Posted in Sirah

Umair bin Wahab

“Umair bin Wahab telah menjadi orang yang paling aku kasihi di antara para anakku.” –Umar bin Khattab

Umair bin Wahab al-Jumahi kembali dari perang Badar dalam kondisi selamat, akan tetapi ia pulang tanpa membawa anaknya yang bernama Wahab karena ditawan oleh kaum Muslimin.

Umair amat khawatir bila kaum Muslimin akan menyiksa anaknya karena dosa yang telah dibuat oleh ayahnya. Ia juga amat khawatir bila kaum Muslimin akan menganiaya anaknya dengan bengis sebagai balas dari tindakan ayahnya saat menyakiti Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

***

Di suatu pagi, Umair hendak pergi ke Masjidil Haram untuk berthawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan para berhala yang ada di sana. Ia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di samping Hijir Ismail. Lalu Umair menghampirinya dan berkata, “Selamat pagi, wahai pemuka Bangsa Quraisy!” Shafwan membalas, “Selamat pagi, Abu Wahab. Duduklah agar kita dapat berbicara sejenak! Sebab waktu dapat berhenti karena pembicaraan.”

Umair pun duduk di hadapan Shafwan bin Umayyah. Kedua pria tersebut akhirnya mengingat peristiwa Badar dan kekalahan mereka yang telak. Mereka juga menghitung kaum mereka yang menjadi tawanan di tangan Muhammad dan para sahabatnya. Dan mereka menjadi bergidik saat mengingat para pembesar Quraisy yang mati terbunuh oleh pedang kaum Muslimin, dan mereka terkenang akan Al-Qalib…. Lalu Shafwan langsung berseru, “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih nikmat setelah mereka.” Umair menyahut, “Demi Allah, engkau benar.” Lama berselang Umair berkata lagi, “Demi Tuhan pemilik Ka’bah, kalau aku tidak ingat utangku yang tidak sanggup aku bayar, kalau saja aku tidak khawatir dengan keluarga yang aku khawatirkan kehidupan mereka bila aku tidak ada, pasti aku sudah mendatangi Muhammad dan membunuhnya sehingga aku dapat menyelesaikannya dan menolak segala kejahatannya….” Kemudian ia meneruskan lagi ucapannya dengan suara pelan, “Dan keberadaan anakku yang bernama Wahab yang menjadi tawanan mereka, itu yang membuat kepergian ke Yastrib menjadi hal yang tidak dapat dielakan.”

***

Shafwan bin Umayyah memegang ucapan Umair bin Wahab. Sebelum kesempatan berlalu, Shafwan memandang Umair seraya berkata, “Wahai Umair, aku akan menanggung semua utangmu berapa pun jumlahnya…. Sedang keluargamu, aku akan menjadikan mereka seperti keluargaku selagi aku dan mereka masih hidup. Aku memiliki uang yang cukup banyak untuk merawat mereka semua. Lalu Umair menjawab, “Kalau begitu, jagalah pembicaraan ini dan jangan sampai ada seorangpun yang tahu!” Shafwan langsung membalasnya, “Aku jamin.”

***

Umair bangkit dari masjid dan api kedengkian menyala dengan hebat dalam hatinya kepada Muhammad SAW. Lalu ia mempersiapkan bekal untuk mewujudkan tekadnya. Ia tidak khawatir kegelisahan orang lain akan perjalanan yang ia lakukan; hal itu karena para keluarga tawanan Quraisy lainnya ragu untuk pergi ke Yastrib demi mencari keluarganya yang ditawan di sana.

***

Umair meminta keluarganya untuk mengasah pedangnya lalu melumurkannya dengan racun. Ia juga meminta agar kendaraannya dipersiapkan dan dibawa ke hadapannya, lalu ia pun menungganginya. Ia mulai menuju Madinah dengan salendang kebencian dan kejahatan. Akhirnya Umair tiba di Madinah dan ia berjalan menuju Masjid untuk mencari Rasulullah SAW. Saat ia sudah hampir mendekat ke pintu masjid, ia memberhentikan tunggangannya lalu turun.

***

Saat itu Umar bin Khattab RA sedang duduk bersama para sahabat yang lain dekat pintu masjid. Mereka sedang mengenang perang Badar dan tawanan Quraisy serta jumlah yang terbunuh dari pihak mereka. Mereka juga mengingat anugerah kemenangan yang Allah berikan kepada mereka, dan apa yang Allah perlihatkan kepada mereka tentang kekalahan yang diterima oleh musuh.

Saat kepala Umar menoleh, ia melihat Umair bin Wahab yang baru turun dari kendaraannya. Terlihat Umair sedang berjalan ke arah masjid dengan pedang terhunus. Maka Umar langsung bangkit dengan khawatir seraya berkata, “Inilah si anjing musuh Allah, Umair bin Wahab…. Demi Allah, pastilah ia datang hendak membuat keburukan. Dialah yang pernah menghasut kaum musyrikin di Makkah untuk memusuhi kami. Dan dia juga yang selalu menjadi mata-mata sebelum terjadinya perang Badar.”

Lalu Umair berpesan kepada para sahabatnya, “Pergilah kepada Rasulullah dan tetaplah kalian bersamanya! Waspadalah saat setan pembuat makar ini akan berlaku khianat kepada beliau!”

Kemudian Umar datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang dengan membawa pedang terhunus. Aku menduga bahwa ia ingin membuat kerusakan.” Lalu beliau berkata, “Bawalah ia menghadapku!”

Kemudian Umar mendatangi Umair bin Wahab. Lalu Umar mengambil kerah baju Umair dengan keras dan melipat leher Umair sampai mencium tempat pedang yang ada di pinggulnya. Lalu Umar membawanya menghadap Rasulullah SAW.

