Posted in Sirah

Abu Thalhah Al-Anshari

Zaid bin Sahl

“Abu Thalhah menjalani hidupnya dengan berpuasa & berjihad. Ia juga mati dalam kondisi berpuasa dan berjihad…”

Zaid bin Sahl yang dijuluki dengan Abu Thalhah mengetahui bahwa Ar-Rumaisha binti Milhan an-Najariyah yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim sudah tidak bersuami lagi setelah suaminya meninggal dunia. Maka gembiralah hati Abu Thalhah mendengarnya. Tidak mengherankan, karena Ummu Sulaim adalah seorang wanita yang amat menjaga harga diri dan terkenal kecerdasan akalnya.

Maka Abu Thalhah berniat untuk meminangnya sebelum ia kedahuluan oleh orang lain yang berminat untuk mengkhitbah wanita seperti Ummu Sulaim ini….. Abu Thalhah begitu percaya diri  bahwa Ummu Sulaim tidak akan menolak pinangan pria lain. Sebab dia adalah seorang pria dewasa yang berusia matang. Memiliki status terhormat dan memiliki harta yang banyak.

Ditambah lagi, ia adalah seorang patriot Bani Najar, dan salah seorang pemanah Yastrib yang terkenal.

***

Berangkatlah Abu Thalhah ke rumah Ummu Sulaim….

Saat di tengah jalan, Abu Thalhah teringat bahwa Ummu Sulaim telah mendengarkan dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i dari Makkah yang bernama Mus’ab bin Umair. Ia tahu bahwa Ummu Sulaim telah beriman kepada Muhammad dan masuk ke dalam agamanya.

Akan tetapi masih saja Abu Thalhah berkata dalam dirinya, “Memangnya kenapa? Bukankah suami Ummu Sulaim yang telah meninggal pun masih berpegang teguh dengan agama kakek moyangnya, dan berpaling dari agama dan dakwah Muhammad?!”

***

Abu Thalhah sampai di rumah Ummu Sulaim dan ia meminta agar diizinkan masuk. Ummu Sulaim pun memberinya izin. Saat itu, anak Ummu Sulaim yang bernama Anas turut mendampinginya. Lalu Abu Thalhah mengutarakan maksudnya dan Ummu Sulaim menjawab, “Orang sepertimu, ya Abu Thalhah, tidak akan ditolak. Akan tetapi, aku tidak akan menikah denganmu karena engkau adalah orang kafir.”

Maka Abu Thalhah segera menduga bahwa Ummu Sulaim telah berdalih dan ia telah memilih orang lain yang lebih banyak hartanya dan lebih mulia kedudukannya.

Kemudian ia bertanya, “Demi Allah, siapakah orangnya yang telah membuatmu menolakku, wahai Ummu Sulaim?”

Ummu Sulaim balik bertanya, “Lalu apa yang menghalangiku?!”

Abu Thalhah menjawab, “Benda yang kuning dan putih, yaitu emas dan perak mungkin?”

Ummu Sulaim bertanya keheranan, “Emas dan perak?!”

Abu Thalhah menjawab dengan dugaan, “Ya.”

Ummu Sulaim berkata, “Aku bersaksi kepadamu, wahai Abu Thalhah, dan aku bersaksi kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa jika engkau masuk Islam, maka aku akan menerimamu sebagai suami tanpa perlu diberi emas dan perak. Dan aku akan menjadikan keislamanmu sebagai maharnya!”

***

Begitu Abu Thalhah mendengar ucapan Ummu Sulaim, maka pikirannya melayang kepada berhala yang ia buat dari kayu terbaik. Ia membayangkan berhala yang selalu ia sembah sebagaimana yang sering dilakukan oleh para pembesar kaumnya.

Namun Ummu Sulaim tidak memberinya kesempatan dan langsung bertanya, “Apakah engkau tidak tahu, wahai Abu Thalhah, bahwa tuhan yang kau sembah selain Allah adalah tumbuh dan berasal dari tanah?!”

Abu Thalhah menjawab, “Benar.” Ummu Sulaim mengejar, “Apakah engkau tidak merasa malu jika engkau menyembah bagian dari pohon yang separuhnya engkau sembah dan pada saat yang sama ada orang lain yang menjadikannya sebagai kayu bakar. Orang tersebut memanfaatkan api dari kayu tadi atau membuat roti dari tepung dengan api tadi…. Jika engkau masuk Islam, wahai Abu Thalhah, maka aku akan menerimamu sebagai suami, dan aku tidak meminta mahar apa pun selain Islam.”

