gaulislam edisi 503/tahun ke-10 (17 Ramadhan 1438 H/ 12 Juni 2017)


Ngomong-ngomong soal Pancasila, mendadak kini banyak yang latah. Saling mengklaim paling pancasilais, mendukung kebhinekaan dan sejenisnya. Walau dalam prakteknya banyak yang bertolak-belakang dengan pernyataannya tersebut. Anomali. Rame-rama juga pasang display picture di medsos dengan lambang negara dan bendera agar disebut Indonesia, walau pada faktanya banyak yang sekadar nampilin doang, tapi isi pikiran dan perasannya nggak mencerminkan itu semua. Lalu, apa pentingnya kita membahas soal ini? Ada.

Sobat gaulislam, mengapa sekarang banyak kalangan mengklaim dan ingin disebut paling pancasilais ya? Sampe-sampe ada tuh kampus ternama yang mendeklarasikan sebagai universitas yang identik dengan pancasila sehingga judul deklarasinya jadi membingungkan karena sudah ada universitas dengan nama itu. Jadi lucu dan bahkan konyol sebab jadi bahan tertawaan para netizen di media sosial. Sekadar tahu aja, dalam pidato pada Upacara Peringatan Hari Pancasila (1/6/2017), Presiden Jokowi menetapkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila. “Kita Indonesia, kita Pancasila, semua anda Indonesia, semua anda Pancasila. Saya Indonesia, saya Pancasila,” kata Jokowi.

Jati diri bangsa

Apa sih jati diri itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jati diri diartikan sebagai: 1 ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas; 2 inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dr dalam; spiritualitas.

Intinya sih, jati diri bangsa itu berarti ciri-ciri, identitas, atau gambaran keadaan suatu bangsa. Ada banyak kalangan yang meyakini bahwa Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia. Itu sebabnya mati-matian orang-orang yang berkepentingan mengkampanyekan dan bahkan menjejalkan serta memaksakan bahwa seluruh warga negara Indonesia wajib mengamalkan Pancasila. Bila tidak mau, dianggap menentang dan melawan Pancasila. Waduh, saklek juga ya? Tapi ya sudahlah, kalo memang dengan begitu membuat mereka bahagia. Eh, beneran bahagia, nih? Perlu diuji kayaknya!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Jati diri setiap bangsa pastinya berbeda-beda. Oya, bangsa itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bangsa diartikan sebagai: kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Itu sebabnya, budaya bangsa Indonesia berbeda dengan budaya bangsa Belanda, budaya bangsa Cina dan sebagainya. Semua berbeda dan punya ciri khas.

Bagaimana dengan budaya dan ideologi Islam? Pastinya berbeda dalam kedua hal itu dengan bangsa lainnya. Sebagai Muslim, kita wajib bangga sebagai bangsa Muslim. Apalagi Islam adalah agama untuk semua bangsa yang ada di dunia. Islam di Indonesia tercatat sebagai agama yang terbesar jumlah pemeluknya. Kita adalah Muslim yang lahir di Indonesia. Lalu bagaimana jati diri kita, apakah harus jati diri berdasarkan Pancasila atau ajaran Islam? Kamu harus tahu itu. Memang kita ditakdirkan untuk lahir di negeri ini. Bukan kehendak atau keinginan kita dilahirkan di negeri mana pun. Sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Kita nggak bisa protes. Intinya, terima alphard adanya, eh, terima apa adanya. Syukuri dan tetap menjadikan identitas Islam di atas segalanya.

Oh, berarti Islam tetap harus jadi identitas kita sebagai Muslim? Tentu saja, bukan hanya harus, tetapi wajib. Apalagi seluruh manusia yang lahir sejak awal sudah muslim. Beneran, lho. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’” (QS al-A’raaf [7]: 172)

Dari kedua dalil ini, al-Quran dan Hadits, maka sebenarnya sebagai muslim sudah tahu jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan dari bangsa mana tempat kita dilahirkan lalu harus mengikuti kebiasaan bangsa tersebut, tetapi wajib mengikuti kebiasaan Islam. Mending kalo kebiasaan bangsa tersebut benar menurut Islam, gimana jika bertentangan dengan Islam? Tentu saja, Islam yang dipilih dan dijadikan sebagai pedoman. Bukan yang lain. Setuju? Wajib!

Bangga jadi Muslim

Sobat gaulislam, memang kudu bangga jadi muslim. Kalo nggak bangga jadi muslim? Itu, ter-la-lu! (Bang Rhoma mode “on”). Menjadi muslim itu adalah anugerah terindah yang kita miliki. Jadi, berbahagialah menjadi muslim. Nggak semua orang dengan mudah dapetin hidayah menjadi muslim, lho. Suer, hanya Allah Ta’ala yang memberi petunjuk. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya): “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah , maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raaf [7]: 178)

Itu sebabnya, kita wajib bersyukur banget sudah menjadi muslim. Kita pantas untuk bangga. Oya, makna bangga itu sendiri adalah besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan) . Beda ama sombong. Dalam kamus, sombong adalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah. Nah, berbesar hati karena sudah menjadi muslim tuh emang wajar. Karena nggak mudah lho untuk mendapatkannya.

