Abdullah bin Salam

“Siapa yang ingin melihat seorang ahli surga, silahkan melihat kepada Abdullah bin Salam.”

Hushain bin Salam adalah seorang kepala pendeta Yahudi terkemuka di Yastrib. Penduduk Madinah meski menganut agama yang berbeda, namun mereka memuliakan dan menghormati Hushain. Sebab ia dikenal sebagai orang yang bertakwa dan shaleh yang senantiasa bersikap istiqamah dan jujur.

***

Hushain menjalani hidupnya dengan begitu tenang dan damai, kehidupan yang ia jalani amat berarti dan bermanfaat.

Ia membagi waktu hidupnya dalam tiga kegiatan: sebagian ia gunakan di gereja untuk memberikan nasehat kepada umat sekaligus beribadah. Sebagian lagi ia gunakan di kebun untuk merawat pohon-pohon kurma, dan sebagian lagi ia gunakan untuk mempelajari ilmu agama yang ia dapatkan lewat kitab Taurat.

***

Setiap kali ia membaca Taurat, ia tercenung memikirkan berita yang menyatakan akan munculnya seorang Nabi di Makkah yang akan melengkapi risalah para Nabi terdahulu.

Lalu Hushain mencari-cari tanda dan ciri Nabi yang dinanti-nanti ini. Dan ia semakin gembira saat ia mengetahui bahwa Nabi tersebut akan berhijrah dari kampungnya menuju Yastrib tempat tinggalnya yang baru.

Setiap kali ia membaca berita ini atau saat ia terbersit untuk mengingat Nabi ini, ia berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai umur panjang sehingga ia dapat menyaksikan kemunculan Nabi yang ditunggu-tunggu ini dengan hati yang gembira dan ia akan menjadi orang pertama yang akan beriman kepadanya.

***

Allah SWT pun mengabulkan doa Hushain bin Salam sehingga Dia memperpanjang usia Hushain hingga waktu di mana Nabi yang membawa petunjuk dan kebenaran tersebut diutus.

Ia juga diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk dapat berjumpa dan bersahabat dengan Nabi tersebut, dan beriman kepada kebenaran yang diturunkan kepada beliau.

Kita akan memberikan kesempatan kepada Hushain untuk menceritakan keislamannya, sebab ia lebih pantas dan lebih mengetahui akan hal ini.

Hushain bin Salam berkisah:

Begitu aku mendengar berita kemunculan Rasululllah SAW, aku mencoba mencari tahu tentang nama, nasab, sifat, waktu dan tempat beliau. Aku mencoba mencocokkan semua data tersebut dengan apa yang telah tertuliskan dalam kitab suci kami sehingga aku merasa yakin akan kenabian beliau dan kebenaran dakwahnya. Dan aku mencoba untuk merahasiakan hal ini dari kaum Yahudi dan aku berusaha untuk tidak berbicara tentang beliau.

Hingga pada hari Rasulullah SAW meninggalkan Makkah dan menuju Madinah.

Begitu beliau tiba di Yastrib dan singgah di Quba’, salah seorang datang kepada kami untuk mengumumkan berita kedatangan beliau. Saat itu aku sedang berada di atas pohon kurma untuk mengerjakan tugasku dan bibiku yang bernama Khalidah binti al-Harits sedang duduk di bawah pohon. Begitu aku mendengar berita tersebut, maka aku langsung berkata, “Allahu Akbar… Allahu Akbar!”

Maka bibiku berkata saat ia mendengar aku bertakbir, “Allah akan menolakmu! Demi Allah, jika engkau mendengar berita bahwa Musa bin Imran telah datang, pasti engkau tidak akan melakukan hal yang lebih dari itu.”

Aku berkata kepadanya, “Wahai Bibi. Demi Allah, ia adalah saudara Musa bin Imran dan memiliki agama yang sama dengannya. Ia telah diutus sebagai Nabi, sama seperti Musa.”

Lalu bibiku terdiam sesaat dan ia pun bertanya, “Apakah dialah seorang Nabi yang sering kali diceritakan bahwa dia akan diutus untuk membenarkan Nabi-nabi yang diutus sebelumnya dan sekaligus menjadi pamungkas risalah Tuhannya?!”

Aku menjawab, “Benar!”

Ia berkata, “Baiklah kalau begitu!”

