Posted in Sirah

Ja’far bin Abi Thalib

“Aku melihat Ja’far di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah dan bulu yang diberi warna.” –Hadist Asy-Syarif

Di Bani Manaf, ada 5 orang yang amat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga orang yang lemah pandangannya sering keliru membedakan antara Rasulullah dengan mereka.

Tidak dipungkiri bahwa Anda ingin mengetahui siapa saja kelima orang tersebut yang begitu mirip dengan Rasulullah.

Maka marilah kita berkenalan dengan mereka semua.

Mereka adalah: Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib, beliau ini adalah sepupu Rasulullah dan saudara sesusuan dengan Rasulullah. Kemudian Futsam bin al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan dia juga merupakan sepupu Rasulullah. As-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim kakeknya Imam Syafi’i. Al-Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW dan ia merupakan orang yang paling mirip dengan Rasulullah dibandingkan dengan yang lain. Dan Ja’far bin Abi Thalib, dia adalah saudara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Kami akan memaparkan sebuah episode dari kisah hidup Ja’far bin Abi Thalib RA….

***

Abu Thalib –meski dia adalah orang yang terpandang di kalangan Bangsa Quraisy, dan memiliki posisi penting di kaumnya-, namun ia adalah orang yang amat sulit hidupnya dan banyak anggota keluarganya.

Kondisi tersebut semakin bertambah sulit dengan datangnya tahun paceklik yang terjadi pada Bangsa Quraisy sehingga membuat semua panenan menjadi gagal dan hewan-hewan ternak pun tidak dapat mengeluarkan susu. Ini semua membuat manusia hanya mampu mengonsumsi tulang-tulang basah saja.

Di kalangan Bani Hasyim –saat itu- tidak ada orang yang berkeluasan kecuali Muhammad bin Abdullah dan pamannya Al-Abbas.

Lalu Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai paman, saudaramu Abu Thalib banyak sekali keluarganya. Engkau tahu sendiri bahwa banyak manusia yang berkesusahan karena kemarau panjang serta wabah kelaparan. Marilah kita ke rumahnya untuk menanggung sebagian keluarganya. Aku akan menanggung seorang anaknya dan engkau pun menanggung seorang lagi dari anaknya, sehingga keduanya kita cukupi kebutuhannya.”

Abbas berkata, “Engkau telah mengajak pada hal kebaikan dan engkau menyeru pada kebajikan.”

Kemudian keduanya berangkat dan bertemu dengan Abu Thalib. Keduanya berkata, “Kami datang berniat untuk meringankan beban keluargamu sehingga kesulitan dan penderitaan ini sirna dari diri manusia.” Abu Thalib berkata, “Kalian boleh untuk mengambil siapa saja, selain Aqil.”

Maka Muhammad mengajak Ali dan menjadikan keluarganya. Sedangkan Abbas mengajak Ja’far dan menjadikannya sebagai keluarga. Ali terus tinggal bersama Muhammad hingga saat Allah SWT mengutusnya sebagai seorang Nabi yang membawa agama petunjuk dan kebenaran. Dialah yang menjadi orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan pemuda.

Ja’far pun terus tinggal dengan pamannya sehingga ia tumbuh dewasa, masuk Islam dan berkecukupan bersamanya.

***

Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya Asma bin Umais bergabung dengan rombongan “cahaya” sejak perjalanan pertama. Keduanya pun masuk Islam berkat ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq RA sebelum Rasulullah masuk ke Darul Arqam.

Pemuda Al-Hasyimi ini bersama istrinya merasakan siksaan Bangsa Quraisy sebagaimana yang dirasakan oleh Muslimin yang lain. Keduanya mampu bersabar atas siksaan ini karena keduanya menyadari bahwa jalan menuju surga dipenuhi dengan duri dan sarat dengan hal yang menyakitkan. Akan tetapi yang membuat mereka jengkel sebagaimana yang dirasakan oleh sahabat mereka dari kaum Muslimin adalah bahwa Bangsa Quraisy menghalangi mereka untuk melakukan ibadah serta menghalangi mereka untuk merasakan lezatnya ibadah. Bangsa Quraisy bahkan senantiasa mengawasi setiap hembusan napas mereka.

