NGAJI BERSERI #9 HADHARAH DAN MADANIYAH

Assalamu’alaykum sahabat.. Sebelumnya kita sudah membahas tentang hadharah, bahwa hadharah merupakan pemahaman atau persepsi tentang kehidupan yang sifatnya khas. Ia mengacu pada agama atau ideologi tertentu. Kita sebagai kaum muslimin wajib hanya mengambil hadharah Islam dan bukan selainnya. Jika kaum muslimin mengadopsi hadharah selain Islam, berarti ia telah melakukan tasyabbuh bil kuffar.

Tasyabbuh bil kuffar yaitu menyerupai orang-orang kafir. Meyerupai di sini tidak hanya dengan mengikuti tingkah laku, penampilan, pakaian, kebiasaan, atau adat istiadat mereka. Lebih dari itu, mengikuti keyakinan (akidah) mereka juga termasuk kategori tasyabbuh bil kuffar. Sebab, keyakinan merupakan wilayah akidah yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagai seorang muslim yang berakidah Islam, keimanan mestilah mensyaratkan adanya keyakinan yang bulat dan utuh kepada Allah SWT.

Diantara dalil mengenai keharaman menyerupai orang kafir yaitu hadist yang diriwatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud). Juga, hadist yang diriwayatkan dari Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga mereka menyembah Allah Ta’ala semata dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatupun, dan telah dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Ahmad)

Sahabat..termasuk menyerupai kaum kafir yaitu latah menggunakan simbol-simbol mereka. Disadari atau tidak, banyak sekali simbol mereka yang dipergunakan oleh kita selaku kaum muslimin. Meskipun, mungkin pada awalnya kita tidak mengetahui makna di balik simbol-simbol tersebut. Padahal, simbol merupakan madaniyah yang memiliki makna tertentu. Apabila makna simbol itu mengacu pada hadharah selain Islam, maka yang harus dilakukan kaum muslimin adalah meninggalkannya, kemudian beralih dengan hanya mengambil simbol-simbol yang terkait dengan hadharah Islam saja.

Adapun madaniyah, dalam kitab Nizham al-Islam (peraturan hidup dalam Islam) karangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, di dalamnya termaktub definisi madaniyah. Menurutnya, madaniyah adalah bentuk-bentuk fsik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Ringkasnya, yang mencakup madaniyah adalah semua benda yang dapat dilihat, disentuh, digunakan yang keberadaannya menempati ruang dan massa. Bentuk fisiknya dapat beragam seperti barang-barang, peralatan atau perkakas, hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Termasuk madaniyah juga adalah simbol.

Islam juga mengenal simbol yang menunjukkan identitasnya. Jilbab dan kerudung adalah simbol Islam. Masjid adalah simbol Islam. Sajadah dan mukenah adalah simbol Islam. Kesemuanya merupakan madaniyah khas yang merupakan produk hadharah Islam. Sebab, jika kita mengarahkan pandangan pada simbol tersebut, maka kita bisa langsung mengaitkannya dengan agama Islam. Jika menutup aurat adalah hadharah Islam, maka madaniyahnya adalah jilbab dan kerudung. Begitu juga dengan madaniyah lainnya yang erat kaitannya dengan hadharah Islam.

Begitu juga dengan panji Rasulullah, al-Liwa’ dan ar-Rayah, semua itu identik dengan hadharah Islam. Ia adalah milik kaum muslimin secara keseluruhan, bukan milik kelompok atau golongan tertentu. Simbol tersebut wajib diusung oleh seluruh umat Islam, sebab keberadaannya tak hanya sebatas simbol. Dahulu Rasulullah SAW mencontohkan penggunaannya ketika terjadi peperangan. Tak hanya itu, Ar-Rayah juga menjadi simbol entitas negara Islam. Adapun jika simbol tersebut menggambarkan ciri khas orang kafir, maka kaum muslimin tidak diperkenankan menggunakannya sebab ia menyandang pandangan hidup kafir.

Contoh madaniyah lainnya yaitu lukisan. Dalam hadharah Barat, lukisan perempuan telanjang sesuai dengan pemahamannya terhadap wanita. Barat memandangnya sebagai suatu karya seni dan keindahan. Namun, tidak demikian dengan hadharah Islam yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang terjaga kemuliannya. Oleh karena itu, lukisan wanita telanjang sebagai produk hadharah Barat sama sekali tidak bisa diterima.

