DI PERSIMPANGAN JALAN (2)

15 tahun lalu.

Byuuur. Hamid dan beberapa bocah laki-laki menceburkan diri ke sungai dekat mushalla. Mereka bermain perang air setelah lelah mengaji untuk persiapan khatam alquran. Muti dan Arum turut menenteng kapal-kapalan kertas yang dibuatnya ketika Tek(10) Meri sedang lengah mengajar. Keduanya tak ikut mandi, hanya duduk-duduk sambil separuh kaki dibenamkan ke arah sungai. Brum..brumm.. Mereka mencoba menirukan bunyi kapal laut, yang lebih kedengaran seperti suara mobil balap.

Di tengah keasyikan bermain, tiba-tiba sekelebat bayangan datang dari balik semak belukar sambil mengayun-ayunkan sebilah rotan. Hamid memperhatikannya dengan seksama dari kejauhan. Perasaan ngeri mulai menghantui kepalanya. Betapa tidak, bayangan itu ternyata adalah Wak(11) Tinah dengan tongkat saktinya. Disebut sakti karena perih yang ditimbulkan akibat lecutan tongkat rotannya konon bisa bertahan selama seminggu lebih.

“Pulaaang! Lah ampiang(12) maghrib hari! Beko(14) dibaok(15) hantu kalian, rasailah(16)!” Wak Tinah geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang seolah tanpa dosa. Sesaat adzan maghrib pun berkumandang. Wajah-wajah yang tadinya sumringah kemudian berhamburan mengambil baju dan kopiah yang ditaruh di tepian sungai. Mereka ketakutan sambil melarikan diri ke arah mushalla. Tinggallah Fauzi, Hamid, dan beberapa anak lain yang tak sempat melarikan diri karena dicegat Wak Tinah.

“Hee, ampun waak…” Hamid memelas setengah tertawa. “Hamid tadi diajak dek(17) Fauzi, cucu kesayangan awak..”

“Iyo wak..” Bocah-bocah lain serempak menimpali.

“Batua(17) kecek(18) kawan ang(19) tu, zi?” Wak Tinah murka. Ditariknya Fauzi yang berdiri ketakutan di pinggir sungai. Plak. Tiga cambukan mendarat di betisnya. Ia meringis kesakitan. Hamid yang sedari tadi setengah tertawa mendadak berubah pucat pasi. Ia tak menyangka perkataannya tadi ditanggapi serius oleh Wak Tinah. Fauzi tak berkata-kata. Dipandanginya wajah Hamid yang tertunduk lesu. Hamid menyesal. Ia membayangkan Fauzi kali ini memberikan isyarat pilu untuknya, “Terima kasih atas pengkhianatannya, kawan!”

Fauzi dibawa pulang oleh Wak Tinah, neneknya. Di sepanjang jalan, Hamid masih bisa mendengar Wak Tinah meracau tak karuan dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang membuatnya beristighfar dalam hati. Untuk kedua kalinya ia dihinggapi rasa bersalah dan entah untuk kali ke berapa, Hamid merelakan dirinya menjadi sasaran omelan orang tua para bocah. Sebab, disamping ia yang paling tua, ‘tampang’nya yang selalu pasrah bila dimarahi membuat para orang tua percaya-percaya saja jika kami mengaku bahwa dialah yang sering menghasut para bocah agar ikut serta mandi di sungai.

Hamid masih ingat betul, saat ia dan Fauzi sedang memancing di sana. Ia pernah menanyakan Fauzi perihal sungai yang konon selalu meminta korban. Fauzi hanya membalasnya dengan gelak tawa renyah. “Waang tau, itu mitos..” Waang yang jika dibaca huruf a-nya seperti melafalkan kata gampang.

Hamid termenung sambil membayangkan omongan para ibu-ibu di kedai tempo hari. Kabarnya, menjelang ramadhan begini, sungai dekat mushalla selalu meminta korban. Itu sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun. Tahun kemarin, anak desa tetangga hilang setelah mandi “balimau”(20) di sana. Jenazahnya tidak diketemukan sama sekali meskipun warga telah dikerahkan untuk menyisir sepanjang aliran sungai.

Hamid selalu betah berdiskusi lama-lama dengan Fauzi di atap SD. Mereka sanggup bercerita apa saja selama jam istirahat sambil menghibur cacing di perut yang kelaparan. Fauzi lebih tertarik dengan gagasan, ide, dan hal-hal baru dan yang tak sedikitpun terlintas di benak Hamid. Sebaliknya, Hamid lebih banyak bercerita persoalan remeh temeh, terutama soal Seruni, gadis kampung yang telah menawan hatinya.

Setiap pembicaraan mulai mengarah kepada gadis desa itu, Hamid selalu menimpali dengan kalimat sok bijak, “Wa’ang, stek-stek(21) nikah, stek-stek nikah. Kalau mati ang dulu, baa(22)?” Kalau sudah begitu, Hamid hanya bisa mengulum senyum.

* * *

Nb:
10. Tante, panggilan untuk saudara perempuan pihak ibu atau ayah (bako) di Minang
11. Nenek
12. Hampir
13. Nanti
14. Dibawa

15. Baru tahu rasa
16. Oleh
17. Betul
18. Kata
19. Panggilan untuk anak laki-laki (kasar), panggilan akrab bagi teman sebaya
20. Tradisi mandi-mandi (pembersihan diri) sebelum masuk bulan ramadhan di Minang menggunakan jeruk nipis. Biasanya dilakukan di tempat tertentu secara beramai-ramai.
21. Sedikit-sedikit
22. Bagaimana?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s