Pada saat itulah Ja’far bin Abi Thalib meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah bersama istri dan beberapa orang sahabat lainnya ke Negeri Habasyah. Rasul pun mengizinkan dengan hati yang sedih.

Yang membuat Rasul bersedih atas para sahabatnya yang suci dan baik itu adalah karena mereka akan meninggalkan kampung mereka. Mereka bersedia meninggalkan tempat di mana mereka bermain di waktu kecil, tanah air di mana mereka tumbuh menjadi remaja. Mereka tinggalkan kampungnya tanpa kesalahan yang mereka perbuat kecuali bahwa mereka mengatakan bahwa “Tuhan kami adalah Allah!”

Akan tetapi beliau tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menolak siksaan Bangsa Quraisy.

***

Maka berangkatlah rombongan kaum Muhajirin pertama ke Habasyah dan salah satu dari mereka adalah Ja’far bin Abi Thalib. Mereka tinggal di sana dengan jaminan keamanan An-Najasy yang merupakan pemimpin Habasyah yang dikenal adil dan shaleh.

Akhirnya, pertama kali mereka mendapatkan rasa aman –sejak mereka masuk Islam- dan mereka merasakan nikmatnya ibadah tanpa ada yang mengganggu kenikmatan ibadah mereka, ataupun yang mengacaukannya.

Akan tetapi begitu suku Quraisy mengetahui keberangkatan rombongan Muslimin ini menuju Habasyah untuk mendapatkan perlindungan raja Habasyah dan ketenangann beribadah mereka dan keamanan akidah, mereka pun berencana untuk membunuh rombongan Muslimiin ini atau menggiring mereka masuk ke dalam sebuah penjara besar.

Sekarang, kita akan mempersilakan Ummu Salamah RA untuk menceritakan kisah yang ia dengar dan ia saksikan.

***

Ummu Salamah berkata:

Begitu kami tiba di Negeri Habasyah, kami  menemukan perlindungan yang amat baik bagi diri kami sehingga kami merasa aman dalam menjalankan agama. Kami dapat beribadah kepada Allah tanpa ada siksaan atau ucapan yang menyakitkan kami. Begitu Quraisy mendengar kabar ini, mereka segera mengirimkan dua orang yang paling gagah di antara mereka kepada An-Najasy. Keduanya adalah: Amr bin al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka berdua dibekali hadiah yang akan diberikan kepada an-Najasy dan para pemuka agama di sana. Hadiah tersebut adalah barang-barang yang disukai oleh penduduk Habasyah dari Negeri Hijaz. Suku Quraisy juga berpesan kepada kedua utusan ini agar memberikan hadiah kepada para pemuka agama terlebih dahulu sebelum mereka menghadap an-Najasy untuk membicarakan urusan kami.

***

Begitu keduanya tiba di Habasyah, mereka menemui para pemuka agama dan memberikan hadiah kepada masing-masing pemuka agama. Tidak ada seorang pun dari para pemuka agama tadi yang tidak mendapatkan hadiah dari keduanya. Kedua utusan tersebut berkata kepada para pemuka agama, “Sesungguhnya ada beberapa budak bodoh kami yang berlindung di negara raja. Mereka telah keluar dari agama bapak dan kakek moyang mereka dan keluar dari kaumnya. Jika kami berbicara kepada raja kalian tentang para budak ini, maka beritahukanlah raja kalian untuk menyerahkan budak-budak ini kepada kami tanpa perlu menanyakan agama mereka. Karena para pemimpin suku mereka amat mengerti tentang kondisi para budak ini dan paham apa yang sedang mereka anut.” Para pemuka agama tadi pun mengatakan, “Ya.”

Ummu Salamah berkata, “Tidak ada yang lebih kami benci dari Amr dan sahabatnya daripada saat an-Najasy memanggil salah seorang dari kami untuk mendengarkan pembicaraannya.”

