Posted in Uncategorized

NGAJI BERSERI #4 MENGUJI KEBENARAN ISLAM (bag. 2)

Bismillah..jika kemarin kita sudah membahas bagaimana menguji Islam sebagai agama yang benar lewat pembuktian adanya Tuhan dengan akal. Sekarang saatnya kita coba membuktikan kebenaran Alquran sebagai kitab pedoman umat Islam, serta menguji kerasulan Muhammad SAW sebagai pembawa risalah.

Sebelumnya telah jelas bahwasannya untuk menguji kebenaran adanya Sang Pencipta, kita harus melewati proses berpikir. Berpikir untuk menemukan sebuah pembuktian. Tentunya, kita harus berpikir atas apa-apa yang dapat dijangkau oleh alat indra yaitu alam, manusia, dan kehidupan. Proses berpikir tentunya harus melibatkan akal yang sehat, di samping perasaan. Sebab perasaan sifatnya cendrung menambah-nambah dan mengurangi. Akal inilah yang nantinya menuntun kita untuk menemukan adanya jejak Sang Pencipta di alam semesta ini.

Pertanyaan selanjutnya, benarkah Alquran datang dari sisi Allah? Untuk menjawabnya tentu butuh pembuktian. Kemungkinan dari mana Alquran berasal hanya ada tiga. Pertama, Alquran dikarang oleh orang Arab. Kedua, Alquran dikarang Muhammad. Ketiga, berasal dari Allah.

Kemungkinan pertama, Alquran berasal dari orang Arab. Kemungkinan ini banyak dibantah dalam Alquran sendiri. Bahkan Alquran menantang manusia di setiap zaman untuk membuat satu saja surat semisal Alquran, seperti yang tertera dalam surat Yunus ayat 38. Tak tanggung-tanggung, Allah juga telah mengatakan dalam surat Al Isra’ ayat 88 bahwa sendainya manusia dan jin bersekutu untuk membuat yang serupa dengan Alquran, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Terbukti, hingga sekarang ini tak ada seorangpun yang mampu menjawab tantangan ini.

Mengenai kemungkinan kedua, Alquran berasal dari Muhammad. Kemungkinan ini lagi-lagi tidak dapat diterima oleh akal. Sebab sebelum Nabi menerima wahyu, beliau adalah seseorang yang ummi, tidak bisa baca-tulis. Jika orang-orang Arab ketika itu tidak bisa membuat satu surat saja semisal yang tertera di Alquran, apalagi Muhammad yang ummi. Belum lagi adanya perbedaan gaya bahasa antara hadist yang dikeluarkan Muhammad dengan Alquran. Itu semua membantah argumen orang-orang yang menuduh Alquran merupakan kalam buatan Muhammad.

Di samping itu, adanya tuduhan bahwa Alquran disadur oleh Nabi Muhammad dari pemuda yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah dibantah dalam Alquran surat An-Nahl ayat 103. Bahwasannya bahasa orang yang dituduhkan Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘ajami (non-Arab), sedangkan Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Seketika runtuhlah argumen kedua ini.

Jika dua kemungkinan di atas salah, hanya tersisa satu kemungkinan, Alquran adalah kalamullah. Alquran merupakan mukjizat untuk orang yang membawanya, yaitu Muhammad. Muhammad tidak lain adalah seorang Nabi sekaligus Rasul pilihan Allah. Sama halnya dengan Rasul yang diturunkan kitab pada mereka yaitu Nuh, Musa, Daud, dan Isa AS. Hanya saja, tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah Muhammad. Oleh karenanya, dusta apabila di zaman sekarang ada manusia yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.

Peristiwa diutusnya Nabi Muhammad menandakan telah berakhirnya risalah kenabian. Dengan kedatangannya membawa mukjizat berupa Alquran, secara otomatis menghapus (nasakh) dan menyempurnakan syari’at-syari’at yang berlaku sebelumnya yaitu syari’at yang dibawa oleh Nabi Nuh, Musa, Daud, dan Isa AS.

Doktrin Islam

Islam merupakan agama yang diturunkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Dari kalimat tersebut, bisa kita simpulkan bahwa terdapat batasan-batasan. Kalimat Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah telah membatasi semua agama yang tidak diturunkan oleh Allah seperti ajaran Shinto, Konghucu, Hindu, Budha, dan lain-lain. Demikian juga dengan kalimat Islam adalah agama yang diturunkan pada Nabi Muhammad, telah memproteksi agama lain yang diturunkan kepada Nabi Nuh, Musa, Daud, dan Isa AS, baik itu Kristen, Yahudi, dan lain-lain.

Penyebutan Islam sebagai agama tidak pernah digunakan pada agama Nabi-nabi sebelumnya. Hal ini seperti diungkapkan Alquran dalam surat An-Nisa’ ayat 163 dan surat An-Nahl ayat 123, meskipun inti ajaran yang dibawa para Nabi tersebut sama, yaitu Tauhid. Di samping itu, syari’at Islam juga tidak hanya mengatur perkara ruhiyah seperti ibadah. Lebih dari itu, pengaturannya mencakup dalam ranah pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Sayangnya sebagian umat Islam banyak yang abai dan mengerucutkan Islam sebatas ranah spiritual. Mereka lupa bahwa agama dan politik tidak bisa dipisahkan.

Islam beserta segenap aturannya selalu relevan pada setiap zaman. Bahkan, Alquran mampu memprediksi kejadian di masa depan dengan tepat serta mampu menerangkan peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Keotentikan Alquran dapat diuji. Tidak pernah sekalipun Alquran mengalami revisi atau perbaikan-perbaikan, meskipun hanya satu ayat. Karena ia diturunkan oleh Allah, Sang Pencipta, maka Ia juga lah yang akan memelihara dan menjaga keaslian Alquran hingga akhir zaman. Terbukti dengan banyaknya para penghafal Alquran.

Melihat kenyataan itu, maka pantaskah bagi kita untuk menjadikan syari’at di luar Islam sebagai pedoman dan mencampakkan hukum-hukum yang tertera dalam Alquran? 

Wallahu waliyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s