Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi

“Ya Allah, berikanlah untuknya satu tanda kekuasaan yang dapat membantunya mengerjakan kebaikan yang telah ia niatkan.” –Salah satu doa Rasul SAW untuknya

Ath-Thufail bin Amr ad Dausi adalah pemimpin kabilah Daus pada masa Jahiliyah. Dia adalah salah satu sosok pemuda Arab yang berpengaruh, dan salah seorang tokoh yang terhormat. Tungku tidak pernah diturunkan dari perapian baginya, dan tidak ada pintu yang tertutup baginya. Ia gemar memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang ketakutan dan melindungi orang yang memohon perlindungan.

Ditambah lagi dia sosok yang beradab, cerdas dan pintar. Ia adalah salah seorang penyair yang memiliki perasaan peka dan lembut. Dia amat mengerti dengan manis dan pahitnya pembicaraan…. sehingga kalimat yang diucapkannya mengandung bobot magis bagi yang mendengarnya.

Ath Thufail meninggalkan rumah tinggalnya di Tihamah menuju Makkah. Kala itu pergumulan masih terus berlangsung antara Rasulullah SAW dengan para kafir Quraisy. Masing-masing pihak membutuhkan pendukung dan sahabat….

Rasul SAW berdoa kepada Tuhannya dan yang menjadi senjata beliau adalah keimanan dan kebenaran. Sedangkan kaum Quraisy menentang dakwah Rasul dengan segala jenis senjata, dan mereka berusaha menghalangi manusia dari beliau dengan cara apapun.

Ath-Thufail mendapati dirinya telah berada dalam peperangan itu tanpa persiapan apapun dan ia turut serta di dalamnya tanpa sengaja…. Ia tidak datang ke Makkah dengan tujuan ini, dan tidak ada dalam benaknya urusan Muhammad dan Quraisy. Dari sini maka dimulailah sebuah hikayat yang tak pernah terlupakan bagi Ath-Thufail bin Amr ad Dausi. Mari kita simak kisah ini, karena ia adalah sebuah kisah yang aneh.

***

Ath-Thufail mengisahkan:

Aku tiba di Makkah. Begitu para pemimpin Quraisy melihatku, mereka mendatangiku dan mereka menyambutku dengan begitu mulia. Mereka memposisikan diriku dengan begitu terhormat.

Lalu para pemimpin dan pembesar mereka berkata kepadaku, “Wahai Thufail. Engkau telah datang ke negeri kami. Sesungguhnya di sini ada seorang yang mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi yang telah merusak urusan dan mencerai-berai persatuan serta jamaah kami. Kami khawatir ia dapat mengganggumu dan mengganggu kepemimpinanmu pada kaummu sebagaimana yang telah terjadi pada diri kami. Maka janganlah engkau berbicara dengannya, dan janganlah engkau dengar apapun dari pembicaraannya, sebab ia memiliki ucapan seperti seorang penyihir, yang dapat memisahkan seorang anak dari ayahnya, dan seorang saudara dari saudaranya, dan seorang istri dari suaminya.”

Ath-Thufail berkata, “Demi Allah, mereka terus saja menceritakan kepadaku tentang keanehan kisah Muhammad. Mereka membuat diriku dan kaumku menjadi takut dengan keajaiban perilaku Muhammad. Sehingga aku pun bertekad untuk tidak mendekat kepadanya, dan untuk tidak berbicara atau mendengar apapun darinya.

Saat aku datang ke masjid untuk berthawaf di Ka’bah, dan mengambil berkah dengan para berhala yang ada di sana sebagaimana kami melakukan haji kepadanya untuk mengagungkan berhala-berhala tadi, aku pun menutup telingaku dengan kapas karena khawatir telingaku mendengar sesuatu dari perkataan Muhammad.