Saat Rasulullah SAW mendapatinya dalam kondisi demikian, maka beliau berkata kepada Umar, “Lepaskan dia, ya Umar!” Lalu Umar pun melepaskannya dan berkata kepada Umair, “Menjauhlah dari Rasul!”

Umair menjauh dari Rasul. Lalu Rasulullah mendekat ke arah Umair bin Wahab seraya berkata, “Duduklah ya Umair!” Lalu Umair pun duduk dan berkata, “Selamat pagi!” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, Allah telah memuliakan kami dengan ucapan penghormatan yang lebih baik dari yang kau ucapkan, wahai Umair! Allah telah memuliakan kami dengan salam itu dan itu adalah ucapan ahli surga.” Kemudian Umair menjawab, “Demi Allah, apa yang kau ucapkan tidak jauh berbeda dengan ucapan kami. Dan jarakmu dengan kami hanya sedikit saja.” Lalu Rasul SAW bertanya kepadanya, “Apa yang membawamu ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku ke sini untuk memohon kebebasan bagi tawanan yang kalian tawan. Bersikaplah baik kepadaku dalam hal ini.” Rasul SAW bertanya lagi, “Lalu apa maksudnya pedang yang kau bawa di lehermu ini?” Umair menjawab, “Ini adalah pedang yang jelek…. apakah ia bermanfaat buat kami saat terjadinya perang Badar?!” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Berkatalah yang jujur, apa yang kau inginkan hingga datang ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku hanya datang untuk maksud yang telah aku sebutkan.” Rasulullah SAW berkata, “Bukan, namun kau pernah duduk bersama Shafwan bin Umayyah dekat Hijir Ismail, dan kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang terkubur di Al-Qalib lalu kau berkata, ‘Kalau bukan karena utang dan keluargaku, aku akan datang kepada Muhammad lalu membunuhnya…. Lalu Shafwan bin Umayah bersedia untuk membayar utangmu dan menjaga keluargamu agar engkau dapat membunuhku…. dan Allah adalah penghalang dirimu untuk melakukannya.”

Umair merasa terkejut sesaat, lalu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Kemudian ia mengatakan, “Dahulu kami selalu mendustakan apa yang engkau bawa dari berita langit. Dan kami juga mendustakan wahyu yang turun kepadamu. Akan tetapi kisah pembicaraanku dengan Shafwan bin Umayyah tidak ada yang mengetahuinya selain aku dan dia. Demi Allah, kini aku yakin bahwa yang telah memberitahukanmu adalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah  mengantarkan aku ke sini untuk menunjukkan aku kepada Islam.”

Kemudian ia bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Ajarkan kepadanya Alquran dan bebaskan tawanannya!”

***

Kaum muslimin amat bergembira dengan keislaman Umair bin Wahab; bahkan Umar bin Khattab RA sempat berkata, “Tidak ada babi yang lebih aku cintai selain Umair bin Wahab. Mulai hari ini ia adalah orang yang paling aku cintai daripda anakku sendiri.

***

Umair yang sedang mensucikan dirinya dengan ajaran Islam, mengisi hatinya dengan cahaya Alquran, serta mengisi hari-hari terindah dalam sisa umurnya, membuat ia terlupa akan Makkah dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pada saat yang sama, Shafwan bin Umayyah sedang berangan-angan, dan ia melewati perkumpulan orang-orang Quraisy sambil berkata, “Bergembiralah dengan berita besar yang akan kalian dengar sebentar lagi. Sebuah berita yang akan membuat kalian meluapakan peristiwa Badar!”

Setelah penantian cukup lama yang dijalani Shafwan bin Umayyah, maka sedikit demi sedikit ia merasa kekhawatiran merasuki dirinya sehingga hatinya menjadi lebih panas ketimbang batu bara. Ia mulai kasak-kusuk bertanya kepada para pengelana tentang kabar Umair bin Wahab, namun tidak satu pun jawaban mereka yang dapat memuaskannya. Kemudian datang seorang pengelana yang mengatakan bahwa Umair telah masuk Islam. Begitu mendengar berita itu, Shafwan seperti tersambar petir dibuatnya…. karena ia menduga bahwa Umair bin Wahab tidak akan masuk Islam meski semua manusia di bumi ini masuk Islam.

***

Sedang Umair bin Wahab sendiri hampir saja menguasai agama yang baru dianutnya dan menghafal beberapa ayat Alquran yang mudah baginya sehingga ia datang menghadap Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku adalah seorang yang selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah. Dahulunya aku adalah orang yang selalu menyiksa para pemeluk Islam. Aku berharap engkau mengizinkan aku untuk datang ke Makkah untuk berdakwah kepada kaum Quraisy agar kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka menerima dakwahku, itu amat baik buat mereka. Jika mereka menolak dan berpaling dariku, aku akan menyiksa mereka sebagaimana aku dulunya menyiksa para sahabat Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW memberinya izin dan ia pun berangkat ke Makkah. Sesampainya di sana, ia datang ke rumah Shafwan bin Umayyah sambil berkata, “Wahai Shafwan, engkau adalah salah seorang pemuka kota Makkah, seorang intelektual dari suku Quraisy. Apakah menurutmu apa yang kalian lakukan dengan beribadah kepada batu dan melakukan penyembelihan untuknya dapat diterima oleh akal untuk dijadikan agama?!

“Sedangkan aku kini telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

***

Kemudian Umair mulai berdakwah di Makkah sehingga banyak orang yang masuk Islam karena dakwahnya. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala Umair bin Wahab dan memberikan cahaya pada kuburnya.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

One thought on “Umair bin Wahab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s