Posted in Sirah

Usaid bin Al-Hudhair

“Malaikat-malaikat itu semuanya mendengarkanmu, ya Usaid!” –Muhammad Rasulullah

Seorang pemuda yang berasal dari Makkah bernama Mus’ab bin Umair datang ke Yastrib pada awal utusan pembawa kabar gembira yang dikenal oleh sejarah Islam.

Lalu ia menginap di rumah As’ad bin Zurarah yang merupakan salah seorang pembesar suku Khazraj. Di rumah Zurarah, Mus’ab membuat kamar untuk dirinya sendiri dan dijadikan markas untuk menyebarkan agama Allah dan mengabarkan akan adanya Nabi Allah yang bernama Muhammad.

Maka para pemuda Yastrib berdatangan untuk mendengarkan seruan da’i muda yang bernama Mus’ab bin Umair dengan begitu antusias.

Mereka semua tertarik dengan tenangnya pembicaraan, alasan-alasan yang jelas, sikap yang berwibawa dan cahaya iman yang terpancar dari wajah Mus’ab bin Umair.

Hal yang paling membuat mereka tertarik atas itu semua adalah Alquran yang ia bacakan kepada mereka dari waktu ke waktu. Ia membacakannya dengan suara merdu dan intonasi yang memukau. Sehingga hati yang keras menjadi lembut, dan meneteslah air mata dari bola mata mereka. Majelis Mus’ab bin Umair senantiasa dipenuhi orang yang akhirnya masuk Islam dan akhirnya menyatakan keimanan mereka.

***

Suatu hari, As’ad bin Zurarah pergi bersama tamunya, yaitu sang da’i Mus’ab bin Umair. Mereka berangkat untuk menemui sebuah jamaah dari Bani Abdul Asyhal dan menawarkan kepada mereka ajaran agama Islam. Keduanya lalu melalui sebuah taman milik Bani Abdul Asyhal, kemudian mereka berdua duduk di tepian mata air yang begitu jernih di bawah bayangan pohon kurma.

Lalu datanglah jamaah dari Bani Abdul Asyhal tadi yang telah masuk Islam dan sebagian yang hanya ingin mendengarkan penuturannya. Maka mulailah Mus’ab berdakwah dan memberikan kabar gembira. Semuanya mendengarkan penuturan Mus’ab, dan mereka pun mulai terkesima dengan pembicaraannya.

***

Lalu datanglah seseorang menceritakan kepada Usaid bin Al-Hudhair dan Sa’ad bin Muadz –dan keduanya adalah pemuda suku Aus- bahwa seorang da’i berasal dari Makkah telah sampai dekat kampung mereka, dan orang yang telah mendukungnya adalah As’ad bin Zurarah.

Maka Sa’ad berkata, “Ya Usaid, temuilah pemuda yang berasal dari Makkah ini yang datang ke kampung kita untuk membujuk kaum lemah dan menjelekkan tuhan-tuhan kita. Halangilah dia dan berikan peringatan kepadanya agar tidak masuk ke kampung kita setelah ini!”

Ia pun menambahkan, “Kalau saja ia bukan tamu sepupuku, As’ad bin Zurarah, dan kalau saja ia tidak melindunginya, pasti sudah aku bereskan dia!”

***

Usaid kemudian membawa alat perangnya dan ia berangkat menuju perkebunan. Begitu As’ad bin Zurarah melihatnya sedang datang menuju ke arah mereka, maka As’ad berkata kepada Mus’ab, “Celaka engkau ya Mus’ab! Inilah pemuda suku mereka. Ia adalah orang yang paling pintar di antara mereka dan merupakan orang yang paling sempurna. Dialah Usaid bin Al-Hudhair!

Jika ia Islam, maka akan banyak orang yang turut masuk Islam. Maka kisahkan tentang Allah dengan benar kepadanya dan berilah pemaparan yang sebaik mungkin untuknya!”

***

Usaid bin Al-Hudhair berhenti di dekat kerumunan. Ia melihat ke arah Mus’ab dan sahabatnya sambil berkata, “Apa yang membuat kalian datang ke kampung kami lalu membujuk orang-orang lemah kami?! Jauhilah kampung ini jika kalian masih ingin hidup!”

Lalu Mus’ab bin Umair menoleh ke arah Usaid dengan wajah memancarkan cahaya iman dan ia berbicara kepada Usaid dengan intonasi yang memukau, “Wahai pemimpin kaum, apakah engkau mau mendapatkan kebaikan? Usaid bertanya, “Apa itu?” Mus’ab menjawab, “Duduklah bersama kami dan dengarlah pembicaraan kami. Jika engkau senang akan apa yang kami katakan, maka terimalah! Jika engkau tidak menyukainya, maka kami akan pergi dan tidak akan kembali.”

Lalu Usaid berkata, “Engkau adil kalau begitu!” Ia pun menaruh tombaknya di tanah, lalu duduk.

