DI PERSIMPANGAN JALAN (3)

Sore itu langit menampakkan warna pias kemerahan. Para bocah masih asyik berlarian sambil menikmati permainan “mancik-mancik23.” Tak ketinggalan para ibu-ibu berkumpul di tepi jalan sambil bergosip ria. Di tengah suasana sore itu, tiba-tiba datanglah beberapa orang berlarian sambil berteriak tak karuan, “galodo24..galodo.. Aia sungai naiak!” Semua orang sontak panik dan berlarian ke rumah masing-masing. Suasana mendadak mencekam. Ada yang bergegas menenteng tas berisikan ijazah dan beberapa lembar pakaian, ada yang buru-buru menyelamatkan barang berharga, ada juga yang tanpa pikir panjang menyalakan mesin mobil lalu menyelamatkan anggota keluarganya tanpa peduli dengan warga yang lain. Mereka bergerombol menuju bukit.

Dari dalam rumah, Hilya memejamkan matanya sejenak. Ia teringat Fajar, adiknya yang tertidur lelap di ruang tengah. Tanpa pikir panjang, ia segera merangkulnya dan memberikannya pada ayah. Segera saja ayah menghidupkan mesin motor sambil berupaya mendudukkan Fajar di jok depan. Ia berpesan pada ibu agar tak lupa menyiapkan mantel dan beberapa lembar baju karena kemungkinan mereka akan menginap di rumah kerabat yang letaknya tak jauh dari desa yang diterjang galodo.

Fajar masih dengan kondisi separuh sadar merasa keheranan. Matanya yang bulat dan berkilauan mengerjap-ngerjap berusaha mengusir kantuk. Ia berusaha mengamati sekitar. Dilihatnya kerumunan orang lalu-lalang membawa tas, koper, dan tentengan yang bejibun. Sepertinya ia sedang mencoba mengira-ngira peristiwa yang tengah terjadi, tetapi insting balitanya belum sanggup mengindra hal itu. Ibu mencoba bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Fajar yang biasanya protes, menuruti keinginan sang ibu.

Dalam sekejap mereka berempat sudah tiba di bukit dekat perkebunan penduduk. Perasaan mereka campur aduk. Listrik yang mati ditambah hujan lebat semakin menambah horor suasana. Belum lagi tiap jamnya berdatangan kabar warga yang meninggal akibat dipatok ular dan kalajengking yang terbawa bersama bersama longsoran lumpur air, atau wafat karena serangan jantung.

Dari dekat, Hilya bisa merasakan kepanikan warga yang berkumpul menjadi satu. Ada rasa pilu sekaligus harap-harap cemas. Ya, malam ini mereka menunggu uluran tangan dari pemerintah setempat agar turun ke lapangan dan segera menyingkirkan bebatuan, batang pohon, dan benda-benda lainnya yang hanyut bersama gelombang air bah. Sebab, jika tak bagitu, warga tidak akan bisa keluar dari desa karena akses utama terhalang banjir dan genangan lumpur. Jika dipaksakan menempuh perjalanan dengan motor, bisa-bisa mesinnya mati di tengah jalan, ditambah lagi resiko digigit ular dan binatang berbisa lainnya.

“Bu..” kata Hilya setelah turun dari motor. “Mungkin iko adzab dari Allah.. Dek di nagari wak lah banyak nan bamaksiat di muko umum.”

“Hush!” Ibu mengatupkan telunjuk ke bibirnya seraya menggendong Fajar yang menggeliat lemah, enggan turun dari motor.

“Yo bu..patang Jar caliak25 jo uni26, akak-akak jo27 abang-abang di kadai Tuk Naro. Inyo28 ndak malu baduo-duo di jalan. Kecek ni Hilya itu ndak buliah dalam agama Islam.” Komentarnya sembari turun sendiri dari motor.

“Tu bu.. Fajar yang ketek29 se tau. Yo kan Jar?”

“He’eh.” Ujar Fajar sembari berlagak menirukan intonasi serial anak-anak upin ipin.

