Posted in Uncategorized

NGAJI BERSERI #6 QADHA DAN QADAR

Assalamu’alaykum sahabat.. Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu sepertiga. Semoga kita bisa tetap istiqamah hingga penghabisan Ramadhan dan seterusnya. Aamiin. Ngaji seri ke-6 kali ini kita akan masuk pada pembahasan qadha dan qadar.

Hmm..kenapa sih kita mesti bahas qadha dan qadar? Bukannya sejak dari SD, bahkan TK sudah diajari yang namanya rukun iman. Kita bahkan hafal isinya di luar kepala. Ya, iman kepada qadha dan qadar ini termasuk rukun iman ke enam.

Dulu zaman-zaman penulis masih SD dan ngaji di mushalla, setiap ahad pagi pasti ada program didikan subuh. Pengisi dan pembawa acaranya gantian setiap minggu. Ada yang dapat giliran adzan, pidato, membacakan asma’ul husna, rukun iman dan rukun Islam, dan masih banyak lagi. Yang paling disenangi waktu itu ketika didikan subuh berjama’ah.

Namun hal yang miris ketika momen membacakan rukun iman keenam. Kami dengan percaya diri melafadzkan, “Iman kepada qadar baik dan qadar buruk.” Loh? Harusnya bunyinya kan “Iman kepada qadha dan qadar.” Nahasnya waktu itu gak ada yang negur. Walhasil, jadilah pemahaman yang salah itu diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi.

Nah, sahabat..sebenarnya manusia itu hidup di dua area. Area pertama yaitu area yang dikuasai manusia. Area ini berada di bawah kendali manusia dan manusia menentukan sendiri perbuatannya. Adapun area kedua yaitu area yang menguasai manusia. Di area ini, tidak ada campur tangan manusia di dalamnya sehingga manusia hanya bisa pasrah dan meyakininya sebagai ciptaan Allah.

Dalam diri manusia terdapat akal, naluri, juga kebutuhan jasmani. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, manusia memiliki wewenang dalam  memanfaatkan ketiga potensi tersebut. Apakah digunakan untuk kebaikan atau keburukan, digunakan untuk ta’at atau bermaksiat yang tentunya setiap manusia berbeda dalam memanfaatkan potensi ketiganya. Konsekuensinya, manusia akan dihisab dan diminta pertanggungjawaban berdasarkan pilihan-pilihan tersebut.

Ada manusia yang memanfaatkan akalnya untuk memikirkan hal-hal yang tidak layak dipikirkan seperti Dzat Allah, mengapa Allah tidak menciptakan surga saja, memikirkan semua agama sama, dan lain-lain. Di sisi lain, ada juga manusia yang mengunakan akalnya untuk bertafakkur dan bertadabbur, melihat kebesaran Allah. Begitu juga dalam pemanfaatan naluri dan kebutuhan jasmani. Adalah wewenang kita untuk melakukan sesuatu, dengan konsekuensi berupa pahala dan dosa.

Kadangkala, kita keliru dalam menyikapi perkara ini. Kita menganggap bahwa seluruh perbuatan yang kita lakukan berasal dari sisi Allah. Allah lah yang menyuruh manusia melakukan sesuatu. Ketika kita melihat seseorang yang ta’at, maka kita berpikir bahwa Allah lah yang membuatnya ta’at. Ketika kita dapati seseorang yang berbuat maksiat, kita juga bepikiran bahwa Allah lah yang membuatnya bermaksiat. Oleh karena itu, kita tidak perlu capek-capek beramal di dunia karena jauh-jauh hari Allah telah menentukan sesiapa yang akan masuk surga dan neraka.

Menyikapi hal ini, tentunya kita tidak boleh mengaitkan pembahasan qadha dan qadar dengan ilmu Allah, iradah Allah, dan lauhul mahfuzh. Apakah kita tau apa yang tertulis di lauhul mahfudz sehingga dengan itu kemudian kita enggan untuk melakukan keta’atan? Apakah kita sudah tau kita akan masuk surga atau masuk neraka sehingga dengannya kita cukup bersantai-santai saja. Kalau begitu, bagaimana kita memposisikan Rasulullah yang shalat hingga kaki beliau bengkak dan bersimpuh mohon ampun kepada Allah yang kadarnya dalam sehari lebih dari 70 kali?

Dalam Alquran surat Al-Balad ayat 10, dikatakan bahwasannya Allah telah menunjukkan kepada manusia dua jalan hidup (baik dan buruk). Di dalam surat Asy-Syams ayat 8, Allah juga berfirman bahwa Ia telah mengilhamkan kepada manusia dua jalan hidup, yaitu jalan kefasikan dan ketakwaan. Jika kita ingin masuk surga, berarti yang kita lakukan haruslah perbuatan yang mengarah pada jalan ketakwaan. Sebaliknya, jika enggan masuk surga, maka ikutilah jalan kefasikan dan jadilah kawan setan..hehe

Sahabat..Allah hanya membiarkan manusia melakukan sesuatu di wilayah syari’at tanpa dipaksa. Allah membiarkan kita mengerjakan keta’atan dan kemaksiatan, meskipun semua perbuatan kita telah diketahui oleh Allah dan tercatat di lauhul mahfudz. Ibaratnya, Allah telah membekali manusia dengan potensi beserta khasiat benda-benda, tinggal bagaimana manusia menjalani kehidupan. Tentunya, dengan menyadari bahwa suatu hari pasti akan ada hisab dan pembalasan atas segala perbuatan yang kita kerjakan.

Mengenai alam semesta, keberadaannya mengikuti hukum alam (sunatullah). Manusia sama sekali tidak punya andil dalam setiap peristiwa yang terjadi di dalamnya. Begitu juga ia tidak bisa mengelak atas setiap kejadian di alam. Karena itu, manusia tidak akan dihisab dan diminta pertanggungjawaban karenanya. Inilah yang dimaksud dengan qadha. Bahwasannya keberadaan alam semesta, serta adanya hukum-hukum alam, semuanya  merupakan ciptaan Allah.

Permisalan qadha adalah ketika terjadi banjir, gunung meletus, gempa bumi, pergantian siang dan malam, dan sebagainya yang tidak ada andil manusia di dalamnya. Kewajiban manusia dalam menghadapinya ialah menerimanya sebagai bentuk keputusan terbaik dari Allah. Sebab, sekilas kadangkala kita melihat apa yang diturunkan Allah kepada manusia berupa banjir dan longsor sebagai sebuah musibah. Padahal, boleh jadi pandangan kita ketika menilai sesuatu itu buruk, malah itu baik di sisi Allah. Tugas manusia menerima ketetapan-ketetapan Allah dan meyakini hal itu baik untuk kita manusia.

Clear ya..berarti setelah ini tidak ada lagi yang mengatakan belum dapat hidayah..hehe karena dengan sahabat membaca tulisan ini, itu termasuk hidayah.. Dan ingatlah bahwa hidup adalah pilihan..dan setiap pilihan pasti dipertanggungjawabkan..hehe Nantikan tulisan selanjutnya ya..:D

Wallahu waliyyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

 

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s