Sesegera mungkin aku pergi untuk menjumpai Rasulullah SAW. Aku dapati manusia sedang berdesakan di depan pintu rumah tempat beliau singgah. Lalu aku menyelinap di antara kerumunan orang sehingga aku begitu dekat dengan beliau.

Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah sabdanya, “Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan, shalatlah pada malam hari di kala manusia tertidur, maka kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat !”

Aku begitu memperhatikan beliau dengan seksama, dan aku semakin yakin bahwa wajah beliau bukanlah tampang seorang pendusta. Lalu aku mendekat ke arahnya dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Kemudian beliau menoleh ke arahku dan bertanya, “Siapa namamu?” Aku menjawab, “Al-Hushain bin Salam!” Lalu beliau berkata, “Bukan, tapi namamu sekarang adalah Abdullah bin Salam.” Aku pun berkata, “Benar, Abdullah bin Salam…. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak ingin mendapatkan nama lain setelah hari ini.”

Aku segera pamit kepada Rasulullah untuk kembali ke rumah untuk mengajak istri, anak-anakku dan seluruh keluargaku masuk Islam. Mereka semuanya masuk ke dalam Islam, termasuk bibiku yang bernama Khalidah padahal saat itu ia sudah amat tua. Kemudian aku berkata kepada mereka, “Rahasiakanlah keislamanku dan kalian semua kepada kaum Yahudi sehingga aku izinkan!” Mereka menjawab, “Baiklah!”

Lalu aku kembali menemui Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, kaum Yahudi adalah sebuah kaum yang suka berbohong dan berdusta. Aku ingin sekali mengajak para pembesar mereka untuk menghadapmu, kemudian engkau menyembunyikan aku di salah satu kamar rumahmu, lalu tanyakanlah kepada mereka kedudukanku di sisi mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Lalu ajaklah mereka untuk memeluk Islam! Jika mereka mengetahui bahwa aku telah masuk Islam, pasti mereka akan mencercaku dan mereka akan memfitnahku dengan kebohongan.”

Kemudian Rasulullah SAW memasukkan aku ke sebuah kamar di rumahnya, lalu beliau mengundang para pembesar Yahudi untuk bertemu dengan beliau dan beliau pun meminta mereka untuk masuk Islam dan beriman. Rasul pun tak lupa mengingatkan mereka tentang kabar kedatangan beliau dalam kitab-kitab suci Yahudi.

Maka serta merta para pembesar Yahudi tadi berselisih pendapat dengan Rasulullah dan mereka menolak kebenaran yang beliau bawa. Aku mendengarkan semua kejadian itu. Begitu Rasulullah merasa putus asa untuk mengajak mereka beriman, lalu beliau bertanya kepada mereka, “Apa kedudukan Hushain bin Salam di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Ia adalah pemimpin kami, anak pemimpin kami. Ia juga orang berilmu yang kami miliki dan anak dari orang berilmu yang kami miliki.”

Rasulullah bertanya, “ika ia telah masuk Islam, apakah kalian akan masuk Islam juga?”

Mereka menjawab, “Allah akan melarangnya! Tidak mungkin ia akan masuk Islam. Allah akan melindunginya agar ia tidak masuk Islam.”

Kemudian aku keluar untuk menemui mereka, dan aku berkata, “Wahai Bangsa Yahudi, bertakwalah kalian kepada Allah dan terimalah apa yang dibawa Muhammad kepada kalian! Demi Allah, sungguh kalian sudah mengetahui bahwa dia adalah Rasulullah. Engkau sudah mendapati bahwa nama dan sifatnya telah tertulis di Taurat. Aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah. Aku beriman, percaya dan mengenal beliau.”

Mereka langsung berkata, “Engkau berdusta! Demi Allah, engkau adalah orang jahat. Engkau adalah orang bodoh dan anak orang bodoh!” Mereka tidak berhenti untuk terus mencercaku.

Aku pun berkata kepada Rasulullah SAW, “Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa Yahudi adalah kaum yang berdusta dan batil. Mereka adalah orang yang suka berkhianat dan berbuat dosa?”

***

Abdullah bin Salam menerima Islam bagai orang yang kehausan mendapatkan minuman segar. Ia begitu cinta kepada Alquran. Lisannya tidak pernah lelah untuk membaca ayat-ayat Alquran yang jelas. Ia begitu dekat dengan Nabi SAW sehingga ia bagaikan bayangan beliau yang selalu menyertai.

