Zaid bin Tsabit al-Anshari

Penerjemah Rasulullah

“Siapa yang lebih menguasai ilmu qafiyah daripada Hasan dan putranya… siapa yang lebih tahu tentang ilmu ma’ani daripada Zaid bin Tsabit…” –Hassan bin Tsabit

Kita kini sedang memasuki tahun ke-2 Hijriyah… Kota Madinah semakin sesak dipenuhi oleh manusia yang bersiap-siap untuk menyambut Perang Badar.

Rasulullah melakukan pemeriksaan akhir pada pasukan pertama yang akan berangkat di bawah komandonya sendiri untuk berjihad di jalan Allah dan menegakkan kalimat-Nya di muka bumi.

Terlihat di sana, ada seorang anak kecil yang belum genap berusia 12 tahun yang nampak memiliki kecerdasan dan kemuliaan diri.

Di tangannya terdapat sebilah pedang yang sama panjangnya dengan tubuh bocah tadi atau lebih panjang dari tubuhnya. Ia mendekat ke arah Rasulullah lalu berkata, “Aku akan menjadi pelindungmu, ya Rasulullah. Izinkanlah aku turut serta bersamamu dan berperang melawan musuh-musuh Allah di bawah panjimu.”

Lalu Rasulullah SAW melihat anak ini dengan perasaan senang dan kagum. Kemudian beliau menepuk pundak anak ini dengan lembut dan penuh perasaan sayang. Beliau menghibur anak ini, kemudian menyuruhnya pulang karena ia masih berusia dini.

***

Pulanglah bocah kecil tadi dengan menyeret pedangnya ke tanah dengan perasaan kesal dan sedih, sebab ia dilarang untuk menemani Rasulullah SAW dalam peperangan yang beliau lakukan.

Di belakang langkahnya juga turut pulang ibunya yang bernama An-Nawar bin Malik, yang juga tidak kalah bersedih dan kesal. Ibunya telah berharap bahwa matanya akan berbinar-binar saat melihat anaknya berjalan bersama rombongan pria dewasa untuk berjihad di bawah komando Rasulullah SAW. Ibunya berharap bahwa bocahnya dapat menempati posisi yang diharapkan yang dapat diisi oleh ayahnya kalau saja ia masih hidup.

***

Saat bocah Anshar ini tidak berhasil mendekatkan diri kepada Rasulullah dalam bidang ini karena usianya yang masih kecil, tapi kecerdasannya –yang tidak berhubungan dengan umur- membuat dirinya dapat berhubungan dengan Nabi SAW.

Bidang itu adalah ilmu pengetahuan dan hafalan.

Lalu bocah tadi menceritakan ide ini kepada ibunya. Maka senang dan gembiralah ibunya, dan ia semangat untuk mewujudkan ide anaknya.

***

An-Nawar menceritakan keinginan anaknya kepada para pria dari kaumnya. Maka beberapa pria tadi berangkat untuk menemui Rasulullah dan berkata kepada beliau, “Ya Nabi Allah, ini adalah seorang dari anak kami yang bernama Zaid bin Tsabit yang mampu menghafal 17 surah dari kitab Allah. Ia membacanya dengan benar persis seperti yang diturunkan kepada hatimu.”

Lebih dari itu, ia adalah anak yang cerdas yang pandai menulis dan membaca. Ia ingin sekali dengan potensi yang ada dapat mendekatkan diri kepadamu dan mendampingimu…. Jika engkau berkenan, silakan dengarkan penuturannya!”

***

Lalu Rasulullah mendengarkan dari bocah Zaid bin Tsabit beberapa ayat Alquran yang ia hafalkan. Rupanya bocah ini mampu membacanya dengan begitu baik, dan pelafalannya pun sempurna. Kalimat Alquran keluar dari kedua bibirnya seperti bintang di langit yang menyala. Bacaannya begitu memberikan ilustrasi akan apa yang sedang ia baca. Setiap tanda waqaf di mana ia berhenti, menandakan bahwa ia amat mengerti akan hal yang dibacanya.

