NGAJI BERSERI #10 RIBA

Assalamu’alaykum sahabat.. Tak terasa bulan Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita. Semoga Ramadhan yang tersisa dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya ya sahabat untuk tetap mengejar pahala sebanyak-banyaknya. Oiya, tulisan ngaji berseri kali ini masuk materi ke-10 yaitu tentang riba.

Sahabat..adakah diantara kita yang membaca tulisan ini yang sama sekali tidak pernah memakan riba? Atau, adakah diantara sahabat yang tidak pernah bersinggungan dengan riba? Jawabannya kebanyakan pasti sudah pernah terlibat dengan yang namanya riba. Disadari atau tidak, ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita tak terlepas darinya. Ketika orangtua kita meminjam uang di bank atau koperasi, kemudian ada tambahan pembayaran, itulah riba. Ketika kita mendapatkan hadiah karena telah menyimpan uang di bank, itulah riba. Ketika di hari idul fitri kita menukarkan sejumlah uang, lalu penyedia jasa meminta imbalan atas jasanya, maka itulah riba. Keadaan ini seakan tersirat oleh sebuah hadist yang bunyinya:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kita menyadari betul bahwasannya di zaman kapitalisme berkuasa seperti sekarang, sulit bagi kita untuk terhindar dari praktek riba. Riba tidaklah sama dengan jual beli. Allah SWT mengatakan hal ini dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 275. Kenapa tidak sama? Bagi para pebisnis, sama saja antara meminjamkan uang sepuluh juta dengan tambahan kembalian lima ratus ribu, dengan menjual barang seharga sepuluh juta untuk kemudian dijual dengan harga sepuluh juta lima ratus ribu rupiah. Padahal, keduanya sama sekali bertolak belakang. Yang kedua adalah jual beli sementara yang pertama adalah riba.

Dalam sebuah ceramah, seorang Dosen Pakar Ekonomi Syari’ah mengatakan bahwasannya hanya Islamlah yang membedakan antara jual beli dan riba. Sementara, bagi kebanyakan para pebisnis, mereka menyamakan antara kedua hal tersebut. Sebab, menurut mereka tak ada obahnya kasus pertama dan kedua karena sama-sama menghasilkan keuntungan. Padahal, Islam telah jelas mengatur perkara mu’amalah ini. Bahkan, Islam mewajibkan mempelajari ilmu fikih mu’amalah sebelum berbisnis.

Maraknya riba di suatu negeri merupakan sebuah pertanda yang buruk. Dalam sebuah hadist riwayat Al Hakim dikatakan bahwasannya apabila riba dan zina telah merajalela di suatu negeri, itu artinya negeri tersebut mengizinkan adzab Allah SWT atas diri mereka. Kita sebagai manusia yang hidup di zaman serba sulit seperti sekarang tentu merasakan betul hal ini. Dengan alasan darurat, seseorang berhutang ke bank. Dengan alasan banyaknya tanggungan, kita terjun ke dalam dunia perbankan. Bermacam alasan yang menjadikan seseorang menghalalkan aktivitas ribawi tersebut.

Dalam surat Al Baqarah ayat 275 dikatakan bahwasannya orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (laa yaquumuuna) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan lantaran penyakit gila. Jika kita perhatikan ayat di atas, tentu kita menjadi terheran-heran. Sebab, orang yang berkecimpung dalam praktek riba biasanya berseragam rapi dan jalannya gagah. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang susah berdiri. Namun, ternyata Rasulullah SAW memberikan penjelasannya mengenai frasa laa yaquumuuna:

“Pada waktu aku dimi’rajkan ke langit, aku memandang ke langit dunia, ternyata di sana terdapat banyak orang yang memiliki perut seperti rumah-rumah yang besar dan telah doyong perut-perut mereka. Mereka dilemparkan dan disusun secara bertumpuk di atas jalur yang dilewati oleh para pengikut Fir’aun. Mereka diberdirikan di dekat api neraka setiap pagi dan sore hari. Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, janganlah pernah terjadi hari kiamat”. Aku tanyakan, “Hai Jibril, siapa mereka?” Jawabnya, “Mereka adalah para pemakan riba dari kalangan umatmu yang tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila”.

Rasulullah SAW menambahkan penjelasannya:

Pada waktu aku diisra’kan, tatkala kami telah sampai ke langit ke tujuh, aku melihat ke arah atasku, ternyata aku menyaksikan kilat, petir, dan badai. Lalu aku mendatangi sekelompok orang yang memiliki perut seperti rumah, di dalamnya banyak terdapat ular berbisa yang dapat terlihat dengan jelas dari luar perut mereka. Aku tanyakan, “Hai Jibril, siapa mereka?” Dia menjawab, “Mereka adalah para pemakan riba”.

Astaghfirullah..demikian sengsaranya orang yang suka memakan riba. Betapapun keadaannya terlihat gagah dan berkecukupan di dunia, tetapi di akhirat keadaannya akan berbalik 180 derajat. Cobalah bayangkan seandainya perut kita yang dibuat sebesar ruangan kamar, kemudian di dalamnya dipenuhi ular berbisa. Tentu kita ngeri membayangkannya. Semunya kesenangan mengambil riba di dunia tidaklah sebanding dengan adzab yang diperoleh di akhirat. Tidak bisakah kita menahan selama kurang lebih dua menit saja untuk tidak mengambil riba? Ya, permisalan kita hidup di dunia adalah sangat sebentar, sekira dua menit waktu akhirat.

