Posted in Motivasi

Tulis dan Baca

Oleh: Salim A. Fillah

Saat aku lelah menulis dan membaca,
Di atas buku-buku kuletakkan kepala,
Dan saat pipiku menyentuh sampulnya,
Hatiku tersengat, Kewajibanku masih berjebah,
Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?
(Imam An Nawawi)

Membaca adalah cara untuk membunuh rasa kagum pada diri sendiri. Sebab setiap kali bertambahnya ilmu membuat kita tertipu, mari bergegas menemui kefasihan Imam Asy Syafi’i, atau menghitung ketebalan Tarikh dan Tafsirnya Ath Thabary, atau menunduk di hadapan 40 lembar seharinya Ibnul Jauzy, atau mengurutkan bidang karyanya Imam As Suyuthi.

Sedangkan menulis adalah cara untuk mencintai dan berlomba dalam kebajikan dengan para mulia itu, hingga kelak semoga kita terkejut ketika Allah menyerahkan catatan ‘amal. “Ya Rabbi, mengapa pahalanya sebanyak ini, sementara ‘amalku sungguh sedikit sekali?”

“Iya wahai penulis. Kau ini memang banyak dosa dan sedikit ‘amalnya. Tapi pahala di catatan ‘amalmu ini berasal dari mereka yang telah membaca bukumu, lalu terilhami untuk berkebajikan. Maka pahala ‘amal-‘amal mereka dicurahkan pula kepadamu, tiada henti dan tanpa mengurangi ganjaran mereka sedikitpun.”

Ada sebuah kisah jenaka yang akan selalu menjadi renungan tak henti-henti bagi penulis yang tak boleh pupus belajar seperti kami. Adalah Al Imam Shafiyuddin Muhammad ibn ‘Abdurrahim Al Hindiy, seorang faqih madzhab Syafi’i di jazirah anak benua, sering mendapat cibiran orang bersebab tulisan tangannya yang jelek.

“Isinya masyaallah, tapi tulisannya inna lillah. Ilmunya anugerah, tapi khath-nya musibah”, demikian kira-kira dikatakan orang jika membaca bukunya. Ya, pada masa itu, dalam pencetakan buku, pelatnya masih tetap harus dijiplak dari tulisan asli penyusunnya.

“Suatu hari aku pergi ke toko buku, lalu aku mendapatkan sebuah buku yang tulisannya sangat jelek. Aku sangat yakin bahwa tulisan di buku itu jauh lebih jelek dari tulisanku”, demikian beliau berkisah. “Lalu aku membelinya dengan harga mahal, untuk membantah perkataan orang bahwa tulisanku adalah tulisan yang paling jelek. Tanpa menyeksamai isinya terlebih dahulu, akupun membawanya pulang ke rumah.”

“Sesampai di rumah akupun membacanya”, pungkas beliau. “Ternyata buku itu adalah tulisanku yang dulu.”

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s