Posted in Renungan

BEKAL MATI

Bismillah..tulisan ini terinspirasi dari menghadiri salah satu forum ilmu yang pengisinya adalah salah seorang adik junior di kampus. Meski beliau tergolong baru dalam bergabung dengan harokah dakwah yang kini saya jalani, namun ilmu dan pengamalan beliau tentang Islam luar biasa yang membuat saya pribadi harus sering-sering berkaca diri.

Beliau memberikan kami materi tentang sungguh-sungguh dalam menghadapi kematian. Dalam hal apapun, letakkanlah kematian di depan mata sebagai pengingat. Analoginya, jika seorang mahasiswi bersungguh-sungguh serta takut terlambat ketika mengumpulkan tugas yang diberikan dosen, itu karena mahasiswi tersebut yakin bahwa sang dosen akan datang tepat waktu dan akan memeriksakan tugas-tugas mereka. Jika kita percaya pada dosen, mengapa kita tak percaya kepada Allah dalam urusan akhirat? Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk dibawa ke sana. Apakah akhirat yang lebih pasti, ataukah dunia?

Beliau juga mengisahkan tentang tiga penyelam mutiara yang ditugaskan oleh tuannya untuk mencari kerang mutiara yang bagus. Masing-masing penyelam mendapatkan jatah satu tabung oksigen. Penyelam pertama ternyata tidak berhasil membawa mutiara ke hadapan tuannya, sebab ia terlanjur jatuh cinta dengan kehidupan di laut dan lupa akan tugasnya. Demikian juga dengan penyelam kedua. Ia mengumpulkan semua jenis kerang mutiara, hingga waktunya tiba ia kembali ke permukaan dengan kerang mutiara yang tersisa sedikit. Namun, tidak dengan penyelam ketiga. Ia benar-benar fokus mencari kerang mutiara yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan tuannya. Melihat hasil kerja penyelam pertama dan kedua, tuannya tentu marah besar. Namun tidak dengan penyelam ketiga yang berhasil membawa kerang mutiara yang diinginkan tuannya.

Jika diibaratkan, kerang mutiara merupakan tujuan hidup kita di dunia. Sedangkan tabung oksigen adalah jatah umur yang diberikan Allah SWT. Dengan jatah umur sekian tahun, manusia ditugaskan untuk mengabdi menjadi hamba Allah dengan beribadah kepada-Nya. Manusia ditugaskan mengisi umurnya dengan sesuatu yang menjanjikan pahala bagi kehidupan akhiratnya.

Tentang kematian, ia bisa datang kapan saja, tanpa kita menyadarinya. Ia kan menghampiri meskipun kita berlindung di balik benteng yang tinggi lagi kokoh. Belum pernah sejarahnya dalam kehidupan manusia, seseorang yang sanggup menantang malaikat maut dengan menunda kematian. Hal yang wajar, sebab malaikat maut hanya menjalankan titah dari Rabb-Nya.

Dalam menyongsong kematian, banyak hal yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah mendulang pahala investasi yang pahalanya tetap mengalir meskipun pemiliknya telah mati. Caranya dengan sedekah jariyah, mengajari ilmu yang bermanfaat, serta memiliki anak salih yang senantiasa mendoakan orang tuanya.

Sedekah jariyah bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Engkau membeli mukenah baru sekali tiga bulan dan ditaruh di masjid adalah bentuk sedekah jariyah. Engkau membeli sandal dan ditaruh di masjid juga adalah sedekah jariyah. Pahalanya mengalir terus hingga kita mati atau sandalnya kadung rusak atau hilang..hehe

Ilmu yang bermanfaat juga dapat dijadikan salah satu bekal andalan. Terutama bagi pengemban dakwah. Sebab jika kita berdakwah dan orang lain mendapatkan ilmu atau beramal dengan ilmu yang kita sampaikan, maka pahalanya selain untuk orang yang didakwahi (mad’u), juga untuk kita. Tentunya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mad’u. Ilmu yang kita berikan juga hendaknya kita terapkan dalam kehidupan nyata. Sebab, jika tidak, maka termasuklah kita dalam bagian orang-orang yang dibenci Allah dalam QS Ash-Shaf: 2.

Demikian juga dengan anak yang salih. Disini ditekankan bahwa yang dapat mengalirkan pahala adalah anak yang salih, bukan anak yang biasa-biasa saja. Beruntunglah orang tua yang telah sejak dini telah mempersiapkan kehadiran anak salih ini dengan memilih bibit yang layak dijadikan sebagai pasangan hidup.

Maka dari itu, sudahkah kita [saya] bersungguh-sungguh dalam memantaskan diri dalam menjemput kematian. Atau jangan-jangan kita lebih sibuk mempersiapkan diri menanti kedatangan jodoh. Padahal, jika tak ada di dunia, jodoh kita telah dipersiapkan di surga. Itupun jika kita masuk surga, kalau tidak ya ketemunya dengan malaikat penjaga neraka..:’(

Maka, penting bagi kita untuk selalu memperhatikan kondisi diri kita. Sebab, tak ada yang tau seperti apakah akhir hidup kita. Apakah kita tetap dalam keadaan beriman, atau sebaliknya. Sebab, berkaca dari kisah-kisah mereka yang lebih dulu menemui ajal. Apakah akhir hidup kita husnul khatimah? Atau seperti kisah pemuda mujahid serta hafizh Alquran 30 juz yang murtad tersebab luluh akan pesona seorang wanita Nasrani, sehingga akhir hidupnya adalah kehinaan? Kita tak tau pasti.

Semoga, akhir hidup kita adalah husnul khatimah dan kita diberikan kemampuan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari kita mencintai harta, kerabat, dan bahkan diri kita sendiri. Sebab, terkadang kecintaan kita pada semua itu mengalahkan kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya.

Merenung, juga berkaca diri. Sungguh banyak PR kita di dunia, yang bahkan lebih banyak dari jatah umur yang diberikan. PR meningkatkan kualitas diri. PR berdakwah di tengah-tengah umat. PR menjadi sebaik-baik anak, istri, orang tua, juga PR menjadi sebaik-baik hamba. :’)

Semoga catatan sederhana ini bisa menjadi cambuk bagi kita semua, terutama untuk penulis pribadi.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s