SEBELUM HABIS TERANG..

Di era digital ini, pekembangan teknologi kian cepat. Hal ini pula yang menyebabkan media sosial (medsos) laku di pasaran. Berbagai jenis media sosial seperti facebook, twitter, line, bbm, whatsapp, dan telegram telah mengubah pola komunikasi banyak orang dari yang awalnya mengandalkan layanan SMS (Short Message Service) yang berbayar.

Hadirnya medsos tentu dapat membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah orang-orang akan semakin mudah berkomunikasi dengan hanya mengandalkan paket data yang disediakan layanan operator. Selain itu, karakter yang digunakan tidak terbatas alias no limit. Jika sebelumnya, untuk mengirim pesan ke banyak orang membutuhkan biaya yang besar, sekarang bukan lagi masanya. Cukup dengan menekan layar touchscreen, pesan terkirim dalam waktu singkat dan dapat menjangkau lebih banyak orang.

Dengan kemudahan tersebut, alangkah baiknya jika medsos digunakan sebagai ajang menumbuh-suburkan kebaikan. Selain menambah ilmu, hal tersebut juga menumbuhkan motivasi dan semangat beramal bagi orang lain. Sebab ladang pahala itu tak terbatas. Salah satunya lewat menulis di medsos, atau menyebarkan gambar, tulisan, serta video.

Kita mungkin tak menyadari bahwa ada satu, dua, atau bahkan ribuan orang yang membaca status kebaikan yang kita bagikan. Apalagi, berbagai akun medsos dapat dihubungkan satu sama lain sehingga pesan yang ingin disampaikan tak hanya menyentuh kalangan pengguna medsos tertentu saja. Facebook misalnya, dapat dihubungkan dengan instagram dan twitter. Jika kita ingin menghubungkan lebih banyak akun yang dipunya, dapat menggunakan layanan pro alias berbayar.

Medsos juga dapat digunakan sebagai ajang penyambung silaturrahim dan silah ukhuwah. Kita dapat membuat jaringan teman-teman lama atau perkumpulan organisasi dalam bentuk grup. Dengannya, kita bisa saling bertukar informasi serta memberitahukan agenda-agenda dakwah.

Sebagai sarana dakwah, medsos dapat dimanfaatkan untuk membongkar kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat. Istilahnya, muhasabah li al hukkam (memuhasabahi penguasa). Sebab, semenjak runtuhnya kekhilafahan secara resmi pada 3 Maret 1924, Islam mulai dicampakkan. Kini, kita dijajah demokrasi yang tak menempatkan hukum Allah sebagai hukum tertinggi. Maka layak kiranya jika kita memuhasabahi penguasa agar menempatkan hukum Islam sebagai satu-satunya hukum yang berhak mengatur manusia. Sebab kemunduran demi kemunduran yang dialami umat Islam tersebab karena mereka meninggalkan agamanya.

Tentunya, hal ini lebih efektif dibanding menggunakan media seperti koran, TV, atau radio. Salah satu kasus yang mencuat beberapa bulan terakhir, yaitu kasus penistaan agama oleh Ahok telah membuat ghirah umat Islam bangkit dalam membela agamanya. Mereka bersemangat membagikan konten tentang haramnya pemimpin kafir. Selain itu, berkumpulnya massa pada aksi 212 merupakan contoh nyata pengorganisasian dengan hanya memanfaatkan media sosial. Namun efeknya luar biasa, mampu mengumpulkan lebih dari tujuh juta orang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Lebih dari itu, kita juga bisa membongkar makar penjajah dan memberitahukannya lewat medsos. Kita dapat membongkar konspirasi seperti terorisme ‘abal-abal’ yang direkayasa seperti kasus bom panci. Termasuk terorisme dalam lingkup yang lebih luas, seperti peristiwa pemboman gedung WTC yang dituding dilakukan kelompok Islam garis keras. Padahal, peristiwa-peristiwa semacam itu hanyalah satu dari sekian banyak cara para pembenci Islam untuk menanamkan kebencian umat Islam terhadap agamanya sendiri. Mereka juga hendak membentuk paradigma islamophobia di kalangan luar Islam.

Sebelum habis terang

Lewat penjelasan di atas, ada baiknya jika kini kita memanfaatkan medsos dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkannya untuk dakwah atau tidak sama sekali. Sebab, penulis menyadari bahwa berselancar di medsos ternyata juga membutuhkan ilmu. Ilmu tentang apa saja konten yang boleh ditulis, dibagikan, dibaca dan lainnya. Jika ada satu orang yang tertunjuki pada kebaikan berkat tulisan atau video yang kita bagikan, maka itu lebih baik bagi kita dibandingkan seekor unta merah.

Di lain sisi kecanduan terhadap medsos akan menurunkan semangat membaca buku. Orang-orang akan lebih bersemangat ketika membaca status atau melihat-lihat gambar dan video di instagram. Namun, kita juga tak bisa meninggalkan medsos sepenuhnya dan beralih pada kegiatan membaca buku saja. Sebab, kebanyakan informasi yang beredar tentang dunia kebanyakan beredar di medsos. Revolution is online, mungkin begitulah semboyan yang pas untuk hal ini.

Semua orang berhak memilih meninggalkan medsos sepenuhnya atau menggunakannya dalam beberapa hal, bahkan menjadikannya sebagai fokus utama. Pilihan pertama mungkin saja jatuh di tangan mereka yang ingin konsen menghafal Alquran dan hadist. Sebab memang tak dapat dipungkiri bahwa sedikit banyak medsos menyita perhatian kita. Terlepas dari itu semua, ada baiknya jika kita menimbang-nimbang lagi, mengingat di akhir zaman teknologi akan lenyap dan manusia akan kembali merasakan hidup seperti di zaman purba. Tidak ada listrik, tidak ada peralatan canggih, tidak ada ponsel lengkap dengan aplikasi medsos.

Maka..sebelum habis terang, mari kita manfaatkan medsos dengan sebaik-baiknya. Menggunakan medsos untuk dakwah atau tidak sama sekali. Semangat menumbuh-suburkan kebaikan!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s