Posted in Sirah

Abu Dzar Al-Ghifari

Jundub bin Junadah

“Bumi tidak pernah mengandung & langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar.” –Muhammad Rasulullah

Di lembah Waddan yang menyambungkan Makkah dengan dunia luar ada sebuah kabilah yang tinggal di sana bernama Ghifar.

Suku Ghifar ini hidup dari uang setoran yang diberikan oleh para kafilah yang hendak melakukan perdagangan dari Quraisy ke Syam atau sebaliknya.

Terkadang suku ini hidup dengan merampas harta para kafilah yang tidak memberikan uang yang mereka pinta.

Jundub bin Junadah, yang lebih dikenal dengan Abu Dzar, adalah salah seorang dari penduduk kabilah ini. Akan tetapi berbeda dengan lainnya, ia memiliki keberanian hati, otak yang cerdas dan wawasan yang luas. Dan ia merasa tidak suka sekali dengan berhala-berhala yang disembah kaumnya selain Allah SWT. Ia menolak kerusakan agama dan akidah yang terjadi pada kebanyakan bangsa Arab. Ia mencaritahu tentang munculnya seorang Nabi yang baru untuk mengisi akal manusia dan hati mereka serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu Abu Dzar –yang saat itu berada di kampungnya- mendengar kisah tentang seorang Nabi yang baru dan muncul di kota Makkah. Lalu ia berkata kepada saudaranya yang bernama Anis, “Pergilah ke Makkah dan carilah kisah tentang orang yang mengaku Nabi itu dan mengaku menerima wahyu dari langit. Dengarkanlah apa yang ia ucapkan dan sampaikan kepadaku!”

***

Berangkatlah Anis ke Makkah dan ia berjumpa dengan Rasulullah SAW. Ia pun mendengarkan beberapa sabda beliau. Kemudian Anis kembali ke desanya lalu Abu Dzar menghampirinya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menanyakan Anis tentang kisah Nabi yang baru dengan penasaran.

Anis berkata, “Demi Allah, menurutku ia adalah seorang yang mengajak untuk memperbaiki akhlak. Ia mengucapkan beberapa kalimat yang bukan sya’ir.” Abu Dzar bertanya, “Apa pendapat orang tentang dirinya?” Anis menjawab, “Mereka menyebutnya dengan penyihir, dukun dan penyair.” Abu Dzar lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan merasa puas. Maukah kau menjaga keluargaku agar aku berangkat ke sana melihat dia dengan mata kepalaku sendiri?”

Anis menjawab, “Baiklah, akan tetapi waspadalah terhadap penduduk Makkah!”

***

Abu Dzar mempersiapkan bekal untuk berangkat. Ia membawa tempat air kecil bersamanya. Keesokan harinya ia berangkat menuju Makkah untuk bertemu dengan Nabi SAW dan mengetahui kisah kenabian beliau langsung darinya.

***

Abu Dzar tiba di Makkah dengan diam-diam karena khawatir akan kejahatan penduduknya. Ia telah mendengar kemarahan Quraisy dalam membela Tuhan-tuhan mereka dan penyiksaan mereka terhadap orang yang mengaku sebagai pengikut Muhammad.

Oleh karenanya, ia enggan untuk bertanya tentang Muhammad, karena ia sendiri tidak tahu apakah orang yang ia tanyakan nanti termasuk pendukung Muhammad atau musuh Muhammad?

***

Begitu malam tiba, Abu Dzar berbaring di dalam masjid, lalu Ali RA melintasi Abu Dzar dan Ali tahu bahwa Abu Dzar adalah seorang pendatang. Ali langsung berkata kepadanya, “Ikutilah kami, wahai saudara! Abu Dzar pun mengikutinya dan menginap di rumah Ali. Paginya, Abu Dzar membawa tempat air dan makanannya dan kembali datang ke masjid tanpa keduanya saling bertanya tentang sesuatu.

Kemudian Abu Dzar menghabiskan hari yang kedua di masjid dan belum juga mengetahui kabar tentang Nabi SAW. Begitu petang menjelang, ia sudah hendak berbaring dalam masjid. Lalu datanglah Ali RA dan berkata kepadanya, “Apakah orang ini tidak tahu rumahnya?!” Kemudian Abu Dzar pergi ke rumah Ali dan menginap di sana pada malam yang kedua. Dan keduanya tidak saling bertanya tentang apa pun juga.

