dari San’a ke beberapa wilayah lain. Semua wilayah dengan begitu cepatnya tunduk di bawah kekuasaan Al-Aswad sehingga semua negeri yang terletak antara Hadramaut hingga Thaif tunduk kepadanya, dan juga negeri-negeri yang terdapat antara Bahrain dan Al-Ahsan hingga Adan.

***

Yang membuat Al-Aswad al-Ansi dapat menipu semua manusia tadi dan membuat mereka takluk kepadanya adalah kelicikan yang tiada batas. Ia mengaku di hadapan para pengikutnya bahwa ia mempunyai seorang malaikat yang terus membawakan wahyu kepadanya untuk memberitahukan hal-hal ghaib.

Demi mewujudkan kebenaran pengakuannya, dia mengirimkan beberapa orang mata-mata ke seluruh penjuru. Para mata-mata tadi ditugaskan untuk memberitahukan kepadanya informasi dan rahasia tentang semua manusia. Para mata-mata tadi juga diminta untuk mencaritahu akan kesulitan hidup manusia seta angan dan cita-cita yag mereka pendam, lalu mereka diperintahkan untuk menyampaikan semua informasi tersebut kepadanya secara diam-diam.

Setiap ada orang yang hendak menyampaikan hajatnya, Al-Aswad sudah megetahuinya terlebih dahulu. Bila ada orang yang endak memberitahukan kesulitannya, Al-Aswad sudah lebih dahulu menceritakannya. Ia mampu memberitahukan hal-hal aneh dan mengagumkan yang dapat membuat orang bingung keheranan. Itu semua berlangsung, sehingga ia semakin kuat dan dakwahnya terus merambat bagaikan api yang menyulut dedaunan kering.

***

Begitu Nabi SAW mendengar berita kemurtadan Al-Aswad al-Ansi dan penaklukan yang ia lakukan atas Negeri Yaman, maka Nabi SAW memberangkatkan sekitar 10 orang sahabatnya dengan membawa surat untuk disampaikan kepada orang-orang yang diharapkan mampu mengemban kebaikan dari para orang-orang Yaman yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Rasulullah menyeru mereka untuk menghadapi fitnah buta terhadap keimanan ini. Dan Rasulullah juga meminta mereka untuk segera menuntaskan Al-Aswad al-Ansi dengan cara apa pun juga.

Tidak ada orang yang menerima surat Rasulullah kecuali mereka segera mengerjakan perintah beliau. Salah seorang yang paling segera menyambut perintah Rasulullah itu adalah tokoh kisah ini yang bernama Fairuz ad-Dailami dan beberapa orang pendukungnya dari keturunan Al-Abna.

Kita akan mempersilakan Fairuz untuk menyampaikan kisahnya yang amat menarik. Fairuz berkata:

Aku dan beberapa orang dari Al-Abna tidak pernah merasa ragu sedikit pun akan agama Allah, dan tidak pernah terbersit di hati salah seorang di antara kami untuk memberikan pembenaran terhadap musuh Allah. Kami selalu menanti saat yang tepat untuk mengalahkan musuh Allah ini dengan cara apa pun.

Begitu kami dan beberapa orang yang terdahulu masuk Islam menerima surat dari Rasulullah SAW, maka kami saling mendukung dan masing-masing melakukan tugasnya.

***

Al-Aswad al-Ansi sudah kerasukan rasa sombong dan takabbur karena telah merasa sukses. Maka ia merasa angkuh di hadapan pasukannya yang bernama Qais bin Abdi Yaguts. Perlakuan Al-Aswad kepada Qais telah berubah sehingga Qais merasa tidak aman dari kejahatan Al-Aswad.

Aku pun dan sepupuku yang bernama Dadzawaih mendatangi Qais. Kami menyampaikan surat Rasulullah kepadanya, lalu kami mengajaknya untuk menumpas Al-Aswad sebelum ia menumpas kita.

Qais menerima ajakan kami dengan lapang dada. Ia menceritakan semua rahasia Al-Aswad kepada kami. Ia menganggap bahwa kami adalah utusan langit yang turun kepadanya. Maka kami bertiga berjanji untuk menghadapi si murtad pendusta ini dari dalam, sebagaimana para rekan-rekan kami yang lain yang akan menghadapinya dari luar.

Rencana kami semakin mantap saat dengan keikutsertaan sepupuku yang bernama Adzad yang diperistri oleh Al-Aswad setelah suaminya Syahra bin Badzan terbunuh.

***

Aku berangkat ke istana Al-Aswad dan aku bertemu dengan sepupuku yang bernama Adzad lalu aku berkata kepadanya, “Wahai sepupuku, engkau telah mengetahui keburukan dan kejahatan yang telah dilakukan oleh orang ini. Ia telah membunuh suamimu, memperkosa wanita dari kaummu, mencelakakan banyak kaum pria dan merebut kekuasaan dari mereka.

Dan inilah surat Rasulullah yang ditujukan kepada kita secara khusus dan kepada penduduk Yaman secara umum agar kita dapat menuntaskan fitnah yang merebak ini.

Apakah engkau akan menolong kami untuk melakukannya?!”

Adzad bertanya, “Apa yang harus aku lakukan untuk menolong kalian?!” Aku menjawab, “Engkau dapat menolong kami untuk mengeluarkannya!” Ia berkata, “Bahkan, aku dapat menolong kalian untuk membunuhnya.” Aku menjawab, “Demi Allah, aku tidak menginginkan hal yang lebih dari itu. Akan tetapi aku khawatir untuk memintamu melakukan pembunuhan terhadap dirinya.”

