NGAJI BERSERI #11 CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH (1)

Assalamu’alaykum sahabat..

Tulisan kali ini akan mengulas seputar cinta dan benci. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya dalam blog ini, kecintaan adalah manifestasi dari naluri melestarikan lawan jenis (gharizah nau’). Adapun kebencian, merupakan penampakan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Keduanya merupakan fitrah yang ada pada diri setiap insan. Keberadaannya tidak dapat dihilangkan, melainkan penyalurannya harus dilakukan lewat jalan yang benar. Kesalahan dalam menempatkan cinta dan benci bisa berakibat penyesalan selama-lamanya di akhirat.

Sebagai manusia, kita bisa jadi sering salah dalam menempatkan kecintaan dan kebencian pada posisinya. Terkadang hati kita diselimuti kebencian terhadap saudara seiman, sementara di sisi lain kita mengelu-elukan orang-orang kafir. Bahkan terkadang, landasan kita dalam mencintai atau membenci kerap berubah-berubah sesuai situasi dan kondisi. Hari ini, cinta. Besok, bisa jadi benci. Esok lagi mungkin berganti. Cinta dan kebencian yang semisal itu rapuh. Apalagi, jika tidak disertai kesadaran untuk mendekat kepada Allah.

Di dunia ini, ada banyak sebab orang saling bertaut karena cinta, dan saling membelakangi karena benci. Islam mengatur cinta dan benci agar sesuai pada kadarnya. Tidak kurang dan tidak pula berlebihan. Diantara penyebab keduniaan seorang saling mencintai dan membenci adalah kepercayaan (keimanan), harta, kedudukan atau prestise,  paras wajah, kepintaran, balas budi, dan sederet kebermanfaatan lainnya. Sebagian diantara kita mungkin pernah menerapkan ukuran ini dalam bergaul dan berhubungan dengan seseorang. Semoga setelah membaca tulisan ini, kita makin tersadar sehingga berupaya menerapkannya dalam kehidupan.

Mengenai kepercayaan, umat Islam tidak diperbolehkan membenci orang-orang kafir secara membabi buta lantaran ia mencintai agamanya. Mereka tidak boleh sembarangan menumpahkan darah orang-orang kafir. Apalagi, mereka tidak berbuat kerusakan dan tidak pula memerangi orang beriman. Di sisi lain, kita menemukan kaum muslimin yang membenci saudara seperjuangan mereka, sementara di sisi lain mereka amat lantang menyerukan toleransi terhadap penganut agama lain. Biasanya jenis ini adalah orang munafik yang menginterpretasikan ajaran Islam sesuai dengan hawa nafsu.

Mengenai harta, banyak orang yang menempatkan kecintaan dan keloyalannya kepada seseorang karena hal ini. Secara tidak sadar ia menjadi budak tuannya lantaran tuannya terus-menerus memberinya makan. Padahal, bisa jadi tuannya mendapatkan harta tersebut lewat jalan yang salah di mata syari’at seperti hasil korupsi,  memungut pajak, praktek suap, dan lain-lain. Apalagi di zaman kapitalis yang serba sulit seperti sekarang, yang bahkan dapat mengakibatkan iman terbeli hanya karena iming-iming sekardus mie instan dan uang tunai.

Karena harta, orang bisa mati rasa. Seorang ibu tak lagi memprioritaskan keshalehan menantu di atas segala-galanya lantaran silau dengan materi. Seorang pria menikahi wanita hanya karena tertarik akan kekayaannya, tanpa sedikitpun mempertimbangkan aspek agama. Jika telah habis harta, maka habis jugalah cinta, berganti dengan kebencian dan caci maki. Maka patutlah kiranya dikatakan dalam sebuah hadist bahwa fitnah terbesar umat ini, berada pada harta.

Mengenai kedudukan, barangkali di zaman kapitalis seperti sekarang kita banyak menemukan tipe-tipe seperti ini. Mereka tak obahnya seperti para penjilat yang bermanis muka kepada atasan, namun amat membenci bawahan. Kerusakan yang timbul karena penempatan rasa cinta dan benci karena hal ini tak kalah besar dibandingkan kerusakan karena harta. Barangkali kita pernah menemui fenomena ini dalam percaturan politik. Seorang politisi yang awalnya merapat dan loyal kepada kubu A, beberapa waktu kemudian merapat kepada kubu B dan balik mencaci-maki kubu A. Kecintaan dan loyal berganti seiring dengan turunnya tahta atau berakhirnya masa jabatan. Rapuh.

Adapun paras, ternyata ia juga berbahaya. Betapa banyak sebelumnya orang yang salah dalam memilih pasangan. Mereka mengira bahwa memperhatikan casing saja, tanpa pertimbangan agama, dapat membawa pernikahan mereka ke arah sakinah, mawaddah, rahmah, juga ideologis. Padahal, agama seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana penampilan luarnya. Bisa jadi seseorang yang tubuhnya dipenuhi tato, ternyata lebih hanif karena rupanya tatonya adalah bagian dari masa lalu yang jika dihapus justru malah menimbulkan mudharat bagi dirinya.

Mengenai kepintaran, ternyata juga bisa dimanfaatkan. Betapa banyak orang yang menyukai seseorang karena ia pintar. Betapa banyak orang yang membenci seseorang lantaran ia lamban dalam memahami pelajaran. Padahal, boleh jadi mereka yang lamban itu kelebihan empati. Ketika ujian akan berlangsung, biasanya mendadak banyak yang mendekat kepada orang-orang yang dinilai pintar tersebut. Jika kecintaan dan kebencian didasarkan akan hal ini, maka tidak ada tempat bagi orang-orang bodoh dan ber-IQ rendah untuk dicintai.

Mengenai balas budi, barangkali ini paling sering kita jumpai dalam kehidupan. Seseorang mencintai orang lain lantaran orang tersebut memperlakukannya dengan baik. Sementara, ia akan membenci orang-orang yang memperlakukannya dengan buruk. Padahal, Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada siapa saja, tak terkecuali pada hewan (kecuali pada hewan buas :’). Rasulullah mencontohkan agar tetap berbuat baik kepada orang yang kerap melemparkan kotoran unta ketika beliau sedang shalat. Bahkan suatu ketika si pembenci ini sakit, Rasulullah merasa kehilangan dan berusaha menjenguknya.

Sesungguhnya kita gampang berlaku baik terhadap orang yang memperlakukan kita dengan baik. Kita mencintai seseorang lantaran kehadirannya memberikan andil pada kehidupan kita. Misalnya, ia berjasa mencarikan pekerjaan atau kerap menolong kita saat kekurangan harta. Kita berupaya membalas kebaikan mereka dengan bermacam cara. Padahal, saudara seiman kita yang lain tak pernah merasakan kebaikan-kebaikan kita.

Semua yang dibahas di atas adalah beberapa ukuran yang umumnya dipakai kebanyakan orang dalam menempatkan cinta dan benci. Itu semua tidak selayaknya diambil oleh seorang muslim. Sebab, kecintaan dan kebencian yang didasarkan hal di atas, bersifat rapuh dan cenderung berubah-ubah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s