Sahabat..dosa apakah yang besar di dunia ini, berzina? Berzina adalah dosa besar. Rasulullah SAW mengatakan bahwa satu dirham yang didapatkan seseorang lewat riba, sementara dia mengetahuinya, maka dosanya lebih besar dari 36 kali berzina. Naudzubillah. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa seseorang yang dagingnya tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas untuk orang tersebut.

Jika kita tidak memakan riba, namun sehari-hari kita bekerja di institusi yang di dalamnya tersebar praktek riba, maka kita juga ikut berdosa. Katakanlah sahabat bekerja di institusi perbankan, dan bekerja di bagian teller, maka itu termasuk menolong aktivitas riba. Ini dapat diketahui dari hadist riwayat Muslim yang bunyinya, “Rasulullah SAW mengutuk orang yang memakan riba, orang yang memberinya, juru tulisnya dan kedua saksinya. Rasulullah SAW menegaskan, “Mereka semua sama.” Jika kita memiliki penghasilan lewat menolong aktivitas yang haram dan darinya kita menafkahi keluarga, maka apakah yang tumbuh darinya adalah daging yang baik ataukah daging yang buruk?

Sekarang, mari kita coba telusuri pengertian riba itu sendiri. Secara bahasa, riba adalah az-ziyadah atau tambahan. Sedangkan, secara syar’i, riba adalah setiap tambahan atau keuntungan yang diambil terhadap suatu pinjaman sebagai imbalan karena masa menunggu. Dalam kitab fikih, riba seperti ini disebut riba nasi’ah. Adapun Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap pinjam meminjam yang menghasilkan manfaat adalah riba.

Selain itu, dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang bunyinya, “Jika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain, janganlah ia menerima hadiah darinya.” Baihaqi juga meriwayatkan, “Manfaat yang ditarik dari peminjaman adalah salah satu cabang dari riba.” Dari hadist ini, kita dapat mengambil permisalan suatu kasus. Misalnya, seseorang berhutang uang kepada orang lain, maka setiap tambahan yang ia berikan kepada orang yang menghutangi, itu adalah riba. Perlu dicatat bahwa tambahan di sini tidak hanya sebatas uang, namun juga barang dan jasa. Bisa jadi, ketika seseorang berhutang, ia kemudian memberikan sesuatu karena menurutnya si penghutang telah berjasa meminjaminya.

Contoh kasus lainnya, antara ibu-ibu yang bertetangga. Karena ibu A berbaik hati meminjamkan uangnya pada ibu B, maka sebagai balasannya ibu B memberikan balas jasa berupa lauk atau buah-buahan. Nah..kasus ini sebenarnya juga tergolong riba sahabat.. Kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Abu Burdah bin Abi Musa, “Aku datang ke Madinah dan bertemu dengan Abdullah bin Salam, ia berkata, “Kamu hidup di dalam sebuah negeri dimana riba tersebar luas. Karena itu, jika salah seorang berhutang kepadamu dan ia memberikan sekeranjang rumput atau gandum atau jerami, janganlah kamu terima, karena itu adalah riba.”  (HR. Bukhari)

Namun, berbeda kasusnya dengan orang yang terbiasa memberi bahkan ketika berhutang. Maka, sah-sah saja ketika ia membayar lebih di atas nominal hutangnya. Hal yang demikian tidaklah tergolong riba. Biasanya, ini terjadi antara kita dengan sesama teman. Atau, antara tetangga yang telah terbiasa saling memberi satu sama lain. Dalilnya yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi, “Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang dari kamu memberi pinjaman dan peminjam menawarkan kepadanya makanan, janganlah kamu menerimanya; dan jika peminjam menawarkan tunggangan, janganlah ia menerimanya; kecuali apabila sudah terbiasa dengan saling menukar yang demikian.”

Nah sahabat..banyak sekali perkara mu’amalah yang sampai detik ini masih belum kita pelajari. Padahal, materi riba ini penting sekali. Ada banyak jenis riba, dan kita butuh mengetahuinya agar tidak terperosok ke dalamnya. Untuk itulah kita harus terus belajar, baik itu menghadiri kajian atau mendengarkan audio ceramah. Sebab, kesibukan kita hari ini kebanyakan amat jauh dari berpikir tentang akhirat. Terutama di sekolah atau kampus-kampus yang hanya menyediakan sedikit waktu bagi siswanya untuk belajar agama. Sementara, untuk ilmu yang sifatnya fardhu kifayah seperti matematika, fisika, biologi, dan lain-lain porsinya lebih besar.

Sekian dari penulis yang bukan Ustadzah. Jangan lupa baca surat Al Baqarah ayat 275 sampai habis ya. Semoga kepikiran..hehehe

*Sharing sehabis mendengarkan video ceramah

Wallahu waliyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter       

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s