Uqbah bin Amir Al-Juhani

“Uqbah bin Amir telah menggantungkan cita-citanya pada dua hal: ilmu dan jihad.”

 Rasulullah SAW hampir tiba di Yastrib, setelah lama berharap dan menantikannya….

Di sana sudah menunggu para penduduk Madinah yang baik hati. Mereka berkerumun dengan memukulkan genderang serta mengumandangkan tahlil dan takbir karena gembira menyambut datangnya Nabi yang penuh kasih dan sahabatnya Ash-Shiddiq.

Terlihat juga di sana wanita-wanita yang berada di atas atap rumah mereka bersama anak-anaknya. Mereka mencoba menyisir pandangan sambil bertanya, “Yang mana orangnya… yang mana orangnya?”

Terlihatlah kendaraan Rasulullah SAW yang berjalan tenang di antara barisan orang-orang. Yang diiringi dengan hati yang gembira dan air mata kebahagiaan serta senyum ceria.

***

Akan tetapi Uqbah bin Amir al-Juhani tidak melihat iringan kendaraan Rasulullah dan tidak sedang menyambut beliau seperti orang-orang yang lain.

Hal itu dikarenakan ia tengah keluar menuju daerah pedalaman dengan membawa domba-dombanya yang ia dapat agar ia bisa menggembalakannya. Setelah sekian lama ia merasakan kelaparan dan takut mati karenanya. Hanya domba-domba itulah yang ia miliki dari kehidupan dunia ini.

Akan tetapi kebahagiaan yang merebak di Madinah al-Munawwarah dengan cepat tersiar hingga desa-desa yang dekat dengannya atau yang jauh. Kabar gembira itu akhirnya sampai ke telinga Uqbah bin Amir Al-Juhani yang sedang mengurusi domba-dombanya di pedalaman kampung.

Kita akan beri kesempatan kepada Uqbah bin Amir untuk menceritakan sendiri kisah perjumpaannya dengan Nabi SAW.

Uqbah bercerita:

Rasulullah SAW tiba di Madinah dan pada saat itu aku sedang mengurus domba-domba milikku. Begitu aku mendengar berita kedatangan beliau, aku segera meninggalkan hartaku dan segera pergi untuk menemuinya tanpa sempat berpikir apa pun. Begitu aku berjumpa dengan beliau, aku bertanya, “Apakah engkau mau membai’atku, ya Rasulullah?” Beliau bertanya, “Siapakah engkau?” Aku menjawab, “Saya adalah Uqbah bin Amir Al-Juhani.” Rasul bertanya, “Mana yang lebih engkau sukai; apakah kau akan berbai’at kepadaku sebagai orang Arab, atau kau berbai’at kepadaku karena telah berhijrah?” Aku menjawab, “Aku lebih memilih baiat hijrah.” Maka Rasulullah SAW membaiatku sebagaimana beliau membaiat para Muhajirin. Kemudian aku menginap semalam bersama beliau lalu aku kembali untuk mengurusi domba-dombaku.”

Kami saat itu berjumlah 12 orang yang telah menyatakan masuk Islam dan tinggal jauh dari Madinah untuk menggembalakan domba-domba milik kami di pedalaman.

Salah seorang dari kami berkata, “Tidak akan bermanfaat besar bagi kita bila kita tidak datang menghadap Rasulullah setiap hari agar kita dapat mempelajari agama, dan mendengarkan wahyu langit yang diturunkan kepadanya. Maka baiknya setiap hari salah seorang di antara kita ada yang berangkat ke Yastrib, biar dombanya kita yang mengurusi.”

Kemudian aku berkata, “Berangkatlah kalian menghadap Rasulullah satu demi satu. Orang yang pergi boleh menitipkan dombanya kepadaku. Sebab aku amat khawatir pada domba-dombak untuk aku titipkan kepada orang lain.”

***

Kemudian para sahabatku berangkat menghadap Rasulullah SAW satu per satu, dan mereka menitipkan dombanya untuk aku gembalakan. Jika ia sudah kembali, aku mendengarkan apa yang telah ia dengar. Aku menimba apa yang telah ia dapatkan. Aku terus melakukan hal itu sehingga aku bertanya kepada diri sendiri dan akhirnya aku berkata, “Celaka! Apakah karena hanya alasan domba yang tidak gemuk dan membuat kaya engkau akan kehilangan kesempatan bersahabat dengan Rasulullah SAW dan kehilangan perjumpaan langsung tanpa perantara lagi?!”