Tapi begitu aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati ia sedang berdiri melakukan shalat dekat Ka’bah bukan seperti shalat yang biasa kami lakukan. Ia melakukan ibadah bukan seperti ibadah yang biasa kami kerjakan. Aku senang melihat pemandangan ini. Aku menjadi tercengang dengan ibadah yang dilakukannya. Aku mulai mendekat kepadanya. Sedikit demi sedikit tanpa disengaja sehingga aku begitu dekat dengannya….

Kehendak Allah berbicara lain sehingga ada beberapa ucapannya yang hinggap di telingaku. Aku mendengar pembicaraan yang baik. Dan aku berkata dalam diri sendiri, “Celaka kamu wahai Thufail….engkau adalah seorang yang cerdas dan seorang penyair. Engkau dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang diucapkan orang ini….? Jika yang dibawa olehnya adalah kebaikan, maka akan aku terima. Jika itu adalah keburukan, maka akan aku tinggalkan.”

***

Ath-Thufail masih mengisahkan:

Kemudian aku masih terdiam sehingga Rasulullah SAW kembali ke rumahnya. Aku mengikuti beliau. Begitu ia masuk ke dalam rumahnya, aku pun turut masuk. Aku berkata, “Wahai Muhammad, kaummu telah menceritakanmu kepadaku bahwa kamu begini dan begitu. Demi Allah, mereka terus menerus membuatku khawatir darimu sehingga aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengarkan ucapanmu. Kemudian kehendak Allah berkata lain, sehingga aku mendengar sebagian dari ucapanmu, dan aku menganggap hal itu adalah baik…. maka ceritakanlah urusanmu kepadaku….!

Beliau menceritakan urusannya kepadaku. Beliau juga membacakan untukku surat al-Ikhlash dan al-Falaq. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar sebuah ucapan yang lebih baik daripada ucapan beliau. Dan aku tidak pernah melihat urusan yang lebih lurus daripada urusannya. Pada saat tu, aku bentangkan tanganku kepadanya, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku pun masuk Islam.

***

Ath-Thufail berkata:

Aku tinggal beberapa lama di Makkah untuk mempelajari Islam dan selama itu aku menghafal beberapa ayat Alquran yang mudah bagiku. Begitu aku berniat kembali ke kampungku, aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah seseorang yang dipatuhi di keluargaku. Saat ini aku mau kembali kepada mereka dan menjadi penyeru mereka kepada Islam. Berdoalah kepada Allah agar ia memberikan aku sebuah tanda kekuasaan-Nya yang dapat menjadi penolongku dalam berdakwah kepada mereka. Maka Rasulullah langsung berdoa, “Allahumaj’al lahu ayatan (“Ya Allah, jadikanlah untuknya sebuah tanda kekuasaan).”

Aku pun mendatangi kaumku, sehingga jika aku tiba di sebuah tempat yang tinggi di sekitar rumah mereka, maka turunlah sebuah cahaya di antara kedua mataku seolah sebuah lampu. Aku pun berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ia bukan pada wajahku, sebab aku khawatir mereka menduga bahwa ini adalah hukuman yang ditimpakan ke wajahku karena aku meninggalkan agama mereka…. maka cahaya tadi bergeser dan turun ke pegangan cambukku. Maka para manusia yang ada saat itu mencoba untuk melihat cahaya tadi yang berada di cambukku seolah lampu yang tergantung. Dan aku datang menghampiri mereka dari lembah. Begitu aku turun, ayah menghampiriku – beliau saat itu sudah amat renta-. Aku berkata, “Kita sudah tidak berhubungan lagi. Aku bukan milikmu dan engkau bukan milikku.” Ia bertanya, “Mengapa begitu, wahai Anakku?” Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad SAW.” Ia berkata, “Duhai anakku, agamaku adalah agamamu.” Maka aku pun berkata, “Kalau begitu, mandilah dan bersihkanlah pakaianmu. Lalu ke marilah agar aku mengajarkan apa yang pernah aku pelajari.” Lalu beliau mandi dan membersihkan pakaiannya, kemudian beliau datang dan aku paparkan Islam kepadanya, maka ia pun memeluk Islam. Kemudian istriku datang dan aku berkata padanya, “Kita sudah tidak memiliki hubungan lagi. Aku bukan milikmu dan engkau bukan milikku.” Ia bertanya, “Mengapa demikian? Demi ibu dan bapakku.” Aku menjawab, “Islam telah memisahkan antara kita. Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad SAW.” Ia berkata, “Kalau begitu, agamaku adalah agamamu.” Aku berkata, “Bersucilah dengan air Dzu Syara!” Ia bertanya, “Demi ibu dan bapakku, apakah engkau tidak khawatir terkena musibah dari Dzu Syara?!” Aku menjawab, “Celaka kamu dan Dzu Syara….. aku katakan kepadamu, ‘Pergilah dan mandilah di sana di tempat yang jauh dari pandangan manusia! Aku jamin pasti batu yang tuli itu tidak dapat melakukan apapun kepadamu.”