Abu Thalhah bertanya, “Siapa yang dapat membuatku masuk Islam?” Ummu Sulaim menjawab, “Akulah yang akan melakukannya untukmu.” Abu Thalhah bertanya, “Bagaimana caranya?” Ummu Sulaim menjawab, “Ucapkanlah kalimat haq, dan engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Kemudian akhirnya, Abu Thalhah dapat menikahi Ummu Sulaim.

Kaum Muslimin berkata, “Kami tidak pernah mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia telah menjadikan mahar untuknya adalah Islam.”

***

Sejak saat itu, Abu Thalhah bergabung di bawah panji Islam, dan ia mededikasikan semua potensinya untuk berkhidmat di dalamnya.

Abu Thalhah menjadi salah satu dari 70 manusia yang berbaiat kepada Rasul pada peristiwa Aqabah. Ia ditemani oleh istrinya yang bernama Ummu Sulaim. Ia juga salah seorang dari 12 pimpinan yang ditunjuk oleh Rasulullah pada malam itu untuk memimpin kaum Muslimin Yastrib.

Lalu Abu Thalhah turut serta dalam seluruh pertempuran yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dan ia melewatinya dengan begitu tegar serta gagah berani.

Pada peristiwa Uhud, Abu Thalhah berjuang dalam membela Rasulullah SAW. Sesaat lagi anda akan mendengarkan kisah peristiwa tersebut.

***

Abu Thalhah begitu mencintai Rasulullah SAW sehingga mengisi relung hati terdalamnya. Kecintaan tersebut hingga memenuhi setiap ruang aliran darahnya. Ia tidak pernah bosan memandang Rasulullah. Ia tidak pernah merasa jemu mendengarkan pembicaraan dan sabda beliau…. Jika Abu Thalhah sedang berada bersama Rasulullah, ia akan bertekuk lutut di hadapan beliau dan berkata, “Jiwaku adalah taruhan atas jiwamu. Wajahku akan senantiasa menjadi pelindung wajahmu.”

Pada saat Perang Uhud, pasukan Muslimin kocar-kacir sehingga meninggalkan Rasulullah dan membuat pihak musyrikin dapat menyerang Rasulullah dari semua penjuru. Pasukan musyrikin berhasil membuat gigi geraham Rasul tanggal. Mereka dapat melukai kening beliau dan melukai bibirnya. Darah mengalir deras dari wajah Rasulullah SAW. Bahkan para pendusta meneriakkan bahwa Muhammad telah terbunuh, sehingga pasukan Muslimin bertambah lemah dan akhirnya menyerah di hadapan para musuh Allah.

Pada saat itu, hanya tersisa sedikit orang saja yang bersama Rasulullah SAW, dan salah satunya adalah Abu Thalhah.

***

Abu Thalhah berdiri di depan Rasulullah bagaikan gunung yang kokoh, ketika Rasulullah berdiri melindungi diri di belakang tubuhnya.

Lalu Abu Thalhah menggenggam erat busur panahnya. Kemudian ia meletakkan anak panah yang tidak pernah meleset. Lalu ia membela Rasulullah SAW mati-matian, dengan mengarahkan kepada pasukan musyrikin satu demi satu.

Rasulullah mengintip dari balik tubuh Abu Thalhah untuk melihat sasaran anak panahnya. Lalu Abu Thalhah berkata dengan nada khawatir kepda beliau, “Demi ayah dan ibuku, janganlah engkau memunculkan kepala kepada mereka, sebab itu dapat membuatmu terkena panah mereka. Leherku akan menjadi pelindung bagi lehermu. Dadaku akan menjadi tameng bagi dadamu. Aku akan berkorban untukmu…

Lalu ada seorang pria dari pasukan Muslimin yang melintasi lari di hadapan Rasulullah dan ia membawa sebuah kantong berisi anak panah. Maka Rasulullah memanggilnya dan berkata, “Hamburkanlah anak-anak panahmu di hadapan Abu Thalhah dan janganlah engkau bawa lari!”