Kemudian aku biarkan domba-dombaku, dan aku pun berangkat ke Madinah agar aku dapat tinggal di Masjid Rasulullah SAW di samping beliau.

***

Tidak pernah terbayangkan oleh Uqbah bin Amir Al-Juhani –sejak ia mengambil keputusan yang amat menentukan ini- bahwa beberapa lama kemudian ia akan menjadi salah seorang dari para sahabat yang berilmu. Ahli dalam bidang ilmu Alquran. Salah seorang panglima perang yang ternama dan salah seorang dari para wali (gubernur) Islam.

Ia pun tidak pernah membayangkan –sekedar berkhayal- saat ia meninggalkan dombanya dan berangkat menuju Allah dan Rasul-Nya bahwa dirinya akan berada di barisan terdepan pasukan dan menaklukkan Damaskus yang menjadi pusat dunia dan membuat bagi dirinya rumah di tengah tamannya yang indah di daerah gerbang Tuma.

Ia juga tidak pernah berkhayal bahwa dirinya akan menjadi salah seorang panglima perang yang menaklukkan Mesir dan bahwa dirinya akan menjadi wali di sana. Lalu membangun sebuah rumah untuk dirinya di tepi gunungnya yang bernama Al-Muqattam. Semua ini adalah hal-hal yang tidak pernah terduga dan hanya diketahui oleh Allah saja.

***

Uqbah bin Amir selalu mendampingi Rasulullah ibarat sebuah bayangan. Uqbah selalu memegang tali kekang bighal Rasul, ke mana saja beliau pergi, sehingga ia dikenal dengan radif Rasulillah (pembonceng Rasulullah). Terkadang Rasulullah turun dari bighalnya supaya Uqbah yang menungganginya, sedang Rasulullah berjalan kaki.

Uqbah mengisahkan:

Aku pernah memegang kendali bighal Rasulullah di sebuah hutan Madinah kemudian beliau bertanya kepadaku, “Wahai Uqbah, apakah engkau tidak mau naik?!” Aku tadinya hendak mengatakan tidak, akan tetapi aku khawatir itu akan menjadi sebuah pembangkangan terhadap perintah Rasulullah. Lalu aku menjawab, “Baik, ya Nabi Allah!” Maka Rasulullah SAW turun dari bighalnya dan aku pun naik ke atasnya untuk memenuhi permintaannya…. dan beliau berjalan kaki. Tidak lama kemudian aku turun dan Rasulullah kembali naik ke atas bighal. Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Wahai Uqbah, maukah engkau jika aku ajarkan dua surah yang tidak ada bandingannya?” Aku menjawab, “Tentu aku mau, ya Rasulullah!” Kemudian beliau membacakan untukku, “Qul a-‘uudzu bi Rabbil falaq dan Qul a-‘uudzu bi Rabbin-nas.” Kemudian tibalah waktu shalat. Kemudian Rasulullah menjadi imam dan membaca kedua surah tersebut. Lalu beliau bersabda, “Bacalah kedua surat tersebut setiap kali engkau tidur dan terbangun.”

Uqbah berkata, “Aku senantiasa membaca kedua surat tersebut sepanjang hidupku.”

***

Uqbah bin Amir Al-Juhani menjadikan cita-citanya hanya terpaut pada dua hal saja, yaitu ilmu pengetahuan dan jihad. Ia berusaha untuk mendapatkan keduanya dengan ruh dan jasadnya. Ia rela mengeluarkan apa saja untuk mendapatkannya.

Dalam masalah ilmu pengetahuan, Uqbah telah menyerap dari sumber telaga Rasulullah SAW yang begitu banyak sehingga ia telah menjadi ahli dalam ilmy Alquran, hadist, fiqih, ilmu waris, sastra dan syair.

