GENERASI PELAWAK DAN PENIKMAT LAWAKAN

Sahabat..pernahkah dulu kalian menyaksikan acara Stand Up Comedy di TV? Yakni semacam pertunjukan dimana seseorang berdiri di atas panggung kemudian bercerita apa saja yang kadang dibumbui candaan dan makian sehingga memancing penonton untuk ikut tertawa. Ironisnya, kita juga ikut tertawa meskipun kita tau bahwa apa yang mereka katakan adalah kebohongan.

Sampai-sampai, diadakanlah semacam perlombaan untuk mencari orang-orang dengan bakat melawak terpendam. Bahkan, perlombaan ini hingga menyasar kampus yang notabene berasal dari lingkungan intelektual yang terdidik ilmu pengetahuan.

Namun sayang, pengetahuan kita akan ilmu akhirat kadang tak sebanding dengan pengetahuan tentang akhirat, tentang halal-haram, tentang syari’at, dan sebagainya. Akibatnya, kita dilibas tren kekinian tanpa peduli pandangan Islam dalam menilai hal tersebut.

Banyak dari kita yang dengan sukarela hadir di acara-acara semacam itu. Padahal, tujuannya jelas satu yakni mendapatkan hiburan atau kesenangan semu. Setelah semua berakhir? Lantas kita kembali dihadapkan pada realitas kehidupan yang ketika menghadapinya ternyata tak sebercanda lawakan di atas panggung.

Terkadang, ringan saja kaki jika diarahkan pada tempat-tempat maksiat. Sementara, sulit bagi kita untuk melangkahkan kaki di majelis-majelis ilmu. Jangankan untuk menghadirkan diri, terbersit saja tidak di benak kita untuk meniatkan diri hadir ke sana.

Sahabat..ayo bersama-sama kita saling bangun-membangunkan. Bahwa kita bukanlah generasi pelawak dan penikmat lawakan. Kita ini adalah generasi khoiru ummah yang dijanjikan. Tentunya hal tersebut akan didapat jika kita menyeru orang lain pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Jika kita berusaha mengikuti jalan orang-orang yang mengabdikan dirinya menjadi pelawak, maka apakah bedanya kita dengan mereka? Mereka menyebarkan cerita kebohongan, sementara kita menjadi penikmatnya. Diantara mereka ada yang menista ulama, sementara kita adalah fans nya. Apakah kita mau menjadi pengikut ulama ataukah mengikuti langkah mereka?

Sahabat..kita bukanlah generasi pelawak dan penikmat lawakan. Jikalah Rasulullah SAW melihat kondisi kita hari ini, mungkin beliau adalah orang pertama yang menangisi keadaan kita. Seperti khawatirnya beliau di akhir hidupnya. Beliau tak mengingat sesiapa melainkan umatnya.

Jadi..marilah kita berusaha untuk menjadi sebaik-baik generasi. Walau kadang pada penerapannya belum sampai pada taraf para sahabat dalam mengamalkan Islam, setidaknya kita telah berusaha untuk mengarah ke sana. Bahwasannya kita ini adalah umat yang dicemburui para sahabat Rasulullah. Tersebab kita mengimani risalah yang beliau bawa tanpa kita pernah melihat tindak-tanduk atau menyaksikan tutur kata beliau secara langsung.

Ingatlah bahwa kita adalah generasi pengishlah (pembawa kebaikan), bukan generasi pembawa kehancuran dengan menyebarkan lawakan. Mari kita tolong menolong dalam hal kebaikan dan takwa, bukan dalam hal-hal yang mendatangkan dosa. Semangaat….

#IndonesiaBerhijrah

Advertisements

2 thoughts on “GENERASI PELAWAK DAN PENIKMAT LAWAKAN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s