Posted in Sirah

Umair bin Sa’ad

“Pada usia dewasa”

“Aku amat berharap memiliki orang seperti Umair bin Sa’ad untuk menjadi pembantuku dalam menangani urusan kaum Muslimin.” –Umar bin Khattab

Baru saja kita mengetahui sebuah kisah hidup seorang sahabat yang terkenal Umair bin Sa’ad pada usia mudanya. Mari bersama kita ikuti kisah hidupnya yang  hebat pada usia dewasanya. Kalian akan mendapati kisah ini tidak kalah menarik dengan kisah yang pertama.

***

Penduduk Himsh adalah penduduk yang paling sering mengeluhkan pemimpin mereka. Tidak ada seorang wali yang datang kepada mereka kecuali mereka mendapati pada diri wali tersebut banyak sekali aib dan dosa yang ia lakukan dan mereka akan melaporkan hal ini kepada Khalifatul Muslimin, dan mereka berharap agar Khalifah berkenan menggantikannya dengan yang lebih baik lagi.

Umar al-Faruq berniat untuk mengirimkan kepada mereka seorang wali yang tidak cacat dan memiliki track record yang baik di mata mereka.

Maka Umar menyeleksi para pembantunya dan ia menguji mereka satu persatu, namun ia tidak menemukan adanya orang yang lebih baik daripada Umair bin Sa’ad.

Umair saat itu sedang berangkat berperang ke sebuah pulau di negeri Syam sebagai pemimpin pasukan pejuang di jalan Allah. Ia membebaskan banyak kota dan merobohkan banyak benteng, menundukkan banyak kabilah dan mendirikan banyak masjid di setiap daerah di mana pun ia berada.

Meski dia sedang melakukan itu semua, Amirul Mukminin memanggilnya, dan menyuruhnya berangkat ke Himsh dan menjadi wali di sana. Ia pun menuruti perintah Amirul Mukminin meski sebenarnya ia tidak menyukainya karena tidak ada yang ia lebih ia sukai selain jihad di jalan Allah.

***

Umair tiba di Himsh kemudian ia mengajak manusia untuk shalat berjamaah. Usai shalat, ia berkhotbah di hadapan manusia. Ia memulainya dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Muhammad SAW. Lalu ia berkata:

“Wahai manusia, Islam adalah benteng yang kokoh dan gerbang yang kuat. Benteng Islam adalah keadilan dan gerbangnya adalah kebenaran. Jika benteng telah dihancurkan dan gerbang telah dirobohkan, maka perlindungan agama ini tidak ada lagi. Islam akan senantiasa melindungi selagi kekuasaan tegak berdiri. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cambukan dan sabetan pedang akan tetapi dengan keadilan dan kebenaran.”

Kemudian ia meneruskan perjalanannya untuk melaksanakan apa yang telah ia rancang untuk mereka dari rencananya yang ia paparkan lewat khotbah yang singkat.

***

Umair menjalankan tugasnya di Himsh selama setahun penuh, namun tidak ada surat yang dikirimkan kepada Amirul Mukminin dan tidak ada satu dirham atau dinar dari harta fa’i yang sampai ke baitul maal. Maka hal itu menimbulkan keraguan pada diri Umar, karena ia amat khawatir terhadap para wali yang ia angkat akan ujian kepemimpinan. Tidak ada yang ma’shum menurut Umar selain Rasulullah SAW.

Umar langsung memerintahkan kepada sekretarisnya, “Kirimkanlah surat kepada Umair bin Sa’ad yang berbunyi: “Jika surat Amirul Mukminin telah sampai kepadamu, maka tinggalkanlah Himsh dan datanglah kepadanya. Bawalah harta fa’i Muslimin yang engkau sembunyikan.”

***

Umair bin Sa’ad menerima surat Umar bin Khattab RA lalu ia membawa tempat bekalnya, ia membawa tempat makanannya di atas pundak dan juga tempat air wudhunya. Ia juga memegang senjatanya dengan tangan. Ia meninggalkan Himsh dan menyusuri jalan di atas kedua kakinya menuju Madinah.

Begitu Umair tiba di Madinah, nampak sekali bahwa kulitnya telah berubah, tubuhnya kurus, rambutnya panjang. Dan nampak pada dirinya kelelahan akibat perjalanan.

***

Umair datang menghadap Umar bin Khattab. Kondisi Umair membuat Umar keheranan dan berkata, “Apa yang terjadi padamu, wahai Umair?!”

