Posted in Sirah

Sa’ad bin Abi Waqqash

“Panah mereka, ya Sa’ad… panah mereka…. Demi ayah dan ibumu!” –Muhammad Rasulullah memberi semangat kepada Sa’ad pada perang Uhud

 Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

Ada kisah menarik tentang ayat-ayat ini, ketika kelompok pemilik sifat yang bertentangan menjadi tunduk di hadapan jiwa seorang pemuda. Maka kemenangan berada di pihak kebaikan atas keburukan. Keimanan atau kekufuran.

Sedangkan tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah terhormat dari garis nasab, yang memiliki ayah dan ibu yang terhormat.

***

Sa’ad, saat cahaya kenabian sedang bersinar di kota Makkah sedang menjelang usia muda. Ia memiliki perasaan yang lembut dan amat berbakti kepada kedua orang tuanya, khususnya kepada ibunya.

Meski pada saat itu Sa’ad akan berusia 17 tahun, namun ia sudah berpikiran dewasa dan bijak layaknya orang tua.

Ia tidak pernah –misalnya- senang dengan senda gurau yang biasa dilakukan oleh anak seumurannya. Akan tetapi ia malah tertarik dengan mempersiapkan anak panah, memperbaiki busur panah, dan berlatih memanah seolah ia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah masalah besar.

Ia juga tidak pernah senang dengan apa yang ia lihat pada kaumnya yang memiliki akidah yang rusak dan kondisi yang buruk. Sehingga seolah ia sedang menunggu sebuah tangan kuat yang dapat menghancurkan mereka dan menyingsingkan kezaliman yang mereka perbuat.

***

Dalam kondisi demikian, Allah SWT berkehendak untuk memuliakan semua manusia dengan tangan yang lembut ini. Dan ternyata tangan tersebut adalah tangan penghulu semua makhluk, yaitu Muhammad bin Abdullah SAW. Dan di tangannya adalah sebuah bintang Allah yang tak pernah redup, yaitu Kitabullah.

Maka segeralah Sa’ad bin Abi Waqqash memenuhi panggilan petunjuk dan kebenaran, sehingga ia menjadi orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Oleh karenanya, sering kali ia berucap dengan perasaan bangga, “Hanya menunggu selama 7 hari, aku menjadi orang ketiga yang masuk dalam Islam.”

Rasulullah SAW sangat bergembira dengan Islamnya Sa’ad. Karena dalam diri Sa’ad ada tanda-tanda kecerdasan dan kegagahan yang menandakan bahwa bulan sabit ini sebentar lagi akan menjadi purnama.

Sa’ad juga memiliki garis keturunan yang mulia dan posisi terhormat yang dapat membuat semua pemuda Makkah akan mengikuti jejaknya.

Lebih dari itu, Sa’ad adalah kerabat Rasulullah. Sebab ia berasal dari Bani Zuhrah. Sedangkan Bani Zuhrah adalah keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah SAW.

Rasulullah amat bangga dengan hubungan kerabat ini.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW saat itu sedang duduk bersama beberapa orang dari sahabatnya. Lalu beliau melihat Sa’ad bin Abi Waqqash datang. Lalu Rasulullah berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Inilah pamanku…. Maka setiap orang, perlihatkanlah kepadaku pamannya!”

***

Akan tetapi, keislaman Sa’ad bin Abi Waqqash tidaklah berjalan dengan mudah dan tenang. Pemuda yang beriman ini merasakan ujian terberat dan paling keras. Sehingga karena terlalu kerasnya, Allah SWT menurunkan sebuah ayat Alquran tentang dirinya….

Sekarang kita akan memberikan kesempatan kepada Sa’ad untuk menceritakan kisah ujiannya ini.

Sa’ad mengatakan:

Tiga hari sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi seolah aku tenggelam dalam kegelapan yang bertingkat-tingkat. Saat aku sedang berusaha selamat dari gelombang kegelapan tersebut, lalu ada sebuah bulan yang menerangiku dan aku mengikutinya. Aku melihat ada segerombolan orang yang telah mendahuluiku jalan menuju bulan tersebut. Aku melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Aku bertanya kepada mereka, “Sejak kapan kalian berdua di sini?!” Mereka menjawab, “Sejak satu jam.”

