Sahabat..ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia dibekali akal untuk berpikir. Akal dengan kemampuannya yang luar biasa mampu mengangkat derajat pemiliknya. Akal yang dengannya manusia mampu mengindra kekuasaan Allah lewat ayat-ayat kauniyah dan qauliyah-Nya. Merenungi alam semesta, manusia, dan kehidupan, akan kita dapati kekuasaan Allah yang banyak di dalamnya. Merenungi setiap firman Allah dalam Alquran, menuntun kita untuk senantiasa berserah diri dan merunduk pasrah atas segala titah-Nya.

Agaknya, setiap manusia yang memiliki akal sehat pasti menjalani proses berpikir. Manusia yang awalnya terbelakang, mengukur segala sesuatunya berdasarkan materi, perlahan bangkit. Alam berkembang, oleh karenanya manusia berkembang. Anggapan itu setidaknya perlu direnungi ulang. Sebab, sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita terdahulu mampu memahat bukit cadas dan merombaknya menjadi bangunan megah. Mereka mampu menyusun bebatuan dan menumpuknya menjadi bangunan yang tak goyah walau dimakan zaman. Sedang kita manusia modern, bergantung pada teknologi. Pikir kita, kepandaian kita, menyatu bersama teknologi. Jika hilang teknologi maka hilang pulalah ia. Listrik mati, contohnya.

Dulu, di zaman dimana manusia belum mengenal kompas dan GPS seperti sekarang, mereka melakukan perjalanan atau berlayar menggunakan petunjuk bintang di langit. Gugusan bintang-bintang itu akan membentuk sebuah formasi yang dapat dijadikan sebagai penunjuk arah. Berkat keberadaan rasi bintang tersebut, nelayan yang mencari ikan di laut tidak akan tersesat. Mereka juga terbiasa mengandalkan keberadaan angin muson untuk melayarkan kapalnya di malam hari dan kembali pada siang hari. Kita sekarang, bahkan terlalu sibuk untuk sekadar mengarahkan pandangan, melayari satu demi satu bintang yang menjejak di langit. Jangan tanya saya, sebab kadangkala kita sama.

Ketika kita menengok ke kedalaman laut, ada banyak biota yang hidup di dalamnya. Terumbu karang, serta ikan yang terdiri dari banyak spesies dengan beragam ukuran, bentuk, dan warna. Makanan dan tempat hidup biota itu pun beragam. Ada yang sesekali menyeruak ke permukaan, ada juga yang bersembunyi di palung terdalam. Ada biota yang memangsa tetumbuhan, ikan-ikan kecil, bahkan plankton. Andaikan rizki mereka berada di sumber yang sama, pastilah sumber makanan itu akan cepat habis. Begitu juga seandainya semuanya hidup mengelompok di satu tempat yang sama, pastilah terjadi kompetisi di antara mereka. Tetapi Allah dengan kebesarannya telah mengatur sedemikian rupa.

Ketika waktu SD kita disuguhi pelajaran geografi, kita mengenal istilah-istilah seperti planet, matahari, bintang, galaksi, asteroid, komet, dan sebagainya. Masing-masing beredar pada orbitnya tanpa perlu bertubrukan satu sama lain. Termasuk bumi yang ditempati manusia, beserta bulan yang setia mengiringinya, semua berjalan atas titah Sang Rabbi. Bumi yang kita tempati kini, hanyalah sejumput bahkan setitik debu semesta, tak berarti. Matahari yang senantiasa menerangi, hanyalah satu dari sekian milyar bintang yang bertebaran di galaksi Bima Sakti. Bayangkan ada dua bintang mendekati bumi, maka hancur leburlah ia.

Sesungguhnya, di alam semesta sana mengambang milyaran galaksi. Alam makrokosmos yang dipercaya oleh para ilmuwan terus mengembang dan mengembang. Bahkan, waktu tempuh antara satu galaksi ke galaksi lainnya tak dapat dihitung jika dan hanya jika mengandalkan pesawat tercanggih buatan manusia, meskipun mereka mencoba membuatnya dengan mendekati kecepatan cahaya. Einstein, sang penemu teori relativitas pernah mengemukakan teorinya, bahwa segala sesuatu yang berjalan secepat cahaya, ia akan menjadi cahaya. Seandainya manusia mampu merakit kendaraan yang mampu mengalahkan kecepatan cahaya, maka waktu akan berjalan mundur dan manusia akan mampu melihat secara jelas peristiwa masa lampau. Maka sangat rasional jika Rasulullah dapat menembus batas-batas langit dan melakukan perjalanan dari Misra dalam waktu satu malam.