Pada malam ketiga, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Apakah engkau tidak mau bercerita kepadaku mengapa engkau datang ke Makkah?” Abu Dzar menjawab, “Jika kau berjanji akan menunjukkan apa yang aku cari, maka aku akan mengatakannya.” Maka Ali berjanji untuk melakukannya.

Abu Dzar lalu berkata, “Aku datang ke Makkah dari tempat yang jauh untuk berjumpa dengan seorang Nabi baru dan untuk mendengarkan sesuatu yang ia ucapkan.”

Maka merebaklah kebahagiaan di wajah Ali, lalu ia berkata, “Demi Allah, dialah Rasulullah, dialah…. dialah…. Besok pagi ikutilah aku ke mana aku pergi. Jika aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, aku akan berhenti seolah sedang menuangkan air. Jika aku berjalan lagi, ikutilah aku sehingga kau masuk ke sebuah pintu bersamaku!”

***

Malam itu, Abu Dzar tidak bisa tidur nyenyak karena rindu sekali ingin berjumpa dengan Nabi SAW, dan ingin sekali mendengarkan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Keesokan paginya, Ali berangkat bersama tamunya menuju rumah Rasulullah. Abu Dzar mengikuti jejaknya dan ia tidak menoleh ke arah mana pun hingga keduanya masuk ke rumah Nabi SAW. Lalu Abu Dzar berkata, “Assalamu’alaika, Ya Rasulullah!” Rasul menjawab, “Wa’alaika salaamullah warahmatuhu wa barakatuhu!”

Abu Dzar menjadi orang pertama yang memberikan salam kepada Rasulullah SAW dengan tahiyat Islam. Lalu setelah itu ucapan salam menjadi akrab dipakai orang.

***

Rasulullah mengajak Abu Dzar untuk masuk Islam dan membacakan kepadanya Alquran. Begitu ia mengucapkan kalimatul haq dan masuk ke dalam agama yang baru, maka ia menjadi orang keempat ata kelima yang masuk ke dalam Islam.

Sekarang, mari kita persilakan Abu Dzar untuk menceritakan kisah selanjutnya sendiri:

Setelah itu, aku tinggal bersama Rasulullah SAW di Makkah dan beliau mengajarkan Islam kepadaku. Beliau juga mengajarkan aku beberapa ayat Alquran. Beliau berkata kepadaku, “Jangan kau beritahu siapa pun tentang keislamanmu di Makkah. Aku khawatir mereka akan membunuhmu!” Aku menjawab, “Demi Zat yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya. Aku tidak akan meninggalkan Makkah sehingga aku datang ke masjid dan aku akan meneriakkan dakwah kebenaran di hadapan suku Quraisy!” Rasul pun diam.

Lalu aku datang ke masjid, dan suku Quraisy sedang duduk berbincang-bincang di sana. Aku masuk ke tengah-tengah mereka. Aku berteriak dengan sekeras-kerasnya, “Wahai Bangsa Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

Begitu ucapanku hinggap di telinga mereka, maka mereka semua bangun dari tempat duduknya. Mereka berkata, “Tangkaplah orang yang keluar dari agamanya ini!” Mereka pun menangkapku dan memukuliku hingga aku hampir mati. Lalu Abbas bin Abdul Muthalib paman Rasulullah menarikku, ia berusaha melindungiku dari pukulan suku Quraisy. Kemudian ia berkata kepada mereka, “Celakalah kalian! Apakah kalian hendak membunuh seorang yang berasal dari Ghifar tempat berlalunya kafilah kalian?! Biarkan ia bersamaku!”

Begitu aku siuman, aku datang menghadap Rasulullah SAW. Saat beliau melihat apa yang aku alami, beliau berkata, “Bukankah aku telah melarangmu agar tidak mengumumkan keislamanmu?!” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, itu merupakan keinginan hatiku dan aku telah memenuhinya.”

Beliau berkata, “Kembalilah ke kaummu dan beritahukan kepada mereka apa yang telah kau lihat dan kau dengar. Ajaklah mereka kembali kepada Allah. Semoga Allah memberi manfaat untuk mereka lewatmu dan memberimu balasan karena jasa baik yang kau lakukan kepada mereka. Jika kau mendengar bahwa aku sudah berdakwah secara terang-terangan, maka datanglah kepadaku!”