Begitu siang menjelang, aku mendengar kabar bahwa Rasulullah SAW telah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk masuk Islam. Aku mengerti bahwa Allah SWT menghendaki kebaikan atas diriku. Dengan sebab tersebut, Dia hendak mengeluarkan aku dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu aku mendatanginya segera, dan aku menjumpai beliau di Syi’b Jiyad. Beliau saat itu sedang melakukan shalat Ashar. Aku pun masuk Islam, dan tidak ada yang mendahuluiku masuk Islam selain orang-orang yang aku lihat dalam mimpiku.

Kemudian Sa’ad melanjutkan kisah keislamannya. Ia berkata:

Begitu ibuku mendengar bahwa aku telah masuk Islam, ia langsung marah, dan aku adalah anak yang amat berbakti kepadanya, dan amat mencintainya. Ibuku datang menemuiku dan berkata, “Wahai Sa’ad, agama apa yang telah kau anut dan memalingkan kamu dari agama ibu dan bapakmu? Demi Allah, jika engkau tidak meninggalkan agama barumu itu, maka aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati. Sehingga hatimu akan bersedih karenaku, dan engkau akan menyesali tindakanmu itu. Dan manusia karenanya akan mencibirmu untuk selamanya.”

Lalu aku berkata, “Janganlah engkau lakukan itu, Ibu! Aku tidak akan meninggalkan agamaku karena alasan apa pun.”

Ia pun melakukan janjinya. Ia tidak mau makan dan minum. Ia terus melakukan hal itu berhari-hari tidak makan dan tidak minum. Badannya menjadi kurus, tulang punggungnya menjadi bengkok dan kekuatannya menurun drastis.

Aku selalu mendatanginya dari waktu ke waktu untuk memintanya agar mau memakan sedikit makanan atau meminum sedikit minuman. Ia menolak permintaanku dengan keras. Ia masih bersumpah untuk tidak makan dan minum hingga mati atau aku harus meninggalkan agamaku.

Pada saat itu aku katakan kepadanya, “Wahai Ibu, meski aku begitu mencintaimu, namun cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar lagi. Demi Allah, jika engkau memiliki 1000 nyawa, lalu satu per satu nyawamu itu keluar dari tubuhmu, maka aku tidak akan pernah meninggalkan agamamu ini demi apa pun juga!”

Begitu ia melihat kesungguhanku, ia mau makan dan minum dengan hati yang kesal. Lalu turunlah firman Allah SWT,

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

***

Hari dimana Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam adalah hari di mana kaum Muslimin merasakan adanya kebaikan terbanyak pada Islam.

Pada Perang Badar, Sa’ad dan saudaranya yang bernama Umair memiliki kisah tersendiri. Umair pada saat itu adalah seorang pemuda yang baru saja baligh. Begitu Rasulullah memperhatikan barisan pasukan Muslimin sebelum berangkat ke medan perang, Umair saudara Sa’ad mundur ke belakang karena khawatir Rasulullah akan melihatnya sehingga akan menolaknya karena usianya yang masih kecil. Benar saja, Rasulullah SAW melihatnya lalu menolaknya yang membuat Umair menangis. Tangisannya membuat hati Rasulullah luluh sehingga beliau membolehkan Umair turut serta.

Pada saat itu, Sa’ad menjadi gembira. Ia mengikatkan tali sarungnya pada diri Umair karena ia masih kecil. Dan berangkatlah kedua bersaudara tadi untuk berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh.

Begitu peperangan usai, Sa’ad kembali ke Madinah sendirian. Sedangkan Umair telah gugur menjadi seorang syahid di medan Badar, dan Sa’ad memohon kepada Allah agar saudaranya diberikan pahala seperti yang telah dijanjikan.

***

Pada perang Uhud, saat pendirian pasukan Muslimin mulai goyah dan berpisah  dari barisan Nabi SAW sehingga tersisa sedikit saja yang bersama beliau yang berjumlah tidak lebih dari 10 orang. Saat itu Sa’ad bin Abi Waqqash berdiri membela Rasulullah SAW dengan busur panahnya. Tidak ada satu pun anak panah yang dilesatkan kecuali memakan seorang korban dari pihak kaum musyrikin.

Saat Rasulullah melihat Sa’ad melesatkan anak panahnya dengan cara ini, beliau memberikan semangat kepadanya dengan bersabda, “Panahlah mereka ya Sa’ad! Panahlah mereka demi ayah dan ibumu!”