Maka gembiralah hati Rasulullah karena mendapati bahwa bocah ini memiliki potensi yang lebih dari apa yang mereka katakan. Hal yang membuat Rasul lebih gembira adalah karena bocah ini amat pandai menulis.. maka Rasulullah melihat ke arah bocah ini dan bersabda, “Wahai Zaid, pelajarilah untukku tulisan Bangsa Yahudi. Sebab aku tidak mempercayai mereka atas apa yang aku katakan!” Maka Zaid menjawab, “Baik, ya Rasulullah!”

Maka mulailah Zaid mempelajari bahasa Ibrani sehingga ia menguasai bahasa tersebut dalam waktu yang singkat. Kemudian ia menuliskan bahasa tersebut kepada Rasulullah jika ia berkeinginan untuk menulis surat untuk Bangsa Yahudi. Dan Zaid akan membacakan kepada Rasul jika mereka mengirimkan surat kepada beliau. Ia juga mempelajari bahasa Suryani atas perintah Rasul, sebagaimana ia mempelajari bahasa Ibrani.

Maka sejak saat itu pemuda yang bernama Zaid bin Tsabit menjadi penerjemah Rasulullah SAW.

***

Begitu Rasulullah SAW merasa percaya akan kecerdasan dan sifat amanah Zaid, ketelitian dan pemahamannya, maka Rasulullah mempercayakan dia untuk menuliskan risalah langit yang turun ke bumi. Rasulullah menunjuknya sebagai salah seorang pencatat wahyu Allah.

Zaid bin Tsabit menerima langsung ayat-ayat Alquran dari Rasulullah SAW waktu demi waktu, sehingga ia tumbuh dewasa bersama ayat-ayat Alquran. Ia menerima Alquran yang baru saja turun langsung dari mulut Rasulullah yang berkenaan dengan asbabun nuzul tertentu. Hal itu membuat jiwa Zaid semakin terang dengan sinar cahaya Alquran, dan menjadikan akal Zaid bercahaya dengan sinar syariatnya.

Pemuda yang beruntung ini semakin mendalamkan kemampuannya dalam bidang Alquran. Ia menjadi sumber referensi pertama dalam bidang Alquran bagi umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Ia menjadi koordinator pengumpul Kitabullah pada masa Abu Bakar. Ia juga menjadi tokoh yang berhasil menyatukan mushaf-mushaf Alquran pada masa Utsman bin Affan.

Apakah masih ada posisi yang melebihi hal ini yang dicita-citakan?! Apakah ada di atas kemuliaan ini, kemuliaan yang masih dikejar oleh jiwa manusia?!

Salah satu keistimewaan Alquran yang dimiliki oleh Zaid bin Tsabit adalah bahwa Alquran selalu menerangi jalan kebenaran baginya pada beberapa kondisi di mana orang-orang yang pintar pun sering merasa bingung.

Di hari Saqifah, kaum Muslimin bersilang pendapat tentang orang yang tepat untuk menggantikan Rasulullah SAW.

Kaum Muhajirin berkata, “Di kelompok kamilah seharusnya terdapat khalifah Rasulullah, sebab kamilah yang lebih pantas.”

Sebagian orang Anshar berkata, “Malah khilafah tersebut sepantasnya berasal dari kami.”

Ada juga yang mengatakan, “Malah khilafah itu dapat berasal dari kami dan kalian secara bersama-sama. Sebab Rasulullah jika hendak menyuruh seseorang dari kalian untuk mengerjakan sesuatu, beliau pasti menyuruh salah seorang dari kami untuk sama-sama mengerjakannya.”

Hampir saja terjadi fitnah yang amat besar. Padahal Nabi SAW baru dikafankan dan belum dimakamkan.

