Wahsyi bin Harb

“Ia telah membunuh orang terbaik setelah Muhammad… Ia juga telah membunuh orang terjahat.” –Para ahli sejarah

Siapakah orang yang telah melukai hati Rasulullah SAW, yang telah membunuh paman beliau yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib pada Perang Uhud?!

Kemudian menyembuhkan hati kaum Muslimin saat ia berhasil membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada Perang Yamamah?

Dialah Wahsyi bin Harb al-Habasyi yang dikenal dengan Abu Dasmah.

Ia memiliki sebuah kisah sedih yang berdarah dan begitu keras.

Dengarkanlah dengan baik tragedi yang ia rasakan.

Wahsyi berkata:

Aku adalah seorang budak milik Jubair bin Muth’im, salah seorang pemuka Quraisy. Pamannya bernama Thu’aimah yang telah terbunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, sehingga hal itu membuat ia amat bersedih. Jubair bersumpah demi Lata dan Uzza untuk menuntut balas atas kematian pamannya, dan akan membunuh si pembunuh pamannya. Dan ia sejak itu selalu menanti kesempatan untuk membunuh Hamzah.

***

Tidak berselang lama, Bangsa Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Uhud demi mengalahkan Muhammad bin Abdullah dan menuntut balas dendam atas korban perang Badar. Maka disiapkanlah pasukan dan dikumpulkanlah semua sekutu mereka. Pasukan itu dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb.

Abu Sufyan memiliki strategi dengan membuat dalam barisan pasukannya beberapa orang wanita Quraisy dari kelompok orang yang bapak, anak, saudara atau salah satu anggota keluarganya yang terbunuh pada Perang Badar. Mereka digunakan untuk memberikan semangat kepada pasukan agar terus semangat berjuang dan menghalangi para prajurit untuk lari dari medan perang . salah seorang dari para wanita tadi adalah istrinya sendiri bernama Hindun binti Utbah. Ayah, paman dan saudara Hindun telah terbunuh pada Perang Badar.

Begitu pasukan hendak berangkat, Jubair bin Muth’im menoleh ke arahku kemudian bertanya, “Apakah engkau wahai Abu Dasmah hendak membebaskan dirimu dari perbudakan?” Aku bertanya, “Siapa yang dapat melakukannya?” Ia menjawab, “Akulah yang akan melakukannya demi dirimu.” Aku bertanya, “Bagaimana caranya?!” Ia menjawab, “Jika engkau dapat membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, pamannya Muhammad sebagai balas dendam atas pamanku Thu’aimah bin Adi, maka engkau akan bebas.”

Aku bertanya, “Siapa yang akan menjamin hal tersebut buatku?” Ia berkata, “Siapa saja. Aku akan mempersaksikan kepada semua manusia hal ini.” Aku pun berkata, “Baiklah, aku akan melakukannya.”

Wahsyi berkata:

Aku adalah seorang Habasyah yang dapat melemparkan alat perang sebagaimana orang Habasyah kebanyakan. Aku tidak akan meleset dari target yang aku lempar.

Lalu aku mengambil alat perangku dan berangkat bersama pasukan. Aku berjalan di barisan belakang dekat dengan barisan wanita. Karena aku adalah harapan dalam peperangan ini. Maka setiap kali aku berpapasan dengan Hindun, istri Abu Sufyan dan ia melihat ada senjata perang yang berkilat dalam genggamanku di bawah terik matahari, ia akan berkata, “Sembuhkanlah kemarahan hati kami dengan membunuh Hamzah, dan penuhilah kesembuhan hati kami!”

Begitu kami tiba di Uhud dan kedua pasukan telah bertemu, maka aku langsung mencari Hamzah bin Abdul Muthalib dan aku pernah mengenal dia sebelumnya. Hamzah begitu mudah dikenali oleh siapa pun, sebab ia menaruh sehelai bulu lembut di kepalanya agar dapat memberikan petunjuk kepada para sahabatnya sebagaimana kebiasaan para patriot dan pejuang gagah berani Bangsa Arab lainnya.

Tidak membutuhkan waktu lama, maka aku langsung dapat melihat Hamzah yang merobek lapisan manusia bagaikan seekor unta abu-abu yang begitu kuat. Dia menebaskan pedangnya pada setiap leher musuh. Tidak ada musuh yang dapat berdiri tegak di hadapannya.