Umair menjawab, “Tidak ada yang terjadi pada diriku, wahai Amirul Mukminin. Aku sehat wal afiat, alhamdulillah. Aku membawa semua dunia bersamaku dan aku tarik dari kedua tanduknya.”

Umar bertanya, “Apa yang kau bawa dari dunia? (Umar menduga bahwa Umair membawa harta untuk baitul maal Muslimin)”

Umair menjawab, “Aku membawa tempat bekalku di mana aku simpan di situ bekal perjalananku. Aku juga membawa piring besar tempat makan dan membasuh tubuh dan menyuci baju. Aku juga membawa tempat air untuk wudhu dan minum.

Lalu dunia semuanya –wahai Amirul Mukminin- mengikuti barang-barangku ini, aku tidak memerlukan hal yang lebih dari ini, dan tidak ada selain aku yang memiliki barang-barang ini.”

Umar bertanya, “Apakah engkau datang dengan berjalan kaki?” Ia menjawab, “Benar, wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Bukankah sebagai pemimpin engkau telah diberikan hewan tunggangan?” Ia menjawab, “Mereka belum memberiku, dan aku tidak minta kepada mereka.” Umar bertanya, “Lalu mana harta yang akan engkau setorkan ke baitul maal?” Ia menjawab, “Aku tidak membawa apa pun.” Umar bertanya, “Mengapa demikian?” Ia menjawab, “Begitu aku sampai di Himsh, aku mengumpulkan para penduduknya yang shaleh. Aku menunjuk mereka sebagai pengumpul fa’i dari para penduduk. Setiap kali mereka mengumpulkan fa’i, aku bermusyawarah kepada mereka tentang penggunaan harta fa’i ini dan aku tempatkan pada alokasinya, dan aku infakkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.”

Lalu Umar berkata kepada sekretarisnya, “Perbaruilah perjanjian untuk Umair agar menjadi wali di daerah Himsh!”

Umair berkata, “Jangan! Itulah yang tidak aku inginkan. Aku tidak akan bekerja untukmu dan tidak untuk orang setelahmu, wahai Amirul Mukminin.”

Lalu Umair meminta izin untuk pergi ke suatu kampung di ujung Madinah di mana keluarganya berada. Maka Umar pun mengizinkannya.

Tidak lama Umair pergi menuju kampungnya, Umar berniat untuk menguji sahabatnya ini, dan menguji kepercayaannya. Ia berkata kepada salah seorang kepercayaannya yang bernama Al-Harits, “Susullah Umair bin Sa’ad, wahai Al-Harits! Singgahlah di rumahnya seolah engkau bertamu. Jika engkau menemukan tanda-tanda kemakmuran pada dirinya, maka kembalilah. Jika engkau melihatnya dalam kondisi amat sulit, maka berikanlah dinar-dinar ini.”

Lalu Umar memberikan sekantung uang yang berisikan 100 dinar.

***

Al-Harits berangkat hingga tiba di kampung Umair bin Sa’ad. Ia bertanya di mana alamatnya, lalu ia ditunjukkan oleh seseorang.

Saat Al-Harits menjumpainya, ia berkata, “Assalamu’alaika wa rahmatullahi.” Umair menjawab, “Wa’alaikassalam wa rahmatullahi wa barakutuhu. Dari mana engkau datang?” Al-Harits menjawab, “Dari Madinah.” Umair bertanya, “Bagaimana kondisi Muslimin di sana saat engkau meninggalkan mereka?” Al-Harits menjawab, “Mereka baik-baik saja.” Umair bertanya, “Bagaimanakah kabar Amirul Mukminin?” Al-Harits menjawab, “Ia sehat dan shaleh.” Umair bertanya, “Bukankah ia menegakkan hukum hudud?” Al-Harits menjawab, “Benar, ia pernah mendera anaknya yang melakukan dosa keji.” Umair berkata, “Ya Allah, tolonglah Umar. Yang aku ketahui tentangnya adalah bahwa ia adalah orang yang amat mencintai-Mu!”

***

Al-Harits menjadi tamu Umair bin Sa’ad selama tiga malam. Setiap malam, Umair menghidangkan sepotong roti gandum.

Pada hari ketiga, ada seorang dari kaum Umair berkata kepada Al-Harits, “Engkau telah merepotkan Umair dan keluarganya. Mereka tidak memiliki apa pun kecuali roti gandum yang mereka berikan kepadamu meski mereka sendiri tidak memakannya. Kelaparan telah mengancam hidup mereka. Jika engkau berkenan, menginaplah di tempatku!”

