NGAJI BERSERI #5 TIGA PERTANYAAN MENDASAR

Assalamu’alaykum sahabat..ngaji seri ke 5 kali ini akan membahas tentang bagaimana jalan untuk memperoleh keimanan yang bermula dari kesadaran diri. Sebab meskipun kita bersyukur karena telah mewarisi agama Islam, perkara keimanan tetaplah harus dipecahkan orang perorang, sehingga kita tidak hanya sekadar ikut-ikutan dalam beragama.

Untuk memecahkan persoalan akidah, marilah kita mulai dengan menjawab tiga pertanyaan secara benar. Tiga pertanyaan mendasar tersebut yaitu dari manakah manusia berasal, apa tujuan hidup di dunia, dan hendak kemana setelah mati. Pertanyaan ini akan dapat kita pecahkan dengan menggunakan metode berpikir rasional (mengandalkan akal), bukan berpikir ilmiah laiknya orang-orang sosialis-komunis.

Pertanyaan pertama, mengenai asal mula penciptaan manusia. Charles Darwin menganggap bahwa manusia dan makhluk hidup berevolusi dari materi. Keyakinan ini dianut oleh banyak orang. Harun Yahya dalam bukunya “Agama Darwinisme” menuliskan bahwa teori Darwin mengenai asal muasal benda dan makhluk hidup lainnya yaitu berasal dari dua orang Dewa, Lahmu dan Lahumu. Keduanya muncul akibat terjadi kekacauan di dalam air. Selanjutnya kedua Dewa itu menciptakan diri mereka sendiri dan berubah perlahan sambil menciptakan benda dan makhluk hidup lain.

Begitu juga dengan keyakinan Mesir Kuno. Menurut mereka, ular, katak, cacing, dan tikus tercipta dari lumpur yang menumpuk karena banjir sungai Nil. Mereka mengingkari adanya penciptaan dan percaya bahwa makhluk hidup muncul secara acak dari lumpur.

Selain itu, banyak ilmuwan-ilmuwan setelah Darwin yang juga melakukan percobaan-percobaan ilmiah. Salah satunya adalah percobaan meletakkan daging di sebuah toples yang ditutup rapat dengan kain. Beberapa hari kemudian, dari toples tersebut muncul belatung. Mereka pun akhirnya mengambil kesimpulan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Juga percobaan-percobaan lainnya yang mengarah pada kesimpulan tersebut.

Hanya saja, teori  Darwin ini baru dapat dibantah bertahun-tahun kemudian. Bahkan, Darwin sendiri pernah mengirim surat kepada rekan-rekannya yang berisi keraguan akan teorinya. Sayangnya, sampai saat ini masih banyak orang yang bertahan mengikuti keyakinan kuno yang mengingkari adanya Tuhan yang berperan dalam proses penciptaan tersebut.

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada teman-teman terdekat kita, ada diantaranya yang menjawab bahwa manusia itu berasal dari pertemuan sperma dan ovum. Lalu, menjadilah segumpal darah, segumpal daging, kemudian dibalut tulang, dan seterusnya. Dalam ilmu Biologi, prosesnya disebut ovulasi. Dari proses ovulasi, terbentuklah zigot yang selanjutnya akan berkembang menjadi morula, blastula, gastrula, hingga menjadi janin dan kemudian lahir ke dunia.

Namun jika dipikir ulang, ibu juga dilahirkan oleh nenek. Nenek juga memiliki orang tua. Demikian juga orang yang melahirkan nenek dan seterusnya. Sehingga jika ditelusuri lebih lanjut, akan kita dapati bahwa manusia pertama yaitu Nabi Adam AS tidak memiliki orang tua. Lalu, dari manakah sebenarnya asal muasal kita?

Nah..untuk menjawabnya kita harus menggunakan akal sebagai standar yang bisa diterima pemeluk agama manapun. Manusia dengan keteraturan dan kecanggihan sistem yang terdapat dalam tubuhnya, pasti ada yang menciptakan. Alquran yang turun sekitar 14 abad yang lalu mengatakan demikian. Bahwasannya ruh manusia pertama yaitu Nabi Adam hingga manusia yang terakhir lahir di permukaan bumi, jauh-jauh hari sebelum ruh itu ditiupkan ke dalam rahim, diminta sumpahnya oleh Allah agar bersedia mengikuti-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sayangnya, pada waktu itu tidak ada diantara kita yang menolak perjanjian tersebut.

