Posted in Uncategorized

NGAJI BERSERI #2 POTENSI HIDUP MANUSIA

Bismillah..
Assalamu’alaykum sahabat..ngaji seri ke-2 kali ini kita akan membahas tentang potensi hidup manusia. Mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa ternyata Allah telah menciptakan potensi naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul udawiyah) dalam diri manusia. Mungkin dalam prakteknya, kita merasakan keberadaan keduanya, tapi tidak mampu mendefinisikannya. Nah..naluri dan kebutuhan jasmani ini ternyata memiliki khasiat tersendiri yang telah ditetapkan oleh Allah, sebagaimana khasiat api yang membakar, khasiat air yang membasahi, matahari yang menerangi, dan sebagainya.

Mengenai naluri, ternyata dalam diri manusia dibedakan tiga jenis naluri. Pertama, naluri beragama (gharizah at-tadayyun). Kedua, naluri melestarikan keturunan (gharizah an-nau’) dan ketiga, naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Ketika kita dilanda masalah yang amat berat hingga kita merasa tak ada lagi rasanya bumi tempat mengadu (hehe ini agak lebay), pasti kita terakhir ngadunya sama Allah, minta bantuan Allah. Itu merupakan naluri beragama. Ketika kita merasakan suka pada lawan jenis, itu manifestasi dari naluri melestarikan keturunan. Ketika kita marah, ingin dianggap, membela diri ketika wilayah kita diserang, itu semua merupakan wujud dari naluri mempertahankan diri.

Pernah dikisahkan kepada kita, ketika semua makhluk diperintah sujud oleh Allah kepada manusia, yakni Nabi Adam AS. Semuanya dari kalangan malaikat tunduk patuh. Padahal, secara logika tentu malaikat lebih mulia dibandingkan manusia. Malaikat diciptakan dari nur, cahaya, sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah. Ketika Allah mengumumkan bahwa ia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka kagetlah para malaikat. Kenapa bisa makhluk yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah hendak dijadikan khalifah di muka bumi?

Jangankan malaikat, kita sendiri pun jika berada di sana mungkin akan protes. Melihat kenyataan sekarang banyak manusia yang hidupnya mambabi buta, asal hajatnya terpenuhi. Para pejabat yang giat korupsi agar lumbungnya tetap berisi. Penguasa yang ingin dirinya tetap berkuasa, mengingkari dan menolak diterapkan aturan Islam dalam kehidupan. Para wanita yang bekerja di tempat prostitusi, merelakan dirinya dinikmati banyak lelaki hanya karena ingin mendapatkan uang agar bisa tetap makan. Sering juga kita temui, hanya karena cekcok rumah tangga, suami tega membunuh istri dan sebaliknya. Jadi, bagaimana mungkin manusia yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah hendak dijadikan khalifah oleh Allah di muka bumi?

Tapi..sepintar-pintarnya manusia, Allah lebih tahu mana yang terbaik. Jika saja manusia mampu berpikir dan memanfaatkan potensi naluri, dan kebutuhan jasmaninya tadi dengan sebaik-baiknya, pastilah akan tercurah berkah dari langit dan bumi. Keamanan akan terasa di mana-mana, tidak ada pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan. Sebab, manusia mengerti akan perannya masing-masing. Otomatis, ketika semua itu bisa direalisasikan, terbentuklah image Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Bagaimana tidak? Ketika kita sudah mengetahui bahwa dalam naluri melestarikan jenis ada dorongan seksual, kita dapat memilih memanfaatkannya di jalan yang benar, yaitu dengan jalan menikah. Atau, ketika belum sanggup, kita akan mengalihkannya dengan jalan berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, tidak ada istilahnya bagi seorang muslim mempraktekkan pacaran untuk memenuhi kebutuhan naluri melestarikan jenis. Tidak juga dengan pacaran syari’ah semisal tidak saling bertemu tetapi saling berkirim SMS membangunkan sahur atau tahajjud. Wah..yang begini sudahlah maksiat, dibungkus dengan kedok agama pula. Dosa dua kali. Na’udzubillah.

Jadi, jelas ya bahwa tidak ada salahnya kalau kita sebagai manusia jika terbersit perasaan mencintai lawan jenis. Yang salah adalah bagaimana upaya pemenuhannya. Apakah kita berupaya mengamini perasaan tersebut kemudian menyalurkannya lewat jalan yang salah, semisal pacaran baik dengan yang sejenis maupun yang berlawanan jenis. Yang begini bukan hanya berdosa tapi juga mengundang adzab Allah karena telah mengamalkan perbuatan kaum Nabi Luth.

Demikian juga dengan naluri beragama. Bohong jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu tidak butuh beragama. Sebab pada prakteknya, dalam keadaan terdesak dan tidak ada yang bisa dimintai pertolongan, semua orang pasti mengadu kepada Dzat yang Maha. Atau, ada manusia yang saking semangatnya dalam beragama dan katanya menjunjung persatuan, malah terjebak paham pluralisme. Semua agama sama, katanya. Jadi, mereka menganggap tidak salah ketika seorang muslim yang melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji mengikuti perayaan natal di gereja. Itu jelas-jelas salah.