***

Kemudian keduanya menghadap An-Najasy dan memberikan hadiah kepadanya. An-Najasy amat senang dengan hadiah itu. Lalu keduanya berbicang dengan An-Najasy seraya mengatakan, “Wahai Raja, di negeri ini telah berlindung beberapa budak-budak negeri kami yang amat nakal. Mereka datang ke sini membawa agama yang tidak kami ketahui sebagaimana engkau tidak mengetahuinya. Mereka meninggalkan agama kami namun tidak masuk ke dalam agamamu. Kami diutus untuk mneghadapmu oleh orang tua mereka, paman mereka, keluarga mereka, agar engkau berkenan memulangkan budak-budak ini kepada mereka, dan mereka adalah manusia yang paling tahu akan fitnah yang telah dibuat oleh budak-budak ini.”

Lalu An-Najasy melihat ke arah pemuka agama, dan para pemuka agama itu mengatakan, “Keduanya benar, wahai Raja! Kaum mereka lebih tahu dan paham akan apa yang telah diperbuat oleh para budak ini. Maka kembalikan para budak ini kepada mereka biar mereka sendiri yang memutuskannya!”

Lalu murkalah sang raja dengan ucapan para pemuka agama ini. Ia berkata kepada para pemuka agama ini. Ia berkata kepada mereka, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapa pun sehingga aku memanggil mereka semua, dan menanyakan kepada mereka apa yang dituduhkan kepada mereka. Jika mereka benar, seperti apa yang dikatakan oleh kedua orang ini, maka aku akan menyerahkannya. Jika mereka tidak demikian, maka aku akan memberi perlindungan kepada mereka dengan sebaik-baiknya.

***

Ummu Salamah mengisahkan:

Kemudian An-Najasy mengutus seseorang untuk memanggil kami dan menghadapnya. Lalu kami berkumpul sebentar sebelum berangkat menghadapnya. Sebagian dari kami ada yang berkata, “Raja akan menanyakan agama kalian, maka katakan terus terang apa yang kalian anut. Biarkan yang menjadi juru bicaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib, dan jangan ada yang bicara selainnya.”

Ummu Salamah mengisahkan:

Kemudian kami berangkat untuk menghadap An-Najasy dan kami dapati bahwa ia juga telah mengundang para pemuka agama. Mereka semua duduk di samping kanan dan kiri An-Najasy. Mereka semua mengenakan Tayalisah dan menghiasi kepala mereka dengan peci. Mereka pun tak lupa membuka kitab di hadapan mereka. Kami juga melihat ada Amr bin al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah di dekat raja.

Begitu kami sudah ada di majelis, An-Najasy melihat ke arah kami dan bertanya, “Apakah agama yang baru kalian anut, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian, dan tidak membuat kalian masuk ke dalam agamaku, dan juga tidak masuk suatu agama pun yang diketahui manusia?”

Kemudian majulah beberapa langkah ke arah An-Najasy seseorang yang bernama Ja’far bin Abi Thalib lalu ia berkata,

“Wahai Raja, kami dulunya adalah kaum Jahiliyah yang menyembah berhala dan memakan bangkai. Kami melakukan perbuatan keji dan memutuskan tali silaturrahim. Kami adalah kaum yang suka mengganggu tetangga. Yang kuat di antara kami akan memangsa mereka yang lemah. Kami hidup terus-menerus seperti itu sehingga Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada kami yang kami kenal nasab, kejujuran, amanah dan harga dirinya….

Ia mengajak kami untuk kembali ke jalan Allah, agar kami mau mengesakan dan menyembah-Nya dan meninggalkan apa yang pernah kami dan kakek moyang kami sembah selain Allah dari bebatuan dan berhala….

Rasul ini memerintahkan kami untuk berkata jujur dan menunaikan amanat. Ia juga menyuruh kami untuk menghubungkan silaturrahim dan bertetangga dengan baik. Menolak diri dari segala perbuatan haram dan pertumpahan darah. Ia juga melarang kami untuk mengerjakan perbuatan keji dan ucapan dosa. Memakan harta anak yatim dan menuduh wanita yang terhormat.

