UMAT ISLAM: SATU

Hari-hari ini umat Islam seakan diuji dengan berbagai persoalan. Belum selesai satu persoalan,  muncul lagi persoalan yang lain. Di Indonesia misalnya, belum lagi selesai kasus penistaan agama oleh Ahok, muncul lagi kasus pendanaan pesanten oleh Hary Tanoe, serta kasus bom panci yang sempat dikait-kaitkan dengan terorisme. Saat yang sama, kaum muslimin di berbagai belahan dunia seperti Myanmar, Amerika, Suriah dan negri-negri lainnya menjadi sasaran kekejaman kafir. Seakan tak habis ujian yang ditimpakan kepada umat ini menambah daftar panjang sejarah kelam akibat tak terterapkannya Islam sebagai ideologi.

Di Myanmar, muslim Rohingya yang merupakan minoritas dihabisi oleh kaum Budha ekstrimis. Rumah-rumah mereka dibakar, perempuan-perempuan diperkosa dan dibunuh sedang anak-anak mereka diculik lalu dilemparkan kedalam kobaran api. Petinggi Myanmar, Aung San Suu Kyii yang juga peraih nobel perdamaian dunia tak bergeming. Demi nafsu kekuasaan, mereka menghabisi etnis Rohingya dan mengusir ribuan dari mereka.

Di Amerika, skala kejahatan terhadap warga muslim meningkat. Islamophobia semakin merajalela, apalagi setelah presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump berkuasa. Pernyataannya yang terang-terangan memusuhi Islam disambut gempita oleh pendukungnya. Setelah itu, berbagai kejadian pelecehan dan kekerasan terjadi. Muslimah berkerudung dipaksa menanggalkan hijabnya atau mereka ditodongkan pisau di tengah jalan secara tiba-tiba. Isu islamophobia yang digoreng dengan terorisme seakan membuat lahap siapapun yang memakannya.

Di Suriah, Rusia dan Iran dengan restu Amerika terus-terusan menggempur wilayah sipil yang didalamnya terdiri dari para wanita, anak-anak, dan lansia. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka juga membombardir rumah sakit. Sudah lebih dari 450000 warga Suriah terbunuh, jutaan terluka, dan hampir separo dari populasi sebelum perang tergusur dari rumah-rumah mereka sejak konflik meletus pada 2011. Presiden Suriah, Bashar al-Assad (laknatullah) memerangi rakyatnya yang tidak tunduk dibawah kekuasannya. Berkali-kali pihak rezim mengajak berunding para mujahidin untuk menerima win-win solution atas mereka, namun berkali-kali pula mereka gagal dan frustasi.

Jika kita mencoba berpikir secara mendalam, teliti, dan cemerlang (mustanir), akan kita dapati bahwasannya Islam memang satu-satunya agama yang dijaga oleh Allah SWT. Bayangkan saat umat Islam dihabisi dan berupaya dilenyapkan entitas keislamannya dimuka bumi, tetap saja manusia berbondong-bondong memilih hijrah untuk memeluk Islam setelah menyadari potensi rahmatan lil ‘alamin-nya. Selain itu di Palestina, jika kita menimbang dengan hitung-hitungan akal sehat niscaya akan kita dapati bahwasannya setelah diblokade, pemboikotan, serta pemutusan aliran air selama beberapa tahun, warga Palestina akan segera lenyap dan musnah. Namun Allah SWT menjaga Islam dan para penolongnya. Para wanita Palestina dikenal subur sehingga mampu melahirkan banyak generasi pejuang. Tak ketinggalan tanah dan lautnya yang diberkati sehingga mengeluarkan tanaman dan hasil laut yang besar.

