NGAJI BERSERI #1 IHSANUL AMAL

Assalamu’alaykum sahabat.. Bismillah mumpung ramadhan dan pahalanya berkali-kali lipat, insyaallah Rahmi mau berbagi sedikit tentang ilmu yang didapat semenjak mengkaji Islam di salah satu harokah 😀 Semoga tulisan ini bisa menambah ilmu keislaman kita, dan bisa memotivasi teman-teman semuanya. Insyaallah dalam 30 hari kedepan Rahmi share ilmu yang telah didapat (mudah-mudahan sanggup :’)). Dengan senang hati kalau ada teman-teman yang baca dan menyebarkan tulisannya. Satu lagi, jangan bosan dan baper ya..hehe. Sebab, Rahmi alhamdulillah menuliskan kisah ini dengan suasana hati gembira menyambut Ramadhan. ^^

Sahabat..mungkin ada diantara kita yang baru mendengar istilah ihsanul amal. Istilah ini sendiri merupakan bahasa Arab yang artinya amalan yang baik. Seperti apakah amalan yang baik itu? Mari kita coba bahas.

Amal tanpa niat yang benar dan cara yang benar akan sia-sia. Perkara ini menjadi sangat penting lantaran amal yang tidak didahului dengan niat yang ikhlas karena Allah tidak akan diterima. Juga, amal yang tidak dilakukan sesuai tuntunan syari’at, semuanya tidak akan berarti di sisi Allah.

Niat karena Allah, berarti ikhlas, memurnikan niat dari kemungkinan mengharapkan wajah selain Allah. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa jadi berupa pujian manusia, eksistensi diri, mengharapkan materi, dan sebagainya. Ini berbahaya sebab jika tujuan awal melakukan perbuatan adalah karena selain Allah, berarti kita jatuh dalam perbuatan kesyirikan, menyekutukan Allah. Padahal Allah benci dipersekutukan dengan sesuatu apapun.

Perkara niat ini bukanlah perkara remeh-temeh. Betapa banyak perbuatan besar yang menjadi kecil karena niat, dan betapa banyak perbuatan kecil yang menjadi besar lantaran niat. Bahkan, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa nanti akan ada syuhada, penghafal Alquran, dan orang-orang ynang suka berinfak dilemparkan ke dalam neraka karena kesalahan niat. Syuhada yang berperang karena ingin disebut pemberani, penghafal Alquran yang ingin disebut sebagai qari’, dan orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ingin disebut dermawan. Maka semuanya diperintahkan Allah agar dilemparkan ke neraka. Na’udzubillah.

Bahkan, sekaliber ulama sekalipun sangat hati-hati dengan niat. Untuk menjaga niatnya, mereka sebisa mungkin berupaya menyembunyikan kebaikan-kebaikannya lantaran takut kalau-kalau ada orang lain yang memujinya. Dalam buku yang berjudul Al-Akhfiya, banyak kisah-kisah tentang para ulama yang berusaha menyembunyikan amalanya agar tidak terjebak dalam perkara riya’.

Namun, bukan berarti berdosa jika kita menampakkan amalan-amalan kita. Apalagi, amalan itu kemudian bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Pahalanya bisa berkali-kali lipat. Juga, orang yang terbiasa melakukan keta’atan kepada Allah semisal shalat dhuha atau berinfak, jika mereka meninggalkan kebiasaan ini lantaran manusia, maka itulah yang disebut dengan riya’. Jadi, riya’ itu adalah ketika kita melakukan sesuatu karena manusia, dan meninggalkan sesuatu karena manusia. Orang yang selamat adalah orang yang terbebas dari keduanya.

Bahkan, pernah dikisahkan salah satu sahabat (penulis lupa namanya) yang terjun ke medan perang. Sahabat itu hampir-hampir membunuh musuh Allah jikalah orang itu tidak meludahinya. Sahabat itu akhirnya urung membunuh orang tersebut dan menyarungkan kembali pedangnya lantaran khawatir kalau-kalau dia membunuh musuh Allah karena dorongan amarah.

Dalam Alquran surat Al-Mulk ayat 2 dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menguji mereka, manakah yang terbaik amalnya, ahsanu ‘amala. Terbaik amalnya bukan soal kuantitas, melainkan soal kualitas. Seberapa benar niat dan seberapa sesuai amalan yang dilakukan dengan tuntunan syari’at. Keduanya berjalan beriringan, tidak bisa dipisah-pisah.

Demikian juga soal tatacara beramal, harus sesuai dengan syari’at yaitu apa-apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sebab, apa-apa ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah maka itu tertolak. Tidak boleh bagi kita mengkreasikan ibadah shalat yang dalam pelaksanaannya memakai bahasa Arab menjadi bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya. Itu semua jelas bid’ah yang dilarang (untuk bid’ah, insyaallah nanti ada penjelasannya lagi). Atau, membayar zakat fithrah dilebih-lebihkan lantaran kita memiliki kelebihan harta.

Perkara niat inilah yang membedakan amalan orang muslim dengan orang kafir. Orang-orang kafir tidak mengimani Allah dan kenabian Muhammad SAW. Oleh karena itu secara otomatis amalan mereka di dunia sia-sia belaka, meskipun mereka menginfakkan harta sepenuh bumi. Bukankah Abu Thalib yang dikenal sebagai pembela Nabi harus berada di neraka dan menerima siksaan paling ringan lantaran enggan mengucapkan kalimat tauhid.

Betapa sering kita kurang memperhatikan masalah ini. Contoh sederhana, kita berbuat baik kepada orang lain lantaran orang itu telah berjasa dalam hidup kita, bukan dalam rangka keta’atan kepada Allah. Kita ingin mendapatkan nilai yang baik, tetapi dengan cara yang bathil semacam mencontek. Kita ingin mendapat jodoh yang shalih shalihah tetapi kita menempuhnya dengan cara pacaran. Kita ingin beroleh rezeki yang halal namun kita meraihnya dengan jalan menanggalkan kerudung dan jilbab. Kita ingin anak-anak yang berbakti namun menyediakannya tontonan sinetron.

Akhir kata, semoga tulisan singkat ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua, terkhusus untuk yang membuat postingan ini. Semoga tulisan ini menyadarkan kita kembali dan memotivasi diri kita untuk berbuat ahsanu ‘amala. Jangan lupa doakan penulis ya..semoga tetap istiqamah dalam keimanan dan Islam hingga akhir hayat. Karena, manusia itu lebih butuh didoakan daripada dipuji.

Wallahu waliyut taufiq was sadad

#NgajiIslamKaaffah

#NgajidiHTI
#Darimulutkemulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s