Posted in Uncategorized

Salah Arah Pendidikan Tinggi Era Kapitalis

Dunia pendidikan kita kembali dikejutkan dengan kasus kematian 3 orang mahasiswa UII. Kasus kematian mereka diduga karena adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh panitia. Hal ini dibenarkan oleh Rektor UII, Harsoyo. Ketiga korban adalah Syaits Asyam, Ilham Nurpadmy Listia Adi, dan Muhammad Fadhli yang masing-masing berasal dari jurusan Teknik Industri, Hukum, dan Teknik Elektro. Sebelumnya, ketiga korban mengikuti pelatihan The Great Camping Mapala UII di Hutan Gunung Lawu. Hal tersebut diketahui dari hasil investigasi internal yang dilakukan oleh pihak rektorat.

Komentar:

Menurut Afriantoni dkk. dalam bukunya “Isu-isu kritis dalam pendidikan tinggi, sebuah tinjauan aktual terhadap praktik pendidikan tinggi di Indonesia” menggambarkan bahwa perguruan tinggi adalah institusi yang membidangi kelahiran sumber daya intelektual yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perguruan tinggi membangun keteladanan, kemauan, kreativitas dalam proses pembelajaran, mengembangkan budaya baca, tulis, dan hitung, memberdayakan semua komponen masyarakat, meningkatkan peran serta masyarakat dan menciptakan pelayanan masyarakat yang prima, ditandai pelayanan yang cepat, tepat, akurat, diperbaiki terus-menerus, tidak diskriminatif, berkelanjutan, dan terjangkau.

Sayangnya di era kapitalis ini, pendidikan tinggi yang diharapkan dapat berkontribusi meningkatkan kualitas sumber daya manusia malah sarat akan masalah. Pembinaan mahasiswa baru yang harusnya dapat dijadikan sebagai sarana mengenalkan lingkungan kampus dan mencapai berbagai nilai yang diharapkan diatas, disalahgunakan sebagai ajang menyuburkan senioritas yang jauh panggang dari api jika tujuan semulanya adalah memberdayakan. Selain itu, tak sedikit yang memanfaatkan momentum pembinaan mahasiswa baru sebagai ajang “balas dendam”. Berbagai hujatan verbal hingga berujung kekerasan fisik menjadi momok tersendiri bagi calon mahasiswa yang akan memasuki lingkungan kampus.

Hal ini agaknya lumrah di kalangan mahasiswa baru. Hanya saja dibandingkan beberapa tahun yang lampau, intensitasnya mulai berkurang. Berbagai dalih digunakan untuk membenarkan tindakan “bullying” dan kekerasan fisik tersebut, mulai dari dalih “pembiasaan” hingga pengajaran etika. Padahal tindakan tersebut bukannya membangun, malah menghancurkan mental intelektualitas.

Kesalahan kurikulum

Sebenarnya, persoalan adanya kekerasan fisik di tingkatan pendidikan tinggi bukan hanya salah individu atau segelintir orang. Melainkan, persoalan ini berlarut-larut sebagai dampak sistemik kesalahan sistem yang diikuti dengan kesalahan kurikulum. Perguruan Tinggi yang semestinya mencetak sumber daya manusia yang memiliki keteladanan, kemauan, dan kreativitas berujung hingga memakan korban. Sebab, kurikulum yang telah dirancang lemah dari pembangunan kepribadian, orientasi kerja bukan ilmu, serta sarat akan komersialisasi.

Metode pengajaran yang sekedar transfer ilmu tak menjadikan mahasiswa memiliki kepribadian yang khas. Pendidikan yang ada berorientasi pada hasil bukan proses. Sehingga dalam perjalanannya, banyak diantara lulusan perguruan tinggi yang menyambung hidup dari hasil mencontek. Meskipun sepele, hal itu akan merembet menjadi kebiasaan, tingkah laku, hingga menjadi budaya. Sehingga, kebanyakan dari mereka tak layak dijadikan sebagai contoh bagi generasi sesudahnya.

Para lulusan pendidikan tinggi diarahkan agar bermental pekerja bukan pemimpin. Mereka dibebani dengan berbagai tugas yang menyita banyak waktu. Sehingga, banyak diantara mereka yang menghabiskan waktunya untuk belajar dan berorganisasi dan melupakan menuntut ilmu agama sebagai kompas penuntun arah kehidupannya.

Arahan pendidikan tinggi: makin liberal

Selain itu, pendidikan tinggi saat ini hendak dijadikan komoditi. Hal ini ditandai dengan masuknya pendidikan dalam komoditi yang berada dalam naungan General Agreement on Trade in Services (GATS) yakni perjanjian bersama mengenai perdagangan pelayanan. Artinya pelayanan pendidikan yang disesuikan dengan kebijakan WTO diatas menjadi lahan basah negara maju dalam mengerogoti negara berkembang dengan iming-iming pendidikan tinggi yang berkualiatas (ekspresnews.com).

Jika hal di atas benar-benar diupayakan oleh pemangku kebijakan di Indonesia, barangkali kurikulum yang ada semakin liberal karena berpedoman pada asing. Hal itu dapat berakibat pada tergerusnya nilai-nilai keislaman. Sebagaimana yang terjadi di negeri kaum Muslimin sebelum hancurnya Daulah.

Saatnya beralih ke Islam

Islam menjadikan aqidah Islam sebagai dasar kurikulum pendidikan. Dengan keyakinan penuh bahwa untuk mewujudkan generasi berjiwa pemimpin memerlukan kurikulum berkualitas yang disusun berdasarkan dan berorientasikan ideologi Islam bukan pasar. Materi dan metode pendidikan didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik memahami dan meyakini bahwa eksistensi Allah swt dengan segala sifat-sifat uluhiyahnya adalah realitas, kesadaran ini dimanivestasikan dengan memandang keridhoan Allah swt sebagai kebahagiaan tertinggi, dan keterikatan kepada syariat Allah swt adalah hal yang mutlak.  Disamping itu peserta didik memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang layak bagi manusia (hizbut-tahrir.or.id).

Berkaca kepada realitas penerapan pendidikan Islam, kita menyaksikan sosok-sosok berjiwa pemimpin. Mereka tak hanya menguasai ilmu agama, namun juga sains, teknologi, militer, hingga ekonomi. Sebut saja Muhammad Al-Fatih, di usianya yang masih muda, ia bersama pasukannya dapat menaklukkan Konstantinopel. Lain lagi dengan Shalahudin Al-Ayyubi yang dapat menguasai Al-Quds. Ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Abbas bin Firnas juga merupakan contoh produk pendidikan Islam. Juga, para Khulafaur Rasyidin dan para Imam Mazhab yang bahkan tak hanya mengetahui satu cabang ilmu.

Dengan pemaparan di atas, maka sudah saatnya bagi kita untuk kembali menerapkan sistem pendidikan Islam. Untuk merealisasikannya, maka dibutuhkan institusi negara yang akan menjamin pelaksanaanya yaitu institusi Khilafah ‘ala minhaj an nubuwwah.

Wallahu a’lam

Sumber:

Afriantoni, Karno, E.,dan  Suaidi, E.H. 2016. Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Tinggi: Sebuah Tinjauan Aktual terhadap Praktik Pendidikan Tinggi di Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.

http://ekspresnews.com/article/fokus/42-dimensi-dibalik-liberalisasi-pendidikan-2

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s