Dunia terutama sebagian masyarakat Islam yang peduli terhadap ujian yang menimpa saudara dan agamanya saat ini sedang menjerit meski suaranya kadang hanya tertahan sampai di tenggorokan akibat apatisnya para penguasa Muslim. Peristiwa 411 dan 212 adalah salah satu refleksi kesabaran umat Islam dalam menyampaikan aspirasinya yang seakan angin lalu untuk kemudian dihalau bersama isu-isu buatan seperti terorisme. Di berbagai negri dilakukan aksi damai untuk memprotes kebijakan pemerintah yang diam mematung menanggapi pembantaian etnis Rohingya, pelecehan masjidil aqsha, bombardir Aleppo, serta berbagai kejadian lainnya. Tangis yang semula sulit untuk dilafalkan seakan membuat kebal dan bebal akibat berita kengerian yang terus-menerus disuguhkan setiap hari.

Jika dahulu satu berita pembunuhan berpotensi menjadi perbincangan hingga berhari-hari karena masih langka, namun sekarang sudah bukan zamannya lagi. Berita kekerasan dan pembunuhan seolah telah menjadi sarapan pagi yang tak terelakkan. Lebih getir lagi, beberapa stasiun TV bayaran bahkan menyampaikan berita yang tak sesuai fakta di lapangan, bahkan melakukan pembohongan publik demi meraih rating dan menyelamatkan kepentingan para pemodal. Mereka tak jera walau dibully dan dimuhasabahi berulang kali oleh kaum muslimin.

Menilik berbagai kejadian di berbagai belahan dunia, kita hanya bisa mengela napas sambil terus berupaya menegakkan kembali Islam dimuka bumi. Sebab, semenjak dikeratnya negri-negri muslim menjadi beberapa bagian, kita seakan dilenakan dengan persoalan di dalam negri tanpa perlu melongok keluar untuk sejenak mengamati kejadian di belahan negri lainnya. Nasionalisme memang membuat buta dan melemahkan kita sebagai umat Islam yang satu tubuh. Ibarat jika salah satu bagian tubuh sedang sakit, kita tak bisa mengobati langsung bagian tubuh tersebut. Seakan antara kepala dan kaki ada pembatas. Padahal, aliran darah di kepala juga mengalir di kaki. Jika kaki sakit maka syaraf penghantar rasa sakit turut mengantarkan sinyal ke otak. Dalam sebuah riwayat hadist juga disebutkan bahwasannya umat Islam ibarat satu tubuh, jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian tubuh yang lainnya juga ikut merasakan sakit. Namun kini, perasaan sakit itu sepertinya terbius oleh euforia sepak bola.

Satu-satunya jalan untuk mengakhiri trauma demi trauma yang dialami kaum musliin adalah dengan menciptakan sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah. Dengan sistem khilafah, negara yang mayoritas muslim dapat dipersatukan dengan satu panji dan satu kepemimpinan yang dipimpin oleh Khalifah. Khalifah akan menjadi perisai (junnah) bagi ummat dimana ummat akan berperang dibelakangnya. Jika rakyat menderita karena masalah pendidikan dan ekonomi, maka Khalifahlah yang bertanggungjawab mengurusi hajat mereka. Jika rakyat merasa terancam dan tertindas, maka Khalifahlah yang akan menurunkan syurthoh-syurthoh dan tentaranya untuk melindungi rakyat. Seperti dikisahkan pada masa Khalifah Mu’tashim ada seorang wanita yang dilecehkan oleh prajurit Romawi, seketika itu pula Khalifah mengirim bala tentaranya dimana kepalanya telah sampai di Amuria sementara ekornya masih di istana.

Seperti itulah gambaran jika yang diterapkan dalam kehidupan adalah sistem Islam. Kita tak akan menyaksikan para penista, pembantai dan pengebom anak-anak kaum muslimin, serta suara kebencian media terhadap Islam. Islam akan menebar rahmat bagi seluruh dunia dengan aturannya yang bersifat syamiilan wa kamiilan. Kerahmatan itu bahkan tak hanya dirasakan oleh manusia tapi juga oleh hewan dan makhluk Allah SWT lainnya. Itu jika di dalam Daulah, sedangkan untuk penerapan Islam keluar wilayah Daulah, dilakukan dengan metode (thariqah) dakwah dan jihad. Tentunya, jihad dengan berperang itu dilakukan secara manusiawi, tidak serampangan dan membabi buta sehingga menghilangkan sifat kerahmatan Islam itu sendiri.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s