Abbad bin Biysrin  

“Tidak ada yang menandingi keutamaan 3 orang dari suku Anshar, mereka adalah Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin al-Hudhair dan Abbad bin Bisyrin.” –Aisyah, Ummul Mukminin

Abbad bin Biysrin adalah sebuah nama yang bersinar dalam sejarah dakwah Muhammad.

Jika engkau mencarinya di antara para hamba-hamba Allah, maka engkau akan mendapati dirinya sebagai orang yang bertakwa, berkepribadian bersih, dan senantiasa bangun di tengah malam membuka berjuz-juz Alquran.

Jika engkau mencarinya di antara para pahlawan, maka engkau akan mendapati dirinya bahwa ia adalah seorang yang gagah berani yang turun di berbagai pertempuran untuk menegakkan kalimat Allah SWT.

Jika engkau mencarinya di antara para wali (gubernur), maka engkau akan mendapatinya bahwa ia adalah seorang yang kuat dan dipercaya untuk mengurus harta kaum Muslimin…. sehingga Aisyah RA berkata tentang dirinya dan dua orang lagi dari sukunya, “Tiga orang dari suku Anshar yang tidak tertandingi oleh seorang pun dalam keutamaan. Semuanya berasal dari Bani Abdul Asyhal: Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin al-Hudhair dan Abbad bin Bisyrin.

Abbad bin Biysrin al-Asyhali saat muncul di penjuru Yastrib sinar petunjuk Muhammad, kala itu ia masih seorang remaja yang masih segar. Dari wajahnya terpancar kesucian dan harga diri. Dari perilakunya terlihat bahwa ia adalah seorang anak yang cerdas, meskipun pada saat itu ia belum genap 25 tahun.

***

Ia telah bergabung dengan sang da’i dari Makkah yang bernama Mus’ab bin Umair, maka segeralah terhubung ikatan iman diantara keduanya. Kedua jiwa mereka disatukan oleh akhlak yang terpuji dan sifat yang mulia.

Ia mendengarkan Mus’ab yang membacakan Alquran dengan suara yang lembut dan tenang serta dengan intonasinya yang berkesan. Maka Abbad begitu cinta dengan kalamullah, dan membiarkan kalam tersebut menembus relung hatinya yang terdalam sebagai tempat bersemayam ayat-ayat Tuhan. Ia menjadikan ayat-ayat Allah tersebut menjadi kesibukannya yang baru yang senantiasa ia ulang-ulang di waktu malam dan siang, pada saat ia bermukim atau sedang melakukan perjalanan. Sehingga ia dikenal di kalangan sahabat sebagai Imam dan sahabat Alquran.

***

Pada suatu malam, Rasulullah SAW sedang melakukan shalat Tahajjud di rumah Aisyah yang menempel dengan dinding masjid. Kemudian beliau mendengar suara Abbad bin Biysrin yang sedang membaca Alquran dengan begitu jernih dan segar seperti saat Jibril membawakannya ke hati beliau. Lalu Rasul bertanya, “Wahai Aisyah, apakah ini suara Abbad bin Biysrin?!” Aisyah menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Lalu Rasul berdoa, “Ya Allah, ampunilah dirinya!”

***

Abbad bin Biysrin mengikuti Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang beliau lakukan. Dalam setiap perang, ia memiliki kisah yang pantas bagi seorang pemegang Alquran….

Salah satunya adalah saat Rasulullah SAW baru kembali dari Perang Dzatu Riqa’, beliau berhenti bersama dengan Muslimin lainnya di sebuah lereng untuk bermalam di sana.

Salah seorang dari pasukan Muslimin telah menawan –di tengah perang- seorang wanita musyrikin tanpa sepengetahuan suaminya. Begitu suaminya pulang –dan tidak menemukan istrinya- ia bersumpah demi Lata dan Uzza untuk menyusul Muhammad dan para sahabatnya, dan tidak akan kembali kecuali setelah membunuh salah seorang dari mereka.

***

Hampir saja pasukan Muslimin mengistirahatkan unta-unta mereka di lereng, lalu Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Siapa yang akan berjaga pada malam ini?”

Maka berdirilah Abbad bin Biysrin dan Ammar bin Yasir yang berkata, “Kami yang akan berjaga, ya Rasulullah!”

Begitu mereka keluar menuju mulut lembah, Abbad bin Biysrin berkata kepada sahabatnya, Ammar bin Yasir, “Pada bagian malam yang manakahh engkau mau tidur, di awal atau akhirnya?” Ammar menjawab, “Aku akan tidur di awalnya.” Lalu berbaringlah Ammar tidak jauh dari Abbad.

***

Malam begitu tenang dan damai. Bintang, pepohonan dan batu-batuan bertasbih dan bertahmid seraya mensucikan Tuhannya. Maka jiwa Abbad bin Biysrin begitu ingin melakukan ibadah dan rindu untuk membaca Alquran.

Saat yang paling disukai dalam membaca Alquran adalah pada saat ia shalat, maka ia menggabungkan kenikmatan shalat dengan kenikmatan membaca Alquran.