Contoh madaniyah khas lainnya adalah patung salib dan gereja. Ia merupakan produk dari hadharah di luar Islam. Oleh karenanya kaum muslimin diharamkan menggunakannya sebab ia adalah milik agama tertentu. Keharamannya dapat diketahui dari kisah sahabat yang bernama Adi bin Hatim. Suatu waktu setelah masuk Islam, Rasulullah SAW melihatnya memakai kalung salib, lantas Rasulullah SAW mendatanginya dan membacakan surat At-Taubah ayat 31:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan…”

Setelah ayat itu dibacakan, Adi bin Hatim sempat menyangkal bahwa ia tidak pernah menyembah rahib-rahib dan pendeta. Kemudian Rasulullah SAW bertanya: “Apakah rahibmu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan kamu menghalalkannya? Dan apakah rahibmu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, kemudian kamu mengharamkannya?” Setelah itu, barulah Adi bin Hatim sadar dan mengakui kesalahannya. Ia bertaubat dan pada akhirnya mencampakkan kalung salib tersebut.

Banyak lagi simbol-simbol yang merupakan produk dari hadharah di luar Islam namun kebanyakan kaum muslimin tidak menyadarinya. Diantara contohnya yaitu topi ulang tahun Padahal, topi ulang tahun ini erat kaitannya dengan kepercayaan tertentu. Ia memiliki sejarah tersendiri. Topi kerucut alias sanbenito ternyata merupakan perlambang dari kaum muslimin Andalusia yang terpaksa murtad dari ajaran Islam. Mereka diberi pilihan antara menjadi murtad dan memeluk agama katolik atau dibebaskan. Bagi mereka yang memilih murtad, dipakaikanlah topi kerucut alias sanbenito sehingga terbebas dari penyiksaan fisik.

Di atas sekilas mengenai madaniyah yang erat kaitannya dengan hadharah. Adapun madaniyah yang di dalamnya tidak menggambarkan hadharah, maka kaum muslimin diperbolehkan mengambilnya. Sebab, sifatnya yang universal sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diantara contohnya yaitu alat-alat laboratorium, perabotan rumah tangga, mesin industri, komputer, dan sebagainya. Produk-produk di atas bukanlah produk hadharah serta tidak ada hubungannya dengan hadharah.

Penting bagi kita selaku umat Islam mengetahui perbedaan antara hadharah dan madaniyah. Termasuk mengetahui perbedaan antara madaniyah yang dipengaruhi oleh hadharah dan madaniyah yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya agar kita tidak keliru dalam mengambil hadharah dan madaniyah. Kita tidak boleh terjebak mengambil hadharah selain Islam beserta produk-produknya (madaniyah). Tetapi jika madaniyah itu bersifat universal, maka kita boleh mengambilnya.

Kaum muslimin, terutama generasi muda harus paham terkait hal ini. Sebab, kita tidak menginginkan umat Islam kembali mengalami kemunduran terutama dari segi pemikiran. Bahkan, dampak dari kemunduran pemikiran itu telah menjadikan sebagian ulama di masa Daulah Utsmani mengeluarkan fatwa mengenai keharaman menggunakan mesin percetakan untuk mencetak Alquran. Padahal, mesin percetakan termasuk madaniyah yang sifatnya universal, tidak mengandung pandangan hidup tertentu. Tidak ada istilahnya mesin percetakan Kristen, komputer Yunani, smartphone Budha, dan sebagainya.

Dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam didorong agar mempelajarinya. Agar mereka menjadi bangsa yang beradab dan tidak tunduk kepada hegemoni kaum kafir. Dengan begitu, mereka bisa mandiri dan mengembangkan peradabannya tanpa bergantung kepada Barat. Sehingga dimungkinkan mereka mengecap kembali masa-masa kejayaannya yang gemilang di mana peradaban Islam menjadi kiblat bagi Barat. Para ilmuwan Islam telah membuktikannya. Ilmu kedokteran, penerbangan, optik, bahkan sanitasi sekalipun telah lebih dahulu dikembangkan oleh Islam.

Terkait madaniyah yang sifatnya umum ini, Anas RA menuturkan bahwa Nabi SAW pernah melewati satu kaum yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Beliau lalu bersabda: “Andai kalian tidak melakukan penyerbukan niscaya kurma itu menjadi baik.” Anas berkata: Pohon kurma itu ternyata menghasilkan kurma yang jelek. Lalu Nabi saw. suatu saat melewati lagi mereka dan bertanya, “Apa yang terjadi pada kurma kalian?” Mereka berkata, “Anda pernah berkata demikian dan demikian.” Beliau pun bersabda, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (HR Muslim).

Demikianlah mengenai hadharah dan madaniyah. Islam membuka diri terhadap setiap penemuan-penemuan baru di bidang sains dan iptek. Namun, tidak dalam hal keagamaan. Sebab, syariat yang diturunkan oleh Allah dalam Alquran dan hadist sudah jelas dan tidak dapat ditawar-tawar. Termasuk, menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.

Semoga bermanfaat.. Wallahu waliyyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s