Bagi kita yang ortunya emang udah muslim sejak kita dilahirkan, terus membimbing kita dengan Islam, insya Allah agak mudah. Tapi, coba deh bayangin gimana susahnya mereka yang ortu atau keluarganya bukan muslim. Mereka harus berjuang lebih keras untuk meraih hidayah dari Allah. Karena hanya Allah yang memang pemberi petunjuk bagi manusia. Itu sebabnya, jangan kaget bin heran kalo paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam saja, Abu Thalib, sampe meninggalnya belum masuk Islam. Belum Muslim. Itu paman Nabi, lho. Orang yang mengasuh dan melindungi Nabi. Maka, ketika meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sangat bersedih. Tapi ya nggak bisa berbuat apa-apa. Meski sebelumnya udah sering ngingetin, tapi Abu Thalib bergeming alias diam bahkan cenderung cuek aja, gitu.

Kok bisa? Karena apa? Karena memang yang namanya hidayah Allah itu diberikan khusus kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS al-Qashash [28]: 56)

Oya, pembahasan lebih lanjut tentang hidayah, silakan kamu baca ulang buletin kesayanganmu ini edisi pekan kemarin ya. Mantep deh!

Sobat gaulislam, nggak ada yang ngelarang kalo kita harus bangga jadi muslim. Karena memang itu seharusnya. Rasa bangga itu bakalan bikin kita percaya diri. Bikin kita merasa besar hati. Nggak minder. Seorang muslim nggak boleh sama sekali untuk merasa inferior atau rendah diri. Kita harus menunjukkan bahwa menjadi Muslim itu adalah mulia. Sangat berharga.

Tapi inget lho, bangga itu bukan sombong. Seperti yang udah dijelaskan di bagian awal subjudul ini. Kayaknya nih, rasa sombong itu adalah ‘penyimpangan’ yang berlebihan dari rasa percaya diri. Boleh dan wajar kita bangga, tapi jangan sampe kejerumus jadi sombong.

Ibnu Harist al-Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedang amal orang selainmu sedikit”. Wah, meski kita berusaha sekuat tenaga untuk ngumpulin pahala, tapi bukan berarti harus memandang amal orang lain rendah ketimbang amal kita. Itu bisa jatuh ke dalam bentuk sikap sombong.

Syaikh Fudhail bin Iyadh, salah satu guru Imam Syafi’i, menjelaskan bahwa iblis akan menang melawan bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku, yaitu: Pertama, ujubnya seseorang terhadap dirinya (sombong). Kedua, menganggap banyak amal yang telah dilakukannya. Ketiga, melupakan dosa-dosanya. Tuh, beda banget dengan bangga.

Islam identitas kita

Allah Ta’ala sudah memuji kita, bahwa kita adalah umat yang terbaik yang diturunkan kepada manusia. Firman-Nya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110)

Nah, itu identitas seorang muslim, yakni salah satunya melakukan amar ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan, yakni Islam). Dan tentu saja wajib dilengkapi dengan nahi munkar (mencegah kemunkaran).

Sobat gaulislam, berkaitan dengan pentingnya identitas diri kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari dan Muslim)

Waduh ngeri juga ya? Lha iya, bagi seorang muslim terlarang baginya mengikuti budaya atau gaya hidup kaum lain. Bisa berbahaya. Bahkan seharusnya bangga menjadi seorang muslim yang memiliki identitas islami. So, kalo bangganya dengan nasionalisme, bangga sebagai pancasilais, atau kebanggaan semu lainnya, maka saatnya kamu kudu introspeksi. Ukur yuk kekuatan kita dalam mencintai dan terikat-kait dengan syariat Islam. Seberapa kuat sih kita taat syariat? Atau malah sebaliknya, kita kuat dalam mencontek gaya hidup kaum lain selain Islam? Naudzubillahi min dzalik!

Yuk, kita tunjukkan identitas islami yang hakiki, yakni benar dalam pikiran dan perasaannya. Pikir dan rasa kita hanya dibalut dengan ajaran Islam. Supaya bisa memiliki kepribadian Islam yang benar dan baik, giatlah mencari ilmu Islam dan mengamalkannya. Selain itu tentu saja kita hanya bangga dengan Islam dan syariatnya. Itu sebabnya, kalo ditanya, “Kamu Pancasila?” Jawab aja, “Saya muslim!” Siap kan? Yuk, tunjukkan bareng-bareng identitas kemusliman kita!

[O. Solihin | Twitter @osolihin]

Advertisements