Di saat itulah, kalimat tegas dan cerdas yang muncul dari petunjuk Alquran amat dibutuhkan sehingga dapat membuat tentang fitnah yang akan bergejolak, dan memberikan cahaya bagi orang-orang bingung yang mencari jalan kebenaran.

Maka meluncurlah kalimat ini dari mulut Zaid bin Tsabit al-Anshari… tatkala ia melihat ke arah kaumnya, lalu berkata, “Wahai, para suku Anshar… Rasulullah SAW berasal dari suku Muhajirin, maka orang yang menjadi khalifah beliau adalah seorang dari suku Muhajirin yang sama seperti beliau… dan kita dulunya adalah Anshar (Penolong) Rasulullah, maka sebaiknya kita tetap menjadi Ansar (Penolong) bagi Khalifah setelahnya dan pembantunya dalam kebenaran.”

Kemudian Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, “Inilah Khilafah kalian… baiatlah dia oleh kalian!”

***

Zaid bin Tsabit dengan keutamaan Alquran dan pemahamannya serta lamanya ia mendampingi Rasulullah telah menjadikan dirinya sebagai menara petunjuk bagi kaum Muslimin. Para Khalifah sering meminta pendapatnya dalam masalah-masalah yang pelik, dan orang-orang Muslimin juga kerap meminta fatwa kepadanya dalam berbagai permasalahan. Mereka seringkali mengadukan masalah-masalah waris kepadanya, karena tidak ada lagi di kalangan Muslimin –saat itu- orang yang lebih tahu dan mengerti akan hukum waris dan lebih cerdas darinya dalam membagikan harta warisan. Umar bin Khattab pernah berkhotbah di hadapan kaum Muslimin pada hari Al-Jabiyah, “Wahai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, hendaknya ia mendatangi Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak menanyakan tentang masalah fiqih, silahkan datang kepada Mu’adz bin Jabal. Siapa yang hendak menanyakan tentang harta, maka datanglah kepadaku. Sebab Allah telah menjadikan aku wali (orang yang mengurus) harta tersebut, dan aku juga yang berhak untuk membagikannya.”

***

Para penuntut ilmu dari kalangan sahabat dan tabi’in mengetahui dengan amat baik kedudukan Zaid bin Tsabit yang hingga membuat mereka memuliakan dirinya karena ilmu yang ia kuasai dalam dadanya.

Seorang yang dikenal dengan lautan ilmu yang bernama Abdullah bin Abbas yang mendapati Zaid bin Tsabit yang hendak menaiki kendaraannya, Abdullah berdiri di hadapan Zaid lalu memegangi hewan kendaraannya, dan ia sendiri yang memegang tali kekang hewan tunggangan tersebut seraya menariknya.

Lalu Zaid bin Tsabit berkata kepadanya, “Tidak usah engkau lakukan itu, wahai sepupu Rasulullah!”

Kemudian Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada para ulama kami!”

Lalu Zaid berkata kepadanya, “Perlihatkan tanganmu kepadaku!”

Maka Ibnu Abbas menjulurkan tangannya ke arah Zaid. Lalu menunduklah Zaid ke arah tangan tersebut, dan ia menciumnya sambil berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada Ahli Bait Nabi kami!”

***

Begitu Zaid bin Tsabit telah kembali ke pangkuan Tuhannya, maka kaum Muslimin menangisi ilmu karena kematiannya yang turut dikuburkan bersama jasadnya. Abu Hurairah berkata, “Hari ini telah meninggal orang yang amat luas ilmunya dalam umat ini. Semoga Allah SWT berkenan menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.

Sang penyair Rasulullah yang bernama Hasan bin Tsabit membuat sebuah syair ratapan atas dirinya yang berbunyi, “Siapa yang lebih menguasai ilmu qafiyah daripada Hasan dan putranya… siapa yang lebih tahu tentang ilmu ma’ani daripada Zaid bin Tsabit?!

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s