Ia bernazar atas dirinya bahwa ia akan mengerjakan amalan untuk mengejar surga sehingga Rasulullah memberikan kabar gembira kepadanya bahwa ia berhak masuk surga dan kabar ini tersebar ramai di kalangan para sahabat.

Mengenai kabar gembira ini, ada sebuah kisah yang akan disampaikan oleh Qais bin Abbad dan lainnya.

Qais bercerita:

Aku sedang duduk pada sebuah halaqah ilmu (majelis ilmu) di masjid Rasulullah SAW di Madinah. Di dalam halaqah tersebut terdapat seorang tua yang begitu tenang. Kemudian orang tua tersebut menyampaikan sebuah pembicaraan kepada manusia yang hadir dengan begitu indah dan membekas.

Begitu ia bangun dari tempatnya, maka orang-orang berkata, “Siapa yang ingin melihat seorang penghuni surga, maka lihatlah orang ini!”

Aku pun bertanya, “Siapakah dia?”

Mereka menjawab, “Dialah Abdullah bin Salam!”

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku akan mengikutinya!”

Aku pun mulai mengikutinya… kemudian ia pergi sehingga hampir keluar dari kota Madinah. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya… kemudian aku pun meminta izin untuk masuk. Lalu ia mengizinkan aku.

Ia bertanya, “Apa yang engkau butuhkan, wahai Keponakanku?”

Aku berkata kepadanya, “Aku mendengar orang-orang berbicara tentangmu –saat kau keluar dari masjid-,  ‘Siapa yang ingin melihat seorang ahli surga, maka lihatlah orang ini!’ Maka aku pun mengikutimu untuk mengetahui kebenaran berita ini, dan agar aku mengetahui bagaimana orang-orang bisa tahu bahwa engkau adalah ahli surga.”

Ia berkata, “Allah lebih mengetahui tentang ahli surga, wahai Ananda!”

Aku berkata, “Benar, akan tetapi pasti ada sebab yang membuat mereka berkata demikian.”

Ia berkata, “Aku akan menceritakan kepadamu mengenai penyebabnya.”

Aku berkata, “Ceritakanlah! Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Ia berkata, “Saat aku sedang tertidur di suatu malam pada masa Rasulullah, datanglah seseorang kepadaku dan berkata, ‘Bangunlah!’ Aku pun langsung bangun. Kemudian ia menarik tanganku. Lalu aku berada di jalan di sebelah kiri dan aku hendak menyusurinya. Kemudian ia berkata kepadaku, ‘Tidak usah kau jalan di sebelah situ, sebab itu bukan untukmu!’ Lalu aku tersadar bahwa aku sudah berada di sebelah kanan jalan yang begitu terang. Kemudian pria tadi berkata, ‘Susurilah jalan ini!’ Maka aku pun menyusurinya sehingga aku tiba di sebuah taman yang rindang dan amat luas. Taman tersebut begitu hijau dan enak dipandang. Di tengah taman tersebut terdapat tiang yang terbuat dari besi. Akarnya berada di bumi dan ujungnya berada di langit. Di bagian atas tiang tersebut ada sebuah ikatan yang terbuat dari emas.

Lalu pria tadi berkata, ‘Naiklah dan ambillah emas tersebut!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa melakukannya.’

Kemudian ia mengambilkan seorang pembantu untukku yang menolongku untuk naik. Maka aku pun mulai memanjat sehingga aku tiba di ujung tiang tersebut. Maka aku pun mengambil ikatan emas tersebut dengan tanganku. Aku terus bergelantungan di tiang tersebut hingga pagi.

Keesokan paginya aku menghadap Rasulullah SAW dan aku menceritakan mimpiku kepada beliau. Lalu beliau berkata, ‘Jalanan yang engkau lihat dalam mimpi berada di sebelah kirimu, jalanan tersebut adalah jalanan Asyhabusy Syimal (golongan kiri) dari penghuni neraka. Sedangkan jalan yang engkau lihat dalam mimpi berada di kananmu, maka jalan tersebut adalah jalan Ashabul Yamin (golongan kanan) dari ahli surga.

Adapun taman yang rimbun dan rindang itu adalah Islam. Tiang yang berada di tengahnya adalah tiang agama. Sedangkan ikatannya adalah al ‘urwah al-wutsqa (tali yang kuat). Engkau senantiasa akan memegangnya hingga engkau wafat!”

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s