Maka Mus’ab menjelaskan kepadanya tentang hakikat Islam. Ia juga membacakan untuknya beberapa ayat Alquran, maka nampaklah rona kebahagiaan di wajahnya. Ia pun berkata, “Betapa indah kalimat yang telah engkau ucapkan. Betapa agung ayat yang telah kau bacakan! Apa yang kalian perbuat jika hendak masuk ke dalam Islam?!”

Mus’ab lalu menjawab, “Mandilah dan bersihkanlah pakaianmu, dan bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Lalu lakukan shalat dua rakaat!”

Lalu Usaid pergi ke sumur dan bersuci dengan airnya. Kemudian ia bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, kemudian ia pun melakukan shalat dua rakaat.

Maka pada hari itu telah masuk ke dalam Islam seorang pejuang Bangsa Arab yang terkenal dan seorang pemuka Bangsa Aus.

Kaumnya memanggil dia dengan Al-Kamil (yang sempurna) karena akalnya yang cerdas dan kemuliaan keturunannya. Sebab ia memiliki pedang dan pena, selain ia adalah seorang patriot yang tepat melemparkan tombaknya, ia juga adalah seorang yang dapat membaca dan menulis dalam sebuah kaum  yang sedikit sekali yang bisa baca tulis.

Islamnya Usaid menjadi penyebab Islamnya Sa’ad bin Muadz. Dan keislaman mereka berdua menjadi penyebab islamnya banyak orang yang berasal dari suku Aus. Karenanya Madinah menjadi tempat yang dipilih Rasul SAW untuk berhijrah, tempat berlindung dan ibukota bagi Daulah Islamiyah yang besar.

***

Usaid bin Al-Hudhair begitu mencintai Alquran –sejak ia mendengarnya dari Mus’ab bin Umair-. Ia selalu datang kepada Alquran seperti seekor rusa yang datang ke tempat air yang jernih di tengah teriknya hari. Ia mnejadikan Alquran sebagai kesibukannya yang baru.

Sejak saat itu ia hanya menjadi seorang mujahid yang berperang di jalan Allah, atau seorang yang melakukan i’tikaf sambil membaca Kitabullah.

Dia adalah orang yang memiliki suara merdu, pembicaraanya jelas, senang untuk membacanya. Ia semakin senang membaca Alquran jika hari sudah semakin larut, ketika para mata manusia sudah terpejam, dan jiwa mereka telah terbang dibawa mimpi.

Para sahabat Rasul selalu menanti Usaid membaca Alquran dan berlomba-lomba untuk mendengarkannya.

Sa’id termasuk orang yang sering mendengarkan bacaan Alquran Usaid yang begitu merdu seperti baru saja turun kepada Muhammad SAW.

Penduduk langit menyukai bacaan Usaid, sebagaimana penduduk bumi menyukainya.

Pada suatu malam, saat itu Usaid sedang duduk di teras belakang rumahnya. Anaknya yang bernama Yahya sedang tidur di sampingnya. Kudanya yang ia siapkan untuk berjihad di jalan Allah sedang terikat dengan jarak yang tidak jauh darinya.

Malam itu begitu tenang dan langit begitu bersih. Cahaya bintang menyapa bumi dengan begitu tenang dan lembut.

Jiwa Usaid bin Al-Hudhair lalu berbisik untuk mengharumi udara yang segar ini dengan bacaan Alquran. Maka ia membacakan dengan suaranya yang merdu, “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka beriman kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 1-4)

Begitu kudanya mendengarkan bacaan Usaid, kuda tersebut langsung berputar-putar dan hampir membuat tali kekangnya putus. Maka Usaid berhenti membaca, dan kudanya langsung diam.

Kemudian ia membaca lagi, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan-Ny, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5)

Maka kudanya sekali lagi berputar dengan begitu kuatnya. Lebih kuat dari sebelumnya. Kemudian Usaid menghentikan bacaannya dan kudanya pun berhenti berputar.

Hal itu terus berulang. Jika Usaid membaca lagi, maka si kuda akan berontak dan lari berputar. Jika Usaid menghentikan bacaannya, maka kuda itu akan tenang dan diam.

Lalu Usaid khawatir akan anaknya dari pijakan kudanya. Kemudian ia menghampiri sang anak untuk membangunkannya. Pada saat itulah, ia menoleh ke arah langit. Ia melihat awan yang seperti payung yang tidak pernah terlihat oleh mata hal yang lebih hebat dan mengagumkan dari hal itu. Di awan tersebut tergantung benda-benda seperti lampu. Maka seluruh langit menjadi terang-benderang. Benda-benda itu terus naik ke langit sehingga tak terlihat lagi.

Keesokan paginya, ia pun menghadap kepada Nabi SAW dan menceritakan apa yang ia lihat semalam. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Itu adalah para malaikat yang mendengarkan bacaanmu, ya Usaid! Jika engkau teruskan bacaanmu, pasti manusia akan melihat mereka sehingga tidak samar lagi bagi manusia untuk melihat malaikat!”