Maka dengan motivasi Rasulullah SAW, Sa’ad berbangga hati selama hidupnya seraya berkata, “Rasulullah tidak pernah menggabungkan kedua orang tua dari seseorang saat bersumpah kecuali kepadaku saja.” Dan itu terjadi saat Rasulullah SAW bersumpah demi ayah dan ibunya secara bersamaan.

***

Akan tetapi, Sa’ad baru merasakan kebahagiaannya saat Umar al-Faruq bertekad untuk mengalahkan Bangsa Persia lewat perang yang dapat membuat negeri mereka hancur, istana mereka roboh dan untuk mencabut akar penyembahan berhala dari muka bumi. Maka Umar mengirimkan surat kepada seluruh pegawainya yang ada di semua daerah yang berbunyi:

“Kirimkanlah kepadaku semua orang yang memiliki senjata atau kuda, pertolongan atau pendapat, atau kemampuan dalam bersyair atau beretorika dan lainnya yang dapat membantu kami dalam peperangan!”

Maka datanglah gelombang para mujahidin ke Madinah dari setiap penjuru. Begitu semuanya telah terpenuhi, Umar al-Faruq meminta pendapat kepada Ashabul Halli wal Aqdi tentang orang yang dapat memimpin pasukan yang amat besar ini sehingga Umar dapat memberikan mandat kepadanya. Mereka semua berpendapat orang tersebut adalah si “Singa yang Menerkam”, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka Umar pun memanggil Sa’ad RA dan memberikan panji komando kepadanya.

***

Begitu pasukan yang besar ini hendak meninggalkan Madinah, Umar bin Khattab memberikan wasiat dan pesannya kepada panglima pasukan ini:

“Ya Sa’ad, janganlah engkau terpedaya dari jalan Allah jika ada yang mengatakan, ‘Dia adalah paman Rasulullah dan sahabat Rasulullah’. Sebab Allah SWT tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan. Akan tetapi Dia akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan.

Ya Sa’ad, tidak ada nasab di antara Allah dan seseorang selain ketaatan. Manusia yang tinggi dan rendah di hadapan Allah adalah sama. Allah adalah Tuhan mereka, dan mereka adalah para hamba-Nya. Mereka akan mulia karena takwa dan mereka akan mendapatkan ganjaran di sisi Allah dengan ketaatan. Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh Nabi, karena itulah perintah yang sebenarnya.”

Maka berangkatlah pasukan yang penuh berkah ini. Dalam pasukan ini terdapat 99 orang yang pernah ikut dalam perang Badar. Ada 310 lebih orang yang pernah melakukan Bai’at Ridwan. 300 orang yang turut dalam Fathu Makkah bersama Rasulullah dan 700 orang anak-anak para sahabat.

***

Berangkatlah Sa’ad dan pasukannya menuju al-Qadisiyah. Pada hari Harir, pasukan Muslimin bertekad untuk mengalahkan Persia. Kaum Muslimin mengepung musuh mereka dengan begitu ketatnya. Mereka menyerang dan merangsek barisan musuh dari segala penjuru dengan bertahlil dan bertakbir. Hingga akhirnya kepala Rustum panglima pasukan Persia sudah diangkat dengan tombak-tombak pasukan Muslimin. Maka merasuklah ketakutan dan kepanikan dalam setiap hati musuh Allah, sehingga bila ada seorang Muslim yang menunjuk seorang dari pasukan Persia, maka ia bisa mati, atau Muslim tadi membunuhnya dengan senjata dengan amat mudah.

Sedangkan ghanimah tidak usah dibayangkan. Adapun yang menjadi korban, cukuplah anda ketahui bahwa yang mati hanya karena tenggelam mencapai jumlah 3000 orang.

***

Sa’ad dianugerahi umur panjang dan harta yang banyak. Akan tetapi, saat menjelang wafat, ia meminta sebuah jubah yang terbuat dari shuf (wol) tebal. Ia berkata, “Kafankanlah aku dengan shuf itu, sebab aku menghadapi pasukan Musyrikin dalam Perang Badar dengan mengenakan baju itu. Aku berharap dapat berjumpa dengan Allah sambil mengenakan shuf itu.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s