Mengenai naluri mempertahankan diri, manusia sadar atau tidak pasti memilikinya. Begitu juga dengan hewan. Hewan jika daerah teritorinya diganggu pasti akan marah dan menyerang para pengusiknya. Coba perhatikan jika induk ayam sedang berkumpul beserta anak-anaknya. Pastilah ketika kita mencoba mengusik anak ayam tersebut, induknya akan marah dan berupaya menyerang pihak yang berusaha mengambil anaknya. Hehe luar biasanya ayam. Kalah dari kita yang suka membuang manusia (baca: bayi) sembarangan ke tempat sampah atau panti asuhan.

Begitu juga dengan kebutuhan jasmani, ia akan menuntut pemenuhan. Kita tidak bisa asal makan ketika merasa lapar. Misalnya, dengan memakan daging babi. Itu jelas dilarang dalam Islam. Atau, ketika kita sangat berhajat buang air kecil, tidak bisa kita sembarangan memenuhinya dengan kencing di sembarang tempat. Kalau begitu sama saja kita dengan hewan. Apakah kita mau disamakan dengan hewan? Tentu tidak, kan?

Ternyata..contoh-contoh diatas merupakan sebagian dari contoh pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani yang salah. Kenapa salah? Karena kita telah dianugrahi akal oleh Allah untuk berpikir menentukan baik-buruk, benar-salah, menentukan mana perbuatan yang akan mendatangkan dosa dan berbuah pahala. Akal itulah yang menjadi penuntun bagi seseorang. Apalagi, seorang muslim yang akalnya telah dilandasi dengan iman dan Islam. Tentu, cara mereka memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Sebab, mereka lebih dulu menggunakan akalnya untuk berpikir, baru kemudian berbuat.

Kalau malaikat, wajar saja mereka tidak bermaksiat kepada Allah. Sebabnya, karena mereka tidak dianugrahi hawa nafsu. Demikian juga dengan hewan yang diberi hawa nafsu tapi tidak diberi akal, wajar-wajar saja kalau mereka hidup sesukanya. Sering kita melihat kucing yang sembarangan buang air besar di halaman rumah, atau mencuri sambal di dapur. Itu wajar saja sebab kucing tidak diberi akal untuk bisa berpikir benar-salah, mana makanan yang halal dan mana makanan yang haram.

Akal disini tentu berbeda dengan otak. Sebab sama seperti manusia, hewan dan orang gila juga sama-sama diberikan otak oleh Allah, namun tidak dengan akal. Jika otak berperan mengolah informasi, maka tugas akallah memahami serta mempertimbangkan informasi tersebut untuk kemudian bertindak sesuai dengan pemahamannya. Apakah dia memuaskan naluri dan kebutuhan jasmani sesuai perintah Allah, ataukah berlawanan dengan perintah-Nya. Jika manusia enggan menggunakan akalnya, tentu kedudukan mereka akan disamakan dengan hewan ternak. Bahkan, lebih rendah lagi. Sebab, dengan akal jualah kita sebagai manusia ditempatkan setingkat diatas hewan dan malaikat.

Oleh karenanya, akal harus digunakan untuk berpikir mengenai alam, manusia, dan kehidupan. Berpikir sesuai dengan landasan akidah kita yaitu Islam, bukan ala-ala kapitalis yang mementingkan pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani apapun caranya meski terlarang. Kita wajib mengetahui ilmu yang akan membantu kita dalam rangka menjalani kehidupan di dunia sebagai bekal ke akhirat. Itu semua agar kita bisa memanfaatkan potensi kita di jalur yang benar dengan sebaik-baiknya.

Pembahasan mengenai potensi ini mungkin sederhana, tetapi hakikatnya inilah yang membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Mereka boleh jadi sama-sama diberikan akal, naluri serta kebutuhan jasmani, namun sedikit yang mampu memanfaatkannya di jalur yang benar, sesuai dengan koridor hukum syara’. Padahal, jika manusia mampu memanfaatkannya dengan benar, semuanya akan menjadi jalan ibadah dan mampu mendudukkan kembali peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Dalam Alquran surat Adz-Dzariyat: 56 dikatakan bahwasannya tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Karenanya, apapun aktivitas kita untuk memenuhi kedua potensi tadi, semuanya dapat menjadi jalan ibadah. Ketika aktivitas makan yang kita lakukan diniatkan untuk menambah energi agar kuat belajar, maka itu menjadi jalan ibadah dan berpahala di sisi Allah. Ketika naluri beragama yang ada kita manfaatkan untuk mencari hidayah Iman dan Islam, itu adalah ibadah. Ketika naluri melestarikan jenis dimanfaatkan dengan jalan menikah untuk menyempurnakan separuh agama dan menghasilkan keturunan yang shalih-shalihah, itu bisa menjadi jalan ibadah. Bahkan, kita juga bisa memanfaatkan naluri mempertahankan diri yang ada untuk membela Allah, Rasul-Nya, dan Islam.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua..

Wallahu waliyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah
#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s