NGAJI BERSERI #12 CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH (2)

Assalamu’alaykum sahabat.. Bertemu lagi dengan tulisan saya hehe. Afwan ya jika tidak berkenan dengan tulisannya. hehe Tetapi kalau tetap dibaca, semoga bisa kita amalkan sama-sama.

Sebelumnya, penulis sudah bahas beberapa standar yang salah yang kerap kita praktekkan dalam mencintai dan membenci seseorang. Standar semacam ini sangat rapuh sahabat dan sudah semestinya kita meninggalkannya. Satu-satunya alasan yang mesti dijadikan pegangan dalam mencurahkan rasa cinta dan benci, adalah karena Allah. Ya, karena Allah. Sebab, kecintaan atas dasar inilah yang merupakan ikatan tertinggi yang mampu mengantarkan kita hingga sampai ke surga.

Mencintai karena Allah berarti kita mencintai seseorang semata-mata karena Allah, bukan karena pertimbangan lain. Maksudnya, kita mencintai seseorang karena keta’atannya, kegigihannya dalam menjalankan syaria’t Islam, usahanya untuk mengajak kepada Islam, menyatukan kaum muslimin, dan lain-lain. Adapun membenci karena Allah adalah membenci seseorang karena kekafirannya, karena  maksiatnya, karena usahanya menginterpretasikan ayat Alquran secara bebas, usahanya memecah belah persatuan kaum muslimin, dan sebagainya.

Namun, bukan berarti dengan diwajibkannya kita membenci karena Allah, kita menjadi semena-mena terhadap mereka. Kita tetap tidak diperbolehkan berlaku kasar dan menodongkan senjata kepada mereka tanpa alasan yang haq. Termasuk, jika ternyata mereka adalah orang tua kita. Meskipun mereka kafir, kita tetap diperintahkan untuk terus berbuat baik dan berbakti kepada mereka, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Namun, dalam perkara keimanan dan Islam, ini tidak bisa ditawar-tawar. Cinta kepada Allah adalah cinta tertinggi yang bahkan mengalahkan yang lain, termasuk kecintaan kepada orang tua kandung, apabila mereka masih kafir.

Dalam surat Al Mujadalah ayat 22, Allah berfirman, “Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” Sekalipun kita diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua, namun ketika tiba seruan untuk berperang, kedudukan mereka berubah menjadi musuh Allah jika mereka memerangi orang beriman. Prakteknya nampak di zaman Rasulullah SAW. Dua bersaudara Abdullah dan Abu Jandal bahkan berada di barisan pasukan kaum muslimin dan berhadap-hadapan dengan ayahnya yang masih musyrik.

Sama halnya kita dengan muslim lainnya. Jika suatu waktu kita bermaksiat, kemudian dengan itu orang lain membenci kita, maka kita tidak boleh marah. Apalagi, bila mereka terus menerus mengingatkan kita, namun kita sama sekali tak menggubrisnya. Sebab, perbuatan mengingatkan tersebut merupakan bagian dari perintah Allah yang harus dilaksanakan. Namun, yang harus diperhatikan disini adalah apa yang kita benci. Apabila seseorang bermaksiat, kita membenci kemaksiatannya, bukan orangnya. Jika mereka telah bertaubat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk membencinya. Bahkan, membencinya bisa jadi mendatangkan dosa, bukan pahala.

Sahabat..inilah yang susah kita terapkan di era kapitalis sekarang. Apalagi jika kita perhatikan, kebanyakan manusia berhubungan satu sama lain karena standar manfaat yang merupakan perkara duniawi. Dulu ketika masih sekolah, pernah melihat kawan yang begitu akrab. Istilah kerennya, best friend forever, hingga pergi ke mana-mana pun bersama. Nahasnya, suatu waktu diantara mereka terjadi pertengkaran. Jadilah satu sama lain saling memaki-maki walaupun pada akhirnya mereka kembali berteman.

Dalam Alquran bahkan digambarkan bahwa nanti di akhirat, seseorang dapat menyesal atas hubungan pertemanannya di dunia. Mereka diliputi penyesalan yang mendalam dan berkata, wahai..andai saja aku tidak menjadikan Fulan/Fulanah menjadi teman. Sebab, selama di dunia ia menjauhkan dirinya dari jalan Allah. Jika ternyata teman atau sahabat kita sering mengajak kepada maksiat semisal pacaran, barangkali kita harus berpikir ulang untuk  menjadikannya teman. Pilihan lainnya adalah kita berusaha mengkaji Islam, memahamkan mereka, dan menjadi sahabat yang baik bagi mereka.

Inilah urgensi kita agar saling mencintai dan membenci karena Allah. Dengan begitu, apabila kita merasa kecewa terhadap seseorang, kita tidak melakukan tindakan yang sampai mengeluarkan kita dari agama. Atau, kita mengkultuskan manusia hingga seolah tak ada yang salah pada dirinya, sekalipun itu ulama. Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Hanya Rasulullah SAW yang pantas dijadikan sebagai teladan abadi. Selebihnya, kita mencintai dan berusaha mencontoh keta’atan yang dilakukan seseorang. Sebaliknya, kita membenci dan berupaya sekuat tenaga untuk menghindari kemaksiatan seseorang.