Aku bersiap untuk membunuhnya, dan saat itu aku berlindung pada sebuah pohon atau batu sambil menunggu ia mendekat ke arahku. Lalu seorang penunggang kuda yang dikenal dengan Siba’ bin Abdil Uzza mendekat kepada Hamzah sambil berkata, “Hadapilah aku, ya Hamzah… hadapilah aku!”

Maka Hamzah menghadapinya sambil mengatakan, “Ke marilah, wahai musyrik! Ke marilah!”

Begitu cepat Hamzah melibasnya dengan sebuah sabetan pedang. Maka jatuhlah Siba’ dengan darah berlumuran di hadapan Hamzah.

Pada saat itulah aku memiliki posisi yang aku nanti-nanti di depan Hamzah. Aku menggenggam senjataku sehingga aku begitu yakin. Lalu aku lemparkan ke arah tubuh Hamzah, dan tertancaplah senjataku tersebut di bawah perutnya hingga tembus di antara kedua kakinya.

Kemudian ia melangkah dua langkah dengan langkah yang berat ke arahku. Tidak lama kemudian ia terjerembab. Senjataku masih tertancap di tubuhnya. Aku membiarkan senjata tersebut bersarang di tubuhnya sehingga aku benar-benar yakin bahwa ia telah mati. Kemudian aku menghampirinya dan aku mencabut senjataku dari tubuhnya. Kemudian aku kembali ke kemah lalu duduk berdiam di sana karena aku tidak memiliki kepentingan apa-apa dalam perang itu kecuali hanya membunuh Hamzah sehingga diriku akan terbebas dan merdeka.

***

Kemudian peperangan berlangsung semakin sengit dan banyak sekali korban yang berjatuhan. Akan tetapi kepanikan menyelimuti hati para sahabat Muhammad, dan banyak sekali korban yang berjatuhan di pihak mereka.

Pada saat itu, Hindun binti Utbah dan beberapa wanita lainnya menghampiri bangkai pasukan Muslimin untuk memotong-motong bagian tubuh mereka, perut mereka dikoyak, mata mereka dicungkil, hidung mereka dipotong dan telinga mereka diputus.

Lalu Hindun membuat sebuah kalung dan untaian dari hidung dan telinga yang ia jadikan hiasan. Kemudian ia memberikan kalung dan untaian tersebut kepadaku sambil berkata, “keduanya untukmu, wahai Abu Dasmah … keduanya untukmu! Simpanlah keduanya karena berharga.”

Begitu Perang Uhud sudah selesai, aku kembali bersama pasukan ke Makkah. Jubair bin Muth’im lalu menetapi janjinya kepadaku dengan membebaskan aku dari belenggu perbudakan, dan aku pun merdeka.

***

Akan tetapi persoalan tentang Muhammad setiap hari semakin berkembang. Kaum Muslimin setiap saat semakin terus bertambah. Setiap kali urusan tentang Muhammad semakin membesar, maka semakin besar juga kegalauanku. Dan muncullah rasa panik dan takut dalam diriku. Aku terus saja merasakan hal itu, sehingga saat Muhammad bersama pasukannya yang amat besar datang untuk menaklukkan kota Makkah. Pada saat itu, aku melarikan diri ke Thaif untuk mencari keamanan.

Akan tetapi para penduduk Thaif tidak menunggu lama untuk akhirnya tunduk kepada Islam. Mereka telah mempersiapkan utusan untuk menjumpai Muhammad dan menyatakan bahwa mereka semua akan masuk ke dalam agamanya.

Pada saat itu, aku bertambah panik dan bumi terasa begitu sempit, dan jalan terasa buntu bagiku. Kemudian aku berkata pada diri sendiri, “Aku akan pergi ke Syam, atau ke Yaman, atau ke negeri lain.”

Demi Allah, aku saat itu sedang dalam kondisi yang amat kalut, lalu ada seorang pria yang memberikan nasehatnya dengan begitu lembut berkata, “Celaka kamu, ya Wahsyi! Demi Allah, Muhammad tidak akan membunuh siapa pun dari manusia yang masuk ke dalam agamanya, dan bersaksi dengan kesaksian yang sesungguhnya?”

