DI PERSIMPANGAN JALAN (1)

A long story by R.Mardhatillah. Sekedar berbagi apa yang singgah di kepala, hasil belajar dari beberapa kelas online di wa. Yang diajarkan cikgu2 apa yang ditulis apa…hehe Semoga cerita ini sempat menemui akhir..:D Penulis yang baru belajar menulis. Semoga jadi penulis ideologis…aamiin.

“Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan pasti dimintai pertanggungjawaban. Di persimpangan, setiap insan diperkenankan untuk memilih.”

Hilya menyeka pipinya yang basah. Bukan, bukan semata karena gerimis yang menyapa kampungnya sejak subuh. Lebih dari itu, ada rasa yang tak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Gemuruh di hatinya tak dapat tertahankan lagi. Bulir-bulir bening perlahan menggenangi sudut matanya. Perlahan disekanya air mata itu. Bahagia yang tak terdefinisikan dengan hitung-hitungan rumit matematika.

Dikayuhnya sepeda perlahan ke arah perbukitan belakang rumah dengan latar sawah berjenjang-jenjang itu. Ada selaksa haru bercampur takjub. Sesekali ia mengeluarkan ponsel pintarnya untuk memotret pemandangan pagi di Nagari Aia Tabik itu. Sesekali kawanan burung pipit berarak singgah ke arah sawah sambil memunguti gabah hasil panen petani tempo hari. Harmonisasi warna hijau persawahan semakin membuatnya menginsyafi lukisan Sang Maha Karya. Ia menengadah sambil membiarkan wajahnya basah diterpa gerimis.

“Oii Hilya..ka pai(1) kama(2)  hari hujan ko(3)? Rancak(4)  bana(5)  baju mah..” Sapa Mak Iroh mengagetkan.

“Hehe indak ado do mak. Hilya sadang taragak(6)  olahraga.” Hilya membalas dengan senyuman. “Nggg iko indak baju namonyo do mak, tapi jilbab.” Tambahnya. Hilya agak kesal karena jilbab yang biasa dipakainya disebut baju oleh Mak Iroh. Ia berniat menjelaskan tetapi sepertinya Mak Iroh buru-buru. Lagipula, nanti malam ia punya waktu sehabis maghrib pulang dari masjid ke rumah bersama Mak Iroh. Ia bertekad akan menjelaskan kepada Mak Iroh perihal hijrahnya dan pakaian yang dikenakannya kini. Dibanding empat tahun lalu, kini ia lebih menutup aurat dengan mengenakan kerudung dan jilbab lebar.

“Amak ka pai ka ladang. Ka ikuik(7) Hilya?” Mak Iroh menawarkannya untuk ikut ke ladang miliknya. Hilya menolak tawaran Mak Iroh dengan halus. Mak Iroh berpamitan lalu pergi. Hilya diam-diam memperhatikannya dari belakang. Mak Iroh, meski usianya sudah masuk tiga perempat abad, tapi masih kuat bolak-balik ke ladang yang letaknya sekitar 5 km dari jalan ke area perbukitan. Berbekal tentengan tas rotan lusuh serta ladiang(8), Mak Iroh selalu bersemangat berjalan kaki menyusuri arena perbukitan setiap pagi untuk memanen hasil ladang miliknya. Ada ubi, jagung, kacang, hingga sayur mayur. Tak ketinggalan tanaman kopi serta cengkeh.

Ya, mak Iroh dan kebanyakan warga desa di sini mengandalkan hidup dari bertani dan berladang. Sebagian lagi beternak ayam potong dan itik. Boleh dibilang jarang warga yang bekerja sebagai pegawai negri. Itupun mereka yang berasal dari keluarga yang mampu, yang konon memiliki orang yang dituakan bergelar Datuk(9). Kebanyakan warga di sini tak sanggup untuk membiayai anak mereka sekolah hingga perguruan tinggi. Apalagi, sejak harga BBM dan kebutuhan pokok melambung tinggi. Kehidupan mereka jadi serba tak menentu dan awut-awutan.

Tapi, untung saja tak ada ibu-ibu yang sampai merebus batu sebagai pelipur lara bagi anak-anaknya yang kelaparan seperti yang pernah terjadi di zaman Umar bin Khatthab. Jika sungguh pun terjadi, maka itu adalah aib. Terutama bagi orang Minang yang memegang petuah “raso jo pareso”.

Dari kejauhan, Mak Iroh tampak berbalik. Hilya heran. “Jan lupo cari jodoh lay, nak.” Mak Iroh terkekeh sambil melanjutkan perjalanannya. Hilya termangu di tengah jalan. Kali ini Mak Iroh benar-benar membuat batinnya terasa sesak. Asmanya kambuh.

* * *

nb:

  1. Pergi
  2. Ke mana
  3. Ini
  4. Bagus, indah
  5. Sekali, banget
  6. Ingin, rindu
  7. Ikut
  8. Golok
  9. Gelar bagi laki-laki yang dituakan di Minang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s