Sahabat..ketahuilah bahwa sesungguhnya segala hubungan yang dibangun atas dasar keduniaan dan hawa nafsu semata akan sia-sia Mengutip dari sebuah blog, di sana dinukilkan perkataan Abdullah bin Abbas RA,

“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah, bersikap loyal karena Allah, dan memusuhi juga karena Allah, maka dengan hal itu saja akan bisa diraih kewalian dari Allah, dan kebanyakan persaudaraan diantara manusia dibangun di atas perkara dunia, dan hal itu tidak berguna sedikitpun bagi orang-orangnya.”

Masih dalam blog yang sama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ul Fatawa (jilid 10, halaman 610), beliau berkata:

“Sesungguhnya siapa saja yang mencintai seseorang karena orang tersebut memberinya sesuatu, maka dia tidaklah mencintai selain pemberian itu. Dan siapa yang mengatakan bahwa dia mencintai orang yang memberinya itu karena Allah, maka ini merupakan sebuah kedustaan, kemustahilan, dan ucapan dosa. Demikian pula seseorang yang mencintai orang lain karena orang itu menolongnya, maka dia hanyalah mencintai pertolongan tersebut, bukan mencintai orang yang menolongnya itu.”

Jika kita perhatikan baik-baik, kenyataan seperti inilah yang banyak terjadi. Sesungguhnya kecintaan yang seperti ini tidaklah akan menambah pahala atas orang yang mengerjakannya. Hal itu juga tidak berguna baginya di akhirat kelak. Satu-satunya ikatan yang langgeng hingga akhirat hanyalah cinta dalam keta’atan kepada Allah dan karena Allah saja.

Mungkin, diantara sahabat ada yang tidak menyukai hewan seperti kucing, anjing, atau ular. Kepada mereka juga bisa kita terapkan perkara mencintai dan membenci karena Allah. Diantara kita yang mencintai kucing, alasannya karena beliau adalah binatang kesayangan Nabi SAW. Serta, kita diwajibkan untuk berlaku baik (ihsan) terhadap seluruh makhluk, tak terkecuali hewan. Bagi kita yang membenci kucing, entah karena alergi dengan bulunya (sebenarnya rambut bukan bulu ya sahabat..) atau alasan lainnya, kebencian kita tidak sampai membawa kita pada tindakan memukul mereka dengan gagang sapu atau mengurungnya dan tidak memberinya  makan hingga berhari-hari.

Sahabat..sesungguhnya kita sendiri tidaklah dapat menentukan mana kecintaan dan kebencian yang  mendatangkan ridha Allah. Sederhananya, kalau secara logika, tentu pemimpin kafir yang tegas, jujur, dan bertanggungjawab lebih baik dibandingkan dengan pemimpin muslim namun zhalim. Kebanyakan orang berpendapat demikian. Jika kita tidak berilmu, bisa jadi kita membenarkan hal tersebut. Namun, Allah SWT mengajarkan bahwa sebagai muslim, kita wajib dipimpin oleh pemimpin muslim, meskipun ia mengambil paksa harta kita dan bertindak sewenang-wenang. Sebab, apa yang ada dalam diri pemimpin tersebut adalah Islam, berlawanan sepenuhnya dengan apa yang dibawa pemimpin kafir.

Dari pembahasan sederhana ini, kita dapat  menggolongkan kadar kecintaan dan kebencian kita atas tiga kelompok. Pertama, orang-orang yang patut diberikan kecintaan kepada mereka secara utuh. Mereka adalah orang-orang yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan menahan diri dari apa-apa yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka mencurahkan kecintaan, kebencian, dan permusuhan karena Allah SWT. Kedua, orang yang dicintai di satu sisi, dan dibenci dari sisi yang lain. Mereka dicintai karena kebaikannya dan dibenci karena keburukannya. Di sinilah kita dituntut agar pandai memilah-milah kapan harus mencintai, dan kapan harus membencinya. Terakhir, orang yang kepadanya wajib dicurahkan kebencian dan permusuhan sepenuhnya. Diantaranya adalah orang-orang kafir yang tidak mengimani rukun iman serta mengingkari rukun Islam. Mereka adalah musuh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Mengenai kelompok ketiga, Allah SWT telah berfirman dalam Alquran surat Al-Mumtahanah ayat 4, “Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja…”

Semoga kita bisa menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha untuk menjadi golongan pertama. Sebab, jujur saja penulis masih berada dalam tingkatan kedua (semoga tidak jatuh jadi golongan ketiga, aamiin). Nah, setelah tulisan yang agak menampar di awal ini (:D), Insyaallah kita akan membahas yang indah-indah, mengenai keutamaan mencintai dan membenci karena Allah. Tetap kunjungi blog ini ya (maksa)..hehe

Wallahu waliyyut taufiq was sadad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s