Ia pun berangkat dan mandi. Kemudian ia datang lagi dan aku paparkan Islam kepadanya sehingga ia pun mau memeluknya. Lalu aku berdakwah kepada penduduk Daus namun mereka tidak menjawab dengan segera ajakan ini kecuali Abu Hurairah. Ia adalah manusia yang paling dulu masuk Islam dari mereka.

***

Ath-Thufail berkata:

Aku mendatangi Rasulullah SAW di Makkah dan aku mengajak Abu Hurairah saat itu…. Nabi SAW bertanya kepadaku, “Apa yang ada di belakangmu wahai Thufail?” Aku menjawab, “Hati yang tertutup, dan kekafiran yang dahsyat. Di daerah Daus kefasikan dan kemaksiatan telah merajalela.” Lalu Rasulullah SAW berdiri, berwudhu lalu shalat dan ia mengangkatkan tangannya ke langit. Abu Hurairah berkata saat itu, “Ketika aku melihat beliau melakukan hal itu, aku khawatir beliau mendoakan kaumku sehingga mereka dapat binasa….”

Maka aku pun berkata, “Ya kaumku…..” Akan tetapi Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk bagi kaum Daus…. Ya Allah, berilah petunjuk bagi kaum Daus…. Ya Allah, berilah petunjuk bagi kaum Daus.” Lalu beliau menoleh ke arah Thufail seraya berkata, “Kembalilah kepada kaummu dan berlaku haluslah kepada mereka dan ajaklah mereka memeluk Islam!”

***

Ath-Thufail berkata:

Aku masih saja terus berdakwah di daerah Daus hingga Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Meletuslah perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Aku datang menghadap Nabi dengan membawa 80 kepala keluarga dari daerah Daus yang telah masuk Islam dan menjalankan keislamannya dengan baik. Rasulullah SAW menjadi gembira karenanya, dan beliau membagikan kepada kami jatah ghanimah (harta rampasan perang) Khaibar. Lalu kami berkata, Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pasukan tempur sisi kanan dalam setiap peperangan yang engkau lakukan. Dan jadikan semboyan kami, ‘Mabrur’.”

Ath-Thufail masih bercerita:

Aku terus mendampingi Rasulullah SAW hingga beliau menaklukkan Makkah. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, kirimlah aku ke Dzul Kafain, sebuah berhala milik Amr bin Hamamah sehingga aku dapat membakarnya…. Rasul pun mengizinkan Thufail untuk melakukan itu, dan ia berangkat menuju berhala itu dengan sebuah pasukan yang terdiri dari para kaumnya.

Begitu ia sampai di sana dengan tekad bulat untuk membakar berhala itu, rupanya banyak wanita, pria, dan anak-anak yang menunggu datangnya musibah bagi diri Thufail. Mereka juga menunggu datangnya petir jika Thufail berani mendekat kepada Dzul Kafain. Akan tetapi Thufail terus mendekat ke arah berhala itu dengan disaksikan oleh para penyembah berhala…. ia menyalakan api amarah di hatinya….seraya membacakan,

Wahai Dzul Kafain, aku bukanlah termasuk para penyembahmu
Kami lahir lebih dahulu daripada dirimu
Aku akan mengisi api dalam hatimu.