Abu Thalhah terus melindungi Rasulullah SAW sehingga ia telah mematahkan 3 buah busur panah . ia telah berhasil dengan izin Allah membunuh beberapa orang dari pasukan Musyrikin. Lalu berakhirlah peperangan dan Allah berkenan menyelamatkan Nabi-Nya dengan perlindungan yang telah Dia berikan kepadanya.

***

Bila Abu Thalhah mampu berderma di jalan Allah pada saat-saat sulit,maka ia akan lebih dermawan lagi pada saat-saat lapang.

Yang membuktikan hal ini adalah bahwa dirinya memiliki sebuah kebun kurma dan anggur yang tidak ditemukan di kota Yastrib kebun yang lebih besar pohonnya, lebih bagus buahnya dan lebih jernih airnya.

Saat Abu Thalhah sedang melakukan shalat di bawah daun-daun pohon yang lebat, perhatiannya tertarik dengan seekor burung yang bernyanyi, berwarna hijau dan memiliki paruh berwarna merah. Kedua kakinya pun berwarna.

Burung tadi melompat-lompat di dalam pohon sambil bernyanyi dan menari. Abu Thalhah menjadi kagum dengan pemandangan ini, lalu mengiringi pemikirannya dengan bertasbih.

Tak lama kemudian, Abu Thalhah sadarkan diri. Ia dapati bahwa dirinya sudah tidak ingat lagi akan bilangan rakaat shalatnya? Apakah dua, atau tiga? Ia sendiri tidak tahu.

Selesai melaksanakan shalat, ia mendatangi Rasulullah SAW dengan menyampaikan keluhan bahwa dirinya telah diperdaya oleh kebunnya sendiri, dengan pohon yang rindang dan burung yang berkicau, sehingga membuatnya lalai dari shalat.

Kemudian Abu Thalhah berkata kepada Rasulullah, “Saksikanlah, ya Rasulullah! Aku jadikan kebun ini sebagai sedekah di jalan Allah SWT. Gunakanlah sekehendak Allah dan Rasul-Nya!”

***

Abu Thalhah menjalani hidupnya dengan senantiasa berpuasa dan berjihad. Dan ia pun mati saat berpuasa dan berjihad. Telah diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Abu Thalhah masih terus hidup sekitar 30 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW dengan terus berpuasa kecuali pada hari-hari besar di mana puasa diharamkan.

Ia terus hidup sehingga menjadi seorang yang tua renta. Akan tetapi ketuannya tidak menjadikan dirinya terhalang dari berjihad di jalan Allah dan mengarungi bumi untuk menegakkan kalimat Allah dan memuliakan agama-Nya. Salah satunya adalah ketika pasukan Muslimin berniat untuk melakukan sebuah peperangan di lautan pada masa khalifah Utsman bin Affan.

Abu Thalhah bersiap-siap untuk berangkat bersama pasukan Muslimin, namun anak-anaknya berkata, “Semoga Allah merahmatimu wahai ayah kami. Engkau kini sudah amat tua. Engkau telah berjuang bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar. Mengapa kini engkau tidak beristirahat saja dan membiarkan kami yang melakukan jihad?”

Abu Thalhah menjawab, “Allah SWT berfirman, ‘Berangkatlah dalam kondisi ringan maupun berat.” (QS. at-Taubah: 41). Ia telah menyeru kita semua untuk berangkat… baik tua ataupun muda, dan ia tidak pernah memberikan batasan umur.”

Kemudian ia pergi ke luar untuk berangkat….

***

Saat Abu Thalhah yang sudah tua itu berada di atas kapal di tengah laut bersama pasukan Muslimin yang lain, ia jatuh sakit, kemudian wafat.

Maka pasukan Muslimin mencoba untuk mencari sebuah pulau untuk menguburkan jasad Abu Thalhah, akan tetapi mereka tidak menemukan satu pulau kecuali setelah 7 hari. Abu Thalhah selama masa itu ditutupi oleh mereka namun jasadnya tidak berubah sedikit pun seolah ia hanya tertidur saja.

Di tengah lautan, jauh dari keluarga dan rumah, di sanalah Abu Thalhah dimakamkan.

Jauhnya ia dikuburkan dari manusia tidak akan menyebabkan kemudharatan bagi dirinya, selagi ia merasa dekat kepada Allah SWT.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s