***

Sebagaimana Usaid bin Al-Hudhair begitu cinta kepada Kitabullah, ia juga amat mencintai Rasulullah SAW. Rasul –sebagaimana penuturan Usaid- adalah manusia yang paling suci dan merupakan manusia yang paling jujur dan beriman saat membaca Alquran atau tatkala mendengarkannya.

***

Rasulullah membalas cinta Usaid kepada beliau dengan kecintaan yang setimpal. Beliau selalu mengenang masuknya Usaid ke dalam Islam dan pembelaan Usaid kepada beliau pada peristiwa Uhud sehingga ia rela terkena 7 tombakan yang mematikan pada hari itu. Rasulullah juga mengetahui pengaruh dan posisi Usaid di kaumnya. Jika Rasul hendak memberikan syafaat kepada salah seorang anggota kaumnya, maka Rasul akan memberikan izin syafaat tersebut kepadanya.

Usaid mengisahkan:

Aku datang menghadap Rasulullah SAW dan aku adukan kepadanya tentang sebuah rumah yang dihuni oleh anggota kaum Anshar yang amat fakir dan miskin. Kepala keluarga rumah tersebut adalah seorang wanita. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Ya Usaid, Engkau datang setelah kami menginfakkan semua yang kami miliki. Jika engkau mendengar rezeki yang kami dapat, maka ceritakanlah olehmu tentang penghuni rumah tadi!”

Setelah itu, Rasulullah mendapatkan harta dari perang Khaibar yang ia bagikan kepada kaum Muslimin seluruhnya. Beliau membagikan harta tersebut kepada kaum Anshar dengan harta yang banyak. Dan beliau juga memberikan harta yang banyak kepada penghuni rumah tadi. Aku pun berkata kepada mereka, wahai Nabi Allah!”

Rasulullah menjawab, “Kalian wahai penduduk Anshar, semoga Allah membalas kalian dengan sebaik-baik balasan. Sebab kalian –sepanjang pengetahuanku- adalah kaum yang menjaga kehormatan diri dan bersabar. Kalian akan mendapati manusia akan mengikuti kalian dalam melakukan kebaikan setelah aku mati. Bersabarlah kalian, hingga kalian bertemu denganku lagi. Tempat kalian kembali adalah telagaku.”

Usaid bertutur:

Saat kekhilafahan berpindah ke tangan Umar bin Khattab RA, ia membagikan kepada seluruh kaum Muslimin harta dan barang-barang. Ia juga mengirimkan kepadaku sebuah pakaian yang aku anggap hina.

Saat aku sedang berada di masjid, lalu melintas di hadapanku seorang pemuda dari Quraisy yang menggunakan pakaian panjang dan besar yang pernah dikirimkan oleh Khalifah Umar kepadaku. Ia memanjangkan pakaian itu hingga menyentuh bumi. Maka aku bacakan kepada orang yang ada bersamaku saat itu sabda Rasulullah SAW, “Kalian akan mendapati manusia akan mengikuti kalian dalam melakukan kebaikan setelah aku mati.” Dan aku mengatakan, “Benar, sabda Rasulullah!”

Maka ada orang yang menghadap Umar dan memberitahukannya apa yang telah aku katakan. Umar langsung menemuiku segera, dan saat itu aku hendak shalat. Ia berkata, “Shalatlah, ya Usaid!”

Begitu aku selesai melakukan shalat, ia mendatangiku dan berkata, “Apa yang telah engkau katakan?” Aku pun mengatakan apa yang aku lihat dan apa yang telah aku katakan.

Umar berkata, “Semoga Allah memaafkanmu. Itu adalah pakaian yang aku kirimkan kepada Fulan. Dia adalah seorang anggota suku Anshar yang ikut dalam bai’at aqabah, perang Badar dan Uhud. Seorang pemuda Quraisy telah membelinya dari orang Anshar tadi lalu dipakainyalah…. Apakah engkau mengira ucapan yang pernah disabdakan Rasulullah SAW ini terjadi di zamanku?!”

Usaid menjawab, “Demi Allah, ya Amirul Mukminin, tadinya aku tidak mengira bahwa hal ini akan terjadi di zamanmu.”

***

Setelah itu, usia Usaid bin al-Hudhair tak tersisa lama. Allah telah mengakhiri hidupnya pada masa pemerintahan Umar RA.

Didapati bahwa ia masih berutang sebanyak 4000 dirham. Ahli warisnya berniat menjual tanah miliknya untuk membayar utang tersebut.

Saat Umar mengetahui hal itu, ia berkata, “Aku tidak akan membiarkan keturunan saudaraku Usaid menjadi beban masyarakat!”

Kemudian Umar bernegosiasi denga orang yang memberinya utang. Mereka semua sepakat untuk membeli hasil bumi tanah tersebut selama empat tahun, setiap tahunnya seharga seribu dirham.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s