Jauh-jauh hari sebelum Einstein mengemukakan teorinya tentang relativitas, Alquran lebih dulu mengungkapkannya. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al-Hajj: 47). Adapun bulan dengan kecepatannya memerlukan waktu seribu tahun untuk dapat sekali mengelilingi matahari, sedang kecepatan cahaya hanya menempuhnya dalam waktu satu hari. Maka rasional kiranya jika sehari di akhirat adalah seperti seribu tahun di dunia.

Ketika kita melihat tanam-tanaman, ada banyak jenisnya yang mengagumkan akal. Mereka berbunga, berbuah, berkelana membelah lautan lalu menepi dan menjadi pohon. Tanaman, saat tiba masanya, mereka yang berasal dari satu jenis akan sama-sama berbuah. Rambutan si Fulan yang ditanam di bulan A, dan rambutan Fulanah yang ditanam di bulan B dan C. Mereka akan sama-sama berbuah di bulan D. Siapakah yang memerintahkan mereka kompak untuk berbuah? Atau pernahkah sesekali tanaman-tanaman itu malas berbuah lantaran manusia yang kurang syukur? Astaghfirullah.

Pernahkah kita melihat semut? Kita yang lebih kuat atau mereka? Semut-semut itu, mereka bisa mengangkat beban yang beratnya berkali-kali lipat berat tubuh mereka. Semut yang setiap bertemu saling bersapaan. Mereka hafal sesiapa yang berasal dari koloninya dan sesiapa yang tidak. Semut yang bermacam pula jenis dan kastanya. Ada semut pekerja, semut tentara dan semut ratu. Semut yang bekerja mencari makan, menjaga telur, dan tugas lainnya yang dikerjakan sukarela. Ah, kadangkala aku malu pada semut merah..

Nyamuk, ya nyamuk betina yang tak putus asa mencari makan. Nyamuk yang tingkat kebisingannya mengalahkan akal sehat sehingga kita tak kuasa melainkan tega membunuhnya. Nyamuk yang dengan tubuhnya yang kecil dan sayapnya yang rapuh mampu membuat manusia kalut. Lagi-lagi, ada spesies nyamuk yang gigitannya tak hanya mengundang gatal, tapi juga penyakit. Nyamuk yang dalam pandangan kita hina, namanya termaktub dalam perumpamaan dari Allah, bahwa dunia ini tak lebih hina dari seekor sayap nyamuk.

Semesta bertasbih, barangkali sering kita dengar. Ya, malaikat, ikan di lautan, bahkan segenap penghuni bumi bertasbih memuji penciptanya. Tetumbuhan, hewan, semua bertasbih mengagungkan Dzat yang menciptakan mereka, meskipun kita tidak paham tasbih mereka. Gunung-gunung yang berdiri kokoh menapak perut bumi pun takut kepada Dzat yang Maha Agung. Kita yang telah dianugerahi akal, namun tak berarti menyudahi dari belajar kepada mereka. Penghuni bumi yang tak berakal, tetapi meremehkannya berarti kesudahan. Karena sekali-kali manusia tak akan pernah mampu menyaingi gunung dalam tingginya serta merobek bumi hingga tersisa beberapa bagian.

Tatkala penggunaan akal dilencengkan, maka bersiaplah sesat selama-lamanya. Jika ia sudah sesat, ditambah lagi bebal, maka hanya Allah yang punya kuasa untuk menyiramkan hidayah. Sedang manusia hanya bisa mengingatkan. dan Maka, manfaatkanlah akalmu wahai manusia untuk mencari kebenaran dan merenungi kuasa Tuhan. Manfaatkanlah akalmu untuk kemenangan Islam. Jangan mengikuti jalan-jalan orang yang disesatkan dan sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk. Yaa muqallibal quluub, tsabbit qolby ‘alaa diinika..TT

Advertisements