Ia langsung berseru, “Demi Zat yang telah mengutus Muhammad dengan membawa kebaikan sebagai seorang Rasul yang menyampaikan kabar gembira dan peringatan, aku tidak pernah ragu terhadap agamaku sesaat pun. Allah SWT tidak menciptakan seorang manusia yang lebih aku benci daripada ‘setan’ ini.

Tidak aku ketahui apapun tentang dirinya selain bahwa ia adalah orang yang durjana, pendosa, tidak memimpin dengan baik, dan tidak berhenti berbuat jahat!”

Aku bertanya, “Bagaimana kami dapat membunuhnya?!” Ia menjawab, “Ia adalah orang yang selalu membuat perlindungan bagi dirinya. Tidak ada tempat di istana ini yang tidak dikelilingi oleh para penjaga kecuali kamar yang tersembunyi ini. Muka kamar ini akan terlihat di tempat ini (ia menyebutkan sebuah lokasi). Jika sudah malam, datanglah ke kamar tersebut di tengah kegelapan. Di dalamnya kalian akan mendapati senjata dan lentera. Kalian akan menemuiku di sana untuk menanti kedatangan kalian. Kemudian kalian dapat menyusup ke dalam ruangannya dan kalian dapat membunuhnya.”

Aku berkata, “Akan tetapi untuk membuka kamar seperti yang terdapat dalam istana ini bukanlah perkara yang mudah. Bisa jadi ada orang yang mendapati kami kemudian berteriak memberitahu kepada para penjaga… dan itu akan membawa akibat yang buruk bagi diri kami.”

Ia berkata, “Engkau tidak keliru, dan aku punya sebuah pendapat untuk kalian.” Aku bertanya, “Apa itu?!” Ia berkata, “Suruhlah salah seorang yang engkau percaya untuk menemuiku dengan menyaru sebagai seorang tukang. Nantinya aku akan menyuruh dia untuk membuka kamar tersebut dari dalam sehingga jendela kamar tersebut dapat dibuka dengan mudah setelah itu. Kemudian pada malam harinya, kalian akan meneruskan pencongkelan jendela tersebut pada malam hari dengan amat mudah.”

Aku berkata, “Bagus sekali pendapatmu.”

Kemudian aku pun kembali dan memberitahu kepada kedua sahabatku apa yan baru saja telah kami sepakati, dan mereka berdua turut menyepakatinya. Dan kami pun sejak saat itu mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.

Kemudian rencana tersebut kami ceritakan kepada rahasia kepada orang Mukmin pendukung kami, dan kami meminta mereka untuk siaga. Dan kami merencanakan bersama mereka untuk melakukan aksi pada waktu fajar keesokan harinya.

Begitu malam dan waktu yang telah ditentukan telah tiba, aku pun berangkat bersama kedua sahabatku ke tempat penyusupan. Kami berhasil menemukan jendela tersebut dan kami pun berhasil masuk ke dalam kamar yang telah ditentukan. Kami juga menemukan senjata dan lentera yang dijanjikan. Kami pun terus menuju istana Al-Aswa musuh Allah. Ternyata sepupuku sudah berdiri menunggu di depan gerbang istana. Ia memberikan isyarat kepadaku dan aku pun memasuki kamar yang ia tunjukkan. Begitu kami memasukinya, ternyata Al-Aswad sedang tertidur dengan mendengkur.

Lalu aku pun melayangkan pedang tepat di atas lehernya. Maka ia terhuyung bagaikan kerbau dan unta yang disembelih.

Begitu para penjaga mendengar jeritannya, mereka segera mendatangi kamar Al-Aswad dan bertanya, “Ada apa gerangan?!” Lalu sepupuku Adzad berkata, “Kembalilah kalian dengan tenang! Nabi Allah (Al-Aswad yang mengaku Nabi) sedang menerima wahyu.” Maka para penjaga itu pun kembali ke tempat mereka.

***

Kami terus berada di istana Al-Aswad sehingga terbitnya fajar. Kemudian aku berdiri di salah satu temboknya dengan berseru, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Aku terus mengumandangkan adzan sehingga aku sampai pada bacaan, “Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wa anna Muhammadar Rasulullaah. Wa asyhadu annal Aswad al-Ansi kadzdzaab. (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa Al-Aswad al-Ansi adalah pendusta.”

Dan ini adalah kalimat rahasia.

Maka berdatanganlah kaum Muslimin ke istana dari segala arah. Para penjaga menjadi ketakutan begitu mereka mendengarkan adzan. Dan bertemulah kedua belah pihak untuk saling mengalahkan.

Kemudian aku melemparkan kepala Al-Aswad ke arah mereka dari atas tembok istana.

Begitu para pendukung Al-Aswad melihat kepalanya yang telah terpotong, mereka langsung melemah dan kehilangan semangat. Begitu pasukan Muslimin melihat hal ini, mereka pun langsung bertakbir dan menyerang musuh mereka. Mereka berhasil mengalahkan musuh sebelum terbitnya matahari.

***

Begitu siang menjelang, kami mengirimkan sebuah surat kepada Rasulullah SAW yang memberitaukan beliau akan berita terbunuhnya musuh Allah. Begitu utusan yang bertugas membawa kabar gembira tersebut tiba di Madinah, mereka mendapati bahwa Rasulullah SAW telah wafat tadi malam.

Akan tetapi tidak lama kemudian mereka mengetahui bahwa wahyu Allah telah memberitahukan beliau akan terbunuhnya Al-Aswad al-Ansi pada malam ketika Al-Aswad terbunuh.

Maka Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya, “Al-Aswad al-Ansi telah terbunuh semalam. Ia telah terbunuh oleh seorang yang diberkahi dan dari keluarga yang diberkahi.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Siapakah orangnya, ya Rasulullah?!” Beliau menjawab, “Dialah Fairuz. Beruntunglah Fairuz!”

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s