“Yah..ndak bisakah ayah mangecek elok-elok30 jo Tuk Naro untuak manutuik31 kadainyo. Ayah tau, itu tampek32 prostitusi, tampek urang bazina jo minum-minum!” Hilya kembali mengingatkan ayahnya agar bersedia bicara baik-baik dengan Tuk Naro, pemilik warung remang-remang di dekat jembatan. Hilya tau persis, tiap malam banyak preman kampung yang singgah di warung itu. Belum lagi akhir-akhir ini, ia beberapa kali melihat wanita dan laki-laki keluar dari sana dalam kondisi mengkhawatirkan. Lebih tepatnya, mabuk.

Tapi, ayahnya tetap tak berani bersuara. Apalagi, Tuk Naro merupakan orang terpandang di desanya. Mengkritik Tuk Naro berarti bersiap dengan masalah baru. Itu sedikit banyak yang ditangkap Hilya dari raut wajah ayahnya.

“Yah.. Hilya ndak ingin desa wak ko kanai33 adzab..” pintanya melunak, mengatur intonasi suara agar tak terkesan menggurui di hadapan lelaki yang sangat dihormatinya.

“Plak!” Tanpa sadar satu tamparan mengenai pipi Hilya. Tamparan pertama yang cukup membuatnya tersentak. Belum pernah seumur hidupnya ayah begitu berang hingga berani menampar anak gadis satu-satunya. Ibu berusaha mengatur napas, menahan emosi yang menggelegak. Ditariknya Hilya yang masih berdiri mematung di dekat ayah, menunggu jawaban. Hilya menghindar, mencoba menepis tangan ibu.

“Yah..ndak akan selamat nagari yang didalamnyo marak urang bajudi, zina, jo minum-minuman kareh. Meskipun masih banyak diantara awak ko yang maramikan34 musajik, baribadah. Tapi bilo35 maksiat tu lah marak, tapi ndak ado urang nan melarang, berarti nagari tu sangajo mengundang adzab Allah.”

Ayah menyembunyikan tangannya ke saku-saku mantelnya. Wajahnya makin memerah. Sementara ibu berlalu ke arah kerumunan orang sambil menggendong Fajar dengan menyembunyikan isak tangis.

 “Baapun36, zina jo bisnis tuak tu haram dalam Islam yah..haram!” Hilya tak kuat menyembunyikan kegelisahannya selama ini. Hatinya kalut. Ia membayangkan setelah ini ayah dan ibu akan terlibat pertengkaran besar.

Semenjak mengaji, ia memang sering mengkritisi hal-hal di rumah dan di kampung yang melanggar aturan agama. Hal itu diungkapkannya terang-terangan. Entah itu soal pelarangan tidur sekasur, keharaman naik ojek, atau hal-hal lainnya yang dipandang berlebihan oleh orangtuanya.

“Akibat talampau37 banyak mangaji!” Terbayang di benaknya ekspresi ayah dan ibu tiap kali marah jika Hilya mulai membawa-bawa Islam.

Jgeer! Tiba-tiba dari langit muncul kilatan vertikal yang mengarah ke tanah tepat di tempat ayahnya sedang berdiri memarkirkan motor.

“Ayaaah….!” Hilya berteriak sekuat tenaga. Tubuh nan gagah perkasa itu kini tergeletak tak sadarkan diri.

“Maafkan Hilya, yah..” Ia meratap sambil mencium wajah ayah yang terlihat menghitam. Perlahan mereka dikerumuni warga yang ikut terkejut karena mendengar gelegar petir menyambar sesuatu. Hilya meratap. Suara paraunya perlahan lenyap ditelan guyuran hujan yang makin menderas.

* * *

Nb:

  1. Petak umpet
  2. Aliran/longsor batu bercampur lumpur yang disebabkan aliran air yang tertahan di bukit, gunung, atau hulu sungai sehingga lama-kelamaan membangkitkan kekuatan yang suatu saat bisa meluncur dan menyeret aneka material.
  3. Melihat
  4. Panggilan untuk kakak perempuan di Minang
  5. Dengan
  6. Mereka
  7. Kecil
  8. Baik-baik
  9. Menutup
  10. Tempat
  11. Kena
  12. Meramaikan
  13. Ketika
  14. Bagaimanapun
  15. Terlampau, terlalu
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s