Rasul tadi memerintahkan kami agar beribadah kepada Allah SWT dan agar kami tidak melakukan kemusyrikan terhadap-Nya. Kami juga diperintahkan untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan…. Kami meyakininya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti Rasul tadi dengan apa yang diwahyukan kepadanya dari sisi Allah. Maka kami menjalankan apa yang halal, dan kami menolak apa yang haram.

Maka tidak ada yang lain yang dilakukan oleh kaum kami sendiri kecuali melakukan penyiksaan terhadap kami. Mereka menyiksa kami dengan begitu sadis agar mereka dapat menguji kesetiaan kami kepada agama ini dan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala.

Saat mereka semakin aniaya dan menindas kami, mereka juga mempersempit ruang gerak kami. Mereka juga menghalangi kami untuk melakukan ibadah agama ini. Maka kami pun keluar dari tanah air menuju negerimu, dan kami berharap perlindunganmu serta tidak dianiaya di bawah kekuasaanmu.”

***

Ummu Salamah berkata:

An-Najasy melihat Ja’far bin Abi Thalib dan bertanya, “Apakah ada yang kalian bawa dari apa yang disampaikan oleh Nabi kalian dari sisi Allah?”

Ja’far menjawab, “Ya.” An-Najasy berkata, “Bacakanlah kepadaku!” Maka Ja’far pun membacakan, “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakariya. Yaitu tatkala ia berdia kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku….” (QS. Maryam: 1-4). Sehingga Ja’far membaca hingga bagian tertentu dari surat tersebut.

Ummu Salamah berkisah:

Maka menangislah An-Najasy sehingga janggutnya basah oleh air mata. Dan para pemuka agama juga menangis sehingga kitab-kitab mereka pun basah dibuatnya. Mereka semua menangis begitu mendengarkan Kalamullah ini.

Pada saat itulah An-Najasy berkata kepada kami, “Apa yang dibawa oleh Nabi kalin dan apa yang telah dibawa oleh Isa adalah berasal dari sumber cahaya yang sama!”

Kemudian An-Najasy menoleh ke arah Amr dan sahabatnya lalu berkata kepada mereka berdua, “Pergilah kalian berdua! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua untuk selamanya!”

***

Ummu Salamah berkata:

Begitu kami keluar dari ruangan An-Najasy, Amr bin al-Ash berkata kepada sahabatnya dengan mengancam kami, “Demi Allah, aku akan datang kepada raja esok hari. Aku akan menceritakan kepadanya tentang mereka yang dapat menimbulkan kebencian raja kepada mereka. Aku akan membuat raja membabat mereka dari akarnya!”

Maka berkatalah Abdullah bin Abi Rabi’ah kepadanya, “Jangan kau lakukan itu, wahai Amr! Mereka semua berasal dari keluarga kita, meskipun mereka saat ini telah meninggalkan kita!”

Amr menjawab, “Tidak usah ikut campur! Demi Allah, aku akan menceritakan kepada raja apa yang dapat membuat mereka semua resah. Demi Allah, aku akan menceritakannya kepada raja bahwa mereka menganggap bahwa Isa bin Maryam adalah seorang hamba!!!”

***

Keesokan harinya, datanglah Amr menghadap Raja An-Najasy dan berkata kepadanya, “Wahai Raja, orang-orang yang engkau beri perlindungan itu mengatakan suatu perkataan keji tentang Isa bin Maryam. Kalau tidak percaya, panggillah mereka dan tanyakan sendiri apa yang mereka katakan terhadap Isa bin Maryam!”

Ummu Salamah berkata:

Begitu kami mengetahui hal ini, kami merasa amat khawatir dan kami belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sebagian kami berkata, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam jika raja menanyakannya?” Kami pun menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan menjawab kecuali seperti apa yang telah Allah firmankan. Kami tidak akan keluar dari perintah-Nya meski hanya seujung jari sebagaimana yang telah disampaikan olehh Nabi kita. Meski apa pun yang menjadi konsekuensinya!”