Ia menghadap kiblat dan mulai melakukan shalat. Ia mulai membaca surah al-Kahfi dengan suaranya yang merdu.

Tatkala ia sedang menyerap cahaya Ilahi ini, tenggelam dalam berbagai nikmat sinar-Nya, maka datanglah pria yang mencari istrinya dengan langkah yang sangat cepat. Begitu ia melihat Abbad dari kejauhan yang berdiri di mulut lereng, ia mengetahui bahwa Nabi SAW dan para sahabatnya berada di dalam lereng tersebut dan bahwa orang yang berdiri adalah penjaga mereka. Lalu ia menyiapkan busur panahnya, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempatnya, kemudian melepaskannya ke arah Abbad lalu melukainya.

Abbad mencabut anak panah itu dari tubuhnya, lalu ia meneruskan bacaannya dan larut dalam shalat.

Lalu orang tadi melepaskan anak panah yang kedua dan mengenai tubuhnya. Abbad mencabutnya lagi seperti yang ia lakukan sebelumnya. Kemudian pria tadi memanahnya untuk kali yang ketiga. Abbad pun mencabutnya lagi seperti 2 anak panah sebelumnya. Kemudian ia beringsut sehingga mendekat ke arah sahabatnya lalu membangunkannya sambil berkata, “Bangunlah, luka-luka ini telah membuatku payah.”

Begitu pria tadi melihat mereka berdua, ia langsung lari menyelamatkan diri.

***

Maka di sinilah Ammar melihat tubuh Abbad yang berlumuran darah yang mengalir dari 3 luka. Ia bertanya kepada Abbad, “Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat panah pertama mengenaimu?!” Abbad menjawab, “Aku sedang membaca surah yang aku tidak ingin memutusnya hingga selesai. Demi Allah, kalau aku tidak khawatir dapat membuat benteng Rasulullah menjadi tak terjaga sebagaimana yang beliau perintahkan, maka jiwaku yang terputus lebih aku sukai dari pada memutus bacaan tersebut.”

***

Ketika peperangan melawan kaum murtadin terjadi pada masa pemerintahan Abu Bakar RA, Khalifah Abu Bakar menyiapkan sebuah pasukan yang berjumlah amat banyak untuk menumpas perlawanan yang dipimpin oleh Musailamah al-Kadzdzab dan para orang murtad yang menjadi pendukungnya serta untuk mengembalikan mereka lagi kepada pangkuan Islam. Abbad bin Biysrin termasuk salah seorang prajurit yang berangkat dalam misi ini.

Abbad melihat –di tengah peperangan di mana kaum Muslimin belum dapat membukukan kemenangan- adanya kaum Anshar yang mengandalkan kaum Muhajirin, dan kaum Muhajirin juga mengandalkan kaum Anshar yang membuat hati Abbad menjadi penuh kejengkelan. Ia juga mendengar mereka saling ledek sehingga telinganya terasa dicucuk duri. Maka Abbad merasa yakin bahwa kaum Muslimin tidak akan berhasil dalam perang ini kecuali setiap kelompok berpisah dari lainnya untuk mengemban tugas masing-masing… dan agar para mujahidin yang teguh dan sabar mengerti dengan sebenar-benarnya.

***

Pada malam sebelum terjadinya perang, Abbad bermimpi dalam tidurnya bahwa langit terbuka untuknya. Begitu ia masuk ke dalam langit, ia tertarik ke dalam dan pintu langit pun tertutup kembali. Keesokan paginya, ia menceritakan hal itu kepada Abu Sa’id al-Khudri, dan Abbad berkata, “Demi Allah, itu menandakan bahwa aku akan mendapatkan syahadah (kematian dalam berjuang di jalan Allah).”

***

Begitu matahari sudah mulai meninggi dan perang telah dimulai, Abbad bin Biysrin naik ke sebuah tempat yang tinggi dan berteriak, “Wahai kaum Anshar, berpencarlah kalian dari pasukan! Patahkan sarung pedang kalian! Dan janganlah kalian meninggalkan Islam yang datang dari arahmu!”

Ia terus saja meneriakkan seruannya sehingga berkumpul di hadapannya 400 orang Anshar, termasuk dari  mereka adalah Tsabit bin Qais, Al-Barra bin Malik dan Abu Dujanah, pemilik pedang Rasulullah SAW.

Lalu Abbad bin Biysrin merengsek masuk ke barisan musuh bersama mereka dengan menebaskan pedang mereka. Begitu beraninya mereka sehingga ia menghampiri kematian dengan dadanya. Sehingga pertahanan Musailamah al-Kadzdzab dan para pendukungnya semakin melemah yang membuat mereka berlindung ke Hadiqatul Maut (Taman kematian).

Di bawah gerbang taman itulah Abbad bin Biysrin jatuh terpuruk sebagai seorang syahid yang tewas berlumuran darah. Di tubuhnya banyak sekali bekas luka tebasan pedang, tusukan tombak dan anak panah, sehingga pasukan Muslimin tidak sanggup lagi untuk mengenalinya, kecuali setelah mereka menemukan salah satu tanda di tubuhnya.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s