Ia termasuk orang yang memiliki suara terbagus dalam membacakan Alquran. Jika malam sudah menjelang dan alam semesta sudah menjadi tenang, Uqbah akan membaca beberapa ayat dari Alquran. Bacaannya begitu indah telah membuat hati para sahabat tercenung mendengarkannya. Sehingga hati mereka menjadi khusyuk dan mata mereka menitikkan air mata karena merasa takut kepada Allah.

Suatu hari, Umar bin Khattab pernah memanggilnya dan berkata, “Bacakanlah kepadaku sesuatu dari Alquran, wahai Uqbah!” Lalu Uqbah berkata, “Baik, ya Amirul Mukminin.” Kemudian Uqbah mulai membacakan beberapa ayat Alquran dan Umar pun menangis sehingga air matanya membasahi janggut.

Uqbah meninggalkan sebuah mushaf Alquran yang dituliskan oleh tangannya sendiri. Mushaf tersebut beberapa tahun lalu masih terdapat di Mesir di Masjid Jami’ yang dikenal dengan Masjid Jami Uqbah bin Amir. Pada bagian belakangnya tertulis, “Dituliskan oleh Uqbah bin Amir Al-Juhani.”

Mushaf Uqbah bin Amir ini termasuk mushaf tertua yang masih ditemukan di muka bumi ini, akan tetapi kini sudah hilang seperti banyak peninggalan berharga yang juga lenyap, karena sebab kelalaian kita.

***

Pada bidang Jihad, kita dapat mengetahuinya bahwa Uqbah bin Amir Al-Juhani turut serta bersama Rasulullah SAW dalam Perang Uhud dan beberapa perang sesudahnya. Dia termasuk salah seorang prajurit yang gagah berani yang pernah berjuang dengan susah payah dalam perang penaklukan Damaskus. Maka Abu Ubaidah bin al-Jarrah memberikan sebuah kehormatan kepadanya dengan mengutusnya sebagai delegasi pembawa kabar kemenangan ini kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah. Maka ia pun selama 8 hari dan 8 malam dari hari Juma’at hingga Jum’at kemudian menempuh perjalanan ke Madinah tanpa henti sehingga ia menyampaikan kabar gembira kepada Umar al-Faruq atas keberhasilan kaum Muslimin melakukan penaklukan yang besar terhadap Damaskus.

Ia juga adalah salah seorang panglima pasukan Muslimin yang berhasil menaklukkan Mesir. Sehingga Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan memberikan anugerah kepadanya dengan mengangkat dirinya sebagai wali (gubernur) di sana selama 3 tahun lamanya. Kemudian Amirul Mukminin menginstruksikan kepadanya untuk berperang melawan Kepulauan Rudus di Mediterania.

Karena begitu cintanya dengan jihad, ia menghafalkan banyak hadist jihad di hatinya. Secara khusus ia meriwayatkan hadist-hadist tentang jihad tersebut kepada kaum Muslimin. Ia seringkali melatih ketangkasan memanahnya, sehingga bila ia ingin mendapatkan hiburan bagi dirinya, maka ia akan melakukan olahraga memanah.

***

Begitu Uqbah bin Amir Al-Juhani sakit dan menjelang wafat –saat itu ia berada di Mesir-, ia mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka seraya berkata, “Wahai anak-anakku, aku melarang 3 hal kepada kalian, maka jagalah larangan ini dengan baik. Janganlah kalian menerima hadist Rasulullah SAW kecuali dari orang yang tsiqah (terpercaya). Janganlah kalian berutang meski kalian hanya berpakaian Aba. Dan janganlah kalian menulis syair sehingga membuat hati kalian lalai dari Alquran!”

Begitu ia meninggal, keluarganya menguburkan jasadnya di kaki gunung Al-Muqattam. Kemudian keluarganya mencari-cari apa saja peninggalan Uqbah. Rupanya ia meninggalkan lebih dari 70 busur panah. Setiap busur disertai sebuah tanduk dan beberapa anak panah. Uqbah berpesan, peninggalannya ini harus digunakan untuk berjuang di jalan Allah.

Semoga Allah menjadikan wajah seorang qari, alim dan pejuang yang bernama Uqbah bin Amir Al-Juhani ini bersinar. Semoga Dia berkenan memberikan balasan terbaik baginya atas jasa yang pernah ia lakukan terhadap Islam dan Muslimin.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s