Kemudian kami sepakat bahwa yang akan menjadi juru bicaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib.

Begitu An-Najasy memanggil kami, maka kami pun datang menghadapnya, lalu kami melihat adanya beberapa orang pemuka agama dengan pakaian seperti yang telah kami lihat sebelumnya. Kami juga melihat Amr bin al-Ash dan sahabatnya berada di dekat raja.

Begitu kami tiba di hadapannya, An-Najsy bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far bin Abi Thalib mengatakan, “Kami mengatakan tentang Isa bin Maryam sebagaimana yang disampaikan kepada Nabi kami!”

An-Najasy bertanya, “Apa pendapat Nabi kalian tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far pun menjawab, “Nabi berkata tentang Isa bahwa ia adalah hamba Allah sekaligus Rasul-Nya. Ia juga ruh dan kalimat Allah yang diberikan kepada diri Maryam yang suci dan perawan.”

Begitu An-Najasy mendengar ucapan Ja’far, ia langsung memukul tanah dengan tangannya dan berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tidak keluar dari apa yang diceritakan Nabi kalian meski seujung rambut!”

Maka para pemuka agama menghembuskan napas keras dari hidung mereka pertanda tidak setuju begitu mereka mendengar ucapan An-Najasy. An-Najasy berkata, “Meski kalian menghembuskan napas dengan kesal!” Kemudian An-Najasy menoleh dan berkata, “Keluarlah, kalian semua aman! Siapa yang mencaci kalian akan terkena denda. Siapa yang menyerang kalian akan dihukum! Demi Allah, aku tidak lebih menyukai apabila aku mendapatkan segunung emas daripada salah seorang dari kalian diganggu!”

Kemudian An-Najasy melihat ke arah Amr dan sahabatnya sambil berkata, “Kembalikan hadiah kedua orang ini, aku tidak membutuhkannya!”

Ummu Salamah berkata:

Maka keluarlah Amr dan sahabatnya dengan putus asa dan merasa kesal…. sedangkan kami terus tinggal di wilayah An-Najasy di wilayah yang paling baik dan perlindungan yang paling mulia.

***

Ja’far bersama istrinya menghabiskan 10 tahun dalam perlindungan keamanan An-Najasy.

Pada tahun ke-7 H, mereka berdua meninggalkan Negeri Habasyah bersama rombongan kaum Muslimin lainnya untuk berhijrah ke Yastrib. Saat mereka tiba di sana, Rasulullah baru saja kembali dari Khaibar, setelah Allah menaklukkan daerah tersebut untuk beliau.

Begitu berjumpa Ja’far, Rasulullah amat bergembira dan berkata, “Aku tidak mengerti, mengapa aku begitu gembira. Apakah karena Khaibar telah ditaklukkan atau karena datangnya Ja’far?”

Kaum Muslimin semuanya, apalagi mereka yang fakir tidak mau kalah gembiranya dari Rasulullah dengan kedatangan Ja’far. Ja’far begitu peduli dan sayang terhadap kaum fakir. Sehingga ia dijuluki dengan Abul Masakin (ayahnya orang-orang miskin).

Abu Hurairah menceritakan tentang pribadi Ja’far dengan ucapannya, “Ja’far adalah orang yang paling baik kepada kami –orang miskin-. Ia sering mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan dengan apa yang ada di rumahnya. Sehingga bila semua makanan di rumahnya telah habis, maka ia akan memberikan kami bejana tempat minyak yang sama sekali sudah kosong. Bejana tersebut lalu kami belah dan kami jilati apa yang menempel dan tersisa di dalamnya.”

***

Ja’far bin Abi Thalib tidak tinggal lama di Madinah. Pada tahun ke-8 Hijriyah, Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan untuk menghadapi pasukan Romawi yang berada di negeri Syam. Rasul menunjuk Zaid bin Haritsah untuk memimpin pasukan ini. Rasulullah berpesan, “Jika Zaid terbunuh, maka yang menjadi amir dalam pasukan ini adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far terbunuh, maka yang akan menjadi amirnya adalah Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah terbunuh, maka pasukan Muslimin dipersilakan menunjuk amir bagi mereka!”