Begitu aku mendengar ucapannya, maka aku langsung berangkat ke Yastrib untuk mencari Muhammad. Begitu aku tiba di sana, aku mencari informasi tentangnya dan akhirnya aku tahu bahwa ia sedang berada di masjid.

Kemudian aku menghampirinya dengan perlahan dan hati-hati. Aku terus berjalan ke arahnya sehingga aku berdiri di belakang kepalanya dan aku pun berkata, “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh.”

Begitu beliau mendengar dua kalimat syahadat, kemudian beliau mengangkat pandangannya. Begitu beliau mengenaliku, lalu beliau mengalihkan pandangannya dari diriku dan bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”

Aku menjawab, “Benar, ya Rasulullah.”

Beliau berkata, “Duduklah, dan ceritakan kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah!”

Kemudian aku duduk dan menceritakan kisah pembunuhan Hamzah.

Begitu aku selesai menceritakan kisahku, beliau memalingkan wajahnya dariku sambil berkata, “celaka engkau, ya Wahsyi! Jauhkanlah wajahmu dariku. Aku tidak mau melihatmu lagi setelah hari ini!”

Sejak saat itu, aku selalu menghindari agar pandangan Rasulullah SAW melihat ke arahku. Jika para sahabat duduk di hadapan beliau, maka aku akan mengambil tempat di belakangnya.

Aku terus melakukan hal itu, sehingga Rasulullah SAW dipanggil ke haribaan Tuhannya.

***

Kemudian Wahsyi menambahkan:

Meski aku tahu bahwa Islam akan menghapus segala kesalahan yang dilakukan sebelumnya, akan tetapi aku terus meraskan kekejian tindakan yang pernah aku lakukan. Dan aku merasakan kejahatan yang amat hebat yang pernah aku timpakan kepada Islam dan kaum Muslimin. Aku terus mencari kesempatan untuk membayar segala kesalahan yang pernah aku perbuat.

***

Begitu Rasulullah berpulang ke haribaan Tuhannya, dan kekhalifahan berpindah ke tangan Abu Bakar, dan Bani Hanifah pendukung Musailamah l-Kadzdzab mulai kembali murtad, Khalifah Abu Bakar menyiapkan sebuah pasukan untuk menghadapi Musailamah dan mengembalikan kaumnya yaitu Bani Hanifah kepada agama Allah.

Pada saat itu, aku berkata pada diriku sendiri, “Demi Allah, inilah kesempatanmu wahai Wahsyi. Manfaatkanlah dengan baik, dan jangan biarkan ia terlepas dari genggamanmu.

Lalu aku pun berangkat bersama pasukan Muslimin. Aku membawa alat perangku yang telah membunuh Hamzah bin Abdil Muthalib. Aku bersumpah dalam hati bahwa aku akan membunuh Musailamah dengan senjataku ini, atau aku akan mendapatkan kesyahidan.

Begitu pasukan Muslimin mendesak Musailamah dan pasukannya di Hadiqatul Maut (Taman Kematian) dan mengejar para musuh Allah, aku mencari-cari Musailamah dan aku mendapatinya sedang berdiri sambil menggenggam sebuah pedang di tangannya. Aku pun melihat seorang pria dari Anshar yang sedang mengintai untuk membunuhnya seperti yang aku lakukan, rupanya kami berdua telah berniat untuk membunuhnya….

Begitu aku telah mendapatkan posisi yang tepat ke arahnya, maka aku langsung mengarahkan senjataku sehingga ia stabil di tanganku dan kemudian aku lemparkan ke tubuhnya. Akhirnya senjataku pun bersarang di tubuhnya.

Begitu aku sudah melemparkan senjataku ke tubuh Musailamah, maka orang dari suku Anshar tadi langsung melompat ke arahnya dan menebaskan pedangnya dengan sebuah sabetan.

Hanya Tuhanlah yang tahu siapa diantara kami yang telah berhasil membunuhnya.

Jika ternyata aku yang telah berhasil membunuhnya, maka aku telah menjadi orang yang telah membunuh orang terbaik setelah Muhammad SAW, dan aku juga yang telah berhasil membunuh orang terjahat.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s