NGAJI BERSERI #3 MENGUJI KEBENARAN ISLAM

Assalamu’alaykum sahabat..ngaji seri 3 kali ini akan membahas tentang pemecahan akidah. Tentunya, akidah kita sebagai seorang muslim adalah islam, bukan kapitalisme, juga sosialisme. Nah..bagaimana caranya agar kita bisa memecahkan akidah dan menemukan jawaban yang benar? Mari kita coba bahas..

Sebagai manusia yang dilahirkan dari orang tua yang muslim, saya dan kita semua pastinya merasa bersyukur. Karena, dengan itu kita mendapatkan kemudahan dalam berislam. Kita tidak perlu berselisih dengan orang-orang terdekat untuk bisa mempertahankan keyakinan kita. Berbeda halnya dengan para muallaf yang tidak sedikit mengalami intimidasi, boykot, pengusiran, dan siksaan setelah memutuskan untuk masuk Islam.

Kadangkala, kita bertanya-tanya. Kenapa ya muallaf yang baru masuk Islam, bisa sedemikian teguhnya membela Islam? Bahkan banyak dari mereka yang mendirikan yayasan-yayasan dan menjadi perantara hidayah Islam bagi orang lain. Mereka menjelma menjadi sosok muslim yang ta’at. Sementara, diri kita begitu-begitu saja. Hambar. Tak ada rasanya nikmat memeluk Islam.

Jika hendak merenung, mungkin letak yang membedakan kita dan mereka adalah keimanan. Pondasi keimanan mereka kokoh karena diperoleh dari hasil berpikir mencari kebenaran Islam. Mereka mempergunakan akalnya sehingga berujung pada pembuktian bahwa memang Islam adalah satu-satunya agama yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia. Mereka berhasil membuktikan bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam dengan memperhatikan jejak. Ya, jejak peninggalan berupa alam, manusia, dan kehidupan.

Lho? Masak jejak dijadikan barang bukti? Hehe kira-kira kalau kita melihat seonggok kotoran kambing atau kotoran kuda, apakah yang terbayang di benak kita? Pasti kita mengira di tempat itu ada kambing atau kuda yang lewat, karena ada buktinya. Begitu juga ketika kita ingin memeriksa suatu kasus seperti pembunuhan, pasti yang kita telusuri adalah jejaknya. Baik itu jejak DNA, sidik jari, ataupun jejak yang melekat di tubuh seperti bau dan semacamnya. Jadi, untuk menemukan siapa Tuhan kita, harus menggunakan bukti yaitu adanya jejak.

Sekilas kita menengok ke luar angkasa. Kita mengetahui dari buku-buku dan sumber ilmiah bahwa planet-planet yang bertebaran di langit, masing-masing beredar pada orbitnya. Mereka tidak bertubrukan satu sama lain. Siapakah yang mengatur itu semua kalau bukan Dzat yang Maha? Matahari yang merupakan bintang yang paling dekat bumi, jika bergeser satu sentimeter saja mendekati bumi, maka melelehlah bumi ini. Matahari yang kita lihat, hanyalah satu dari sekian miliar bintang di galaksi bima sakti. Belum lagi miliaran galaksi lainnya di ruang angkasa yang seolah mengembang dan tanpa batas. Mungkinkah itu semua ada dengan sendirinya dan tidak ada yang mengatur?

Adapun manusia, ia diciptakan bersifat lemah, terbatas, dan serba ketergantungan. Manusia bersifat lemah karena mereka butuh makan, minum, dan butuh mendapatkan suplai oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Manusia bersifat terbatas sebab mereka bermula dari sebuah proses penciptaan, kemudian pada akhirnya mati. Manusia juga tidak bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa, di negara mana, kapan waktunya, dan lain-lain. Manusia juga diciptakan serba ketergantungan. Bahkan, untuk proses kelahiran dan kematian saja manusia butuh orang lain. Jadi, tidak mungkin manusia diciptakan oleh Dzat yang biasa-biasa saja atau setara dengan manusia. Artinya, Dzat yang menciptakan haruslah berlawanan dengan sifat manusia yang lemah, terbatas, dan serba ketergantungan.

Kemungkinan darimana Tuhan berasal hanya ada tiga. Pertama, Tuhan diciptakan. Kedua, Tuhan menciptakan dirinya sendiri. Ketiga, Tuhan bersifat azali (kekal) dan wajibul wujud (tidak berawal dan tidak berakhir). Kemungkinan pertama salah karena jika Tuhan diciptakan, berarti Tuhan adalah makhluk, bukan khalik. Kemungkinan kedua juga salah sebab tidak mungkin Tuhan memiliki sifat sebagai makhluk dan khalik sekaligus. Hanya kemungkinan ketiga yang dapat diterima akal. Selain itu, Tuhan itu haruslah tunggal. Sebab, jika lebih dari satu tentunya mereka nanti akan bertengkar merumuskan kebijakan-kebijakannya..hehe Jadi, melalui proses berpikir dan perenungan, kita akan sampai pada keyakinan tentang adanya Allah yang Maha Kuasa. Satu-satunya Dzat yang  azali dan wajibul wujud.

Wallahu waliyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s