Ketika pasukan Muslimin tiba di Mu’tah, yaitu sebuah desa yang terletak di pinggir Negeri Syam di daerah Yordania, mereka mendapati bahwa pasukan Romawi telah menyiapkan 100 ribu prajurit yang didukung oleh 100 ribu lainnya dari penganut Nasrani Bangsa Arab dari kabilah Lakhm, Judzam, Qudha’ah dan lain-lain.

Pasukan Muslimin saat itu hanya berjumlah 3000 prajurit.

Begitu kedua pasukan sudah bertemu dan peperangan berlangsung dengan sengit, Zaid bin Haritsah tersungkur jatuh dan ia gugur hingga tak tertolong. Serta merta Ja’far melompat dari punggung kudanya yang berwarna pirang. Kemudian Ja’far menebas kaki-kaki kuda tadi dengan pedangnya sendiri agar pihak musuh tidak menggunakannya lagi. Lalu ia mengambil panji dan merangsek masuk ke barisan musuh sambil bersenandung,

Alangkah dekatnya surga

Ia amat indah dan sejuk airnya

Romawi, Bangsa Romawi sudah tiba azab baginya

Sebab ia adalah bangsa yang kafir dan jauh dari agama leluhurnya

Jika aku berjumpa dengan mereka, maka aku pasti akan menebasnya

Dia terus merangsek masuk ke barisan musuh dengan pedang terhunus sehingga ia mendapatkan sebuah sabetan pedang yang memutuskan tangan kanannya. Lalu ia mempertahankan panji dengan tangan kirinya. Tidak berlangsung lama, tangan kirinya pun putus disabet musuh. Lalu ia mempertahankan panji tersebut dengan dada dan kedua lengan atasnya. Tidak berlangsung lama, maka akhirnya ia terkena sabetan yang ketiga sehingga ia mati syahid. Kemudian panji direbut oleh Abdullah bin Rawahah. Ia pun terus berjuang sehingga ia menyusul kedua sahabatnya.

***

Rasulullah mendengar berita gugurnya ketiga panglima perang beliau. Maka Rasulullah amat bersedih begitu mendengarnya, lalu ia berangkat menuju rumah sepupunya, Ja’far bin Abi Thalib. Beliau mendapati istrinya Asma binti Umais yang bersiap-siap menyambut suaminya yang sudah tiada. Asma telah menumbukkan gandum, memandikan anak, memakaikan wewangian kepada mereka kemudian memakaikan mereka baju.

***

Asma berkata:

Saat Rasulullah datang ke rumah kami, aku melihat ada raut kesedihan yang menyelimuti wajahnya yang mulia. Maka aku mulai merasa khawatir, namun aku tidak mau bertanya kepada beliau tentang Ja’far, karena aku takut mendengar berita yang menyedihkan.

Kemudian Rasulullah memberikan salam dan berkata, “Bawalah ke sini anak-anak Ja’far!” Maka aku pun memanggil mereka.

Maka anak-anakku berlarian ke arah Rasulullah dengan gembira. Mereka berebut untuk dapat berada di pangkuan Rasulullah SAW. Rasulullah merangkul dan menciumi mereka. Mata beliau penuh dengan air mata.

Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, demi ibu dan bapakku, apa yang membuatmu menangis?! Apakah engkau telah menerima kabar tentang Ja’far dan kedua sahabatnya?” Beliau menjawab, “Ya, mereka semua sudah menjadi syahid pada hari ini.”

Pada saat itu, sirnalah senyuman dari wajah anak-anak Ja’far yang masih kecil saat mereka mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam tak bergeming, seolah di kepala mereka sedang bersarang seekor burung.

Sedangkan Rasulullah pergi ke luar sambil mengusap air matanya sambil berdoa, “Ya Allah, gantikan Ja’far bagi anak-anaknya. Ya Allah, gantikan Ja’far bagi keluarganya.”

Kemudian Rasulullah berkata, “Aku melihat Ja’far di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah dan bulu-bulunya diberi warna.”

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s