Karena hidup kita adalah hasil dari perjanjian agung kita dengan Allah, maka mau tak mau kita harus menaati-Nya. Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan, dan bos menyuruh kita melakukan suatu hal. Pasti yang terbayang di benak kita adalah menaati perintahnya. Sebab, jika tidak begitu kita akan dihukum atau dipecat.

Begitu juga dengan hidup. Menjawab pertanyaan kedua, ternyata tujuan kita dihidupkan ke dunia adalah untuk beribadah. Maka mau tak mau segala aktivitas yang kita lakukan haruslah bernilai ibadah, Ihsanul amal. Sebab, jika tidak begitu keberadaan kita di dunia akan menjadi penyesalan kelak di akhirat. Mungkin sekarang kita belum benar-benar menjiwainya, sebab kita tak mampu melihat secara langsung bahwa Allah memberikan pahala dan dosa tersebut. Tidak sama ketika kita bekerja kemudian diberi uang dari hasil jerih payah tersebut. Uang itu nampak, sementara pahala-dosa itu ghaib, abstrak.

Ada juga yang mengatakan bahwa tidak apa-apa jika manusia kelak masuk neraka. Sebab bagaimanapun, seorang muslim yang  telah mengucapkan kalimat syahadat suatu saat pasti akan mencicipi dan diam di surga. Meskipun pada mulanya ia singgah di neraka kemudian dibakar dosa-dosanya di sana. Tapi tahukah kita bahwasannya perhitungan kita tentang sehari di akhirat tidak sama sehari di dunia. Allah mengatakan dalam surat Al-Hajj ayat 47 bahwa sesungguhnya sehari di sisi Allah adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kita.

Jika dimisalkan kita bermaksiat selama satu hari penuh. Selama itu kita mengerjakan beragam maksiat seperti riba, judi, membunuh, berzina, dan lain-lain niscaya dosa kita akan bertumpuk-tumpuk. Tak bisa kita bayangkan berapa ribu tahun kita disiksa di neraka, kemudian baru dimasukkan ke surga. Bahkan tak tanggung-tanggung, Allah memperuntukkan kerak neraka bagi orang-orang yang tidak juga berhenti mengambil riba, padahal mereka mengetahuinya. Tahukah sahabat bagaimana panasnya kerak itu? Kalau belum, cobalah tengok dasar periuk ketika menanak nasi.

Mengenai pertanyaan mendasar ketiga, akan kemana kita setelah mati. Kita hanya diberi dua pilihan. Surga dan neraka. Tidak ada pilihan ketiga yaitu di tengah-tengah. Kalau kita termasuk golongan orang yang diberi catatan amal dari sebelah kanan, maka selamatlah kita. Yang celaka adalah ketika kita termasuk golongan orang-orang yang diberi catatan amal dari sebelah kiri.

Jika kita telah menemukan jawaban dari ketiga pertanyaan tadi, maka tak ada pilihan lain kecuali tetap berada dalam keimanan dan Islam. Maka, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dalam hidup ini tidak lain adalah untuk menyelamatkan diri kita di akhirat kelak. Tidak untuk orang lain, organisasi, atau apapun namanya. Sebab, di akhirat nanti bahkan orang-orang yang tidak beriman saling membelakangi. Seorang anak lupa pada ibu-bapaknya, seorang saudara lari dari saudaranya. Pada hari itu tidak ada yang menolong melainkan amalan-amalan kita selama di dunia.

Maka, mengkaji Islamlah..agar hidup kita kelak tidak jadi penyesalan. Sebab, tidak ada yang pernah tahu akhir kehidupan kita. Tak ada jaminan kita akan masuk surga sekalipun kita adalah seorang pendakwah. Yang bisa kita lakukan adalah beramal semampu kita sambil memperbaiki diri agar layak menempati surga-Nya.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat, terutama bagi penulis sendiri. Aamiin

Wallahu waliyyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s