SIMBIOSIS DAN IDEOLOGI

Sahabat..pernah dengar istilah simbiosis? Semasa duduk di bangku SD barangkali kita pernah diberikan materi mengenai simbiosis yang termasuk dalam materi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Simbiosis adalah hubungan antara organisme dengan organisme lain. Ada beberapa jenis simbiosis yaitu simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme.

Simbiosis mutualisme yaitu hubungan antara organisme yang saling menguntungkan. Simbiosis parasitisme yaitu hubungan antara organisme yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Simbiosis komensalisme yaitu hubungan antara organisme dimana satu pihak merasa diuntungkan dan pihak lain merasa tidak dirugikan, alias “terserah, bukan urusan saya..” hehe

Simbiosis komensalisme barangkali contoh sederhana yang sering kita bahas adalah hubungan antara kerbau dan burung jalak. Si kerbau merasa untung karena jalak memakan kutu-kutu di tubuhnya dan jalak diuntungkan tersebab ia memakan kutu kerbau. Nah, simbiosis parasitisme misalnya hubungan antara manusia dengan kutu di kepala. Manusia dirugikan karena menderita gatal-gatal sedangkan kutu diuntungkan akibat menghisap darah manusia. Terakhir, simbiosis mutualisme contohnya yaitu hubungan antara ikan hiu dan ikan remora. Ikan remora diuntungkan karena mendapat perlindungan dari si hiu, sementara si hiu kalau bisa ngomong mungkin bakalan bilang “terseraaah..” hehe

Kira-kira kalau pelajaran biologi dihubungkan dengan islam, nyambung gak ya? Hehe insyaallah nyambung kok. Mari kita bahas sama-sama. Manusia pasti berinteraksi dengan manusia lainnya. Ketika interaksi sering dilakukan otomatis timbullah ikatan. Nah..dalam islam, ikatan yang benar (shohih) adalah ikatan aqidah islam. Tidak ada istilahnya dalam islam ikatan kepentingan, ikatan kekeluargaan, kesukuan, kenegaraan, dan sebagainya. Dalam islam, selagi seseorang muslim maka dia layak diperlakukan seperti saudara. Sebab umat islam ibarat satu tubuh.

Nah..ikatan yang diciptakan seorang muslim tentu tak lepas dari pemahamannya. Pemahaman datangnya dari proses berpikir. Orang yang berpikirnya melulu soal uang atau bagaimana mengenyangkan syahwat perut dan sedikit di bawah perut, pasti pemahamannya dalam berinteraksi dengan orang lain tak jauh-jauh dengan hal di atas. Misalnya seseorang yang profesinya sehari-hari sebagai bintang film atau sinetron yang tidak mendidik, maka selagi dia dibayar atas pekerjaannya, selama itu pula ia akan mengabdi pada tuannya. Termasuk jika ia disuruh untuk membuka aurat dan melakukan adegan yang melanggar syariat Islam, maka ia tak akan ragu melakukannya. Tuntutan perut.

Ibaratnya, antara orang tersebut dengan sang tuan terjadi hubungan simbiosis mutualisme. ABS, Asal Bapak Senang, apapun akan saya lakukan. Tapi, tidak bagi seorang muslim yang beraqidah islam, maka dia akan menolak hal tersebut. Sebab, dia tahu dalam Islam perbuatan membuka aurat itu dilarang dan rezeki adalah pemberian Allah SWT. Ibaratnya, simbiosis mutualisme di sini terjadi karena hubungan yang terbentuk karena saling menguntungkan, tapi itu dari pandangan si manusia. Padahal, sebenarnya hal itu dilarang di sisi Allah SWT.

Selain itu, jika menengok ke pemerintahan saat ini, terjadi simbiosis parasitisme. Sistem pemerintahan kita yang menganut kapitalisme telah menyengsarakan rakyat. Ibaratnya, pemerintah menindas rakyat untuk keuntungan sebagian pihak. Lihat saja penggusuran rakyat miskin di mana-mana, reklamasi, hukum yang hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, menandakan bahwa aqidah kapitalis masih melekat di benak para penguasa. Rakyat tertindas, pemerintah leluasa menghisap darah mereka tanpa rasa kasihan. Simbiosis parasitisme.

Hubungan simbiosis komensalisme lebih unik lagi. Ternyata umat Islam secara tak sadar ada yang menganut paham ini. Ketika terjadi penistaan agama Islam, ada yang bilang “terseraah..” Ketika terjadi kriminalisasi ulama, “terseraah..” Mungkin kita pernah menjadi bagian dari mereka ini. Ketika situasi perpolitikan Indonesia hancur, kita santai saja karena menganggap bahwa keluarga kita masih bisa makan, sekolah, kerja, dan lain sebagainya. Padahal, mereka diuntungkan tersebab perjuangan para pahlawan dan ulama dalam memerdekakan Indonesia. Di lain sisi, kenapa penjajahan ada di negeri kaum muslimin adalah karena runtuhnya khilafah pada 1924.

Ketiadaan khilafah karena banyak suara-suara sumir pada saat masa-masa kritis Daulah yang mengadu domba menyerukan pan Arabisme, pan Islamisme, dan sebagainya. Padahal, seperti yang dijelaskan sebelumnya, umat Islam itu satu..ikatan mereka aqidah Islam, dan dalam hubungannya selalu bersifat mutualisme, tak pernah komensalisme atau parasitisme. Sebab ketika seorang muslim dimasukkan kegembiraan ke hatinya oleh saudaranya, ia akan bersyukur. Jika ia disakiti oleh saudaranya, ia akan bersabar. Yang memasukkan kegembiraan mendapatkan pahala, sedangkan yang memasukkan kesakitan barangkali karena belum mengindra fakta atau dia melihat kemaksiatan pada saudaranya.

Tapi..jangan juga simbiosis mutualisme yang dijalankan ala-ala kapitalis.. Bersimbiosislah dengan orang lain atas dasar aqidah yang shahih, Islam. Sebab hanya aqidah Islam yang menyatukan di dunia hingga akhirat.

Tuh kan..ada hubungannya? Hehe afwan ya jika agak nggak nyambung..

Semoga bermanfaat.. Ditunggu kritik tulisannya..hehe

#YukBerhijrah
#YukTobat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s