SEKEPING MEMOAR: 212 DAN GHIRAH UMAT ISLAM

Melihat berbagai pemberitaan aksi 212 di Monas yang berseliweran di media sosial, rasanya kita tak berhenti dibuat kagum dan meneteskan airmata. Pasalnya, aksi 212 yang diikuti oleh lebih 7 juta umat Islam di Indonesia berjalan dengan tertib dan damai. Jika kita menoleh sejarah di Indonesia, belum pernah ada satu ormas atau pemimpin partai manapun yang  mampu menghimpun jutaan massa untuk menyelenggarakan aksi seperti ini. Bahkan, aksi ini diikuti oleh semua elemen masyarakat, perempuan dan laki-laki, tua-muda, para ulama, pelajar, santri, bahkan mereka yang mengalami keterbatasan fisik pun tak mau ketinggalan. Disana umat Islam mengambil perannya masing-masing. Ada yang membuatkan dan menyumbangkan makanan untuk peserta aksi, ada yang menggratiskan dagangannya, ada yang bertugas mengumpulkan sampah, membuat bendera liwa-rayah, meliput dan mengawasi jalannya aksi agar tak diberitakan miring oleh media, sambil update perkembangannya di dunia maya, dan masih banyak lagi.

Dorongan akidah     

Aksi 212 tentu sangat jauh berbeda dengan aksi-aksi yang pernah terselenggara di Indonesia. Jika sebelumnya aksi dan demo yang dilakukan untuk meminta kenaikan upah buruh, atau protes kenaikan BBM, kali ini tidak. Aksi 212 adalah kelanjutan aksi bela Alquran yang berawal dari pelecehan surat Al-Ma’idah oleh  gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Poernomo alias Ahok di kepulauan seribu. Jika sebelumnya umat tergerak untuk ‘melawan’ sebab tuntutan kebutuhan perut, kali ini umat melawan karena dorongan akidah. Ya, akidah Islam yang mendorong mereka hingga rela mengeluarkan harta, waktu, dan tenaga yang tak sedikit. Tuntutan mereka sama yaitu tangkap dan hukum penista agama.

Tetap jalan meski ditekan

Banyak suka duka yang terjadi menjelang aksi 212, diantaranya intimidasi oleh oknum polisi kepada para sopir bus agar tidak memberangkatkan massa aksi. Massa yang berasal dari Sumatra Barat sempat ditahan di Lampung dengan alasan jembatan rusak sebelum akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Lain lagi ceritanya di kota Padang, meskipun tidak jadi berangkat dengan bus, massa aksi tak kehilangan akal dengan mencarter pesawat Lion Air dan Sriwijaya Air. Di Bogor, 25 armada bus yang direncanakan mengangkut kafilah GNPF-MUI ternyata dibatalkan. Meski diintervensi, semua itu tetap tak menggugurkan tekad mereka untuk tetap berangkat aksi dan menyuarakan satu tuntutan.

Yang mengharukan dari Ciamis dan Bogor

Hal yang tak kalah mengharukan datang dari Ciamis, dimana ribuan massa aksi berjalan kaki menuju lokasi aksi yang jaraknya mencapai 300 kilometer. Kafilah GNPF-MUI Bogor pun tak mau ketinggalan menunjukkan solidaritasnya dengan berjalan kaki sejauh 70 kilometer selama 24 jam. Meskipun lelah namun ghirah dan keimanan mereka tak ikut luntur. Disepanjang perjalanan, umat Islam lainnya berlomba-lomba berburu pahala dengan menyuguhkan makanan, minuman, obat-obatan, handyplast, sendal, sepatu, jas hujan, hingga celana dalam sekali pakai. Sampai-sampai mobil pun tak sanggup menampung semua itu.

Jangan lupakan permasalahan utama

Semua ini memperlihatkan pada kita bahwasannya umat Islam masih memiliki ghirah yang tinggi ketika kitab sucinya menjadi bulan-bulanan. Ini tentu harus diapresiasi. Namun, jangan sampai setelah aksi ini, umat Islam melupakan persatuan yang ditunjukkan saat aksi, dimana  berbagai harokah seperti FPI, HTI, Tarbiyah, Salafi, JT, dan lainnya melebur dalam ikatan ukhuwah. Semua harokah menyatu tanpa ada gontok-gontokan sebagaimana saat mereka membahas perkara khilafiyah. Ini sepatutnya yang harus dipelihara agar umat Islam tidak mudah diadu domba asing.

Jika sekarang umat menyuarakan tangkap dan hukum penista Alquran, semoga kedepannya umat bisa bersatu untuk lantang menyuarakan penolakan terhadap demokrasi dan penegakan syariat Islam dalam bingkai negara Khilafah. Sebab, demokrasilah yang memberikan peluang bagi pencalonan pemimpin kafir, suburnya maksiat, penistaan Alquran, penghinaan terhadap Islam dengan dalih HAM, dan lainnya. Hal itu terjadi karena tidak hadirnya Islam dalam mengatur urusan kenegaraan. Pembuatan peraturan diserahkan pada akal manusia yang serba terbatas dan berpeluang memunculkan perbedaan karena sebab kepentingan.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s