Abu Dzar meneruskan kisahnya:

Aku pun berangkat hingga tiba di perkampungan kaumku. Lalu saudaraku Anis menanyakan, “Apa yang telah engkau lakukan?” Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam, dan aku telah meyakininya.”

Tidak lama berselang, Allah pun melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Ia berujar, “Aku tidak membenci agamamu. Aku kini masuk Islam dan meyakininya juga.”

Lalu kami berdua mendatangi ibu kami. Kami mengajaknya untuk masuk Islam. Ia menjawab, “Aku tidak membenci agama kalian berdua.” Dan ia pun masuk Islam.

Sejak hari itu, keluarga ini telah masuk Islam dan berdakwah di jalan Allah di daerah Ghifar. Mereka tidak pernah merasa bosan dan putus asa. Hingga banyak sekali dari penduduk Ghifar yang masuk Islam dan mendirikan shalat.

Sebagian dari penduduk Ghifar mengatakan, “Kami akan terus menjalankan agama kami hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah maka kami akan masuk Islam.” Begitu Rasul pindah ke Madinah, mereka pun masuk Islam. Rasulullah bersabda, “Ghifar, Allah memberikan maghfirahnya kepada mereka. Ghifar telah masuk Islam dan Allah akan membuatnya senantiasa selamat.”

***

Abu Dzar tinggal di kampungnya sehingga peristiwa Badar, Uhud dan Khandaq terlewatkan olehnya. Kemudian ia datang ke Madinah dan ia mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Rasulullah SAW. Beliau pun mengizinkannya dan ia begitu gembira dapat mendampingi dan melayani Rasulullah SAW.

Rasulullah senantiasa memberikan penghormatan dan memuliakan Abu Dzar. Beliau tidak pernah berjumpa dengannya kecuali beliau menjabat tangannya. Beliau juga senantiasa menampakkan wajah ceria di hadapan Abu Dzar.

***

Saat Rasulullah SAW kembali ke pangkuan Rabb-Nya, Abu Dzar tidak sanggup lagi tinggal di Madinah al-Munawwarah setelah ditinggalkan pemimpinnya dan kehilangan petunjuknya. Ia pernah pergi ke sebuah desa di Syam dan tinggal di sana selama pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq.

***

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Abu Dzar yang tinggal di Damaskus mendapati kaum Muslimin sudah begitu mencintai dunia dan hidup bermewah-mewahan. Hal ini membuat ia keheranan dan menolaknya. Utsman pun memintanya untuk datang ke Madinah dan ia pun datang. Akan tetapi, ia merasa sumpek dengan manusia yang begitu cinta dunia dan manusia pun menjadi benci kepadanya karena ia begitu saklek kepada mereka. Maka Utsman memerintahkannya untuk pindah ke Ar-Rabdzah yaitu sebuah desa kecil yang ada di Madinah. Lalu ia berangkat ke sana dan tinggal di sana di sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia. Ia berzuhud dari hal yang manusia miliki, senantiasa dengan apa yang dijalankan Rasulullah dan kedua sahabatnya yang lebih mendahulukan akhirat daripada dunia.

***

Suatu hari, ada seseorang yang datang ke rumah Abu Dzar dan melihat ke sekeliling rumahnya, akan tetapi ia tidak menemukan barang apa pun.

Orang itu bertanya, “Wahai Abu Dzar, mana perabotanmu?!”

Ia menjawab, “Kami memiliki rumah di sana (maksudnya akhirat). Kami mengirimkan perabotan kami yang baik ke sana.

Orang itu pun mengerti maksud Abu Dzar dan berkata, “Akan tetapi engkau harus memiliki perabotan selagi engkau berada di sini (maksudnya dunia).” Lalu ia menjawab, “Akan tetapi pemilik rumah ini tidak akan membiarkan kami tinggal di sini.”

***

Amir (pemimpin Syam) mengirimkan 300 dinar kepada Abu Dzar dan berkata kepadanya, “Gunakanlah uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu!” Tapi Abu Dzar menolaknya sambil berkata, “Apakah Amir Negeri Syam Abdullah tidak menemukan orang yang lebih miskin dariku?”

***

Pada tahun 32 Hijriah, ajal datang menjemput hamba yang taat beribadah dan hidup zuhud, yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai, “Bumi tidak pernah mengandung dan langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar.”

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s