Seiring api melahap berhala tersebut, maka terlahap juga kemusyrikan yang ada di kabilah Daus. Seluruh kaumnya masuk ke dalam Islam dan mereka melaksanakan keislamannya dengan baik.

***

Ath-Thufai bin Amr ad-Dausi setelah itu terus mendampingi Rasulullah SAW hingga beliau kembali ke sisi Tuhannya. Begitu kekhilafahan diserahkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, Ath-Thufail meletakkan diri, pedang dan anaknya untuk taat kepada Khalifah Rasulullah SAW. Tatkala pecah peperangan terhadap kaum murtad, Ath-Thufail berangkat dalam barisan terdepan kaum muslimin untuk memerangi Musailamah al-Kadzab. Ia ditemani oleh anaknya yang bernama Amr.

Saat dalam perjalanan menuju Yamamah, Ath-Thufail bermimpi dan ia berkata kepada para sahabatnya, “Aku mendapatkan sebuah mimpi, ta’birkanlah oleh kalian mimpi tersebut untukku!”

Para sahabatnya bertanya, “Apa mimpimu itu?”

Ia menjawab, “Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur, dan ada seekor burung keluar dari mulutku, dan ada seorang wanita yang memasukkan aku ke dalam perutnya. Dan anakku, Amr, mengejarku dengan cepat namun ada penghalang diantara kami.”

Para sahabatnya berkata, “Mungkin akan membawa kebaikan.”

Ath-Thufail berkata, “Demi Allah, aku telah mencoba mentakwilkannya. Adapun kepalaku yang tercukur itu berarti bahwa ia akan terpotong. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku, itu adalah ruhku. Adapun wanita yang memasukkan aku ke dalam perutnya adalah bumi di mana aku dikuburkan…. Aku berharap dapat terbunuh sebagai syahid. Sedangkan anakku yang mengejar diriku itu berarti bahwa ia juga mencari kesyahidan seperti yang akan aku dapatkan –jika Allah mengizinkan-. Akan tetapi ia akan mendapatkannya pada kesempatan selanjutnya.

***

Dalam peperangan Al-Yamamah, seorang sahabat agung yang bernama Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi tertimpa ujian yang begitu besar, sehingga ia jatuh terseungkur sebagai seorang syahid di medan perang. Sedangkan anaknya yang bernama Amr masih terus berperang sehingga sekujur tubuhnya penuh dengan luka dan telapak tangan kanannya putus. Ia pun kembali ke Madinah dari Al-Yamamah tanpa ayah dan telapak tangannya.

***

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Amr bin Ath-Thufail datang menghadap. Saat itu Umar sedang mendapatkan makanan, dan banyak orang yang berada di sekelilingnya. Umar mengajak semua orang tadi untuk menikmati makanannya. Amr menolak undangan makan itu. Lalu Umar berkata kepadanya, “Apa yang terjadi denganmu…. apakah engkau tidak mau makan karena merasa malu karena tanganmu.” Ia menjawab, “Benar, wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencicipi makanan ini hingga ia tersentuh oleh tanganmu yang buntung itu…. Demi Allah tidak ada seorang pun di kaum ini yang sebagian anggota tubuhnya berada di surga selain kamu (maksudnya adalah tangan Amr).

***

Impian untuk mendapatkan syahadah (mati syahid) terus membayangi Amr sejak ia berpisah dengan ayahnya. Begitu perang Yarmuk meletus, Amr segera menyambutnya dengan orang-orang lain yang bersemangat. Ia terus saja berperang sehingga ia mendapatkan syahadah seperti yang didapatkan ayahnya.

***

Semoga Allah merahmati Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi. Ia adalah seorang syahid dan ayah dari seorang syahid.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s