***

Saat itu, Al-Harits mengeluarkan kantong dinar dan memberikannya kepada Umair. Umair bertanya, “Apa ini?” Al-Harits menjawab, “Itu dikirimkan untukmu oleh Amirul Mukminin.” Umair bertanya, “Kembalikan kepadanya, sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Umair tidak membutuhkan dinar tersebut!”

Tiba-tiba istri Umair berkata –rupanya ia mendengarkan pembicaraan suaminya dengan si tamu-, “Ambillah, ya Umair. Jika engkau membutuhkannya, engkau dapat memberi nafkah dari uang itu. Jika engkau tidak membutuhkannya, maka engkau akan dapat menyalurkannya. Banyak orang yang membutuhkan di daerah ini.”

Begitu Al-Harits mendengar perkataan istri Umair, Al-Harits menaruh uang dinar tersebut di depan Umair lalu pergi. Kemudian Umair mengambil uang dinar tersebut dan ia bagikand dalam kantong-kantong kecil. Ia tidak tidur pada malam itu sebelum ia membagikan semuanya kepada orang yang membutuhkan, khususnya para anak syuhada.

***

Al-Harits kembali ke Madinah, dan Umar bertanya kepadanya, “Apa yang engkau dapat, ya Harits?” Ia menjawab, “Kondisi yang amat sulit, wahai Amirul Mukminin!” Umar bertanya, “Apakah engkau berikan dinar-dinar itu kepadaya?” Ia menjawab, “Ya, wahai Amirul Mukminin!” Umar bertanya lagi, “Lalu apa yang ia perbuat dengan uang dinar tadi?” Ia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku menduga ia tidak akan menyisakan 1 dirham perak untuk dirinya.”

Lalu Umar mengirimkan surat kepada Umair yang berbunyi, “Jika suratku ini telah datang kepadamu, janganlah engkau letakkan sebelum engkau datang kepadaku!”

***

Umair bin Sa’ad berangkat ke Madinah dan menghadap Amirul Mukminin. Umar menyambutnya dan berkata kepadanya, “Apa yang kau perbuat dengan uang dinar itu, ya Umair?” Ia menjawab, “Apa urusanmu ya Umar?” Umar berkata, “Aku bersikeras untuk mengetahui apa yang telah kau lakukan dengan uang dinar itu?” Ia menjawab, “Aku telah menabungnya untuk diriku agar ia bermanfaat bagiku di hari tiada harta dan keturunan yang akan memberi manfaat….”

Maka meneteslah air mata Umar. Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah termasuk orang yang mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan kemudian itu).” Kemudian Umar memerintahkan agar Umair diberi makan dan 2 helai baju.

Umair berkata, “Kami tidak memerlukan makanan, wahai Amirul Mukminin. Aku telah menyisakan 2 sha’ gandum untuk keluargaku. Jika 2 sha’ tadi telah habis, maka Allah SWT akan memberikan rezeki lagi kepada kami. Sedangkan baju, akan aku ambil untuk Ummu Fulan (maksudnya adalah istriya). Bajunya sudah rusak dan hampir saja ia telanjang.

***

Tidak lama berselang setelah perjumpaan itu antara Umar al-Faruq dan sahabatnya, sehingga Allah SWT mengizinkan Umair bin Sa’ad untuk menyusul Nabi dan kekasihnya Muhammad bin Abdullah SAW setelah kerinduan yang lama ia simpan untuk berjumpa dengannya.

Umai berangkat menyusuri jalan akhirat dengan meninggalkan dirinya. Ia berjalan dengan langkah pasti, ia tidak merasa terbebani dengan segala macam permasalahan dunia, dan punggungnya tidak dibebani dengan hiruk-pikuk dunia.

Tidak ada yang ia bawa selain cahaya, petunjuk, wara dan takwa….

Saat Umar al-Faruq berta’ziah, wajahnya diliputi dengan kesedihan dan duka menghiasi hatinya. Ia berkata, “Aku amat berharap memiliki orang seperti Umair bin Sa’ad untuk menjadi pembantuku dalam menangani urusan kaum Muslimin.”

***

Semoga Allah meridhai Umair bin Sa’ad. Ia adalah seorang teladan yang harus ditiru dari sekian banyak orang. Ia juga merupakan seorang murid yang istimewa dalam asuhan Rasulullah Muhammad bin Abdullah SAW.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s