Posted in Renungan

HIJRAHLAH… FIND THE LIGHT!

Sahabat muslimah..sering kita mendengar kata hijrah. Sebelum mengetahui Islam lebih dalam, kita sering mengidentikkan hijrah baik dengan perpindahan anggota badan, perubahan penampilan, atau peralihan dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang baik.

Menurut Imam Ibnu Qoyyim, hijrah terbagi atas dua macam. Pertama adalah hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Kedua yaitu hijrah anggota badan dari negara kafir menuju negara Islam. Nah..disini akan dibahas sedikit mengenai poin pertama. Namun, dari keduanya, inti hijrah kepada Allah adalah dengan meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang berusaha meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah tentu saja akan diberi pahala yang berlipat ganda sesuai dengan kadar kesulitannya. Sebab bisa jadi sepanjang perjalanannya, ia akan diuji oleh Allah baik dalam kelapangan maupun kesempitan.

Banyak sekali motivasi bagi mereka yang baru memulai hijrah. Ada yang berhijrah karena diajak teman, dorongan orangtua, niatan mencari jodoh, atau karena diri sendiri. Apapun dorongan awalnya yang memaksa kita untuk hijrah, pastikan lagi bahwasannya niatnya lillah. Sebab, seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Seseorang yang behijrah karena teman, bisa jadi di tengah jalan akan mundur tatkala mereka berpisah. Sebab, boleh jadi tak ada yang memotivasi dan senantiasa mengingatkan dalam ketaatan. Bahwa ternyata selama ini hijrahnya hanya didorong oleh perasaan, tanpa diikuti dengan pemikiran, “kenapa saya harus hijrah?”

Seseorang yang berhijrah karena orangtua juga begitu. Bisa saja mereka berbalik arah tatkala orangtua tak lagi membersamainya di dunia. Pun dengan jodoh. Seseorang yang berhijrah karena melihat orang yang dicintainya telah hijrah, bisa jadi akan frustasi ketika orang yang dicintai menikah dengan yang lain. Jangankan untuk bertahan dalam dakwah, membetulkan letak hatinya sendiri kadang tak mampu.

Tentu saja, hijrah di sini tidak dimaksud pergantian kulit (tampilan luar) saja. Bagi muslimah, hendaknya hijrahnya menggunakan kerudung (khimar; QS an Nur: 31) dan jilbab (QS al Ahzab: 59) juga dibarengi dengan hijrahnya seluruh anggota badan dalam ketaatan. Jika tampilan luar sudah berubah, sementara tak ada yang berubah dari perilaku jahiliyah kita, maka kita tetap berdosa karena hanya memperbaiki apa-apa yang nampak dari luar.

Sesuatu yang tak kalah sering kita lakukan adalah, ketika disibukkan mengoleksi kerudung dan jilbab sementara hati kita tak pernah ditata. Padahal, kita tak akan ditanya “berapa total kerudung dan jilbabmu?” melainkan kita akan dihisab soal hati. Apakah selama ini dipakai dalam hal kemaksiatan atau ketaatan. Karena, membersihkan hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh latihan dan kesabaran yang ekstra.

“Bagaimana dengan mereka yang berkerudung dan berjilbab lebar tetapi perilaku dan hatinya berantakan? Bukankah lebih baik jika mereka tak mempermalukan Islam dengan pakaiannya?” Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan retorika, yang barangkali kita sudah tahu jawabannya. Bahwa mereka diberi pahala sebab mengikuti tuntunan syara’ dalam berpakaian, sementara mereka berdosa karena tak menyesuaikan perilaku dan hatinya dengan Islam.

Jadi..bersemangatlah dalam hijrah. Find the light.. Temukan cahaya sejati itu. Biarkan saja nada-nada sumbang menjadi pelecut bagimu untuk lebih baik. Ubahlah resonansi itu agar tak memekakkan telingamu dan memerahkan wajahmu. Biarkanlah mereka yang mengatakan pakaian kita seperti ibu-ibu, anggap saja itu sebagai do’a lalu amini dalam hati. Atau biarkanlah mereka yang hasad tenggelam bersama ke-hasadannya. Barangkali mereka sebenarnya tertarik namun belum memiliki kesempatan yang luas untuk berhijrah seperti kita.

Sebagai penutup, seorang ulama salaf pernah berkata: “Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan janganlah sedih karena sedikitnya pengikutnya. Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah gentar karena banyaknya orang-orang binasa (yang mengikuti mereka).”

Semoga kita semua dimudahkan dalam berhijrah..aamiin. 😀

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad

 

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s