MAKANAN HALAL DAN POLITIK HARAM

Muslim memimpin dunia selama lebih dari seribu tahun ketika Islam diterapkan sebagai ideologi mereka, sebagai pandangan hidup, bukan hanya untuk individu tapi juga sebagai sistem bagi masyarakat. Namun keadaanya berubah saat mereka berupaya mencontoh Barat sekuler dan perlahan mengerucutkan Islam hingga sebatas persoalan spiritual, moral, dan permasalahan yang berhubungan dengan individu lainnya.

Hari ini sekulerisme telah melingkupi benak kaum muslim dan membuat mereka melupakan prioritasnya. Persoalan yang remeh-temeh dibuat rumit sementara persoalan vital dilupakan dan tergantikan dengan ide-ide batil dan korup.

Sejauh mana sesuatu berubah menjadi buruk?

Salah satu paradigma yang terlihat dapat menjadi pembanding mengenai bagaimana cerdasnya kita saat memilih makanan. Kita membaca tulisan yang tertera pada kemasan produk dan meneliti komposisinya sebelum memutuskan untuk memakannya. Disisi lain, sangat memalukan bahwasannya kita bereaksi dangkal berkaitan dengan pandangan dan aktivitas politik.

Pernahkah kita berhenti sejenak dan menoleh, komposisi apakah yang terdapat pada pilihan politik yang ditawarkan? Apakah ia terbuat dari bahan yang benar seperti al ahkam-syar’i atau berakar pada keharaman? Apakah kita pernah keluar untuk mencari pilihan halal alternatif jika menemukan  sesuatu yang kotor, atau apakah kita menyerah pada pilihan kotor apapun yang tersedia dihadapan? Itulah kesan yang akan ditemukan saat memilih salah satu dari dua sistem politik yang jahat.

Kita akan bergidik ngeri manakala memutuskan untuk memilih diantara babi dan bangkai. Tak pernahkah kita berusaha pergi jauh untuk mencari restoran halal atau makanan kemasan lainnya? Kita bahkan menyiapkan upaya ekstra agar makanan yang kita makan benar-benar terisolasi dari bahan-bahan yang haram, seperti menginginkan pizza tanpa cemaran daging babi, atau meminta agar pembuat sandwich memakai sarung tangan saat membuat sandwich.

Jadi, mengapa kita mau saja mengkonsumsi apa saja yang disediakan dalam piring politik? Apakah kita pernah mengkonfirmasi komposisi ideologi pada list bahan telah bersertifikat halal? Apakah kita pernah peduli jika bahan yang ada berasal dari sumber terpercaya? Apakah kita pernah menghadiri seminar atau melakukan penelitian untuk mengetahui komponen proses politik yang berada dalam tuntunan islami?

Mari meninjau keuntungan berpartisipasi pada sistem politik kufur, apakah mereka memakan babi untuk kemaslahatan? Apakah kita tidak berusaha menyaring keinginan, keuntungan, dan kesenangan ketika kita memberi pertanyaan mengenai makanan haram untuk sebuah alternatif halal? Bagaimana bisa kita dapat dengan mudah digoyangkan dengan keuntungan dan kesenangan semu ketika pilihan itu datang pada pilihan politik?

Lainnya mengambil kemiripan yang paling sedikit dengan sistem kufur dan memolesnya dengan rasa Islami ketika memutuskan sebuah pilihan. Apakah mereka memakan daging anjing yang disembelih dengan nama Allah SWT? Telah cukup bagi kita jika bagian kecil sistem ini bersih dan sehat, tanpa melihat keseluruhannya?

Bahkan jika kita memakan binatang yang halal, maka pastikan ia disembelih dengan nama Allah SWT. Kita menolak binatang yang disembelih dengan nama nenek moyang atau idola yang lain. Alquran telah menerangkan “Kekuasaan hanyalah milik Allah” (QS 12: 40). Ketika kita mengambil bagian dalam sistem politik yang telah menafikkan legislasi Allah SWT dan menempatkan manusia, nenek moyang yang telah mati, dan bahkan idola sebagai legislator.

Persoalan mengonsumsi makanan haram adalah perkara penting, melakukannya adalah dosa; dosanya terbatas pada perbuatan dan bukan pada personal. Adapun berpartisipasi pada politik sekuler kufur adalah tindakan mengabaikan Allah SWT yang termasuk dosa besar, yaitu syirik, sebab manusia ditempatkan sebagai Tuhan, disamping Allah SWT.

Yahudi dan Nasrani telah menjadikan Rabbi-rabbi dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah SWT, dan mengambil Isa AS, anak Maryam sebagai Tuhan mereka.

Ini bukanlah tindakan tunggal individu, namun telah merebak menjadi dosa investasi yang terus berulang ketika para politisi akan diberi mandat kekuasaan. Tak peduli apakah pernikahan sesama jenis, atau melindungi para penghina nabi Muhammad SAW, mereka melakukannya berulang-ulang setiap hari. Bahkan, dosanya akan bertambah seiring pengulangan kesekian kali akibat pelegislasian yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menilai apa yang dibolehkan dan dilarang Allah SWT.

Meskipun kita tinggal di negara mayoritas muslim dimana penguasanya adalah boneka bagi tuan Baratnya, atau kita telah terusir karena penindasan, untuk mencari sebongkah kehidupan di negri lain dimana muslim sebagai minoritas, kita tetap bertahan mencari makanan halal tanpa menghiraukan tanah tempat kita berpijak. Namun kenapa kemudian kita menyerah terlalu cepat dalam mencari kehalalan dan kewajiban dalam berpolitik untuk menjadikan Allah SWT sebagai pengatur atas kehidupan kita?

Sumber: https://hizb-america.org/halal-food-haram-politics/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s